Eksperimen Rahasia | EPS 6

Dua hari sejak mimpi aneh itu, Aryan masih dihantui garis-garis cahaya yang mengalir di dalam tanah, di dalam batu. Ia mencoba melupakannya, sibuk membantu Laras mengolah daging rusa, mengambil air, membersihkan halaman. Tapi saat malam tiba, saat semua orang terlelap, ia hanya bisa menatap tangannya sendiri—menunggu, berharap, takut—apakah cahaya itu akan muncul lagi.

Rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan ketakutan. Keesokan paginya, saat Laras pergi ke ladang bersama wanita-wanita lain, Aryan merangkak masuk ke kolong rumah. Di antara debu dan sarang laba-laba, tumpukan batu pecah itu masih ada. Dan di paling bawah, terselip satu cangkul batu—hasil kegagalannya yang paling mendekati bentuk. Kasar, retak di bagian pangkal, tumpul di ujung. Cangkul yang tak berguna.

Aryan menariknya keluar. Debu menempel di sela-sela jarinya. Ia duduk di bawah rumah, dengan cahaya matahari yang menyelinap di sela anyaman bambu membentuk garis-garis tipis. Cangkul itu ia letakkan di pangkuannya. Matanya tertuju pada batu kasar itu.

“Ayo,” bisiknya pada diri sendiri. “Kalau kemarin bisa, sekarang pasti bisa.”

Ia memejamkan mata. Mencoba mengingat perasaan saat tangannya bersinar kemarin. Hangat. Mengalir. Seperti air sungai yang mengalir dari jari ke benda yang ia pegang. Ia konsentrasi. Diam. Menunggu.

Tak terjadi apa-apa.

Aryan membuka mata. Cangkul itu tetap kasar, tetap retak, tetap tak berguna. Ia menghela napas, mengulang lagi. Pejam. Bayangkan hangat. Bayangkan cahaya. Bayangkan perasaan itu merambat di lengan. Diam. Tunggu.

Tak ada.

***

Percobaan kelima. Aryan mulai frustrasi. Ia memukul-mukul pahanya sendiri. “Kenapa? Kemarin tanpa sengaja bisa, sekarang sengaja malah tidak?”

Percobaan kesepuluh. Ia mengganti posisi duduk. Mencoba memegang cangkul dengan cara berbeda. Mencoba menggosok permukaannya seperti saat mengasah pisau. Tetap nihil.

Percobaan kelima belas. Matahari sudah bergeser, bayangan di bawah rumah berubah. Aryan berkeringat, bukan karena panas, tapi karena tegang. Tangannya mulai gemetar—campuran lelah dan frustrasi.

Percobaan kedua puluh. Ia hampir melempar cangkul itu ke tanah. Matanya panas, tapi ia tahan. “Satu lagi,” desisnya. “Satu kali lagi.”

Percobaan kedua puluh tiga. Aryan memegang cangkul itu, tapi tangannya sudah tak mampu berkonsentrasi. Pikirannya kacau. Semua keinginan untuk membantu Baran, semua rasa tak berguna, semua harapan yang ia tumpuk pada kekuatan aneh ini—semuanya runtuh. Air mata menetes tanpa ia minta. Jatuh ke permukaan batu yang kasar.

“Kenapa susah sekali?” isaknya pelan. Suaranya pecah. “Aku hanya ingin membantu. Aku hanya ingin berguna. Kenapa... kenapa aku malah begini?”

Ia memeluk cangkul itu, menangis dalam diam. Rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam, sejak cangkul pertamanya pecah, sejak jarinya hancur terkena batu, sejak ia melihat mata ibunya berkaca—semuanya tumpah ruah. Bahunya terangkat turun. Tangisnya tak bersuara, hanya getaran kecil di tubuh mungilnya.

Dan di tengah tangis itu, di tengah rasa putus asa yang paling dalam, ia teringat sesuatu. Cangkul kuno milik orang dewasa. Bukan bentuknya, bukan ukirannya. Tapi perasaan saat ia memegangnya dulu. Hangat. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam batu itu. Seperti batu itu bukan sekadar benda mati.

