Bab 13: Bahasa Tanpa Suara
Denting logam pelan menggema di dinding beton yang lembap saat moncong senapan Rey perlahan turun. Napasnya masih terdengar memburu, tetapi kepalan tangannya di gagang senjata tidak lagi sekaku beberapa menit lalu. Di hadapan mereka, sosok bertopeng dengan jubah tebal yang tertutup debu tua itu mengangkat kedua tangan kosong, memperlihatkan telapak tangan yang kasar dan dipenuhi bekas luka bakar masa lalu.
"Kalau kalian berniat menghancurkan tempat ini dengan menembak membabi buta, kalian datang ke lorong yang salah, anak muda," suara serak itu keluar dari balik masker penyaring udara yang sudah menguning.
Zee menarik napas lega di belakang punggung Orza, sementara drone kecil di atas kepalanya meredupkan cahaya sorotnya menjadi pijar kuning yang lebih ramah. Orza maju setengah langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Naya—sebuah refleks protektif yang kini terasa begitu natural, tanpa perlu dipikirkan terlalu lama.
"Kami tidak mencari keributan," kata Orza, menjaga nada suaranya tetap tenang namun waspada. "Kami mencari jalan tembus ke menara pusat."
Sosok tua itu—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Gani—tertawa kecil, suara batuk kering menyela di ujungnya. "Menara pusat? Tidak ada yang ke sana lagi selama belasan tahun. Kecuali kalian punya kode akses yang tepat, kalian cuma akan jadi hiasan dinding di lorong steril."
Gani berbalik tanpa menunggu jawaban, mengisyaratkan mereka untuk mengikuti ke sebuah celah dinding yang tersembunyi di balik pipa-pipa besar yang berkarat. Mau tak mau, kelompok Noorfa dan Naya harus memutuskan: mempercayai orang asing di tempat antah-berahantah ini, atau berputar arah.
Naya melirik Orza sekilas, tatapannya menyiratkan keraguan yang sama. Namun, saat tangan Naya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Orza untuk memberi isyarat agar berjalan di belakangnya, ada kehangatan kecil yang merambat di tengah dinginnya udara Sektor Nol.
"Dia tahu jalan,"bisik Naya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara deru angin buatan yang merayap dari ventilasi.
"Kamu percaya?" balas Orza, menunduk sedikit agar bisa mendengar gadis itu lebih jelas.
"Aku lebih percaya instingku daripada lorong buntu di belakang sana," jawab Naya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang sekali diperlihatkannya pada orang lain.
Mereka berjalan beriringan dalam diam selama beberapa menit, mengikuti punggung Gani yang melangkah pasti di kegelapan. Di sela-sela langkah itu, Naya mulai menceritakan bagaimana ia dulu sering menyusuri terowongan pembuangan air di pinggir kota sendirian, sebelum akhirnya bertahan hidup di antara puing-puing teknologi lama. Cerita itu mengalir begitu saja, menghapus kecanggungan yang sempat membentengi mereka sejak awal perjalanan.
Orza mendengarkan, menyadari bahwa di balik sikap tangguh dan mandiri yang selalu ditunjukkan Naya, ada sisi rapuh dan lelah yang selama ini ia pendam sendiri. Tanpa sadar, jarak di antara langkah kaki mereka semakin rapat.
Gani akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besi berat yang dilengkapi panel manual berkarat. Pria tua itu memutar roda pengunci dengan bunyi decitan panjang yang memekakkan telinga, lalu mendorong pintu itu lebar-lebar.
"Selamat datang di ruang kendali Sektor Dua," ujar Gani menyambut mereka. "Tempat di mana rahasia terakhir tempat ini disimpan."
Di bawah cahaya lampu darurat yang berpijar lemah, sebuah meja baja besar tampak berdiri di tengah ruangan. Di atasnya, terbentang lembaran peta manual yang dipenuhi coretan tangan—dan di samping peta itu, sebuah cangkir kopi keramik yang masih mengepulkan uap tipis.
Post a Comment for "Bab 13: Bahasa Tanpa Suara"