Rahasia di Antara Dua Insan | EPS 11

Tiga hari sejak Malam Serigala. Tiga hari sejak desa bangkit dari kehancuran dengan luka menganga—dua warga luka parah, lima luka ringan, dan satu anak hilang tak pernah kembali. Pagar desa masih berupa puing-puing berserakan. Warga bergerak lamban, mengubur trauma dalam kesibukan darurat yang dipimpin Kepala Desa Teguh. Tapi di rumah panggung kecil di pinggir dusun, ada luka lain yang tak terlihat—luka antara seorang ayah dan anaknya.

Sejak malam itu, sejak Baran melihat tangan anaknya bersinar di pintu yang hampir jebol, suasana di antara mereka berubah. Bukan dingin. Bukan marah. Tapi ada jarak yang tak terucap. Baran lebih banyak diam, matanya sering tertuju pada Aryan dengan ekspresi yang tak bisa diartikan. Dan Aryan... Aryan hanya bisa menunduk setiap kali tatapan itu mendarat padanya.

Laras merasakannya, tentu saja. Tapi ia tahu—dengan insting seorang istri dan ibu—bahwa ini bukan waktunya bertanya. Ini waktunya menunggu. Dan ia menunggu, meskipun dadanya sesak oleh kecemasan yang tak bernama.

***

Pagi itu, Baran bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja merekah di ufuk timur, menerangi dusun yang masih tertidur. Ia mengambil tombaknya, lalu menatap Aryan yang masih berbaring di tikar. Lama. Sekian lama hingga Laras yang bangun karena haus melihatnya dan bertanya dengan mata. Baran hanya menggeleng pelan.

Saat Aryan terbangun, ia langsung merasakan tatapan itu lagi. Ayahnya duduk di ambang pintu, membelakangi cahaya pagi, wajahnya sulit terbaca. Tanpa berkata apa-apa, Baran berdiri dan berjalan keluar. Tapi di ambang pintu, ia berhenti.

“Aryan, ikut.”

Dua kata. Sederhana. Tapi nada suaranya membuat Laras ikut terdiam di dapur. Aryan menelan ludah. Ia tahu. Hari ini adalah harinya. Tak bisa lari lagi.

Ia bangkit, melipat tikarnya tanpa rapi, lalu berjalan mengikuti ayahnya. Laras hanya bisa memandang dari balik anyaman bambu, hatinya berdebar tak karuan. Doa-doa sederhana melintas di bibirnya yang kering.

***

Mereka berjalan melewati dusun yang mulai bangun. Beberapa warga menyapa Baran dengan hormat, menyapa Aryan dengan senyum—senyum yang berbeda dari sebelum Malam Serigala. Kini ada rasa berutang budi di sana, meski mereka tak tahu sebenarnya pada siapa. Baran menjawab seperlunya, tidak berhenti, terus melangkah ke arah hutan.

Aryan mengikuti, langkahnya pendek-pendek, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia khawatir ayahnya bisa mendengar. Mereka melewati batas dusun, melewati pagar yang hancur berserakan, lalu masuk ke jalur setapak yang hanya diketahui para pemburu. Pepohonan semakin rapat, suara burung semakin nyaring, dan cahaya matahari semakin redup diterpa dedaunan.

Setelah berjalan cukup jauh—sejauh yang tak pernah Aryan tempuh sendirian—Baran berhenti di sebuah tempat terbuka kecil. Sebuah sungai kecil mengalir di dekatnya, suara air gemericik bercampur dengan desiran angin. Tempat yang teduh. Tempat yang sunyi. Tempat yang aman untuk berbicara tentang rahasia.

Baran berbalik. Matanya menatap Aryan—bukan dengan kemarahan, bukan dengan ketakutan. Tapi dengan kelelahan seorang ayah yang semalaman tak bisa tidur memikirkan anaknya.

“Nak,” suaranya berat, pelan, seperti baru saja kehilangan tenaga. “Tunjukkan padaku.”

Aryan mengangkat wajah. Matanya basah, meskipun ia belum menangis. “Tunjukkan... apa, Yah?”

Baran menghela napas panjang. “Malam itu. Aku lihat tanganmu bersinar. Pintu itu... pintu itu mengeras dalam sekejap. Itu bukan sesuatu yang normal. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan manusia biasa.” Ia berhenti, mencari kata yang tepat. “Aku sudah bertanya pada diriku sendiri tiga hari ini. Apa aku bermimpi? Apa aku terlalu lelah sampai melihat hal yang tak nyata? Tapi lukaku ini—” ia menunjuk lengan yang masih terbalut kain “—nyata. Serigala itu nyata. Dan pintu yang tiba-tiba sekokoh batu itu juga nyata.”

