Bisikan dari Selatan | EPS 17

Pedagang keliling itu, Kiran, diizinkan bermalam di Dusun Karang. Teguh sendiri yang menawarkannya tempat di balai pertemuan—bangunan sederhana dekat rumahnya, biasanya dipakai untuk rapat atau tempat tidur tamu. Malam itu, setelah semua transaksi selesai, Kiran duduk di depan api unggun kecil, ditemani Teguh dan beberapa pria yang penasaran.

Aryan seharusnya tidur. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari rasa kantuk. Ia duduk di balik dinding balai, di tempat gelap yang tak terlihat, menguping percakapan orang dewasa. Laras akan marah kalau tahu, tapi Baran—yang juga ada di dalam—mungkin tak akan melarang. Mungkin.

“Ceritakan lagi,” kata Teguh, menyerahkan mangkuk air pada Kiran. “Tentang bandit itu. Tangan Merah.”

Kiran meneguk air, menghela napas panjang. Matanya sayu, mungkin karena lelah berjalan, mungkin karena ingatan buruk. “Aku lihat sendiri bekasnya, Kepala Desa. Dua desa di selatan. Yang pertama, Desa Rawa Tua. Rumah-rumah hangus terbakar. Mayat-mayat bergelimpangan. Yang selamat hanya mereka yang lari ke hutan sebelum serangan.”

Keheningan menyelimuti. Api unggun berderak, satu-satunya suara di malam yang sunyi.

“Yang kedua,” lanjut Kiran, “Desa Bukit Kecil. Lebih parah. Mereka tidak hanya membakar. Mereka... mereka menyisir desa itu seperti menyisir rambut. Semua makanan dirampok. Wanita dan anak-anak dibawa. Pria yang melawan dibunuh di tempat.” Ia berhenti, menelan ludah. “Aku datang dua hari setelahnya. Masih ada bau bangkai di udara.”

Seorang pria—Jaka, ayah Rojak—bertanya dengan suara serak. “Berapa banyak mereka?”

“Mungkin tiga puluh, mungkin empat puluh. Aku tak pernah lihat langsung. Tapi dari jejak-jejaknya, dari cerita orang yang selamat, mereka terorganisir. Bukan perampok biasa. Mereka punya senjata—bukan cuma tombak bambu, tapi pedang. Pedang besi.”

Kata 'besi' membuat semua orang terdiam. Di Dusun Karang, besi adalah benda mitos. Hanya pedagang kaya yang punya, hanya kota besar yang memproduksi. Tombak mereka bermata batu, pisau mereka dari batu, kapak mereka dari batu. Besi—senjata besi—adalah mimpi yang terlalu jauh.

“Pimpinannya,” Teguh kembali bertanya, suaranya tenang tapi tegang, “mereka sebut Tangan Merah. Itu nama orang atau...”

Kiran menggeleng. “Aku tak tahu pasti. Ada yang bilang itu nama pimpinannya. Ada yang bilang itu nama kelompok. Tapi semua sepakat: tangannya selalu berlumuran darah. Konon ia suka mencelupkan tangannya ke darah korbannya sebelum membunuh. Itu... itu tanda tangannya.”

Aryan, dari persembunyiannya, merinding. Tangannya sendiri—tangan yang bisa bercahaya—ia sembunyikan di balik baju. Ia membayangkan tangan lain, tangan dewasa, berlumuran darah merah segar. Ia membayangkan tangan itu memegang pedang besi, mengayunkannya ke orang-orang yang ia kenal.

“Ke mana mereka bergerak?” tanya Baran, yang sejak tadi diam.

Kiran menatapnya. “Ke utara. Desa kalian ini... maaf, tapi kalian di jalur utama. Kalau mereka terus ke utara, kalian akan jadi target berikutnya.”

***

Kiran tidur tak lama setelah itu. Tapi para pria tak bisa tidur. Mereka duduk di sekitar api unggun, diam, memikirkan masa depan. Teguh akhirnya memutuskan untuk mengadakan rapat darurat—besok pagi, semua warga wajib hadir. Malam itu, bisik-bisik mulai menyebar dari rumah ke rumah. Kabar buruk terbang lebih cepat dari burung.

Aryan pulang sebelum Baran, merangkak masuk ke rumah, pura-pura tidur. Tapi matanya tak bisa terpejam. Ia mendengar langkah ayahnya masuk, mendengar desahan panjang, mendengar Laras bertanya dengan suara cemas. Jawaban Baran pelan, tak jelas. Tapi nadanya cukup membuat Laras diam.

***

Pagi harinya, semua warga berkumpul di lapangan dekat pohon beringin. Bukan panggilan resmi—hanya kabar dari mulut ke mulut yang membuat semua orang datang. Wajah-wajah tegang, mata cemas, anak-anak digendong atau dipegang erat. Kiran sudah pamit pagi-pagi sekali, tak ingin terlibat lebih jauh. Tapi kabar yang ia bawa sudah cukup.

Teguh berdiri di atas batu, seperti biasa. Tapi pagi ini, wajahnya lebih tua dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya dalam, tanda tak tidur semalaman.

