Mata-Mata dari Bukit | EPS 18

Mata-Mata dari Bukit

Tiga hari sejak Baran menggali kapak perang dari bawah pohon tumbang. Tiga hari sejak desa hidup dalam ketegangan yang tak kunjung reda. Setiap pagi, para pria berkumpul lebih awal, membahas apa yang harus disiapkan. Setiap sore, para wanita mengumpulkan anak-anak lebih cepat, memastikan tak ada yang bermain di luar pagar. Dan setiap malam, regu jaga berlipat ganda—bukan empat, tapi delapan orang, bergantian memastikan api tetap menyala dan mata tetap terbuka.

Tapi ketegangan yang paling berat adalah ketidakpastian. Mereka tahu bandit Tangan Merah ada di selatan. Mereka tahu bandit itu bergerak ke utara. Tapi kapan? Seminggu lagi? Sebulan? Atau... besok?

***

Pagi itu, matahari baru naik setinggi tombak saat seorang pemuda dari regu jaga berlari ke tengah desa, terengah-engah, wajahnya pucat.

“Mereka datang!” teriaknya, tapi segera dikoreksi oleh yang lain. “Bukan—maksudku—ada orang! Di bukit utara!”

Kekacauan kecil pecah. Para pria berlarian mengambil senjata. Para wanita menarik anak-anak masuk rumah. Baran, yang sedang sarapan, langsung bangkit, kapak perang—yang kini tak pernah jauh dari sisinya—ia raih.

“Aryan, di dalam,” perintahnya singkat. Laras mengangguk, menarik Aryan ke sudut rumah.

Tapi Aryan tak bisa diam. Ia mengintip dari celah dinding bambu, melihat kerumunan pria berkumpul di dekat gerbang. Beberapa sudah memanjat pagar, mengintip ke arah bukit utara. Yang lain menyiapkan tombak, panah, apa pun yang mereka punya.

***

Di bukit utara, berjarak sekitar setengah kilometer dari pagar, tiga sosok berdiri. Dari kejauhan, mereka tampak kecil—hanya titik-titik hitam di atas bukit hijau. Tapi mereka tidak bergerak. Mereka hanya berdiri, menghadap ke arah desa, mengamati.

Teguh, yang sudah tiba di gerbang, memerintahkan dua pemuda tercepat untuk menyusuri pinggir hutan, mencoba mendekat dari samping. “Jangan berani-berani. Hanya lihat. Cari tahu apa yang mereka bawa.”

Pemuda itu berlari, menghilang di balik semak. Warga lain menunggu dengan napas tertahan. Menit-menit terasa seperti jam.

Aryan, dari balik pagar—ia berhasil menyelinap keluar meski Laras melarang—mengamati bukit itu dengan mata menyipit. Ada sesuatu yang aneh dengan sosok-sosok itu. Mereka terlalu diam. Terlalu tenang. Seperti tidak takut. Seperti tahu persis bahwa desa tak bisa menjangkau mereka.

“Mata-mata,” bisik Baran di sampingnya. Aryan terkejut—ia tak sadar ayahnya sudah ada di dekatnya. “Mereka kirim mata-mata. Lihat cara mereka berdiri. Mereka tidak takut. Mereka hanya mengamati. Menghitung. Mengukur.”

“Mengukur apa, Yah?”

“Kekuatan kita. Jumlah pria. Tinggi pagar. Di mana titik lemah.” Suara Baran rendah, berat. “Mereka tidak akan serang hari ini. Mungkin besok. Mungkin lusa. Tapi mereka sudah mulai.”

Dua pemuda itu tiba di dekat bukit, bersembunyi di balik pepohonan. Tapi sebelum mereka bisa mendekat, tiga sosok itu bergerak. Dengan cepat, mereka turun ke sisi lain bukit. Beberapa detik kemudian, suara derap kuda terdengar samar—kabur, tapi jelas. Mereka kabur.

Para pemuda itu memeriksa tempat di mana para pengamat tadi berdiri. Rumput terinjak, tanah gembur, dan... jejak. Jejak sepatu dengan pola aneh. Mereka membawa pulang tanah yang dicetak jejak itu, menunjukkannya pada Teguh dan Baran.

