Jatah Terakhir | EPS 3
Seminggu sejak Aryan membuat mata tombak pertamanya. Seminggu sejak Baran membawa pulang kelinci dan Laras mulai pulih. Seminggu yang penuh dengan pukulan batu, serpihan-serpihan kecil, dan rahasia antara seorang ayah dan anak.
Di bawah kolong rumah, tumpukan batu pecah semakin banyak. Tiga mata tombak baru tersembunyi di balik tiang—masing-masing lebih baik dari sebelumnya. Yang pertama hanya batu runcing tak berbentuk. Yang kedua mulai menyerupai segitiga. Yang ketiga, yang dibuat dua hari lalu, benar-benar tajam. Baran menggunakannya untuk berburu, dan pulang dengan seekor kadal besar. Bukan kelinci, tapi cukup untuk makan.
Aryan merasa bangga. Tapi di dalam hatinya, ada yang mengganjal. Mata tombak itu hanya dilihat ayahnya. Hanya ayahnya yang tahu. Sementara warga desa lain, mereka tetap kelaparan, tetap kurus, tetap menangis di malam hari.
“Aku ingin membantu lebih banyak,” bisiknya pada diri sendiri suatu pagi, saat Laras masih tidur.
***
Pagi itu, semua orang dikejutkan oleh teriakan dari ladang. Aryan berlari keluar, mengikuti warga lain yang berhamburan. Di sana, pemandangan yang menunggu membuatnya membeku.
Ladang jagung—satu-satunya tanaman pangan utama yang masih bertahan—diselimuti awan hitam yang bergerak. Bukan awan. Itu adalah kawanan wereng dan hama lainnya, bergerombol begitu padat hingga seperti kabut hitam yang melahap habis apa pun di depannya. Batang-batang jagung yang kemarin masih hijau, pagi itu berubah cokelat kehitaman. Daun-daun ludes. Tongkol-tongkol yang hampir panen, tinggal kerangka kosong.
Gagal panen total.
Para petani jatuh berlutut. Beberapa menjerit, memukuli tanah. Yang lain hanya diam, menatap kosong. Wanita-wanita menangis, memeluk anak-anak mereka.
Aryan berdiri di tepi ladang, menyaksikan semua itu. Tangannya meraba-raba batu di balik bajunya—batu latihannya, yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tapi batu tak bisa menolong ladang yang mati. Batu tak bisa mengembalikan jagung yang sudah dimakan hama.
***
Siang itu, Kepala Desa Teguh mengumpulkan semua warga di lapangan dekat pohon beringin mati. Tiga puluh kepala keluarga datang dengan wajah muram. Tak ada yang bicara. Yang terdengar hanya isak tangis tertahan dan batuk-batuk kering karena kurang gizi.
Teguh berdiri di atas batu, kaki palsunya terlihat goyah. Usianya lima puluh tahun lebih, tapi pagi ini ia tampak seperti sudah sembilan puluh. Lingkaran hitam di bawah matanya dalam, kulitnya kian keriput dalam semalam.
“Warga Dusun Karang,” suaranya serak. “Kalian sudah lihat ladang pagi ini. Hama telah mengambil apa yang tersisa.”
Seorang wanita menjerit, “Lalu kami mau makan apa? Anak-anak saya sudah dua hari hanya minum air!” Yang lain menyusul, suara-suara protes bergemuruh.
Teguh mengangkat tangan, meminta diam. “Cadangan benih dan makanan kering di lumbung. Jika dibagi rata per kepala... cukup untuk tiga hari dengan porsi normal.”
Keheningan mencekik. Tiga hari. Angka itu terasa seperti vonis mati.
“Karena itu,” Teguh melanjutkan, suaranya bergetar, “mulai hari ini, jatah makanan dipotong empat puluh persen. Kita semua akan makan sekali sehari, setengah porsi. Dengan cara itu, kita bisa bertahan lima hari. Mungkin enam.”
Protes pecah. “Lima hari? Lalu setelah itu?!” teriak seorang lelaki. “Kau mau kami mati perlahan?” Yang lain berteriak lebih keras, “Turunkan Teguh! Dia tidak bisa memimpin!”
Beberapa orang maju ke depan, tangan mengepal. Seorang pemuda kurus—Rasiman, yang punya anak balita—mendorong dada Teguh hingga kepala desa itu hampir jatuh.
“HENTIKAN!”
