Akar yang Tumbuh | EPS 7
Rojak masih memegang cangkul itu dengan perasaan aneh. Di tangannya, batu yang dingin itu terasa... hidup. Bukan hidup seperti binatang, tapi seperti ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya berbeda dari batu biasa. Ia mengayunkan lagi ke tanah. *Cruk!* Tanah keras membelah seperti air.
“Aryan, ini benar-benar buatanmu?” tanya Rojak, matanya tak lepas dari cangkul itu.
Aryan mengangguk, lidahnya terasa kelu. Ia ingin menarik cangkul itu kembali, menyembunyikannya, menguburnya di kolong rumah. Tapi sudah terlambat. Rojak sudah merasakan. Rojak sudah tahu ada yang berbeda.
“Coba lihat,” Rojak berjongkok, memeriksa ujung cangkul yang mengilap. “Ini batu sungai biasa, kan? Tapi... halus sekali. Dan tajam. Cangkul ayahku yang baru dibeli dari pengembara saja tidak setajam ini.”
Aryan hanya bisa diam. Ia tak tahu harus menjelaskan apa. Tentang cahaya di tangannya? Tentang mimpi aneh dengan garis-garis cahaya? Tentang rasa lemas setelah cangkul itu jadi? Semua itu terlalu gila untuk diucapkan.
“Coba biar kulanjutkan dulu,” kata Rojak, sudah kembali bersemangat. Ia membalikkan badan, menghadap ke ladang yang masih luas belum tersentuh. Dengan semangat baru, ia mencangkul lagi. *Cruk! Cruk! Cruk!*
Aryan duduk di pinggir ladang, mengamati. Ia melihat bagaimana cangkul itu masuk ke tanah dengan mudah. Bagaimana Rojak tak perlu mengayunkan terlalu keras. Bagaimana tanah-tanah yang biasanya membutuhkan waktu lama, kini membalik dalam hitungan detik. Ada rasa bangga di dadanya—tapi segera diikuti cemas. Terlalu cepat. Terlalu mencolok.
***
Satu jam kemudian, Rojak berhenti. Ia terengah-engah, bukan karena lelah, tapi karena tak percaya. Di belakangnya, tanah seluas setengah ladang telah tercangkul rapi. Pekerjaan yang biasanya memakan waktu setengah hari, selesai dalam satu jam.
“Aryan...” Rojak menatap cangkul itu, lalu ke Aryan. “Ini... ini ajaib.”
Belum sempat Aryan menjawab, suara berat terdengar dari belakang. “Rojak! Kamu tidak bekerja?”
Mereka berdua menoleh. Seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar, otot lengan menonjol, berjalan mendekat. Wajahnya merah karena panas, keringat membasahi dadanya yang terbuka. Itu Jaka, ayah Rojak. Di tangannya ada cangkul batu biasa—berat dan kasar.
“Ayah, lihat ini!” Rojak berlari mendekat, mengulurkan cangkul ajaib itu. “Cangkul punya Aryan! Enak sekali pakainya!”
Jaka mengambil cangkul itu dengan ragu. Matanya memeriksa bentuknya—sederhana, tapi permukaannya halus tak biasa. Ia mengangkatnya, merasakan berat yang aneh. Terlalu ringan untuk batu sebesar itu.
“Hah,” gumamnya. Ia mengayunkan ke tanah di dekatnya. *Cruk!* Tanah keras membelah. Alis Jaka terangkat. Ia mengayun lagi. *Cruk!* Dan lagi. *Cruk!* Matanya membelalak. Ia berhenti, memeriksa ujung cangkul. Tak ada goresan. Tak ada retak. Masih mengilap.
“Ini...” Jaka menatap Aryan yang berdiri kaku di pinggir ladang. “Nak, ini cangkul keluarga kalian? Dari mana dapatnya?”
Aryan membuka mulut, tapi suara tak keluar. Rojak sudah menjawab untuknya. “Katanya buatan sendiri, Yah!”
