Tangan Kecil, Batu Kasar | EPS 4
Tangan Kecil, Batu Kasar
Dua hari sudah berlalu sejak rapat darurat yang mencekik itu. Dua hari sejak jatah makanan dipotong empat puluh persen. Dua hari sejak keluarga Rasiman dirampok dan semua orang saling curiga. Tapi bagi Aryan, dua hari ini adalah tentang hal lain: keinginan untuk membantu, meski tangannya terlalu kecil untuk memegang beban yang ia impikan.
Di balik rumah panggung mereka, di bawah bayang-bayang anyaman bambu yang mulai lapuk, tersimpan rahasia kecil yang tak ingin diketahui siapa pun. Tumpukan pecahan batu berserakan di tanah lembap, sebagian tertutup daun kering. Empat kali percobaan. Empat kali kegagalan. Aryan duduk bersila dengan celana digulung hingga lutut, lututnya kotor oleh lumpur kering. Di hadapannya, sebongkah batu sungai berwarna abu-abu kebiruan, sebesar kepalanya sendiri. Di sampingnya, batu lain yang lebih bulat dan keras—batu pemukul yang sudah ia gunakan sampai tangannya lecet.
Ia mengamati dengan saksama benda yang menjadi obsesinya sejak kemarin: cangkul batu milik salah satu warga, yang sempat ia pinjam sebentar saat pemiliknya lengah. Bentuknya sederhana. Sebuah batu pipih yang ujungnya diasah hingga runcing, diikat ke tangkai kayu dengan serat rotan yang kuat. Batu itu hitam keabu-abuan, tidak istimewa. Tapi di mata Aryan, itu adalah benda paling berharga di dusun ini. Dengan cangkul itu, orang dewasa bisa membalik tanah keras, membuat ladang baru, menanam sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan mereka dari kelaparan.
“Aku juga harus bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
Tangannya yang kecil menggenggam batu pemukul. Diangkatnya tinggi-tinggi, lalu dihunjamkan ke tepi batu besar yang ingin dibentuk. *DEG!* Guncangan keras menjalari lengannya hingga ke bahu, membuat giginya gemeretak. Batu besar itu hanya meninggalkan bekas putih tipis di permukaannya, seperti garam yang ditaburkan. Aryan menggigit bibir bawahnya—bibir yang sudah kering dan pecah-pecah karena kurang makan—lalu mengatur ulang posisi batu. Pukulan kedua. *DEG!* Kali ini, serpihan kecil seukuran kuku jarinya terlepas, melayang dan jatuh di samping pahanya. Jauh dari kata cukup. Ia butuh puluhan, mungkin ratusan serpihan seperti itu untuk membentuk satu cangkul.
“Satu pukulan lagi,” gumamnya, berkeringat meski matahari tidak langsung menyinari kolong rumah. Keringat ini keluar karena tegang, karena frustrasi yang menggerogoti.
Pukulan ketiga mendarat dengan sudut yang salah. *CRACK!* Batu besar itu tidak pecah sesuai keinginan, tapi membelah menjadi dua bagian tak beraturan, seperti telur yang jatuh. Napas Aryan memburu. Matanya menatap dua belahan batu itu dengan perasaan getir yang sudah terlalu sering ia rasakan belakangan ini. Gagal lagi. Yang kelima kalinya.
Ia melempar batu pemukul ke samping, tidak peduli ke mana jatuhnya. Dengan gerakan kasar, ia menyusun kedua belahan batu itu bersama empat pecahan lainnya, mendorongnya masuk lebih dalam ke kolong rumah. Menyembunyikan bukti kebodohannya. Biarkan semuanya membusuk di sana, bersama mimpinya yang juga ikut membusuk.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara riuh rendah. Bukan suara panik seperti beberapa hari terakhir. Ini berbeda. Ada kegembiraan di dalamnya—kegembiraan yang sudah lama tak terdengar di Dusun Karang. Aryan mengernyitkan dahi. Ia merangkak keluar dari kolong, mengucek matanya yang perih karena debu, lalu berjalan mengitari rumah menuju arah suara itu berasal.
Matanya membelalak.
