Kebohongan yang Jujur | EPS 8
Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari jendela kecil, Aryan duduk bersila di lantai bambu. Tangannya gemetar, ia sembunyikan di balik paha. Kepala Desa Teguh masih memegang cangkul itu, membolak-balikkannya seperti seorang pedagang memeriksa barang dagangan.
“Nak, dari mana kau dapat benda ini?” ulang Teguh. Suaranya masih pelan, tapi ada tekanan di sana. Tekanan yang membuat udara di ruangan terasa lebih berat.
Aryan menelan ludah. Pikirannya berpacu. Jujur? Katakan tentang cahaya di tangan? Tentang mimpi? Tentang perasaan lemas setelah batu itu berubah? Tidak. Itu terlalu gila. Mereka akan mengira ia kesurupan. Mereka akan mengusirnya. Atau lebih buruk.
“Saya... saya menemukannya, Kepala Desa.” Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan. “Di hutan. Waktu cari kayu bakar.”
Teguh mengangkat alis. “Menemukan? Cangkul seperti ini? Di hutan?”
Aryan mengangguk cepat, terlalu cepat. “I-iya. Di dekat sungai kecil. Di balik semak. Saya lihat mengilap, saya ambil.”
Teguh diam. Matanya menyipit, menatap Aryan lekat-lekat. Aryan merasa tatapan itu menembus kulitnya, membaca setiap kebohongan yang ia sembunyikan. Ia ingin menunduk, tapi ia paksa dirinya menatap balik. Orang dewasa suka anak yang berani menatap mata. Itu yang ia dengar dari Baran.
“Menarik,” gumam Teguh akhirnya. Ia meletakkan cangkul itu di pangkuannya. “Batu seperti ini tidak biasa, Nak. Aku sudah hidup lima puluh tiga tahun. Belum pernah lihat batu sungai bisa setajam ini. Sehalus ini.” Ia menghela napas. “Tapi mungkin... mungkin ada pengembara yang lewat, menjatuhkannya. Atau mungkin peninggalan orang dulu.”
Aryan hanya bisa diam, berharap Teguh percaya.
Teguh menatapnya lagi. Kali ini tatapannya berubah. Bukan curiga, tapi lebih seperti... menghitung. Menilai. “Nak, kau tahu, desa kita sedang susah. Tanah keras, cangkul tumpul, hasil ladang sedikit. Benda seperti ini—” ia menepuk cangkul itu “—bisa mengubah banyak hal.”
Ia bersandar di kursi bambunya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan. “Kau bilang kau temukan di hutan. Mungkin di situ ada lagi. Mungkin tidak hanya satu.” Ia berhenti, menatap Aryan dengan mata yang tak bisa diartikan. “Aku ingin kau kembali ke hutan itu. Cari lagi. Cari lebih banyak.”
Dunia Aryan serasa berhenti. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, “Tidak ada! Aku yang buat! Aku yang punya cahaya aneh di tangan!” Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Dan di saat ia hampir saja membuka mulut, ia melihat tatapan Teguh.
Bukan tatapan seorang kakek yang ingin membantu cucunya. Bukan tatapan seorang pemimpin yang peduli pada anak yatim piatu. Tapi tatapan seorang kepala desa yang melihat sumber daya. Sesuatu yang bisa dipakai. Sesuatu yang bisa dieksploitasi demi kepentingan bersama. Atau demi kepentingannya sendiri. Aryan tak tahu pasti. Tapi ia tahu—ia tahu di lubuk hatinya—bahwa jika ia mengaku sekarang, ia tak akan lagi menjadi Aryan anak Baran. Ia akan menjadi... benda. Seperti cangkul itu.
“Saya... saya coba, Kepala Desa,” bisiknya.
Teguh tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. “Bagus. Kau anak baik. Nanti, kalau kau temukan lagi, bawa ke sini. Aku akan pastikan keluargamu dapat bagian.” Ia berhenti, lalu menambahkan, “Dan jangan beri tahu siapa pun tentang perintah ini. Ini urusan antara kau dan aku. Paham?”
Aryan mengangguk, meski perutnya mual.
“Sekarang pulang. Bawa cangkul itu. Tunjukkan pada ayahmu. Katakan padanya aku yang suruh kau cari lagi di hutan.” Teguh mengibaskan tangan, memberi isyarat boleh pergi.
Aryan bangkit. Kakinya lemas. Ia mengambil cangkul itu, tangannya gemetar saat menyentuhnya. Tanpa berkata lagi, ia berjalan keluar. Cahaya matahari menyambutnya, silau, membuatnya harus menyipitkan mata. Para pria di halaman masih duduk di tempat yang sama. Mereka menatapnya, beberapa tersenyum—tapi senyum yang aneh. Seperti senyum keledai melihat wortel.
***
Aryan tak ingat bagaimana ia sampai di rumah. Kakinya berjalan sendiri, membawanya melewati lapangan, melewati warung, melewati tetangga yang melambai. Pikirannya kosong, tapi dadanya penuh. Penuh dengan rasa bersalah, takut, dan bingung.
Laras menyambutnya di beranda. Wajahnya pucat. “Nak, kau tidak apa-apa?”
Aryan menggeleng. Tak sanggup bicara. Ia naik ke rumah, duduk di sudut ruangan, memeluk cangkul itu erat-erat. Laras dan Baran saling pandang. Baran mendekat, duduk di sampingnya.
