Bab 2: Rahasia di Balik Inti Rongsokan
Asap tipis berbau tembaga gosong masih mengepul dari bangkai drone latihan itu. Di halaman belakang yang berantakan, tiga anak berdiri mematung sambil saling tatap, napas mereka masih memburu.
"Cepat seret ke gudang sebelum Ibu keluar dari ruang kerja," bisik Orza tegas. Sebagai yang tertua, insting pertamanya bukan merayakan kemenangan, melainkan memastikan mereka tidak dihukum membersihkan halaman selama seminggu penuh.
Rey langsung menyambar bagian rangka drone yang remuk dengan kedua tangannya. Matanya berbinar menatap panel transparan kecil berwarna biru yang masih melayang di sudut pandangnya. "Kak, punyaku tulisannya Novice Vanguard. Keren banget, kan? Tadi pukulanku beneran ada percikan apinya, sumpah!"
"Jangan berisik, Rey," tegur Zee sambil berjalan jinjit. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu berlutut di tanah, mengambil sebuah bola logam sebesar kepalan tangan yang terlempar dari pecahan drone. Permukaannya tidak mulus, melainkan dipenuhi ukiran garis tipis yang berdenyut dengan pendar ungu redup—bukan biru seperti perangkat latihan standar.
Begitu mereka berhasil menyelinap ke dalam gudang perkakas ayah mereka dan mengunci pintu kayu rapat-rapat, barulah rasa aman terasa. Ruangan itu penuh dengan tumpukan kabel sisa, lempengan sirkuit kuno, dan perkakas manual. Tempat bermain paling sempurna untuk anak-anak seorang Encoder.
"Lihat ini," bisik Zee seraya meletakkan bola logam itu di atas meja kerja. Matanya berkedip dua kali, memicu pola heksagonal halus di pupil matanya yang berwarna cokelat gelap.
[Memulai Pemindaian Sederhana...]
[Skill Diperoleh: Inspect Lv. 1!]
"Zee dapet skill baru!" seru Zee bangga, meski suaranya langsung ia redam sendiri dengan menutup mulutnya. Ia tersenyum lebar menatap kedua kakaknya. "Katanya benda ini... bukan bagian asli dari drone latihannya Ayah. Ada yang menempelkannya secara sengaja."
Rey mengerutkan kening, mendekatkan wajahnya ke bola itu. "Maksudnya ada yang masang parasit? Pantesan drone-nya tadi ngamuk sampai mau nyeruduk kaca jendela!" Ia meremas jemarinya, merasakan sensasi hangat yang aneh di persendiannya. Sebuah notifikasi kecil muncul di retinanya: [Skill Diperoleh: Basic Grip Lv. 1]. "Hei, tanganku rasanya lebih mantap mencengkeram sesuatu!"
"Bagus kalau begitu, kamu bakal butuh ini," potong Orza.
Anak sulung itu meletakkan tangannya di atas tumpukan serpihan logam sisa drone yang tadi dihancurkan. Orza memejamkan mata, memusatkan fokus seperti yang sering ia lihat dilakukan Ayah saat menyelaraskan material sihir. Garis-garis energi hijau pucat merambat dari telapak tangan Orza ke permukaan logam. Rongsokan yang tadinya bersudut tajam dan bengkok itu mendadak melunak seperti lilin, memadat, lalu terlipat rapi menjadi sebuah bilah pendek tanpa mata pisau tajam—sebuah belati latihan yang kokoh dan pas di tangan anak usia sembilan tahun.
[Manipulasi struktur berhasil.]
[Skill Diperoleh: Material Shaping Lv. 1!]
Orza menghela napas panjang, peluh dingin menetes di pelipisnya. Napasnya sedikit terengah, tapi matanya bersinar puas. "Nih. Pakai ini kalau mau sok jagoan lagi."
"Wah... gila, Kak Orza bikin pedang!" Rey menyambar belati logam itu dengan mata berbinar-binar, langsung mengayunkannya di udara kosong hingga terdengar suara desingan tajam.
"Bukan pedang, cuma belati latihan tumpul," ralat Orza sambil tersenyum tipis, mengacak rambut adik laki-lakinya.
"Tunggu sebentar," sela Zee tiba-tiba. Suaranya terdengar tegang, menghilangkan kegembiraan kedua kakaknya.
Bola logam di atas meja mendadak bergetar hebat. Retakan halus di kulit luarnya terbuka, memancarkan seberkas cahaya holografis berwarna merah pekat ke dinding gudang yang berdebu. Alih-alih menampilkan kode galat latihan biasa, proyeksi itu membentuk rangkaian angka berkedip yang menyusun serangkaian koordinat peta.
Di bawah koordinat itu, muncul sebuah rekaman teks singkat yang berderak:
[Objek Pelarian U-09 terdeteksi jatuh di batas Sektor 4 — Hutan Pinggiran. Unit pencari telah diberangkatkan.]
Tiga pasang mata anak-anak itu terpaku pada cahaya merah yang berdenyut pelan di hadapan mereka. Hutan pinggiran Sektor 4 jaraknya hanya lima ratus meter dari pagar belakang rumah mereka.
Post a Comment for "Bab 2: Rahasia di Balik Inti Rongsokan"