Di tengah lapangan desa, di bawah pohon beringin mati yang menjadi saksi bisu rapat mengerikan dua hari lalu, Baran berdiri dengan bahu terangkat bangga. Posturnya yang tinggi, meski kurus, tampak seperti pahlawan dari cerita-cerita lama. Di kakinya, terbujur seekor rusa kecil. Bulunya cokelat kemerahan, masih basah oleh darah di bagian leher. Tombak Baran—dengan mata batu yang ia buat sendiri—tertancap tepat di sana, ujungnya mencuat keluar.
“Baran! Baran!” teriak beberapa pemuda, berusaha menepuk pundaknya meski harus berjinjit. Wajah mereka, yang selama berhari-hari kusut dan muram, kini bersinar seperti mendapat sinar matahari pertama setelah musim hujan panjang. Para wanita sudah berkumpul dengan pisau-pisau batu di tangan, siap menguliti dan memotong daging. Anak-anak berlarian, berteriak kegirangan, sesuatu yang sudah lama tak terdengar.
Kepala Desa Teguh, yang sedari tadi mengawasi dari beranda rumahnya dengan kaki palsu dari kayu yang berbunyi tiap kali melangkah, turun dengan langkah mantap. Kerumunan langsung membuka jalan, memberi hormat secara otomatis meski dua hari lalu mereka hampir menggulingkannya.
“Warga Dusun Karang,” suara Teguh berat tapi jelas, menggema di lapangan yang tiba-tiba sunyi. “Baran telah membuktikan diri. Di saat kita semua hampir putus asa, ia pulang dengan membawa harapan. Hasil buruan ini bukan untuknya seorang. Ini untuk kita semua. Bagi rata.”
Sorak-sorai pecah. Yang paling keras berasal dari keluarga Rasiman—yang semalam kehilangan semua persediaan makanan mereka. Wajah mereka yang semalam hancur, pagi ini basah oleh air mata lega. Mungkin tidak semua, mungkin hanya sementara. Tapi cukup untuk membuat mereka tersenyum lagi.
Aryan melihat ayahnya tersenyum lebar, dielu-elukan seperti pahlawan. Dadanya tiba-tiba membuncit oleh rasa bangga yang asing. Cangkul batu yang ia buat—meskipun hasilnya tidak sebagus punya orang dewasa, meskipun ia harus merahasiakannya—telah memungkinkan semua ini. Ayahnya bisa memburu karena senjatanya tajam. Dan senjata itu buatannya.
Tapi di balik bangga, ada perih yang menggerogoti. Perih yang diam-diam merayap masuk seperti akar ke celah-celah batu. Semua orang memuji Baran. Semua orang senang dengan daging rusa. Semua orang melupakan bahwa dua hari lalu mereka hampir saling bunuh. Sementara ia, si pembuat senjata, hanya bisa berdiri di pinggir kerumunan, dengan tangan kotor dan sepuluh jari yang mulai lecet dan kapalan. Tangannya yang terluka, yang berdarah, yang menangis dalam diam—tak ada yang melihat. Yang mereka lihat hanyalah hasil akhir. Yang mereka puji hanyalah ayahnya.
“Aryan!” Laras muncul di sampingnya, menariknya ke dalam pelukan. Wajah ibunya basah. “Lihat, Nak. Ayahmu berhasil. Kita makan malam ini.”
Aryan memeluk ibunya, tapi matanya masih tertuju pada Baran yang dikerumuni orang. Ia tersenyum—demi ibunya—tapi di dalam, ada tekad yang mengeras. *Ayah sudah melakukan bagiannya. Sekarang giliranku.*
***
Malam harinya, aroma daging bakar memenuhi seluruh penjuru Dusun Karang. Aroma yang sudah lama tak menggelitik hidung, aroma yang membuat perut keroncongan meskipun baru saja makan. Warga duduk melingkar di lapangan, di bawah pohon beringin mati yang kini dihiasi obor-obor. Masing-masing mendapat bagian—tidak banyak, tapi cukup untuk membuat pipi mereka merona.