Baran melangkah maju, berdiri di antara Teguh dan para pendesak. “Kalian pikir dengan menjatuhkan Teguh, makanan akan muncul? Kita ini satu dusun. Satu keluarga. Kalau mulai saling bunuh, kita sudah mati sebelum lapar membunuh.”
Kerumunan terdiam. Rasiman mundur selangkah. Baran kembali ke tempatnya, duduk di samping Aryan.
Di tengah rapat yang mereda, seorang petani tua bernama Jaka menghela napas panjang. “Bukan cuma makanan. Cangkul kita juga sudah tumpul. Ladang baru—kalau pun kita bisa buka—tak bisa digarap dengan alat rusak. Aku sudah coba asah, tapi batuannya sudah terlalu aus.”
Yang lain mengangguk setuju. “Pisau dapur juga. Banyak yang sudah tak bisa dipakai. Daging keras pun tak bisa dipotong.”
Aryan mendengar semua itu. Matanya tertuju pada cangkul yang dipegang Jaka—tumpul, retak di bagian ujung, tak berguna. Lalu ia melihat tangannya sendiri. Tangannya yang lecet, kapalan, tapi sudah bisa membuat mata tombak. Mungkin... mungkin ia bisa mencoba hal lain.
Saat rapat usai, Aryan mendekati Jaka. Dengan suara kecil, ia berkata, “Paman... boleh aku pinjam cangkulnya? Sebentar saja.”
Jaka menatapnya heran. “Untuk apa?”
“Aku... aku mau lihat bentuknya.”
Jaka mengangkat bahu, menyerahkan cangkul itu. “Bawa saja. Tapi hati-hati, sudah rapuh.”
Aryan membawa cangkul itu pulang, menyembunyikannya di balik baju. Di bawah kolong rumah, ia mengamatinya dengan saksama. Batu pipih, lebar, dengan ujung runcing. Bentuknya jauh lebih rumit dari mata tombak yang biasa ia buat. Tapi mungkin... mungkin ia bisa meniru.
Ia mengambil batu sungai pipih, mulai memukul. *DUK! DUK! DUK!*
Satu jam. Dua jam. Batu itu pecah. Berkali-kali. Tak satu pun menyerupai cangkul.
Aryan frustrasi. Tangannya lecet, satu jari berdarah. Tapi ia tak menyerah. Ia ambil batu lain. Coba lagi. *DUK! DUK!* Pecah lagi.
Malam itu, saat makan malam—sup encer dari sisa-sisa kadal—Aryan diam seribu bahasa. Tangannya ia sembunyikan di balik paha, tak ingin ibunya melihat luka-luka baru.
“Nak, kau tidak apa-apa?” tanya Laras.
Aryan mengangguk, tersenyum tipis. “Hanya capek, Ma.”
Baran menatapnya, tahu ada yang disembunyikan. Tapi ia diam. Malam nanti, ia akan bertanya.
***
Tiga hari setelah rapat, suasana desa makin mencekam. Jatah makanan dipotong, perut semakin lapar, dan kecurigaan antarwarga makin tajam. Aryan terus mencoba membuat cangkul di bawah kolong, tapi gagal lagi dan lagi. Empat batu pecah. Hasilnya hanya tumpukan serpihan tak berguna.
Sore itu, kabar buruk datang. Keluarga Rasiman—yang paling vokal di rapat—mengancam akan pindah. “Kami tak akan menunggu mati di sini!” teriak Rasiman di tengah lapangan. “Lebih baik coba untung di tempat lain!”
Beberapa keluarga lain ikut terpengaruh. Suasana makin panas.
Di rumah mereka, Baran duduk diam, memegang tombak dengan mata batu buatan Aryan—yang terbaik, yang paling tajam. Ia menatap anaknya lama. “Nak, Ayah harus pergi. Ke hutan dalam. Mungkin di sana masih ada rusa.”
Aryan membelalak. “Tapi hutan dalam berbahaya, Yah!”
“Ayah tahu. Tapi di sini kita juga berbahaya. Kelaparan.” Baran berdiri, mengikat tombaknya di punggung. “Doakan Ayah.”
Laras ingin melarang, tapi tak bisa. Ia hanya memeluk Baran erat. “Hati-hati.”
Baran pergi saat matahari mulai tenggelam. Aryan berdiri di beranda, memandangi ayahnya menghilang di balik semak. Di tangannya, sebongkah batu baru—calon cangkul yang entah akan gagal lagi.
***
Malam itu, Aryan tak bisa tidur. Ia duduk di bawah kolong, mencoba lagi. *Tak... tak... tak...* Pukulan kecil, hati-hati. Batu itu mulai menunjukkan bentuk. Pipih. Lebar. Mulai mirip.