Ia melangkah maju satu langkah. “Jadi, Nak. Tunjukkan padaku. Agar aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Agar aku tahu apa yang harus aku lindungi.”

Aryan menunduk. Tangannya gemetar. Ia takut—bukan pada ayahnya, tapi pada reaksi ayahnya. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah ayahnya akan menjauh? Apakah ia akan dianggap monster? Apakah ia akan diusir?

Tapi di balik ketakutan itu, ada kelegaan kecil. Akhirnya—akhirnya—ia tak perlu menyembunyikan ini sendirian. Akhirnya ada orang yang tahu, yang melihat, yang mungkin—hanya mungkin—bisa menerimanya.

Aryan berjalan ke sebuah pohon tumbang di dekat sungai. Batangnya sudah lapuk, penuh lumut, mudah dipatahkan. Ia meletakkan tangannya di atas batang itu. Lalu, dengan sisa tenaga yang ia miliki—karena tubuhnya masih lemah sejak Malam Serigala—ia memejamkan mata.

Ia mencari perasaan itu. Getaran di dalam benda. Denyut kehidupan yang tersembunyi. Pada awalnya tak ada, hanya kayu mati yang dingin. Tapi ia terus mencoba, mengingat bagaimana rasanya saat ia tanpa sengaja melakukannya dulu—saat mengasah pisau, saat pintu hampir jebol. Bukan memaksa, tapi mengalir. Bukan mengambil, tapi memberi.

Dan kemudian, cahaya itu muncul.

Dari tangannya—dari jari-jari kecil yang masih membekas luka—sinar putih pucat merambat perlahan. Tidak menyilaukan seperti malam itu, tapi cukup terlihat di bawah naungan pepohonan. Cahaya itu mengalir ke batang kayu lapuk, meresap, menyebar seperti air di tanah kering.

Kayu itu berubah.

Warnanya yang cokelat tua kehitaman berubah menjadi cokelat terang, seperti kayu yang baru ditebang. Teksturnya yang tadinya lunak dan berjamur, mengeras dalam hitungan detik. Lumutnya mengering dan rontok. Serat-seratnya merapat, menjadi padat dan kokoh. Dalam sekejap, batang lapuk itu berubah menjadi kayu sekeras batu.

Aryan membuka mata. Napasnya tersengal-sengal, keringat membasahi dahinya meski udara di hutan sejuk. Cahaya di tangannya padam perlahan. Ia menatap ayahnya, menunggu.

Baran membeku.

Matanya membelalak, tak percaya pada apa yang baru saja ia saksikan. Tubuhnya kaku, pikirannya berputar kencang mencoba mencerna realitas baru yang tiba-tiba menghantamnya. Anaknya—anaknya sendiri, darah dagingnya, yang selama ini ia gendong, ia ajari memanah, ia lihat tumbuh—bisa melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehatnya sebagai pemburu, sebagai ayah, sebagai manusia biasa.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat, mungkin satu detik, mungkin kurang—instingnya sebagai pemburu mengambil alih. Tangannya bergerak refleks ke gagang kapak di pinggangnya. Gerakan kecil, hampir tak terlihat, tapi cukup nyata bagi Aryan yang sedang menatapnya dengan mata penuh harap dan takut.

Aryan melihatnya. Ia melihat ayahnya mundur setengah langkah. Melihat tangan ayahnya menyentuh gagang kapak. Melihat keraguan di mata yang selama ini selalu memberinya rasa aman.

Dan di saat itu, hatinya hancur.

Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan di mata ayahnya—dan ketakutan itu ditujukan padanya. Pada dirinya. Pada anak kandungnya sendiri.

Air mata Aryan tumpah. Tidak keras, tidak histeris. Tapi mengalir begitu saja, seperti sungai kecil yang tak bisa dibendung. Ia tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, memandangi tangannya sendiri—tangan yang baru saja melakukan keajaiban, tapi juga tangan yang membuat ayahnya takut.

Baran tersentak dari kebekuannya. Ia melihat air mata anaknya. Melihat bahu kecil yang bergetar. Melihat tubuh mungil yang tampak semakin kecil di hadapannya. Dan sadar—dengan rasa bersalah yang menghantam lebih keras dari kapak apa pun—apa yang baru saja ia lakukan. Refleks bodoh seorang pemburu yang terlalu lama hidup di hutan, terlalu lama mengandalkan insting melawan bahaya.