Suasana hangat. Canda tawa mulai terdengar lagi setelah berhari-hari diliputi kecemasan dan kecurigaan. Tawa paling keras berasal dari Baran, yang duduk di dekat api unggun, bercerita dengan gaya dramatis tentang bagaimana ia memburu rusa itu sendirian. Tangannya bergerak ke sana kemari, menirukan saat ia melempar tombak, saat ia mengejar, saat ia berteriak. Orang-orang tertawa, bertepuk tangan, memintanya bercerita lagi.
Aryan duduk di pojok, memeluk lutut, menggigit daging rusa yang alot. Rasanya hambar di mulut. Ia terus mengunyah, menelan, tapi tak merasakan apa-apa. Matanya beralih ke tangannya sendiri. Di balik gelap malam, ia bisa merasakan perih di telapak tangan. Lepuh-lepuh kecil mulai terasa, beberapa sudah pecah dan mengering. Ia sembunyikan tangannya di balik paha, tak ingin ada yang melihat.
Keesokan harinya, saat desa masih diliputi rasa kenyang dan malas—keadaan yang aneh dan langka—Aryan kembali ke tempat persembunyiannya. Kali ini, ia membawa batu baru. Lebih kecil, lebih pipih. Mencoba pendekatan berbeda. Alih-alih memukul dengan keras dan berharap batu itu patuh, ia memukul dengan pelan dan terukur di bagian tepi, berusaha mengikis sedikit demi sedikit. *Tak-tak-tak.* Suara ketukan kecil itu seperti detak jantungnya sendiri—stabil, berusaha tenang, meski di dalam dadanya api frustrasi terus membakar.
Satu jam. Dua jam. Matahari bergerak tanpa ia sadari. Keringat membasahi punggungnya, membuat baju lusuhnya basah dan lengket. Tapi batu itu mulai menunjukkan bentuk dasar. Seperti cangkul, tapi masih sangat kasar dan tebal. Ujungnya tumpul, tidak akan bisa membelah tanah. Tapi setidaknya—untuk pertama kalinya—bentuknya menyerupai cangkul.
Aryan tersenyum tipis. Senyum pertama dalam berhari-hari. Ia terus memukul, terus mengikis. Konsentrasinya begitu dalam hingga ia tak sadar posisi jari telunjuk kirinya terlalu dekat dengan area yang dipukul.
*DUK!*
Bukan suara batu pecah. Ini suara lain. Suara daging terbanting batu. Suara tulang yang mungkin retak. Rasa nyeri yang menyayat langsung menjalar dari ujung jari, melewati lengan, menusuk hingga ke ubun-ubun. Aryan menahan teriakan dengan menggigit bibirnya sendiri hingga hampir berdarah. Ia menarik tangannya. Darah segar mengucur deras dari ujung jari telunjuknya, menetes deras ke tanah. Kukunya hancur, daging di ujung jarinya terbuka seperti buah delima yang pecah.
Untuk beberapa detik, dunia berhenti. Rasa sakit itu begitu nyata, begitu menusuk, begitu... hidup. Ia menekan lukanya dengan ibu jari tangan satunya, berusaha menghentikan darah yang tak mau berhenti. Tangannya gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan cepat, cepat, terlalu cepat. Air mata—yang sedari kemarin ia tahan dengan susah payah—kini menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja.
Tapi ia tak mau menangis. Ia anak laki-laki. Ia harus kuat. Kata-kata itu berulang di kepalanya seperti mantra. Tapi mantra itu tak mampu menghentikan rasa sakit, tak mampu menghentikan rasa frustrasi yang memuncak, tak mampu menghentikan perasaan tidak berguna yang selama ini ia pendam.
Dengan napas tersengal-sengal, ia meraih kembali batu yang hampir jadi itu. Darah dari jarinya menetes, membasahi permukaan batu yang kasar. Batu itu menyerap darahnya, meninggalkan bercak merah yang cepat mengering. Ia mencengkeram batu itu dengan tangan kiri—tangan yang tidak terluka—dan dengan tangan kanan yang terluka parah, ia mengambil batu pemukul lagi.
*Tak.*
Pukulan kecil. Rasa sakit menjalar dari jari, naik ke pergelangan, ke lengan, ke pundak. Ia menggertakkan gigi.
