Bab 4: Bayangan di Balik Ranting

Napas Rey yang memburu tepat di sebelah telinganya membuat Orza gemas ingin menyumpal mulut adiknya itu dengan segenggam daun kering. Dari balik rimbun semak pakis setinggi dada, tangan Orza menekan kuat pundak Rey, memaksanya tetap tiarap di atas tanah lembap yang dingin.

"Diem dulu, Rey," bisik Orza nyaris tanpa suara. "Satu ranting patah lagi, kita ketahuan beneran."

"Tapi dia megang terminalnya, Kak," balas Rey tak mau kalah, matanya terpaku lurus ke depan. "Kalau barang bagus di sana keburu diambil, sia-sia dong kita jalan kaki setengah jam ke mari?"

Zee yang meringkuk di sisi kiri Orza sama sekali tidak menoleh. Jari-jari lentik si bungsu justru sibuk mengutak-atik layar pudar dari modul rongsokan yang mereka bawa, meredupkan pendar birunya agar tidak bocor menembus dedaunan. "Frekuensinya cocok seratus persen," gumam Zee tenang, lebih ditujukan pada dirinya sendiri. "Dan perangkat di tangannya itu bukan alat standar warga sipil."

Orza mengalihkan pandangannya kembali ke sebidang tanah lapang di antara pohon-pohon pinus yang menjulang. Di sana, di dekat tumpukan beton bekas proyek terbengkalai, seorang gadis sebaya dirinya sedang berlutut. Tudung jaket kargo abu-abunya terpasang rapat, menutupi sebagian besar rambutnya, tetapi postur tubuhnya yang tegap dan gesit memperlihatkan rasa percaya diri yang tinggi. Tangannya terbungkus sarung tangan kerja usang, dengan cekatan menancapkan kabel peretas ke soket terminal logam yang berkarat.

Ada ketenangan aneh dari cara gadis itu bergerak. Nggak ada kepanikan, nggak ada keraguan. Beda jauh dengan Orza dan adik-adiknya yang masih mengandalkan sisa debar jantung dari pertarungan di halaman belakang tadi siang.

Dan kemudian, hal yang paling ditakutkan Orza terjadi.

Rey bergerak sedikit terlalu maju demi mendapat sudut pandang yang lebih jelas. Ujung sepatunya menyenggol kaleng penyok yang terkubur di bawah tumpukan daun. Suara gesekan logam tipis itu terdengar begitu nyaring di tengah sunyinya hutan senja.

Gadis itu berhenti seketika. Dalam satu gerakan luwes yang tampak terlatih, ia mencabut kabelnya, membalikkan badan, dan mengangkat sebuah tongkat kejut pendek yang ujungnya sudah berpendar percikan listrik biru ke arah semak tempat mereka bertiga bersembunyi.

"Keluar," suara gadis itu terdengar datar, tetapi tegas dan dingin. "Dua langkah ke area terbuka, tangan di atas kepala. Jangan bikin gue harus nyetrum semak itu sampai gosong."

Orza menghela napas panjang, merasakan denyut tanggung jawab yang langsung menekan dadanya. Ia memberi isyarat tangan agar Zee dan Rey tetap merunduk, lalu perlahan bangkit berdiri seorang diri. Ia merentangkan kedua tangannya sedikit terbuka, memperlihatkan telapak tangannya yang kosong, sembari melangkah melewati batas ranting.

"Tenang," kata Orza, berusaha menjaga nada suaranya agar seringan mungkin, meski otot lengannya menegang siap memanipulasi serpihan logam di sakunya jika keadaan memburuk. "Kita nggak nyari masalah. Cuma kebetulan lewat."

Gadis itu tidak menurunkan senjatanya sama sekali. Sepasang mata gelap di balik tudung itu menyipit, menatap Orza dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan analitis yang tajam—tatapan yang entah kenapa membuat tengkuk Orza terasa hangat. "Nggak ada yang 'kebetulan lewat' ke koordinat suar darurat berkode militer, apalagi cowok rumahan yang bawa dua bocah di belakangnya."

Rey langsung bangkit berdiri di samping Orza dengan wajah cemberut. "Siapa yang bocah?!"

Orza buru-buru merentangkan satu tangan ke depan dada Rey, menahan adiknya itu agar tidak melangkah lebih jauh. "Nama gue Orza," potongnya cepat sebelum keributan meluas. "Dan kita ke sini cuma ngikutin sinyal dari rongsokan drone yang nyasar ke rumah kami. Kalau terminal itu punya lo, kita bisa balik kanan sekarang."

Gadis itu terdiam sejenak. Pandangannya bergeser ke arah Zee yang akhirnya ikut keluar dari semak, memegang inti logam yang masih berkedip lemah. Ekspresi waspada gadis itu perlahan mencair menjadi sedikit kebingungan, meski tongkat kejutnya belum diturunkan sepenuhnya.

"Naya," sahutnya singkat, menyebutkan nama tanpa embel-embel keramahan. "Dan drone itu bukan punya gue. Masalahnya, kalian terlambat mikir buat putar balik."

Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, terminal berkarat di belakang Naya berbunyi bip panjang melengking. Lampu indikator merah yang tadinya mati tiba-tiba menyala berputar, dan dari bawah permukaan tanah tempat mereka berpijak, terdengar suara geraman mesin berat yang mulai terpicu bangun.

Author is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 4: Bayangan di Balik Ranting"