“Buatan sendiri?” Jaka memandangi cangkul itu lagi, lalu ke Aryan. Pandangannya berubah. Bukan marah, tapi tak percaya bercampur kagum. “Kamu yang buat? Umurmu baru berapa? Sembilan?”
Aryan mengangguk lemah. Jaka menggeleng-geleng. Ia mendekat, berjongkok di depan Aryan. Suaranya lebih pelan sekarang. “Nak, kau tahu, aku sudah bertahun-tahun pakai cangkul. Beli dari pengembara, buat sendiri, tukar dengan tetangga. Tak ada yang setajam ini. Tak ada seringan ini.” Ia menghela napas. “Kau yakin ini buatanmu?”
Aryan menelan ludah. “Saya... saya coba-coba, Paman. Batu dari sungai. Diasah lama.”
Jaka menatapnya lama. Lalu ia tertawa pelan. “Diasah lama? Nak, batu ini bukan sekadar diasah. Ini... berbeda.” Ia berdiri, mengembalikan cangkul itu ke Aryan. “Kau simpan baik-baik. Ini benda istimewa.”
***
Berita menyebar cepat. Lebih cepat dari api membakar ilalang kering.
Sore harinya, saat Aryan duduk di beranda rumah, ia mulai melihat orang-orang lalu-lalang di depan rumahnya. Bukan sekadar lewat. Mereka melambat, menoleh, berbisik-bisik. Beberapa bahkan berhenti, pura-pura berbincang, tapi mata mereka tertuju ke arahnya.
“Aryan,” panggil Laras dari dalam. Suaranya tegang. “Masuk.”
Aryan menurut. Di dalam, Laras duduk dengan wajah cemas. Baran baru pulang dari hutan, membawa beberapa ekor tikus tanah. Ia meletakkan hasil buruannya, lalu menatap anaknya.
“Banyak yang bertanya tentang cangkulmu,” kata Baran. Suaranya datar, tak bisa ditebak marah atau bangga. “Jaka sudah cerita ke mana-mana. Katanya cangkulmu bisa membelah tanah seperti air.”
Aryan menunduk. “Maaf, Yah. Aku hanya... aku mau bantu Rojak.”
Baran diam. Laras memegang tangan Aryan, merasakan jari-jari kecil yang masih membekas luka. “Kau buat itu kapan? Waktu aku ke ladang?”
Aryan mengangguk, masih menunduk.
Baran berjalan mendekat. Ia berjongkok di depan Aryan, menatap wajah anaknya. Lama. Lalu ia menghela napas panjang. “Nak, aku tak tahu bagaimana kau buat itu. Tapi sekarang, semua orang mau tahu. Mau lihat. Mungkin mau pinjam.” Ia berhenti. “Atau mungkin... mau kau buatkan untuk mereka.”
Aryan mengangkat wajah. Matanya bertemu mata ayahnya. Untuk pertama kali, ia melihat sesuatu yang baru di sana: bukan sekadar sayang atau cemas. Tapi harapan. Harapan yang nyata.
***
Malam harinya, rumah mereka tak lagi sunyi. Warga datang silih berganti. Ada yang membawa hasil kebun, ada yang hanya datang untuk melihat. Mereka semua ingin melihat cangkul ajaib itu. Laras terpaksa mengeluarkannya, mempertunjukkannya di bawah lampu minyak. Orang-orang mengamati, memegang, bergumam kagum.
“Ini batu apa, Laras?”
“Batu sungai biasa, sama seperti yang kita pakai.”
“Mana mungkin? Coba lihat ujungnya. Setajam ini? Cangkulku yang baru sebulan sudah tumpul.”
“Aryan yang buat? Bocah itu?”
Aryan duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Ia mendengar semua percakapan itu. Melihat semua tatapan itu. Ada kagum, ada iri, ada tak percaya. Tapi yang paling ia rasakan adalah: ia tak lagi tak terlihat. Ia, Aryan anak Baran, yang biasanya hanya numpang lewat dalam percakapan orang dewasa, kini menjadi pusat perhatian. Dan itu... menakutkan.