“Warga Dusun Karang,” suaranya berat, memotong keheningan. “Kalian sudah dengar kabar dari Kiran. Bandit Tangan Merah ada di selatan. Mereka sudah menghancurkan dua desa. Dan mereka bergerak ke utara.”

Keheningan yang mencekik. Beberapa wanita mulai terisak.

“Kita harus putuskan sekarang. Apa yang akan kita lakukan?” Teguh memandangi warganya satu per satu. “Kita punya dua pilihan. Pertama: mengungsi. Tinggalkan desa, cari tempat aman di utara atau barat. Tapi kita tak punya keluarga di tempat lain. Kita tak punya jaminan diterima. Kita mungkin jadi pengembara kelaparan.”

Ia berhenti, memberi waktu warganya mencerna.

“Kedua: bertahan. Kita punya pagar baru, kokoh. Kita punya pemburu berpengalaman. Kita punya—" ia hampir mengatakan 'keberanian', tapi terasa klise. “Kita punya desa ini, yang kita bangun dengan keringat dan air mata. Kita tinggalkan, mungkin tak akan bisa kembali.”

Perdebatan pecah seketika. Seperti rapat darurat dulu, saat jatah makanan dipotong. Tapi kali ini lebih emosional, lebih panas, lebih putus asa.

“Mengungsi!” teriak seorang wanita. “Aku tak mau anakku mati!”

“Ke mana kita mau lari?” bantah yang lain. “Tak ada yang terima kita!”

“Kita bisa bertahan!” teriak seorang pria muda. “Pagar kita kuat!”

“Pagar?” Darman, yang dulu hampir berkelahi dengan Baran, tertawa sinis. “Pagar kayu lawan pedang besi? Kau pikir pagar itu apa? Mantra?”

“Kita punya Baran! Dia pemburu!”

“Baran seorang! Lawan empat puluh?”

Suasana semakin panas. Beberapa pria hampir berkelahi, saling dorong. Para wanita berteriak memisahkan. Anak-anak menangis ketakutan. Aryan, yang duduk di samping Laras, melihat semuanya dengan mata membelalak. Ini lebih menakutkan dari serigala. Serigala datang dari luar, tapi ini—ini kehancuran dari dalam.

Di tengah keributan, seorang warga—paruh baya, petani biasa—berteriak lantang, “Kita punya pagar! Kita aman!”

Semua orang diam sejenak, menoleh padanya. Ia menunjuk ke arah pagar yang kokoh di kejauhan. “Lihat itu! Kita bangun bersama. Kokoh. Tinggi. Tajam. Tak ada serigala yang bisa lewat. Tak ada bandit yang bisa masuk!”

Beberapa orang mulai mengangguk, setuju. Tapi mata Aryan tertuju pada Teguh. Kepala desa itu diam saja. Tidak ikut berdebat. Tidak membenarkan. Tidak menyalahkan. Ia hanya diam, dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Dan Aryan, yang mengamati dari balik kerumunan, melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang. Di mata Teguh, tidak ada keyakinan. Tidak ada harapan. Yang ada hanyalah... ketakutan. Ketakutan yang disembunyikan. Ketakutan yang ia tahu tak bisa diungkapkan karena ia pemimpin.

*Ia tahu pagar tidak cukup,* pikir Aryan. *Ia tahu kita butuh lebih dari itu.*

Rapat berlangsung berjam-jam. Akhirnya, keputusan ditunda. Besok mereka akan rapat lagi. Tapi satu hal disepakati: mereka akan membangun pos pengintai sederhana di luar pagar, di atas pohon besar yang menghadap ke selatan. Jika bandit datang, mereka akan tahu lebih cepat.

***

Malam itu, desa lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi damai, tapi sunyi waspada. Setiap suara kecil—dahan patah, burung malam, angin berdesir—membuat orang-orang di dalam rumah terbangun, jantung berdebar. Lampu minyak dibiarkan menyala lebih terang dari biasanya. Anak-anak tidur di antara orang tua, bukan di tempat sendiri.

Di rumah Baran, Aryan terbaring di tikar, berpura-pura tidur. Ia mendengar napas ayahnya yang tak teratur—tidak tidur. Ia mendengar ibunya sesekali bergerak gelisah. Mereka semua berpura-pura tidur, tapi tak ada yang benar-benar tidur.

Tengah malam. Bulan bersinar terang, masuk lewat celah dinding bambu, menciptakan garis-garis perak di lantai. Aryan mendengar suara—suara halus, hampir tak terdengar. Ayahnya bangkit.

Ia memicingkan mata, melihat bayangan Baran meraih tombaknya, lalu melangkah ke pintu. Pelan-pelan, tanpa suara. Seperti hantu. Seperti pemburu yang sedang memburu.

Pintu terbuka, lalu tertutup. Baran pergi.

Aryan menunggu beberapa detik, lalu bangkit. Ia menatap Laras—ibunya tidur? Atau pura-pura tidur? Sulit tahu. Tapi ia tak bisa diam. Ia harus tahu ke mana ayahnya pergi.

