Tangan yang Tak Pernah Berhenti | EPS 9
Lima hari sejak percakapan dengan Kepala Desa. Lima hari sejak kebohongan itu mulai berurat berakar. Dan lima hari sejak Aryan memulai pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan—pekerjaan yang membuatnya merasa berguna sekaligus menguras habis tenaganya.
Setiap pagi, ia berpura-pura pergi ke hutan. Membawa bekal kecil, pamit pada Laras, lalu melambaikan tangan pada tetangga yang mulai terbiasa melihatnya lewat. Tapi ia tak pernah benar-benar masuk ke hutan. Di balik semak-semak dekat sungai kecil, di tempat yang tak akan dilalui orang, ia duduk sendiri. Sendiri dengan tangannya. Sendiri dengan rahasianya.
***
Hari pertama: Aryan membawa tiga batu sungai biasa. Dua pisau dapur tua yang sudah tumpul. Satu sabit batu peninggalan kakeknya. Ia duduk di tanah, memegang pisau pertama, memejamkan mata. Mencari perasaan itu—getaran di dalam batu, denyut yang hanya ia bisa rasakan. Lalu cahaya itu datang. Perlahan, seperti biasa. Tangannya bersinar redup, dan pisau itu berubah. Lebih ringan. Lebih tajam. Permukaannya mengilap.
Selesai satu. Aryan tersenyum, meski dahinya sudah berkeringat. Ia lanjut ke pisau kedua. Cahaya lagi. Selesai. Tapi kali ini, setelah selesai, kepalanya sedikit pusing. Ia abaikan.
Matahari baru naik setinggi tombak saat ia menyelesaikan pisau kedua. Ia istirahat sebentar, minum air dari sungai, lalu mengambil sabit. Satu lagi. Cahaya ketiga. Kali ini cahayanya lebih redup dari biasanya, tapi sabit itu berubah. Tak sempurna seperti pisau pertama—ujungnya sedikit kurang tajam, permukaannya tak terlalu halus—tapi tetap jauh lebih baik dari sabit biasa.
Sore harinya, Aryan pulang dengan tiga benda di karungnya. Wajahnya pucat, tapi ia paksa tersenyum pada Laras. Ia makan malam sedikit, lalu tidur sebelum matahari tenggelam. Laras mengira ia lelah karena berjalan jauh. Aryan tak membantah.
***
Hari kedua: Aryan membawa cangkul gagal dari bawah rumah. Batu sungai baru. Dua pisau lagi. Ia duduk di tempat yang sama. Pisau pertama—cahaya muncul, tapi lebih lambat. Aryan menggigit bibir, memaksa. Pisau itu berubah, tapi hasilnya kasar. Tak sehalus kemarin. Pisau kedua—ia hampir kehilangan konsentrasi. Tangannya bersinar redup, lalu padam. Ia coba lagi. Padam lagi. Ia hampir menangis frustrasi. Percobaan ketiga, baru berhasil—tapi pisau itu hanya sedikit lebih baik dari biasa. Tak seistimewa yang lain.
Cangkul gagal—ini yang paling berat. Batu itu besar, membutuhkan lebih banyak tenaga. Aryan memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ia membayangkan cahaya mengalir deras, seperti sungai saat banjir. Tangannya bersinar—lebih terang dari biasanya. Cangkul itu berubah dengan cepat. Terlalu cepat. Batu itu menjadi gelap, hampir hitam, dengan kilau merah di sudut-sudutnya. Bentuknya sempurna—lebih sempurna dari cangkul pertama.
Tapi saat selesai, dunia berputar. Aryan jatuh ke samping, terengah-engah. Ia berbaring di tanah, memandangi dedaunan di atasnya, menunggu pusingnya reda. Butuh waktu lama sebelum ia bisa duduk lagi. Ia tak menyentuh batu sungai baru yang ia bawa. Tak sanggup.
Pulang sore itu, Aryan tak bisa makan malam. Ia hanya minum air, lalu terlelap. Laras memandangnya cemas. Baran diam, tapi matanya tak lepas dari anaknya.
***
Hari ketiga, keempat, kelima—bercampur jadi satu dalam ingatan Aryan yang kabur. Yang ia ingat hanyalah duduk di tanah, memegang batu, merasakan cahaya mengalir keluar dari tangannya. Setiap kali, cahaya itu semakin redup. Setiap kali, butuh waktu lebih lama untuk memulainya. Dan setiap kali, setelah selesai, tubuhnya terasa lebih kosong.
Tiga cangkul. Dua sabit. Empat pisau. Satu kampak kecil. Semuanya tersihir. Semuanya berkualitas jauh di atas alat biasa. Aryan menghitungnya di malam hari, setelah menyembunyikan hasil karyanya di karung. Ia lelah. Sangat lelah. Tapi di balik kelelahan itu, ada rasa bangga. Ia bisa membantu. Ia berguna.
***
Di desa, perubahan mulai terasa. Para petani yang mendapat cangkul baru mengolah ladang mereka dengan kecepatan dua kali lipat. Para wanita yang memotong sayur dengan pisau super tajam menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Para pemburu, dengan pisau dapur baru, bisa menguliti binatang buruan dalam waktu setengah dari biasanya.
Hasil panen mulai menunjukkan peningkatan. Bukan drastis, tapi cukup terasa. Tanah yang biasanya butuh waktu seharian untuk diolah seluas tertentu, kini selesai dalam setengah hari. Warga punya waktu lebih banyak untuk gotong royong, membersihkan saluran air, memperbaiki pagar desa.