Baran mengambil tanah itu, memeriksa jejak dengan saksama. Matanya menyipit. Jari-jarinya mengikuti pola lubang-lubang kecil di cetakan tanah.

“Ini...” ia mengangkat wajah, ekspresinya berubah. “Ini sepatu dengan paku besi. Bukan sepatu biasa. Sepatu ini khusus dibuat untuk perang—supaya tidak licin di tanah basah, supaya tendangan lebih mematikan.”

Keheningan menyelimuti. Paku besi. Sepatu perang. Ini bukan perampok kampungan. Ini pasukan terlatih.

Teguh menghela napas panjang. “Mereka sudah melihat kita. Sekarang mereka tahu berapa banyak kita, apa yang kita punya.” Ia menatap warganya. “Mulai hari ini, siaga penuh. Pagar diperiksa setiap hari. Senjata disiapkan. Makanan dikumpulkan dan dijaga. Tak ada yang keluar desa tanpa izin.”

***

Sore harinya, suasana desa berubah. Kepanikan yang sempat melanda pagi tadi, perlahan mereda. Berganti tekad. Gotong royong yang dulu membangun pagar, kini hidup lagi untuk pertahanan.

Para pria memeriksa setiap tiang pagar, memastikan tak ada yang longgar. Yang pandai membuat perangkap, menggali lubang-lubang kecil di luar pagar, menutupinya dengan daun dan ranting. Yang punya tombak, mengasah ujungnya hingga setajam mungkin. Yang tak punya senjata, membuat yang baru dari bambu dan kayu.

Di tengah kesibukan itu, Aryan mendekati Baran. “Yah, aku bisa bantu. Buat senjata-senjata ini lebih kuat.”

Baran menatapnya. Ia ingat janjinya pada Laras—Aryan harus istirahat cukup, tak boleh memaksakan diri. Tapi ia juga ingat tekad di mata anaknya malam itu, di bawah pohon tumbang. *Aku juga akan melindungi keluarga.*

“Ingat aturan ibumu,” kata Baran akhirnya. “Pusing = stop. Mimisan = sudah kelewatan. Kau jaga dirimu, atau aku berhenti izinkan.”

Aryan mengangguk, matanya berbinar. “Aku janji, Yah.”

***

Dua hari berikutnya, Aryan bekerja diam-diam. Bukan di tempat terbuka, tapi di kolong rumah, ditemani Baran yang menjaganya. Setiap malam, ia memperkuat senjata-senjata yang dibawa ayahnya. Mata tombak dari kayu—ia ubah menjadi sekeras batu. Pisau-pisau dapur—ia pertajam hingga bisa membelah tulang. Satu kapak cadangan—ia perkuat gagangnya dan tajamkan matanya.

Setiap selesai satu senjata, ia berhenti, minum air, mendengarkan sinyal tubuhnya. Laras menyiapkan makanan ekstra—daging asap, bubur kental, apa pun yang bisa memberinya tenaga. Dan Aryan belajar. Belajar merasakan batas. Belajar berhenti sebelum terlalu jauh.

Lima mata tombak. Tiga pisau panjang. Satu kapak cadangan. Semua tersihir dalam dua malam. Aryan tidur pulas di antara, bangun dengan segar, tidak mimisan, tidak pusing. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan kemampuannya tanpa rasa takut akan akibatnya.

***

Di hari ketiga, pos pengintai sederhana selesai dibangun. Sebuah panggung kayu di atas pohon besar dekat gerbang, cukup untuk dua orang, dengan tangga dari bambu. Dari sana, mereka bisa melihat ke segala arah—ke selatan, ke utara, ke timur dan barat. Jangkauan pandang lebih luas, lebih jelas.

Regu jaga bergantian duduk di atas, setiap saat mengamati. Hari itu giliran Jaka dan seorang pemuda. Mereka duduk diam, mata tak lepas dari horison.

Aryan, dari balik pagar, ikut mengamati. Matanya yang muda, yang tajam, mencoba melihat apa yang mungkin terlewat oleh orang dewasa. Dan di kejauhan, di atas bukit yang sama dengan kemarin, ia melihat sesuatu.