Dengan hati-hati, ia merangkak ke pintu, membukanya sedikit, menyelinap keluar. Udara malam dingin, menusuk kulit. Ia menggigil, tapi terus berjalan, mengikuti bayangan ayahnya yang sudah agak jauh.

Baran berjalan ke arah hutan. Bukan ke dalam, tapi ke tepi, ke pohon besar yang sudah tumbang sejak lama. Aryan ingat pohon itu—dulu tempat ia bermain, sebelum serigala datang. Sekarang pohon itu hanya tinggal batang lapuk dan akar-akar menjulang.

Ia bersembunyi di balik semak, mengamati. Baran berhenti di dekat pohon itu, melihat ke kiri-kanan, memastikan tak ada yang mengikuti. Lalu ia berjongkok, mulai menggali dengan tangannya. Tanah dibuang ke samping. Menggali. Terus menggali.

Aryan menahan napas. Apa yang ayahnya cari? Harta karun? Makanan? Atau sesuatu yang lain?

Beberapa saat kemudian, tangan Baran menyentuh sesuatu. Bukan tanah. Benda keras. Kayu. Ia membersihkan tanah di sekitarnya, lalu mengangkat—sebuah kotak. Kotak kayu tua, tertutup lumut, tapi masih utuh.

Baran membuka kotak itu. Dari dalam, ia mengeluarkan sesuatu. Benda itu memantulkan sinar bulan—silau, tajam. Bukan batu. Ini logam. Besi. Sebuah kapak perang, dengan mata lebar dan gagang kayu yang diukir.

Aryan tak bisa menahan desahan kecil. Suara itu cukup untuk membuat Baran menoleh tajam, matanya menyipit ke arah semak.

“Siapa di sana?” desisnya, tangan meraih tombak.

Aryan gemetar. Tapi ia tak bisa lari. Ia berdiri, perlahan, keluar dari persembunyian.

“Aryan?” Baran terkejut. Kapak di tangannya hampir jatuh. “Kau—kau ngapain di sini?”

Aryan tak bisa menjawab. Matanya terpaku pada kapak itu. Kapak besi. Kapak perang yang sudah lama tak dipakai. Di bawah sinar bulan, kapak itu tampak menakutkan dan indah sekaligus.

“Ayah... itu apa?”

Baran diam. Ia memandangi kapak di tangannya, lalu ke anaknya. Untuk pertama kalinya, Aryan melihat ayahnya terlihat... rapuh. Bukan lemah, tapi rapuh. Seperti pohon tua yang siap tumbang.

“Ini...” Baran menghela napas panjang. “Ini peninggalan kakekmu. Kakek buyutmu, sebenarnya. Ia dulu... prajurit. Bukan pemburu biasa. Ia pernah ikut perang, sebelum menetap di sini.” Ia mengusap mata kapak itu dengan ibu jari. “Ayah tak pernah cerita karena... karena ayah tak mau mengingat.”

Aryan mendekat. “Mengapa Ayah simpan di sini?”

Baran menatapnya. Matanya—di bawah sinar bulan—tampak basah. “Karena ayah kira tak akan pernah butuh. Ayah kira kita bisa hidup damai di sini. Berburu, bertani, membesarkan anak. Tapi sekarang...” ia tak menyelesaikan kalimatnya.

Mereka berdua diam. Angin malam berdesir, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Di kejauhan, serigala melolong—tapi kali ini jauh, tak mengancam. Ancaman yang lebih besar datang dari selatan. Ancaman yang membuat seorang ayah menggali kapak perang leluhurnya.

“Ayah akan melindungi kita,” bisik Baran, lebih pada diri sendiri daripada pada Aryan. “Ayah akan melindungi kalian. Apa pun yang terjadi.”

Aryan memandangi kapak itu, lalu ke ayahnya. Di dalam dadanya, sesuatu tumbuh. Bukan takut. Bukan sedih. Tapi tekad. Tekad yang sama seperti saat ia pertama kali mencoba membuat cangkul. Tekad yang membuatnya terus mencoba meski gagal.

“Aku juga, Yah,” bisiknya. “Aku juga akan melindungi keluarga.”

Baran menatapnya lama. Lalu ia tersenyum—senyum getir, tapi hangat. Ia meraih tangan Aryan, menggenggamnya erat. “Kita bersama, Nak. Kita bersama.”

Mereka pulang bersama, meninggalkan lubang galian dan kotak kosong. Kapak perang itu kini terselip di pinggang Baran, tersembunyi di balik baju. Rahasia baru antara ayah dan anak. Rahasia yang menandai bahwa perang—jika harus datang—tak akan mereka hadapi dengan tangan kosong.

Di dalam rumah, Laras masih tidur. Atau pura-pura tidur. Tak ada yang tahu. Tapi saat Aryan merebahkan diri di sampingnya, ia merasakan tangan ibunya meraih tangannya, memegang erat, tanpa berkata apa-apa.

Di luar, bulan terus bersinar, menerangi desa kecil yang terjebak antara ketakutan dan tekad. Dan di selatan, di suatu tempat di balik bukit dan hutan, api unggun bandit mungkin mulai dinyalakan, tangan-tangan merah bersiap untuk tugas berikutnya.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Bisikan dari Selatan | EPS 17"