*Tak.*
Pukulan lagi. Air mata kini jatuh tanpa bisa dibendung lagi, membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan darah kering. Ia menangis dalam diam, sesenggukan, dadanya terasa sesak, sambil terus memukul batu itu dengan lemah.
*Tak... tak... tak...*
Batu itu tidak berubah. Tepinya tetap tumpul, bentuknya asal-asalan, permukaannya tidak rata. Ia memukul sekali lagi, lebih keras, dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.
*CRACK!*
Batu yang hampir jadi itu kembali pecah. Kali ini menjadi tiga bagian. Satu bagian besar yang seharusnya menjadi mata cangkul, dua serpihan kecil yang tak berguna. Aryan terhenti. Ia memandang pecahan-pecahan itu, lalu ke jarinya yang berlumuran darah, lalu kembali ke pecahan batu.
Pada saat itu, rasa sakit di jari tak ada apa-apanya dibanding rasa hancur di dadanya. Ia bukan hanya gagal. Ia bukan hanya tidak berguna. Ia adalah bocah bodoh yang terus mencoba sesuatu yang di luar kemampuannya, dan hasilnya hanya luka dan pecahan batu.
Aryan menyandarkan kepala ke tiang rumah panggung, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Ia tak lagi peduli siapa yang mendengar. Ia tak lagi peduli siapa yang melihat. Yang ia rasakan hanyalah kekalahan yang begitu total, begitu dalam, hingga tenggelam di dalamnya terasa seperti satu-satunya pilihan.
Di atasnya, suara warga yang masih bergembira sisa pesta kemarin terdengar samar. Mereka tertawa, bercerita, menikmati hidup. Sementara di bawah rumah panggung, di tempat gelap dan kotor ini, seorang anak menangis sendirian.
***
Malam telah larut. Pesta kecil semalam membuat sebagian besar warga terlelap lebih cepat dari biasanya. Lampu-lampu minyak di setiap rumah mulai redup satu per satu, padam oleh kekurangan minyak dan rasa kantuk. Di rumah panggung kecil milik Baran, Aryan berbaring di atas tikar anyaman, memunggungi ibunya. Tangannya yang terluka ia selipkan di bawah ketiak, bersembunyi. Rasa sakit masih berdenyut-denyut—bukan lagi sakit tajam, tapi nyeri tumpul yang terus mengingatkan pada kegagalan.
Ia tak tidur. Matanya terbuka lebar di gelap, menatap dinding bambu tanpa melihat. Pikirannya berputar-putar di tempat yang sama: *Kenapa aku tidak bisa? Kenapa semudah itu bagi orang lain? Apa yang salah denganku?*
Laras, dari balik kegelapan, mengamati anaknya. Sejak sore tadi ia sudah merasakan ada yang tidak beres. Aryan tidak makan malam—padahal itu daging rusa, barang mewah yang tak pernah mereka nikmati. Ia hanya menggeleng, bilang tidak lapar, lalu berbaring membelakangi semua orang. Laras tahu anaknya. Tahu kapan ia sedih, kapan ia marah, kapan ia menyembunyikan sesuatu.
Dan saat Aryan menggeliat gelisah, tanpa sengaja menggeser posisi tangan, Laras melihatnya. Sekilas—hanya sekilas—di bawah sinar rembulan yang masuk lewat celah dinding bambu, ia menangkap semburat merah di tangan anaknya.
Perlahan, tanpa suara, Laras bangkit. Ia merangkak mendekati Aryan, lalu meraih lengan anaknya dengan lembut. Aryan tersentak, mencoba menarik tangannya, tapi Laras menggenggam lebih kuat. Dengan hati-hati, ia menarik tangan kecil itu ke hadapannya.
Di bawah cahaya lampu minyak yang hampir padam—yang sempat ia nyalakan kembali dengan jari gemetar—Laras melihatnya. Jari telunjuk yang bengkak, kuku yang hancur berantakan, luka menganga yang masih mengeluarkan darah segar meski sudah di sembunyi berjam-jam. Dadanya serasa diremas oleh tangan raksasa.
