Cahaya di Ujung Pisau | EPS 5
Dua hari sejak jarinya dibalut Laras, Aryan masih menyembunyikan tangannya dari pandangan orang lain. Lukanya mengering, tapi rasa malu karena gagal masih basah. Kini ia duduk di beranda rumah, di bawah sinar pagi yang mulai hangat, dengan sebilah pisau dapur di pangkuannya. Pisau tua bermata batu, hasil pertukaran dengan pengembara beberapa musim lalu. Sudah tumpul, sering terpeleset saat memotong.
“Aryan, asah dulu pisaunya. Nanti kita potong daging rusa sisa untuk diawetkan,” suara Laras dari dalam rumah, lembut tapi jelas. Aryan hanya mengangguk, mengambil batu asah pipih yang biasa dipakai ibunya. Tangannya masih terasa kaku, jari yang terluka sedikit kaku saat memegang gagang pisau.
Ia mulai menggesekkan mata pisau ke batu asah. Gerakan memutar, seperti yang diajarkan Laras. *Srek... srek... srek...* Suara itu ritmis, menenangkan. Tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ke tumpukan batu di kolong rumah. Ke sorak-sorai warga untuk Baran. Ke tatapan ibunya malam itu. *Srek... srek... srek...*
“Kenapa aku tak bisa seperti orang lain?” batinnya pahit. Semua orang punya peran. Baran pemburu. Para wanita mengolah makanan. Kepala desa memimpin. Tapi ia? Ia hanya bocah yang bahkan tak bisa membuat cangkul batu sederhana. Tangannya memegang pisau lebih erat. Gesekannya lebih cepat. *Srek! Srek! Srek!*
Konsentrasinya pecah saat ujung jarinya yang terluka terkena sudut batu asah. Rasa perih menyambar. Refleks, ia menarik tangan. Dan saat itulah—sesuatu terjadi.
Dari ujung jarinya yang terbungkus kain, muncul cahaya. Samar-samar. Seperti kunang-kunang yang terjebak di bawah kulit. Aryan terpaku. Matanya membelalak. Cahaya itu merambat perlahan dari jari, melewati telapak tangan, menjalar ke jari-jari lain yang memegang pisau. Hangat. Seperti air sungai di siang hari. Seperti sinar matahari yang menyelinap di sela dedaunan.
Pisau di tangannya... berubah.
Aryan tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mata pisau yang tadinya kusam, tiba-tiba tampak... hidup. Warna abu-abunya berkilau sejenak, seperti permukaan kolam yang tenang. Dan cahaya di tangannya—merambat masuk ke dalam batu. Bukan menyerap, tapi menyatu. Seperti air meresap ke tanah kering.
Lalu, sama tiba-tibanya, cahaya itu lenyap.
Aryan terengah-engah, meski tubuhnya tak bergerak. Keringat dingin membasahi kening. Ia menatap tangannya—biasa saja. Lalu menatap pisau itu—masih sama, masih abu-abu, masih batu. Apakah tadi hanya khayalan? Akibat kurang tidur?
Ia mengangkat pisau itu, ragu. Di dekatnya ada sepotong kayu bakar yang belum dibelah. Tanpa berpikir, tanpa sengaja, ia mengayunkan pisau itu ke kayu. Bukan dengan keras, hanya ayunan biasa, seperti orang memotong sayuran.
*SREET!*
Pisau itu masuk ke kayu. Bukan seperti batu yang membelah kayu dengan paksa. Tapi seperti... panas melelehkan lemak. Pisau itu meluncur mulus, membelah kayu sebesar lengan menjadi dua bagian bersih. Potongannya begitu halus, permukaannya mengilap seperti dipoles.
Aryan tercekat. Ia memandang pisau itu, lalu ke kayu yang terbelah, lalu ke pisau lagi. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa di telinga. Ia mengangkat pisau itu ke hadapannya, memeriksa mata pisaunya. Masih batu. Masih sama. Tapi...
Di permukaan pisau yang sedikit mengilap, ia melihat bayangannya sendiri. Wajahnya yang pucat, mata membulat karena kaget. Dan di bayangan itu—ia melihatnya. Untuk sesaat, matanya sendiri... bersinar. Samar. Seperti bara api yang tertiup angin. Merah pucat, redup, tapi nyata.
*CRASH!*
Pisau itu jatuh dari tangannya. Aryan mundur dengan bokongnya, merangkak menjauh dari pisau itu seolah benda itu ular berbisa. Napasnya tersengal-sengal, pendek, cepat. Tubuhnya gemetar. Ia menatap tangannya sendiri—tangannya—dengan ketakutan. Apa yang baru saja terjadi? Apa itu tadi? Kenapa tangannya bercahaya? Kenapa matanya sendiri tampak aneh di bayangan?
“Aku... aku kenapa?” bisiknya, suara hampir tak terdengar.
Tanpa pikir panjang, instingnya hanya satu: bersembunyi. Ia bangkit, melompat turun dari beranda, dan merangkak masuk ke kolong rumah panggung. Tempat persembunyian lamanya. Di antara tumpukan batu pecah dan debu, ia meringkuk, memeluk lutut, berusaha mengecilkan diri. Matanya masih menatap keluar, ke arah pisau yang tergeletak di beranda, terkena sinar matahari. Pisau itu diam saja. Tak ada yang aneh. Tapi Aryan tahu—ia tahu—ada yang sangat aneh dengan dirinya.