Tapi kemudian, *CRACK!* Batu itu pecah. Yang kelima.
Aryan melempar batu pemukul, frustrasi. Matanya panas, tapi ia tahan. Ia ingin menangis, tapi tak mau. Di atasnya, Laras mungkin sudah tidur. Di luar, desa sunyi, hanya suara jangkrik.
Lalu, tiba-tiba, suara teriakan memecah keheningan. Bukan teriakan biasa. Ini histeris, penuh keputusasaan.
“TOLONG! MAKANAN KITA! DIRAMPOK!”
Aryan merangkak keluar. Dari kejauhan, dari arah rumah Rasiman, terdengar tangis dan jeritan. Beberapa warga keluar, bingung, takut. Baran tak ada—masih di hutan. Laras bangun, memeluk Aryan erat.
“Apa yang terjadi?” bisik Laras, gemetar.
Aryan tak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandangi gelap, tempat di mana jeritan itu berasal. Seseorang—atau sekelompok orang—telah merampok keluarga yang paling rentan. Keluarga yang mengancam akan pergi.
Kecurigaan mulai merayap. Warga saling tatap dengan curiga. Malam itu, tak ada yang tidur.
***
Pagi harinya, desa seperti kubangan. Keluarga Rasiman duduk di depan rumah mereka yang acak-acakan, menangis. Persediaan makanan mereka—sedikit yang tersisa—lenyap. Tak ada jejak, tak ada petunjuk.
Aryan melihat semua dari jauh. Di dalam hatinya, campur aduk antara takut, sedih, dan marah. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lain: tekad. Desa ini hancur. Warga saling curiga. Makanan habis. Tapi mungkin—mungkin—ia bisa melakukan sesuatu. Bukan dengan tombak. Tapi dengan cangkul. Jika ia bisa membuat cangkul yang bagus, mereka bisa membuka ladang baru. Mereka bisa menanam lagi.
“Aku harus bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengambil batu baru, bersiap mencoba lagi—yang keenam kalinya. Tapi baru saja hendak memukul, suara riuh dari kejauhan membuatnya berhenti.
Dari arah hutan, sesosok muncul. Baran. Berjalan dengan langkah berat, tubuhnya lelah, tapi di punggungnya... di punggungnya ada sesuatu. Besar. Cokelat kemerahan.
Rusa.
Aryan membeku. Matanya membelalak. Ayahnya pulang. Dengan rusa.
Warga mulai berhamburan keluar, menyambut dengan takjub. “BARAN! BARAN DAPAT RUSA!”
Aryan ingin berlari, ingin memeluk ayahnya, ingin ikut bergembira. Tapi kakinya tak bergerak. Ia hanya bisa berdiri, memandangi dari kejauhan, dengan batu cangkul yang gagal di tangannya.
Di tengah kerumunan yang mulai riuh, Baran mencari-cari sesuatu. Matanya menemukan Aryan. Ia tersenyum—lebar, bangga—dan mengangkat tombaknya. Tombak dengan mata batu buatan Aryan.
Aryan tersenyum balik. Tapi di sudut hatinya, ada perih yang menganga. Ayahnya berhasil. Tombaknya berhasil. Tapi cangkulnya... cangkulnya masih tak kunjung jadi. Dan desa ini butuh lebih dari sekadar satu rusa. Mereka butuh ladang baru. Mereka butuh cangkul.
Ia menunduk, memandangi batu di tangannya—yang keenam, yang akan segera pecah juga, ia tahu. Lalu ia mengepalkannya erat.
*Besok. Besok aku coba lagi.*
Di kejauhan, sorak-sorai memenuhi langit. Dusun Karang berpesta, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Tapi di bawah kolong rumah, tersembunyi dari semua orang, tumpukan batu pecah dan cangkul-cangkul gagal berjejer dalam gelap—menunggu tangan-tangan kecil yang tak kenal menyerah.
Dan di dalam rumah itu, seorang anak berusia lima tahun memeluk lututnya, mendengar tawa dari kejauhan, berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, ia akan membuat sesuatu yang benar-benar berarti. Bukan untuk pujian. Tapi untuk ibunya yang pucat. Untuk ayahnya yang berdarah-darah di hutan. Untuk desa yang hampir hancur.
Untuk semua orang yang tak bisa membuat cangkul sendiri.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Jatah Terakhir | EPS 3"