Malam Serigala | EPS 10

Malam itu datang seperti biasa. Gelap menyelimuti Dusun Karang, lampu-lampu minyak padam satu per satu, dan warga terlelap setelah seharian bekerja. Tak ada yang tahu bahwa di luar pagar kayu lapuk, di tepi hutan yang gelap, puluhan pasang mata kuning bersinar menatap desa dengan tatapan lapar.

Aryan tidur gelisah di samping Laras. Mimisan semalam masih membuatnya lemas, tapi ia tak mau mengeluh. Tubuhnya terasa ringan, kepalanya pusing, tapi napasnya teratur. Laras masih memeluknya erat, seolah takut kehilangan.

Di luar, angin malam berdesir. Membawa bau anyir dari hutan. Bau darah. Bangkai. Dan napas binatang buas.

***

Raungan pertama terdengar seperti angin topan yang menyayat. Panjang, melengking, memecah keheningan malam. Aryan tersentak bangun. Laras juga. Di ruang tengah, Baran sudah berdiri, kapak batu di tangan, matanya membelalak.

“Serigala,” bisiknya. Satu kata, tapi cukup membuat darah Aryan membeku.

Raungan kedua, ketiga, keempat—bergema dari berbagai arah. Bukan satu atau dua ekor. Tapi banyak. Sangat banyak. Dan dari kejauhan, terdengar jeritan manusia. Jeritan kematian.

“Mereka masuk!” teriak seseorang dari luar. “Pagar jebol!”

Kekacauan meledak. Dalam hitungan detik, desa yang tadinya sunyi berubah menjadi neraka. Suara jeritan, teriakan, raungan serigala, dan bunyi pintu-pintu bambu yang didobrak bercampur jadi simfoni horor.

Baran berdiri di depan pintu, kapak terangkat. Wajahnya tegang, tapi matanya—matanya seperti prajurit yang siap mati. “Laras, bawa Aryan ke sudut. Jangan bergerak.”

Laras menarik Aryan ke pojok ruangan, memeluknya dari belakang, tubuhnya gemetar. Aryan hanya bisa memandang punggung ayahnya—punggung yang selama ini ia lihat biasa saja, kini terlihat seperti gunung. Gunung yang berdiri di antara mereka dan maut.

***

Hantaman pertama datang begitu cepat. Tubuh besar berbulu abu-abu menerjang pintu bambu. *CRACK!* Bambu itu retak, tapi belum jebol. Baran mengayunkan kapak melalui celah—*THUD!*—daging terbelah, raungan kesakitan terdengar. Serigala pertama mundur terluka.

Tapi di belakangnya, ada lebih banyak.

Pintu bambu bergetar hebat. Hantaman kedua, ketiga, keempat—datang bertubi-tubi. Baran terus mengayunkan kapak, tapi setiap ayunan menguras tenaganya. Darah serigala berceceran di pintu, tapi mereka tak berhenti. Mereka kelaparan. Mereka putus asa. Dan mereka tahu, di dalam rumah kecil ini, ada daging segar.

Dari pojok ruangan, Aryan menyaksikan semuanya. Ia melihat ayahnya berjuang. Melihat keringat membasahi punggungnya. Melihat luka di lengannya—cakaran serigala yang berhasil masuk melalui celah. Darah mengalir di kulit Baran, tapi ayahnya tak berhenti. Tak gentar.

Lalu, dengan suara yang memekakkan telinga, pintu itu jebol. Bukan seluruhnya, tapi papan bawahnya terlepas. Sebuah moncong panjang dengan gigi-gigi tajam menyodok masuk, mencakar-cakar, berusaha merobek lubang lebih besar. Mata serigala itu—kuning, lapar, tanpa ampun—menatap ke dalam ruangan. Menatap Laras. Menatap Aryan.

Baran berteriak, mengayunkan kapak ke kepala serigala itu. Binatang itu menjerit, menarik diri, tapi di belakangnya, dua ekor lagi sudah bersiap. Pintu semakin hancur. Beberapa papan atas mulai lepas. Dalam beberapa detik, mereka akan masuk.

Laras menjerit. Baran mengayunkan kapak dengan putus asa. Dan Aryan...

Aryan melihat pintu itu. Melihat bambu-bambu yang retak, hampir patah. Melihat cakar-cakar yang terus merobek. Dan di dalam dirinya, sesuatu meletus. Bukan kepanikan. Bukan ketakutan. Tapi insting murni untuk melindungi.

Tangannya terangkat. Tanpa sadar. Tanpa berpikir. Dan cahaya itu keluar.

Bukan seperti biasanya—bukan semburat redup yang hangat. Kali ini cahaya itu putih, menyilaukan, seperti petir di malam gelap. Ia mengalir dari tangannya, menerjang pintu yang hampir roboh, merambat di setiap serat bambu, setiap anyaman rotan.

Dan bambu itu... berubah.

Dalam sekejap, bambu yang rapuh itu mengeras. Warnanya berubah dari cokelat kusam menjadi cokelat tua mengilap, seperti kayu yang sudah dikeringkan seratus tahun. Serat-seratnya merapat, mengunci, menjadi kokoh seperti batu. Pintu yang tadinya hampir jebol, kini diam membatu. Tak bergerak. Tak tergoyahkan.

Di luar, terdengar raungan kesakitan. Dua serigala yang cakarnya terjepit di cel-cel yang tiba-tiba menyempit, menjerit, menarik diri dengan paksa—meninggalkan cakar-cakar mereka yang putus di balik pintu.

Semuanya terjadi dalam tiga detik.