“Kepala Desa bilang apa?” tanya Baran hati-hati.
Aryan menghela napas panjang. Suaranya datar saat menceritakan—tentang perintah mencari lebih banyak, tentang rahasia antara dia dan Teguh, tentang tatapan aneh itu. Ia tak bilang tentang kebohongannya. Ia tak bilang bahwa sebenarnya cangkul itu buatannya sendiri. Ia tak siap.
Baran mendengarkan diam. Otot rahangnya menegang beberapa kali. Laras memegang erat tangannya sendiri. Saat Aryan selesai, sunyi menguasai ruangan.
“Kau harus patuh,” kata Baran akhirnya. Suaranya berat. “Ini perintah Kepala Desa. Tapi...” ia berhenti, mencari kata yang tepat. “Tapi hati-hati, Nak. Hutan tidak selalu aman. Aku akan temani kau.”
Aryan mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia berteriak, *Tidak ada yang bisa ditemukan di hutan, Yah! Karena semua ini bohong!*
***
Hari berganti sore. Aryan duduk di beranda, memandangi hutan di kejauhan. Tangannya masih memegang cangkul itu. Di tangannya, batu dingin itu terasa berat. Bukan berat fisik, tapi berat tanggung jawab. Berat rahasia.
Sepanjang sore, ia melihat orang-orang lalu lalang di depan rumah. Lebih banyak dari biasanya. Mereka tersenyum, melambai, menyapa. Beberapa bahkan berhenti, bertanya kabar, bertanya tentang kesehatannya. Padahal sebelumnya, mereka tak pernah peduli.
“Aryan, besok main ke rumahku, ya? Ibu bikin kue singkong.”
“Aryan, kalau butuh bantuan cari kayu, panggil saja kakak-kakak.”
“Aryan, lukamu sudah sembuh? Coba lihat.”
Aryan menjawab seperlunya, tersenyum kaku, mengangguk-angguk. Tapi setiap sapaan itu seperti pisau yang mengiris dadanya. Mereka baik padanya bukan karena mereka peduli. Tapi karena cangkul itu. Karena apa yang bisa ia berikan. Ia bukan lagi Aryan. Ia adalah “anak yang menemukan cangkul ajaib”.
Dan kebohongan itu semakin besar setiap kali seseorang tersenyum padanya.
***
Malam tiba. Lampu minyak dinyalakan, menerangi ruangan dengan cahaya oranye temaram. Laras menyiapkan makan malam—bubur jagung dengan lauk daging rusa asap. Tapi Aryan tak selera. Ia hanya mengaduk-aduk buburnya, pikirannya entah di mana.
Baran mengamati dari samping. Sudah seharian ini ia melihat perubahan pada anaknya. Biasanya Aryan banyak bicara, banyak bertanya. Tapi hari ini, sejak pulang dari rumah Teguh, ia seperti patung. Diam. Tatapannya kosong.
Setelah makan malam selesai, Laras membereskan peralatan. Aryan masih duduk di tempatnya, memandangi jarinya yang terbungkus kain—luka lama yang belum benar-benar sembuh. Baran mendekat, duduk di sampingnya. Mereka berdua diam, mendengar suara jangkrik dari luar.
Lama. Sangat lama. Sampai Laras selesai membereskan dan masuk ke kamar, meninggalkan mereka berdua di ruang utama.
Baran menarik napas dalam. Lalu, dengan suara yang begitu pelan, hampir seperti bisikan angin malam, ia berkata, “Nak.”
Aryan menoleh.
Baran menatapnya. Matanya teduh, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat Aryan merasa telanjang. Ayahnya bisa membaca sesuatu. Mungkin bukan detailnya, tapi pasti ada yang ia rasakan.
“Itu benar kau temukan di hutan?” bisik Baran.
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa beku. Aryan membeku. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia ingin menatap ayahnya, ingin meyakinkannya. Tapi ia tak bisa. Lehernya terasa kaku. Matanya tak mampu bergerak dari lantai bambu.
Diam. Sunyi. Hanya suara detak jantung Aryan yang menurutnya begitu keras, pasti terdengar sampai ke hutan.
Aryan tak menjawab. Ia hanya diam, membiarkan kebohongannya menggantung di antara mereka, berat, nyata, memisahkan ia dan ayahnya seperti jurang yang tak terlihat.
Baran menghela napas panjang. Lalu, tanpa berkata lagi, ia mengelus kepala Aryan sebentar. Bangkit. Berjalan menuju kamar. Meninggalkan Aryan sendirian di ruang utama, dengan lampu minyak yang hampir padam, dengan bayangan-bayangan menari di dinding bambu, dan dengan rahasia yang semakin berat untuk dipikul sendiri.
Aryan memandangi tangannya. Tangannya yang biasa-biasa saja. Tapi di dalamnya, tersembunyi sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Sesuatu yang bisa membuat cangkul biasa menjadi ajaib. Sesuatu yang bisa mengubah hidup satu desa. Dan sesuatu yang bisa menghancurkannya jika diketahui.
Di luar, angin malam bertiup, membawa bisikan dari hutan, seolah alam sendiri ikut menjaga rahasia bocah kecil itu.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Kebohongan yang Jujur | EPS 8"