Aryan berhenti menangis. Napasnya masih tersengal. Ia menyeka air mata dengan lengan bajunya, mengotori wajahnya dengan debu. Lalu ia memegang cangkul itu lagi—tapi kali ini berbeda. Ia tak mencoba memaksakan cahaya keluar. Ia tak mencoba berkonsentrasi seperti orang menahan kencing. Ia hanya... merasakan.

Ia memejamkan mata. Tapi bukan untuk konsentrasi. Untuk mendengarkan. Untuk merasakan apa yang ada di dalam batu itu. Apakah batu itu juga punya denyut? Apakah batu itu juga punya kehidupan?

Dan di sanalah ia merasakannya.

Samar-samar, di ujung jarinya, ada getaran kecil. Bukan dari tangannya. Dari dalam batu. Seperti detak jantung yang sangat lambat. Seperti aliran sungai di kedalaman tanah. Batu itu—hidup.

Refleks, tanpa sadar, tangannya merespons. Dan cahaya itu muncul lagi. Bukan seperti kemarin yang tiba-tiba. Kali ini perlahan, seperti fajar merekah. Dari ujung jarinya, cahaya putih pucat merambat, memasuki batu. Dan batu itu—menyambutnya. Seperti tanah kering menyambut hujan. Seperti teman lama yang bertemu setelah sekian lama.

Aryan membuka mata. Di pangkuannya, cangkul batu itu berubah. Retak-retaknya menutup, bukan seperti ditambal, tapi seperti... menyatu. Permukaan kasarnya menjadi halus, mengilap seperti batu sungai yang terendam air bertahun-tahun. Warnanya pun berubah—dari abu-abu kusam menjadi abu-abu gelap dengan kilauan keperakan di sudut-sudutnya. Bobotnya terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih pas di genggaman.

Dan ujungnya—yang tadinya tumpul—kini runcing alami. Seperti dibentuk oleh sungai selama seratus tahun.

Aryan terpaku. Napasnya tertahan. Ia mengangkat cangkul itu, merasakan beratnya. Ringan. Sangat ringan untuk ukuran batu. Ia mengayunkannya pelan di udara—swoosh—angin kecil terpotong oleh ujungnya yang tajam.

“Berhasil,” bisiknya, suaranya hampir tak percaya. “Aku berhasil.”

Tapi kegembiraan itu hanya bertahan beberapa detik. Tiba-tiba, dunia terasa berputar. Pandangannya kabur. Cahaya di bawah rumah terasa terlalu terang. Aryan memegangi kepala, mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Ia jatuh kembali ke tanah, cangkul itu terlepas dari genggamannya.

Sebelum pingsan, ia sempat berpikir: *Kenapa badan rasanya kosong?*

Lalu semuanya gelap.

***

Laras pulang saat matahari sudah condong ke barat. Ia membawa seikat sayur liar yang ditemukan di ladang. Biasanya, Aryan akan menyambutnya di beranda, membantu meletakkan barang. Tapi hari ini tak ada siapa-siapa.

“Aryan?” panggilnya. Tak ada jawaban.

Ia masuk ke rumah. Kosong. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Aryan?” panggilnya lagi, lebih keras. Masih sunyi. Ia turun dari rumah, melihat ke sekitar. Tak ada tanda-tanda anaknya.

Lalu matanya menangkap sesuatu. Di kolong rumah, di balik bayangan tiang, terlihat sesosok tubuh kecil tergeletak.

“Aryan!” Laras berlari, merangkak masuk ke kolong tanpa peduli debu dan kotoran. Ia membalikkan tubuh anaknya. Aryan pucat, keringat dingin membasahi wajahnya, tapi napasnya masih ada—teratur, dalam. Seperti tidur.

“Nak, bangun!” Laras mengguncangnya pelan. Aryan tak bergerak. Diguncang lagi. Baru kali ini Aryan mengerang pelan, memiringkan kepala, tapi matanya tetap terpejam. Ia tidur. Tidur sangat pulas.

Laras menghela napas lega, tapi kelegaan itu segera berganti kecemasan. Anaknya jarang tidur di siang hari. Apalagi di kolong rumah. Ia mengangkat Aryan, membawanya ke atas rumah, membaringkannya di tikar. Tangannya menyeka keringat di dahi Aryan. Dingin. Tidak panas. Bukan demam.

