Bab 3: Jejak di Batas Pepohonan
Cahaya biru tipis yang berpendar di udara gudang itu berkedip dua kali sebelum lenyap, meninggalkan bayangan angka-angka koordinat yang seolah masih tercetak di retina mata Orza. Udara pengap seketika terasa makin sempit.
"Pinggiran hutan kota," gumam Zee, jemarinya masih terangkat di udara seolah menyentuh sisa partikel cahaya yang baru padam. Kacamatanya sedikit melorot. "Sekitar dua kilometer dari sini. Masalahnya, sinyal barusan nggak cuma memproyeksikan peta ke kita. Ada transmisi balik. Kayak... panggilan pulang."
"Berarti kita ke sana sekarang?" Rey langsung menyambar belati besi rongsokan dari meja kerja, menyarungkannya ke balik jaket dengan gerakan yang jelas-jelas meniru aksi jagoan film aksi. Matanya berbinar liar. "Mumpung Ayah sama Ibu belum pulang dari pasar induk. Kita cek, habisi kalau ada drone lain, beres."
"Nggak ada yang beres kalau kamu mikirnya sesederhana itu, Rey," potong Orza cepat. Suaranya ditekan serendah mungkin, refleks seorang kakak sulung yang terbiasa meredam keributan sebelum merembet keluar pintu gudang. Ia mengusap pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Sensasi dingin sisa penggunaan Material Shaping tadi masih bersarang di ujung jarinya—ngilu yang aneh, seperti otot yang dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitas.
Orza menatap kedua adiknya bergantian. Rey yang haus pembuktian diri, dan Zee yang rasa penasarannya selalu melompati batas aman akal sehat. Fenomena 'Sistem' yang mendadak aktif di halaman belakang tadi siang mungkin terasa seperti petualangan hebat bagi mereka. Tapi bagi Orza, setiap baris teks transparan yang melayang di depan matanya terasa seperti tagihan utang: ada harga mahal yang harus dibayar kalau langkah mereka salah sedikit saja.
"Kita nggak tahu apa yang nunggu di koordinat itu," kata Orza, memungut sebatang pipa tembaga tua dari kolong meja. Fokusnya terpecah sejenak saat ia mencoba mengalirkan kehangatan tipis dari telapak tangannya ke logam tersebut, memastikan pipa itu cukup padat untuk dijadikan tongkat pemukul darurat. "Kalau ini jebakan gimana?"
"Kalau kita diemin, sumber sinyalnya yang bakal nyari kita ke sini, Kak," timpal Zee pelan, tapi logikanya menghantam tepat sasaran. "Frekuensinya non-standar. Ada pola berulang tiap lima belas menit. Inti ini ibarat suar di tengah laut gelap. Cepat atau lambat, pemilik aslinya bakal merapat ke rumah."
Keheningan kembali jatuh di antara derit kayu gudang. Orza menghela napas panjang, menimbang risiko yang rasanya tidak memberi mereka banyak pilihan. Kehidupan biasa mereka—sekolah, membantu toko kelontong orang tua, mengeluhkan tugas rumah—seolah baru saja ditarik paksa melewati pintu yang tidak bisa ditutup lagi.
"Tiga puluh menit," putus Orza akhirnya, menatap Rey tajam. "Kita ke koordinat itu cuma buat observasi dari jauh. Nggak ada aksi heroik. Kalau situasinya mencurigakan, kita putar balik. Paham?"
Rey mengangguk mantap, meski seringai tipis di sudut bibirnya menandakan antusiasmenya sama sekali tidak surut.
Dua puluh menit kemudian, aroma basah tanah dan dedukian membusuk mulai menggantikan debu pinggiran kota. Batas hutan kota itu selalu sepi di sore hari—sebuah area resapan air yang terbengkalai, dipagari kawat berduri yang di banyak titik sudah jebol dimakan karat. Langkah kaki mereka bertiga teredam oleh tumpukan daun kering saat menyelinap masuk ke balik rimbun semak perdu.
"Di depan, sekitar lima puluh meter," bisik Zee sambil menatap layar status mungil yang hanya bisa dilihatnya sendiri. "Titik pancarannya tepat di balik gundukan tanah bekas proyek irigasi."
Orza memberi isyarat tangan agar mereka merendahkan badan. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang membuat indranya terasa lebih peka dari biasanya. Bau oli terbakar samar-samar tercium di udara, bercampur dengan aroma anyir yang janggal.
Dari celah ranting liar, Orza mengintip ke arah ceruk gundukan tanah. Matanya memicing.
Bukan drone yang ada di sana.
Di atas tanah basah, tergeletak sebuah wadah logam berukuran koper kecil yang tutupnya sudah terongrong paksa. Dan tepat di sampingnya, berdiri sesosok bayangan berbalut mantel lusuh kelabu. Sosok itu sedang membungkuk, menancapkan sebilah jarum sensor panjang ke dalam tanah, sebelum gerakannya mendadak mematung kaku.
Kepala sosok itu perlahan berputar—menoleh tepat ke arah semak-semak tempat Orza dan kedua adiknya bersembunyi.
Post a Comment for "Bab 3: Jejak di Batas Pepohonan"