Sesosok penunggang kuda. Sendirian. Berhenti tepat di puncak bukit. Menghadap ke arah desa.

Aryan menahan napas. Jaraknya jauh—sangat jauh—tapi ia bisa merasakan tatapan itu. Bukan tatapan biasa. Ini tatapan yang penuh perhitungan. Seperti pedagang menilai barang dagangan. Seperti pemburu mengincar rusa. Serakah. Dingin. Menghitung.

“Yah,” bisiknya, menarik lengan Baran. “Lihat.”

Baran menoleh. Matanya menyipit. Ia melihat sosok itu. Untuk beberapa saat, ayah dan anak itu berdiri diam, memandangi titik hitam di kejauhan. Sosok itu juga diam, seolah menatap balik.

Lalu, dengan gerakan lambat, penunggang kuda itu mengangkat tangan. Bukan melambai. Bukan mengancam. Hanya mengangkat, seperti memberi isyarat pada seseorang di belakangnya. Beberapa detik kemudian, ia memutar kudanya dan pergi, menghilang di balik bukit.

“Itu pimpinannya,” gumam Baran. “Atau salah satu dari mereka. Datang lihat sendiri.”

Aryan menggenggam pagar kayu erat-erat. Di dalam dadanya, debaran kencang bercampur tekad. Mereka sudah datang. Mereka sudah lihat. Sekarang tinggal menunggu.

***

Malam itu, desa lebih tenang dari biasanya. Bukan tenang karena damai, tapi tenang karena lelah. Lelah waspada, lelah takut, lelah menunggu. Api unggun di beberapa titik dinyalakan, menerangi jalan-jalan utama. Regu jaga berkeliling dengan obor. Di dalam rumah, anak-anak tidur dengan gelisah, orang tua bergantian menjaga.

Aryan tidur di samping Laras, dengan tombak kayu kecil—yang ia perkuat sendiri—di sampingnya. Baran duduk di dekat pintu, kapak perang di pangkuan, mata terbuka lebar. Ia tak tidur. Mungkin tak akan tidur malam itu.

Tengah malam. Suara berisik dari kejauhan. Bukan dari desa mereka. Dari timur. Dari arah desa tetangga—Desa Sukawana, berjarak sekitar dua kilometer. Awalnya samar, seperti suara angin. Tapi kemudian, suara itu membesar. Teriakan. Jeritan. Dan yang paling jelas: kobaran api yang tiba-tiba menerangi langit malam.

“Baran!” teriak seseorang dari luar. “Lumbung Sukawana terbakar!”

Baran melompat berdiri. Aryan ikut bangun, berlari ke luar. Dari depan rumah, mereka bisa melihat ke arah timur—di mana langit berwarna oranye terang oleh api. Api besar. Api yang tak mungkin terjadi secara alami.

Semua warga keluar, memandangi kobaran itu dengan ngeri. Beberapa wanita mulai menangis. Anak-anak bertanya dengan suara cemas, “Apa itu, Bu? Apa itu?”

Teguh berdiri di tengah kerumunan, wajahnya pucat di bawah sinar api dari kejauhan. “Mereka sudah mulai,” bisiknya, suara hampir tak terdengar. “Tangan Merah sudah mulai bergerak.”

Aryan memegang tombak kecilnya erat-erat. Di kejauhan, api terus membumbung tinggi, melahap lumbung desa tetangga. Dan di dalam hatinya, ia tahu: malam ini adalah peringatan. Besok, atau lusa, atau beberapa hari lagi, giliran mereka.

Baran meraih pundaknya, menariknya ke dalam pelukan. Laras bergabung dari samping. Tiga insan itu berdiri di depan rumah mereka, memandangi api yang menerangi langit timur, menunggu apa yang akan datang dengan tekad yang mengeras di dada masing-masing.

Di pos pengintai, Jaka dan pemuda itu masih bertahan, mata mereka tak lepas dari horison. Mereka tahu—semua tahu—bahwa malam ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan menguji apakah desa kecil ini bisa bertahan, atau akan menjadi abu berikutnya yang terbawa angin.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Mata-Mata dari Bukit | EPS 18"