Bab 1: Percikan Pertama di Halaman Belakang
Dua kabel tembaga menyemburkan percikan biru terang ke udara, disusul dengungan tajam yang membuat telinga berdenging. Di tumpukan rongsokan halaman belakang rumah keluarga Noorfa, sesuatu yang seharusnya mati mendadak hidup kembali.
Sebuah drone pembersih tua berbentuk serangga berkaki empat—yang tadinya hanya bangkai logam buangan bengkel ayah—kini berdiri tegak. Matanya menyala merah pekat. Sistemnya terkontaminasi residu mana liar.
"Awas!" Rey melompat ke depan tanpa ragu. Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu mencengkeram pipa besi berkarat dengan kedua tangan. Bukannya mundur ketakutan, seringai tipis justru merekah di wajahnya yang penuh corengan debu oli.
"Rey, tunggu! Jangan langsung terjang!" tegur Orza dari belakang. Sebagai yang tertua, insting pertamanya selalu sama: mengamankan posisi.
Namun Rey sudah meluncur. Pipa besinya menghantam pelat pelindung drone itu dengan dentang keras. Benturan tersebut hanya meninggalkan goresan tipis, sementara hentakan baliknya membuat telapak tangan Rey kebas. Drone itu berputar cepat, capit hidroliknya mengayun balas menyerang ke arah dada Rey.
"Mundurkan langkah tiga jengkal ke kanan!" seru sebuah suara kecil melengking.
Zee, si bungsu yang baru berusia tujuh tahun, berjongkok di atas peti kayu. Matanya memicing tajam. Garis-garis cahaya cyan samar tampak berkedip di pupil matanya—warisan bakat analisis yang mengalir dari sang ibu. "Sendi kaki belakang kirinya macet setiap kali dia mau mengayun capit. Delay nol koma enam detik!"
Rey tidak bertanya dari mana adiknya tahu rincian itu. Tanpa pikir panjang, ia melompat miring persis ke arah yang diinstruksikan. Capit besi menyambar angin kosong, tepat di samping telinganya.
"Bagus! Sekarang giliranmu, Kak Orza!" teriak Rey sembari menghantamkan pipanya sekali lagi ke engsel kaki yang pincang itu.
Drone itu terhuyung kehilangan keseimbangan. Orza mengambil napas panjang. Mengabaikan buku teks teori konstruksi yang tergeletak di rumput, ia menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah. Sirkuit sihir berwarna tembaga menjalar di kulit lengannya—resonansi aneh yang sering dia pelajari diam-diam dari catatan kode ayahnya.
Krek. Kring!
Tiga lempeng seng dan belasan baut bekas di sekitarnya terangkat melayang beberapa sentimeter, lalu melesat membungkus kaki-kaki drone tersebut seperti borgol magnetik darurat. Struktur dadakan itu mengunci drone ke tanah dengan suara debam padat.
"Rey, hantam ventilasi di bawah lehernya! Itu jalur pendingin intinya!" Zee memberi komando terakhir dengan mata berbinar.
"Makan ini!"
Rey melompat, menyalurkan seluruh berat badannya ke ujung pipa. KRAKK! Ventilasi rapuh itu hancur. Asap kelabu mengepul keluar disertai desis panjang, sebelum cahaya merah di mata monster logam itu akhirnya padam total.
Halaman belakang mendadak hening, menyisakan deru napas terengah-engah ketiga anak itu.
Lalu, sebuah suara berdenting lembut menggema langsung di dalam kepala mereka masing-masing, diikuti jendela proyeksi biru transparan yang melayang di udara.
[Sinkronisasi Aksi Selesai.]
[Status System Terinisiasi: Kelas Dasar Diberikan.]
Zee melongo menatap layar kecil di depannya. "Wah... Kak, lihat! Namaku ada tulisannya! Novice Analyst!"
"Aku Novice Vanguard!" seru Rey bangga, mengangkat pipa besinya tinggi-tinggi seolah memegang pedang pusaka. "Kita baru saja kalahkan monster sungguhan!"
"Bukan monster sungguhan, cuma rongsokan rusak," ralat Orza sambil tersenyum lega, meski matanya sendiri tak bisa lepas dari panel bertuliskan Novice Architect miliknya. Kelelahan tiba-tiba menyergap otot-ototnya, efek samping menggunakan mana untuk pertama kali.
Namun, kegembiraan mereka mendadak terhenti ketika Zee melompat turun dari peti kayu dan berlutut di dekat bangkai drone. Jemari mungilnya menyentuh retakan di dada mesin tersebut, lalu menarik keluar sebuah silinder logam kecil yang berdenyut redup dengan pendar ungu.
"Kak Orza... Kak Rey..." gumam Zee pelan. Cahaya di matanya tidak mau padam, malah berkedip panik saat membaca data yang terpampang.
"Ada apa, Zee?" tanya Rey, mendekat.
Zee menoleh dengan wajah pucat. "Ini bukan suku cadang biasa dari bengkel Ayah. Ada label terenkripsi di dalamnya... tulisannya: Sektor Dungeon 07."
Ketiganya saling pandang. Sektor Dungeon 07 adalah zona terlarang di luar batas perimeter kota—tempat yang seharusnya dijaga ketat oleh para Hunter profesional.
Post a Comment for "Bab 1: Percikan Pertama di Halaman Belakang"