Aryan jatuh ke belakang, tubuhnya lemas, napasnya tersengal. Tangannya masih bersinar redup sebelum akhirnya padam. Laras memeluknya, tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Baran menatap pintu yang kokoh itu, lalu menatap anaknya. Matanya—lebar, tak percaya, takjub bercampur ngeri.

***

Pertempuran berlangsung selama satu jam. Satu jam penuh teror. Satu jam penuh jeritan. Warga desa bertarung dengan apa pun yang mereka punya—kapak, cangkul, tombak, bahkan kayu bakar. Mereka bertahan di rumah masing-masing, mendengar raungan serigala di luar, mendengar suara serangan di rumah tetangga.

Saat fajar akhirnya tiba, raungan serigala mulai menjauh. Mereka mundur ke hutan, meninggalkan desa yang hancur. Tiga titik pagar jebol. Rumah-rumah dengan pintu robek. Darah di mana-mana—darah merah manusia, darah merah serigala.

Warga keluar dari rumah mereka satu per satu, dengan wajah pucat, dengan tubuh gemetar. Mereka berkumpul di lapangan, menghitung korban. Dua warga luka parah, digigit dan dicakar hingga nyaris putus nyawanya. Lima warga luka ringan, termasuk Baran dengan luka di lengan dan dadanya. Dan satu anak—anak bungsu keluarga Guntur, baru berusia enam tahun—hilang. Tak ditemukan di mana pun. Hanya ada jejak darah yang mengarah ke hutan.

Tangis pecah di lapangan. Ibu anak itu jatuh pingsang. Para pria mengepalkan tangan, marah, frustrasi, tak berdaya.

Kepala Desa Teguh muncul dengan wajah lelah, matanya merah karena kurang tidur. Ia berdiri di tengah kerumunan, suaranya serak tapi tegas. “Hitung korban. Obati yang luka. Kumpulkan semua makanan dan air di rumahku. Mulai sekarang, keadaan darurat. Tak ada yang bekerja sendiri. Tak ada yang keluar desa tanpa izin.”

Ia menatap pagar yang hancur. “Pertahanan kita harus dibangun ulang. Lebih kuat. Lebih kokoh. Atau kita semua akan mati.”

***

Aryan duduk di beranda rumah mereka, tubuhnya lemas, pikirannya kosong. Laras membalut luka Baran dengan kain bersih, tangannya terampil meski masih gemetar. Matahari pagi mulai naik, menerangi desa yang hancur dengan cahaya keemasan yang terasa ironis.

Baran duduk diam, membiarkan lukanya dirawat. Tapi matanya—matanya tak lepas dari Aryan. Sejak tadi malam, sejak cahaya itu muncul, ia tak bisa berhenti memandangi anaknya. Mencoba memahami. Mencoba menerima apa yang tak masuk akal.

Setelah Laras selesai membalut, Baran bangkit. Ia berjalan mendekati Aryan, lalu duduk di sampingnya. Sunyi. Lama. Hanya suara tangisan dari kejauhan dan suara burung pagi yang kembali bernyanyi setelah semalaman bersembunyi.

Aryan tak berani menoleh. Ia tahu. Ia tahu ayahnya melihat. Ia tahu rahasianya tak bisa disembunyikan lagi.

Baran menghela napas panjang. Lengan berototnya yang berlumuran darah kering meraih Aryan, menariknya ke dalam pelukan. Pelukan yang hangat. Pelukan yang kuat. Pelukan yang berkata lebih dari seribu kata.

Aryan tertegun. Lalu ia menangis. Tangis yang selama ini ia tahan. Tangis karena takut, karena lelah, karena rahasia yang terlalu berat. Ia menangis di pelukan ayahnya, merasakan hangatnya tubuh yang tadi malam bertaruh nyawa demi melindunginya.

Dan di tengah tangis itu, ia mendengar bisikan ayahnya. Pelan. Bergetar. Tapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berhenti.

“Kau... kau lakukan sesuatu tadi malam. Aku lihat tanganmu bersinar.”

Aryan membeku. Tangisnya berhenti seketika. Ia menatap ayahnya dengan mata basah, dengan ketakutan yang kembali menguasai. Baran menatapnya balik. Matanya—lelah, penuh luka, tapi juga penuh pertanyaan. Dan di balik pertanyaan itu, ada sesuatu yang tak pernah Aryan duga sebelumnya: bukan ketakutan, bukan kemarahan. Tapi keinginan untuk mengerti.

“Aku... aku...” Aryan tak bisa melanjutkan. Kata-kata tersangkut di tenggorokan.

Baran diam. Ia memeluk anaknya lagi, lebih erat. “Kau tak perlu jelaskan sekarang, Nak. Tapi aku ingin kau tahu—” suaranya serak, pecah, “—aku di sini. Kami di sini.”

Aryan tak menjawab. Ia hanya bersandar di dada ayahnya, merasakan detak jantung yang berdetak kencang, merasakan hangatnya darah yang masih basah di balik balutan kain. Di kejauhan, asap mulai mengepul dari rumah-rumah—warga memasak sarapan, berusaha kembali pada rutinitas meski dunia mereka baru saja hancur.

Tapi bagi Aryan, dunia yang hancur itu tak seberapa dibanding dunia baru yang baru saja ia sadari: rahasianya tak lagi miliknya sendiri. Dan di depan, ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab, terlalu banyak luka yang harus disembuhkan, terlalu banyak pagar yang harus dibangun ulang.

Matahari terus naik, meninggalkan bayangan panjang di tanah yang berlumuran darah. Dan di beranda rumah panggung itu, seorang ayah dan anak duduk diam, memeluk erat, berusaha menemukan kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Malam Serigala | EPS 10"