Tanpa berkata sepatah kata pun, tanpa bertanya apa pun, Laras bangkit. Ia mengambil kain bersih dari bungkusan kecil satu-satunya milik keluarga itu—kain yang seharusnya untuk persiapan jika ada yang sakit parah. Ia juga mengambil botol air, satu-satunya yang tersisa. Kembali duduk di samping Aryan, ia mulai membersihkan luka itu dengan hati-hati. Telaten. Lembut. Jari-jarinya yang kasar karena bekerja keras, bergerak dengan kelembutan yang hanya dimiliki seorang ibu.
Aryan menggigit bibir, menahan perih saat kain basah menyentuh lukanya. Tapi bukan itu yang paling sakit. Yang paling sakit adalah saat ia menatap wajah ibunya yang tertunduk. Ia mencari amarah, mencari umpatan, mencari kekecewaan—sesuatu yang pantas ia terima karena kebodohannya. Tapi tak ada. Yang ia lihat, di bawah cahaya temaram lampu minyak yang hampir mati, mata ibunya berkaca-kaca.
Bukan tangis yang meledak. Bukan isak yang keras. Tapi genangan air di mata yang tak tumpah—dan itu lebih menghancurkan daripada teriakan apa pun.
Laras membalut jari anaknya dengan kain. Ikatannya rapi, tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar. Dengan sisa kain, ia membersihkan darah kering di sela-sela jari lain, di telapak tangan, di pergelangan. Setelah selesai, ia masih memegang tangan kecil itu. Tak dilepaskan. Ia menatap Aryan—bukan tatapan iba yang membuat orang merasa kasihan, tapi tatapan seseorang yang tahu persis apa yang diperjuangkan anaknya.
Ia tahu. Tanpa penjelasan, tanpa pengakuan, Laras tahu. Tahu tentang batu-batu di kolong rumah. Tahu tentang tangan yang terluka. Tahu tentang keinginan besar di balik tubuh mungil itu untuk membuktikan sesuatu. Mungkin pada ayahnya. Mungkin pada dirinya sendiri. Mungkin pada dunia yang terus membuatnya merasa tidak berguna.
Aryan ingin bicara. Ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa ia hanya ingin membantu, bahwa ia sudah berusaha, bahwa ia gagal lagi dan lagi. Tapi lidahnya terasa kelu, kaku, tak mau bergerak. Yang bisa ia lakukan hanyalah membalas tatapan ibunya. Dalam keheningan malam yang pekat, hanya ada suara jangkrik dari luar dan suara napas mereka yang beradu.
Laras akhirnya mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang berarti seribu kata: *Aku tahu, Nak. Aku tahu usahamu. Aku tahu sakitmu. Aku tahu kamu lelah.* Ia mengelus kepala Aryan sebentar—hanya sebentar, tapi terasa lama—lalu kembali ke tempat tidurnya. Meninggalkan Aryan dengan perasaan yang campur aduk, yang menggunung, yang tak bisa ia jelaskan.
Aryan memandangi jarinya yang terbungkus kain. Rasa sakit masih ada, masih berdenyut. Tapi ada kehangatan aneh yang menyelimutinya sekarang—kehangatan yang bukan berasal dari balutan, tapi dari sesuatu yang lebih dalam. Ia berbaring lagi, menatap langit-langit rumah yang hanya berupa anyaman bambu dan daun kelapa kering. Air mata yang tadi kering, kembali menggenang. Tapi kali ini, bukan karena frustrasi semata.
Di sudut ruangan, di luar jangkauan mata, di bawah kolong rumah panggung, tumpukan batu pecah dan satu cangkul batu kasar yang retak dan tumpul terbengkalai dalam gelap. Simbol bisu dari tangan-tangan kecil yang berusaha menggapai sesuatu yang mungkin terlalu besar untuknya. Tapi di dalam dadanya, untuk pertama kalinya sejak lama, ada sesuatu yang tumbuh. Bukan harapan akan keberhasilan. Tapi keyakinan bahwa setidaknya—setidaknya—ada satu orang di dunia ini yang melihat perjuangannya tanpa perlu penjelasan.
Aryan memejamkan mata. Balutan di jarinya terasa hangat. Napasnya perlahan teratur. Dan di luar, angin malam berdesir pelan, membawa janji bahwa esok adalah hari baru untuk mencoba lagi.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Tangan Kecil, Batu Kasar | EPS 4"