Bab 5: Getaran di Balik Akar

Bumi di bawah telapak kaki Orza bergemuruh rendah, bukan seperti gempa biasa, melainkan dengung mekanis yang berat—seperti mesin raksasa yang baru saja dibangunkan dari tidur puluhan tahun. Daun-daun kering di lantai hutan melompat-lompat kecil, sementara akar-akar pohon besar di sekitar terminal tua mulai meregang tegang.

"Mundur, Zee! Rey, tahan posisimu!" bentak Orza tanpa menoleh ke belakang. Insting sulungnya langsung mengambil alih, menempatkan tubuhnya tepat di antara bahaya yang belum terlihat dan dua adiknya.

Rey sudah mencabut belati rakitannya dengan mata berkilat tegang bercampur antusias. "Kak, ada sesuatu di bawah tanah!"

"Jangan sok pahlawan dulu, Bocah!" Naya menyela ketus. Jari-jemarinya menari panik di atas papan ketik konsol tua yang berkedip merah. "Penyelarasan frekuensinya kacau. Terminal ini bukan cuma pemancar—ini pemicu sistem pertahanan pasif. Sialan, kabel penahannya macet!"

Bongkahan beton berlumut di samping konsol tiba-tiba retak. Sebuah pilar besi berkarat melesat naik dari balik semak belukar, miring berbahaya ke arah Naya yang masih berusaha mencabut perangkat pemindainya. Waktu seolah melambat bagi Orza. Gadis itu terlalu keras kepala untuk lari, dan jika pilar itu roboh, Naya akan tertimpa puing seberat puluhan kilogram.

Orza melangkah maju, membuang segala keraguan. Menjadi kakak tertua selama ini telah mengajarkannya satu hal berharga: rasa takut tidak pernah menyelesaikan masalah. Kadang, kamu hanya perlu melangkah dan menahan beban yang jatuh.

Dia meraih tepi pilar yang mencuat. Panas gesekan logam menyengat telapak tangannya, tapi Orza memusatkan fokusnya ke dalam—menyalurkan energi Architect yang masih mentah di nadinya. Struktur kisi besi berkarat itu terasa di benaknya, retak-retak mikroskopisnya, titik-titik lemahnya. Dengan hentakan napas pendek, Orza memadatkan sambungan logam yang rapuh dan membelokkan tumpuan pilar itu menjauh.

KRAK!

Pilar itu terhantam ke batang pohon tumbang di sebelah kiri, meleset setengah meter dari kepala Naya. Angin hantamannya menyibakkan tudung mantel Naya, menyingkap helai rambut gelap yang berantakan dan sepasang mata cokelat terang yang melebar tak percaya.

Orza terhuyung selangkah ke depan karena momentum tarikan, hampir menabrak Naya. Dalam sepersekian detik yang terlalu dekat itu, Orza bisa mencium aroma samar minyak pelumas bercampur embun hutan dari pakaian gadis itu, serta mendengar tarikan napas Naya yang memburu. Tangan Orza tanpa sengaja menopang bahu Naya agar gadis itu tidak terjengkang ke ceruk tanah.

Selama satu detak jantung yang sunyi di tengah gemuruh, pandangan mereka terkunci. Sifat waspada dan tajam yang tadi mendominasi wajah Naya mendadak melunak, digantikan binar keterkejutan yang polos.

"Kamu... seorang Architect?" bisik Naya pelan, suaranya kehilangan nada sinis yang menyebalkan.

"Bukan waktu yang pas buat wawancara," sahut Orza cepat sambil menarik tangannya kembali, berusaha menyembunyikan getaran di ujung jemarinya akibat memanipulasi logam barusan.

"Kak Orza!" Suara cempreng Zee memecah suasana tegang itu. Si bungsu berlari mendekat sambil menatap lekat-lekat pada layar terminal yang kini berubah warna dari merah menyala menjadi biru pucat. "Getarannya berhenti. Frekuensi enkripsinya... bukan alarm bahaya. Itu kata sandi pembuka."

Kata-kata Zee terbukti benar. Gemuruh tanah perlahan mereda menjadi desisan udara bertekanan tinggi yang dilepaskan. Tepat di tengah lingkaran akar pohon tua, lantai hutan amblas sedalam dua jengkal, menyingkap sebuah palka logam bundar yang sebelumnya terkubur tebal di bawah tanah dan humus. Palka itu perlahan berputar, membuka sebuah lubang vertikal dengan anak tangga besi yang mengarah ke kegelapan di bawah sana.

Dari kedalaman lubang tersebut, cahaya kebiruan berpendar lembut, memantulkan bayangan empat pasang mata yang berdiri terpaku di sekelilingnya.

Naya merapikan tudungnya kembali, lalu melirik Orza dengan seringai tipis yang kembali muncul di sudut bibirnya—kali ini tanpa rasa permusuhan. "Kalian benar-benar bukan anak hilang biasa, ya? Tapi pertanyaan sesungguhnya... siapa yang mau turun duluan?"

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 5: Getaran di Balik Akar"