***
“Aryan? Aryan!” panggil Laras dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, ia keluar ke beranda. Matanya langsung menangkap pisau yang tergeletak, dan dua potong kayu terbelah di sampingnya. “Aryan, kamu di mana?”
Aryan menahan napas di kolong. Ia melihat kaki ibunya mendekati pisau itu, memungutnya. Laras memeriksa pisau itu, lalu mengambil salah satu potongan kayu. Dengan hati-hati, ia menggoreskan pisau ke permukaan kayu. *Sreet.* Tipis, mulus. Alis Laras terangkat. Ia mencoba memotong ujung kayu itu. *Sreet.* Lagi, lagi. Potongan demi potongan jatuh, masing-masing dengan permukaan halus tak biasa.
“Wah, tajam sekali,” gumam Laras setengah heran. Ia memeriksa mata pisau, lalu ke batu asah yang masih ada di beranda. “Aryan, cara mengasahmu benar rupanya. Lebih bagus dari aku.” Ada nada bangga dalam suaranya, meski tercampur heran.
Aryan mendengar itu. Perutnya mulas. Ibunya salah sangka. Ibunya mengira ia pandai mengasah. Padahal, ia tidak tahu. Ia tidak tahu tentang cahaya itu. Tentang matanya yang bersinar. Tentang rasa takut yang menggerogoti hati anaknya.
Laras masuk kembali ke dalam rumah, membawa pisau dan kayu-kayu itu. Meninggalkan Aryan sendirian di kolong. Ia baru berani bernapas lega setelah kaki ibunya tak terlihat. Tapi ketenangan itu hanya sebentar. Ia menatap tangannya sendiri, tangannya yang biasa—lima jari, telapak, luka kering di jari. Tak ada yang berbeda. Tapi kenapa... kenapa ia merasa dirinya bukan dirinya lagi?
***
Hari berganti sore, sore berganti malam. Aryan bersikap biasa saat makan malam. Ia mengunyah daging rusa asap tanpa merasakan rasanya. Ia menjawab pertanyaan Laras dengan anggukan atau gelengan. Ia menghindari menyentuh pisau itu yang kini disimpan Laras di dapur, dipuji-puji ketajamannya.
Namun, saat lampu minyak dipadamkan, saat gelap menyelimuti seluruh ruangan, Aryan tak bisa tidur. Ia memejamkan mata, tapi yang muncul adalah bayangan matanya sendiri yang bersinar di permukaan pisau. Merah pucat. Seperti bara. Seperti sesuatu yang... bukan manusia.
“Apa aku sakit?” pikirnya. “Apa aku kena kutukan?”
Tak ada jawaban. Hanya degup jantungnya sendiri yang terlalu keras di malam yang sunyi.
Akhirnya, kelelahan mengalahkan ketakutan. Aryan tertidur, gelisah, dengan alis berkerut bahkan saat terlelap. Dan di alam mimpi, batas antara nyata dan khayal kabur.
Ia berdiri di tengah hutan, tapi hutan yang berbeda. Semua benda—pohon, batu, tanah—bergetar dengan garis-garis cahaya halus. Cahaya itu mengalir, berdenyut, seperti urat nadi. Di pohon, cahaya kehijauan mengalir dari akar hingga daun. Di batu, cahaya kemerahan berdenyut lambat, seperti jantung raksasa yang tertidur. Di tanah, kilau emas samar merambat tak beraturan.
Aryan menunduk, melihat tangannya sendiri. Di dalam mimpinya, tangannya juga bercahaya. Bukan merah, tapi putih pucat, seperti bintang jatuh. Dan saat ia menyentuh tanah, semua garis cahaya di sekitarnya—merah, hijau, emas—seakan menarik napas serempak. Berhenti sejenak. Lalu mengalir lagi, lebih cepat, lebih hidup.
“Kau bisa melihatnya,” suara itu muncul entah dari mana. Bukan suara manusia. Seperti gemericik air, seperti desiran angin, seperti derak api. Semua jadi satu.
Aryan membuka mulut, ingin berteriak, ingin bertanya. Tapi sebelum suara keluar, semua garis cahaya itu membanjir, membutakan, memenuhi seluruh alam mimpi dengan putih yang menyilaukan—
***
Aryan tersentak bangun.
Gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dan nafasnya sendiri yang berat. Ia duduk di atas tikar, keringat membasahi baju. Dadanya naik turun cepat. Mimpi itu... terasa begitu nyata. Ia masih bisa merasakan getaran garis-garis cahaya itu di ujung jarinya.
Perlahan, dengan tangan gemetar, ia mengulurkan tangannya ke depan, ke arah gelap. Tak ada apa-apa. Hanya udara malam yang sejuk.
Tapi di dalam dadanya, sebuah pertanyaan lahir—pertanyaan yang tak akan bisa dijawab oleh siapa pun di desa kecil ini: “Apa yang salah dengan diriku? Atau... justru inilah aku yang sebenarnya?”
Di luar, angin malam berdesir pelan, seolah alam semesta sendiri berbisik, menyimpan rahasia yang bahkan Aryan sendiri belum siap menerimanya.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Cahaya di Ujung Pisau | EPS 5"