Moral desa naik. Orang-orang mulai tersenyum lagi. Canda tawa terdengar di lapangan saat sore hari. Mereka bercerita tentang alat-alat ajaib itu—tentang cangkul yang ringan seperti bulu, tentang pisau yang tak pernah tumpul, tentang sabit yang memotong padi seperti memotong mentega.
Dan di tengah semua itu, nama Aryan disebut dengan hormat. Bukan keras-keras, bukan dalam forum resmi. Tapi dalam bisik-bisik di warung, dalam gumaman kagum di ladang. “Anak Baran itu... dia yang menemukan semuanya.”
Keluarga Aryan mulai diperlakukan istimewa. Tanpa diminta, tetangga meninggalkan jatah makanan ekstra di beranda mereka. Seekor ikan asap. Segenggam singkong rebus. Beberapa butir telur ayam hutan. Laras bingung, cemas, tapi juga terharu. Baran menerima semuanya dengan diam, matanya semakin sering tertuju pada anaknya.
***
Malam kelima. Lampu minyak sudah padam. Semua orang tidur. Atau setidaknya, semua orang seharusnya tidur.
Aryan terbangun dengan perasaan aneh. Hidungnya hangat. Basah. Ia mengusapnya dengan tangan—dan di gelap, ia tahu itu darah. Mimisan. Lagi. Ini yang ketiga kalinya dalam dua hari.
Perlahan, tanpa suara, ia bangkit. Menjauh dari Laras yang tidur di sampingnya. Ia merangkak ke pojok ruangan, duduk bersandar di dinding bambu. Dengan kain yang ia sembunyikan di sela-sela tikar, ia membersihkan darah di bawah hidungnya. Hati-hati. Pelan-pelan. Lalu ia memandangi tangannya.
Di gelap, ia tak bisa melihat warna kulitnya. Tapi ia bisa merasakan—tangan ini lebih lemah dari biasanya. Lebih dingin. Jari-jarinya seperti tak punya tenaga. Ia mengepalkan tangan, mencoba merasakan kekuatan itu—cahaya itu. Tak ada. Kosong.
“Apa aku akan mati?” pikirnya tiba-tiba. Pikiran itu datang begitu saja, membuat jantungnya berdebar. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi semakin ia mencoba, semakin nyata rasa takut itu.
Napasnya mulai cepat. Tangannya gemetar. Ia ingin menangis, tapi takut suaranya membangunkan orang tua. Ia ingin lari, tapi tak tahu ke mana. Ia hanya bisa duduk di pojok gelap, memeluk lutut, berusaha mengendalikan napas yang semakin sesak.
***
Laras terbangun karena sesuatu. Mungkin firasat. Mungkin suara napas yang tak biasa. Ia meraba tempat tidur di sampingnya—kosong. Ia duduk, matanya menyipit menyesuaikan dengan gelap. Dan di pojok ruangan, di bawah sinar rembulan yang masuk lewat celah dinding, ia melihatnya.
Aryan duduk memeluk lutut. Seperti anak kecil yang ketakutan. Seperti anak kecil yang kehilangan arah.
“Aryan?” panggilnya pelan.
Aryan menoleh. Wajahnya pucat pasi di bawah sinar bulan. Matanya sembab, basah. Dan di bawah hidungnya, Laras melihatnya. Darah kering. Membekas seperti bayangan gelap di kulit.
Dunia Laras berhenti berdetak.
“Aryan!” Ia berlari, meraih anaknya, memeluknya erat. Tangannya meraba dahi—dingin. Terlalu dingin. Matanya memeriksa wajah anaknya, hidungnya, matanya yang kosong.
“Nak, Nak, kenapa ini? Kenapa darah?” Suaranya pecah, bergetar. Ia menoleh ke belakang, berteriak, “Baran! Baran, bangun!”
Aryan hanya diam dalam pelukan ibunya. Ia tak bisa berkata-kata. Tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa bersandar, merasakan hangatnya pelukan yang selama lima hari ini ia rindukan—pelukan yang tak sempat ia minta karena terlalu sibuk menjadi berguna.
Baran terbangun dengan kaget. Melihat istrinya memeluk anaknya di pojok ruangan, ia langsung bangkit. Satu langkah, dua langkah, lalu ia melihatnya. Darah di wajah anaknya. Pucat di kulitnya. Mata kosong yang menatap entah ke mana.
Dunia tiga orang itu menyusut menjadi hanya ruangan kecil itu, hanya detik-detik yang berjalan begitu lambat, hanya keheningan yang lebih keras dari teriakan.
Baran berjongkok di depan Aryan. Matanya—matanya yang biasanya tenang—kini berkaca. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi anaknya. Dingin.
“Nak,” bisiknya, suara serak oleh sesuatu yang tak ingin ia akui. “Kau... kau sakit?”
Aryan menatap ayahnya. Ingin ia berkata jujur. Ingin ia menceritakan semua—tentang cahaya, tentang kelelahan, tentang alat-alat yang ia buat, bukan temukan. Tapi lidahnya kelu. Dan di tengah keheningan itu, hanya air mata yang bisa bicara. Air mata yang jatuh perlahan, membasahi pipinya yang pucat, bercampur dengan sisa-sisa darah kering di bawah hidungnya.
Di luar, angin malam berdesir pelan. Membawa aroma hutan dan tanah basah. Dan di dalam rumah panggung kecil itu, seorang anak menangis dalam pelukan orang tuanya, memikul beban yang tak seharusnya ia pikul, menyimpan rahasia yang perlahan-lahan menggerogoti hidupnya.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Tangan yang Tak Pernah Berhenti | EPS 9"