Lalu matanya menangkap sesuatu di bawah rumah. Sebuah benda mengilap di antara debu. Ia turun lagi, mengambil benda itu. Sebuah cangkul batu. Tapi cangkul ini... berbeda. Bentuknya seperti cangkul biasa, tapi permukaannya halus, mengilap, ujungnya tajam. Bukan cangkul milik siapa pun di desa ini.

Laras memandang cangkul itu, lalu ke anaknya yang terlelap. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Tapi apa?

***

Aryan terbangun saat matahari hampir tenggelam. Tubuhnya lemas, seperti baru sembuh dari sakit panjang. Ia duduk, bingung. Laras duduk di sampingnya, diam, dengan cangkul aneh itu di pangkuannya.

“Ini punyamu?” tanya Laras pelan.

Aryan tercekat. Ia ingin berbohong, tapi tak bisa. Ia hanya mengangguk lemah.

“Kamu buat ini?” Laras menatap anaknya. Tatapannya tajam, tapi tak marah. Lebih seperti... ingin mengerti.

Aryan mengangguk lagi. “Maaf, Bu. Aku... aku hanya ingin coba buat cangkul. Seperti punya Baran.” Suaranya serak.

Laras memandangi cangkul itu lama. Lalu cangkul itu ia letakkan di samping Aryan. “Istirahat,” katanya lembut. “Besok kita bicara.”

Tapi tak ada yang dibicarakan keesokan harinya. Laras diam-diam mengamati, curiga, tapi tak tahu harus bertanya apa. Sementara Aryan, setelah sarapan, mengambil cangkul ajaibnya dan pergi. Ia punya tujuan.

***

Di ladang dekat pinggir hutan, Rojak sedang mencangkul. Teman sebaya Aryan itu berkeringat, membalikkan tanah dengan cangkul batu biasa—berat, kasar, dan tumpul. Setiap ayunan membutuhkan tenaga ekstra. Ia berhenti sejenak, mengusap keringat di dahi.

“Rojak!” panggil Aryan dari belakang.

Rojak menoleh. Matanya membulat melihat cangkul di tangan Aryan. “Wah, cangkul baru? Bagus sekali!”

Aryan tersenyum canggung. Ia mendekat, lalu mengulurkan cangkul itu. “Coba pakai ini.”

Rojak memandangnya heran. “Pakai punyamu? Nanti rusak.”

“Coba saja. Lebih ringan.”

Dengan ragu, Rojak mengambil cangkul itu. Tangannya terkejut—beratnya tak sebanding dengan bentuknya. Jauh lebih ringan dari cangkulnya sendiri. Ia mengayunkan ke tanah.

*Cruk!*

Cangkul itu masuk ke tanah keras seperti pisau ke daging. Rojak membelalak. Ia mencabutnya, mengayun lagi. *Cruk!* Lagi. Lagi. Tanah yang biasanya butuh tiga-empat ayunan, kini cukup sekali. Ujung cangkul itu begitu tajam, begitu kokoh.

Rojak berhenti, memandangi cangkul itu, lalu menatap Aryan dengan tatapan aneh. Campuran kagum, heran, dan sedikit tak percaya.

“Aryan...” katanya pelan. “Kamu dapat ini dari mana?”

Aryan menelan ludah. Senyumnya kaku. “Buatan sendiri,” jawabnya, suara hampir tak terdengar.

Rojak memandangnya lama. Matanya menyipit, bukan curiga, tapi lebih seperti... melihat sesuatu yang baru pertama kali ia lihat. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

“Kamu... bisa buat ini?” bisik Rojak.

Aryan tak menjawab. Angin sore berdesir pelan, membawa aroma tanah yang baru dicangkul. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik bukit, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Dua bocah itu berdiri saling berpandangan—satu dengan kekaguman yang berubah jadi kebingungan, satu lagi dengan rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.

Dan di tangan Rojak, cangkul batu yang tak biasa itu diam saja, menyimpan misteri yang bahkan Aryan sendiri belum sepenuhnya mengerti.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Eksperimen Rahasia | EPS 6"