***
Keesokan paginya, saat matahari baru nais setinggi tombak, seorang pemuda desa datang ke rumah mereka. Ia utusan Kepala Desa Teguh.
“Aryan dipanggil Kepala Desa. Sekarang.”
Laras memucat. Baran menghela napas, lalu mengangguk. “Kami ikut.”
“Hanya Aryan,” kata utusan itu tegas. “Perintah Kepala Desa.”
Aryan bangkit. Kakinya terasa seperti terbuat dari kayu. Laras memeluknya cepat, lalu melepaskan. “Tenang, Nak. Bicaralah jujur.”
Tapi Aryan tak tahu mana yang jujur. Tentang cahaya? Tentang mimpi? Atau tentang perasaan aneh yang mengalir di tangannya?
***
Perjalanan ke rumah Kepala Desa terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidup Aryan. Ia berjalan melewati lapangan, melewati beberapa rumah panggung, melewati warung kecil tempat para pria biasa minum tuak. Dan di sepanjang jalan, mata-mata itu mengikutinya.
Dari balik jendela bambu. Dari sela-sela pagar. Dari pinggir jalan tempat wanita menjemur padi. Mereka memandangnya. Bocah kecil dengan pakaian lusuh, dengan jari masih terbungkus kain, dengan langkah gugup. Tapi tatapan mereka berbeda dari biasanya. Tak lagi acuh. Tak lagi sekadar melihat anak kecil lalu lalang. Ada sesuatu yang baru di sana.
Seorang wanita tua berhenti menjemur cabai, menatapnya lekat-lekat. Sekelompok anak-anak yang biasa mengabaikannya, kini berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk. Bahkan anjing desa yang biasa menggonggong padanya, diam saja, hanya mengibas-ngibaskan ekor.
Aryan merasa seperti orang asing di desanya sendiri. Seperti ia berjalan di tempat yang tak pernah ia kenal. Telapak tangannya berkeringat. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia khawatir semua orang bisa mendengarnya.
Rumah Kepala Desa Teguh berada di ujung desa, sedikit lebih besar dari yang lain. Beranda luas, tiang-tiangnya diukir sederhana. Di halaman, beberapa pria duduk bersila, tampak menunggu. Mereka menoleh saat Aryan lewat. Tak ada yang tersenyum.
“Masuk,” kata utusan itu, menunjuk ke tangga rumah.
Aryan menaiki tangga bambu. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung. Ia sampai di beranda. Pintu terbuka. Dan di sana, di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari jendela kecil, Kepala Desa Teguh duduk di kursi bambunya.
Teguh bukan pria tinggi besar. Tapi ada sesuatu di matanya—tajam, tenang, seperti air sungai yang dalam. Usianya mungkin lima puluhan, rambutnya sudah memutih di pelipis. Di tangannya, ia memegang cangkul batu ajaib itu. Cangkul yang diam-diam diambil Laras tadi malam, tanpa Aryan tahu.
“Duduk, Nak,” suara Teguh pelan, tapi entah kenaja membuat Aryan ingin patuh.
Aryan duduk di lantai bambu, bersila, tangannya diletakkan di atas paha. Ia menunduk, tak berani menatap langsung.
Sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar. Teguh memandangi cangkul itu lama, membolak-balikkan, memeriksa setiap sudutnya. Lalu ia meletakkannya di pangkuan, menatap Aryan.
“Nak,” kata Teguh pelan. Matanya tajam, tidak main-main. “Dari mana kau dapat benda itu?”
Aryan membuka mulut. Tapi suara tak keluar. Ia hanya bisa duduk diam, merasakan dadanya berdebar begitu kencang, seolah ingin melompat keluar. Di luar, matahari terus naik, meninggalkan bayangan-bayangan panjang di lantai bambu. Dan di dalam ruangan itu, seorang anak kecil harus memutuskan: berbohong, atau mengatakan kebenaran yang bahkan ia sendiri tak pahami.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Akar yang Tumbuh | EPS 7"