Bab 6: Tangga Menuju Masa Lalu

Debu tanah dan aroma tajam serupa logam terbakar perlahan merayap naik dari rongga yang menganga di depan mereka. Cahaya pendar biru pucat menari-nari di dedaunan rendah, memantul di mata Rey yang langsung berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Gila... ruang rahasia beneran," gumam Rey seraya melangkah maju, belati di tangannya sudah terhunus separuh.

"Rey, jangan gegabah!" Zee menyentak lengan jaket kakaknya, menariknya mundur setengah langkah. Jari-jari mungilnya gemetar saat memegang alat pemindai yang layarnya masih berkedip liar. "Komposisi udaranya belum tentu aman. Lagipula, getaran tadi pasti merusak fondasi terowongan ini."

Orza tidak langsung menimpali. Napasnya masih terasa berat, sisa hentakan energi dari manipulasi struktur tanah tadi membuat pundaknya berdenyut linu. Di sampingnya, Naya sedang berlutut di tepi lubang, tudung kepalanya tersampir ke belakang, menampakkan helai rambut pendeknya yang sedikit berantakan terkena serpihan ranting. Sorot matanya tajam, mengamati anak tangga besi berkarat yang tertanam di dinding tanah.

"Tangga darurat model pra-runtuh," kata Naya tenang, suaranya kini terdengar jauh lebih lunak dibanding saat pertama kali menodongkan senjata. Gadis itu menoleh ke arah Orza. "Dindingnya stabil. Keliatannya kamu beneran nahan tanahnya biar nggak ambruk tadi."

"Insting doang," sahut Orza pelan, berusaha terdengar santai meski dadanya masih berdegup kencang. Berada sedekat ini dengan Naya—melihat sudut bibirnya yang tidak lagi tertarik sinis—membuat Orza sempat kehilangan fokus selama satu detik. Ada aura mandiri yang begitu kuat dari gadis itu, tipe orang yang terbiasa bertahan sendirian tanpa mengharapkan bantuan siapa pun.

"Insting yang berguna," timpal Naya dengan seringai tipis yang nyaris tak terlihat. "Terminal di atas cuma pemicu. Inti aslinya ada di bawah sana. Mau tetap di sini sampai regu patroli perbatasan mencium sinyal ini, atau kita turun bareng?"

Orza menoleh ke arah adik-adiknya. Rey jelas ingin segera melompat ke bawah, sementara Zee menatapnya dengan pandangan penuh harap agar sang kakak sulung mengambil keputusan paling rasional. Menjadi yang tertua berarti setiap langkah keliru akan ditanggung oleh mereka bertiga. Tapi berbalik pulang dengan tangan kosong setelah sejauh ini juga bukan pilihan.

"Kita turun," putus Orza. Sebelum Rey sempat bersorak, Orza mengangkat satu tangan. "Tapi ada syaratnya. Rey, kamu di belakang Naya, jangan asal tebas. Zee, tetap di sampingku, perhatikan perubahan sinyal. Kalau aku bilang mundur, kita langsung lari ke atas. Paham?"

Rey mengangguk patuh, sementara Zee menghela napas lega mendengar kehati-hatian kakaknya.

Sebelum menuruni tangga, Orza meletakkan telapak tangannya sekali lagi ke bibir lubang. Memusatkan sisa konsentrasinya, ia memperkuat tepian tanah dengan jaringan akar mati, membentuk pasak-pasak alami agar jalan keluar mereka tidak runtuh secara tiba-tiba. Manik-manik keringat dingin menetes di pelipisnya.

Tanpa diduga, sebuah tangan menyodorkan kain lap kusam namun bersih ke arah wajahnya. Orza mendongak dan mendapati Naya sedang menatapnya datar.

"Simpan tenagamu. Kita nggak tahu apa yang nunggu di bawah," ucap Naya pendek, lalu menyelipkan kembali kain itu ke sakunya sebelum Orza sempat meraihnya. Sebuah gestur kikuk, tapi terasa hangat di tengah ketegangan hutan yang sunyi.

Satu per satu, mereka mulai menuruni tangga logam yang berderit ngilu di bawah pijakan. Suhu udara menurun drastis, berganti menjadi hawa dingin khas ruang bawah tanah yang terkunci puluhan tahun. Begitu kaki Orza menyentuh lantai beton yang lembap di dasar lorong, pendar biru di sekeliling mereka mendadak meredup.

Lalu, dari kegelapan di ujung lorong yang tak terjangkau mata, terdengar bunyi klik mekanis yang berat. Disusul dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga mereka berdenging nyeri—sebuah sistem purba yang tertidur pulas, baru saja menyadari kehadiran mereka.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 6: Tangga Menuju Masa Lalu"