“Aryan...” bisiknya, suara serak.

Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tangan yang tadi menyentuh gagang kapak, kini terulur ragu. Tapi Aryan mundur. Bukan karena takut, tapi karena sakit. Sakit yang begitu dalam hingga ia tak bisa menerima sentuhan itu—belum bisa.

Baran berhenti. Ia melihat tangan anaknya yang gemetar, melihat air mata yang terus mengalir, dan ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sekuat ini: penyesalan. Penyesalan karena refleks bodohnya telah melukai hati anak yang paling ia cintai.

“Nak, maafkan aku.” Suaranya pecah. “Maafkan Ayah. Ayah hanya... Ayah tidak tahu harus berpikir apa. Ayah takut. Tapi bukan takut padamu, Nak. Ayah takut karena tidak mengerti. Ayah takut karena selama ini Ayah pikir dunia ini sederhana—ada yang bisa diburu, ada yang tidak. Ada yang hidup, ada yang mati. Tapi kau... kau berbeda. Dan Ayah tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

Ia berlutut di tanah, di depan anaknya. Seorang pemburu berlutut di hadapan bocah sembilan tahun. “Tapi itu bukan alasan. Tidak pernah ada alasan untuk membuatmu merasa seperti itu. Lihat aku, Nak.”

Aryan mengangkat wajahnya. Matanya sembab, merah, basah. Ia melihat ayahnya—ayah yang selama ini ia kagumi, yang selalu terlihat kuat tak terkalahkan—kini berlutut di hadapannya, dengan mata yang juga basah.

“Kau anakku,” bisik Baran. “Apa pun yang bisa kau lakukan, apa pun yang ada di dalam dirimu, kau tetap anakku. Darah dagingku. Bagian dari keluarga ini. Tak ada yang bisa mengubah itu. Bahkan aku sendiri tidak boleh mengubah itu.”

Ia membuka lengannya. Tidak memaksa, hanya menawarkan. Menawarkan pelukan yang sama seperti saat Aryan masih bayi, saat pertama kali ia menggendongnya. Menawarkan penerimaan tanpa syarat, meskipun ia sendiri masih belum sepenuhnya mengerti.

Aryan terisak. Kuat. Keras. Semua ketakutan, semua rahasia, semua beban yang ia pikul sendirian selama ini—tumpah dalam tangis yang tak bisa ia tahan lagi. Ia berlari ke dalam pelukan ayahnya, memeluknya erat-erat, bersembunyi di dada bidang yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.

Baran memeluknya erat. Ia pun menangis. Diam-diam, tanpa suara, tapi air mata jatuh membasahi rambut anaknya. Dua insan di tengah hutan itu menangis bersama—melepas semua ketakutan, semua keraguan, semua kebingungan yang selama ini memisahkan mereka.

Sungai kecil mengalir di samping mereka, tak peduli pada drama manusia. Burung-burung bernyanyi di atas, tak terganggu oleh tangis yang pecah. Alam tetap berjalan, tapi bagi Aryan dan Baran, dunia mereka baru saja berubah selamanya.

***

Setelah tangis reda, mereka duduk di tepi sungai. Baran memegang tangan Aryan, memeriksa jari yang terluka—yang kini tak lagi berbalut karena sudah mulai sembuh. Ia melihatnya dengan saksama, seolah berharap bisa menemukan jawaban dari goresan-goresan kecil itu.

“Kapan pertama kali?” tanyanya pelan.

Aryan menarik napas, masih sesekali terisak. “Waktu Ibu suruh asah pisau. Beberapa hari sebelum serigala datang. Tanganku tiba-tiba bersinar, dan pisau itu jadi sangat tajam. Aku takut, Yah. Aku kira aku sakit. Aku kira aku kena kutukan.”

Baran mengangguk, mendengarkan.

“Tapi kemudian, setelah itu, aku coba lagi. Berkali-kali. Kadang berhasil, kadang tidak. Aku bisa membuat cangkul, pisau, sabit—yang kualitasnya lebih baik dari biasa. Tapi setiap kali selesai, badanku lemas. Pernah sampai mimisan. Dan malam serigala itu... aku hanya ingin melindungi kalian. Aku tidak sengaja.”

Baran diam lama. Otak pemburunya bekerja, merangkai informasi, mencoba memahami. “Jadi... alat-alat yang kau katakan kau temukan di hutan itu... itu buatanmu?”

Aryan mengangguk malu-malu.

Baran tersenyum tipis—senyum pertama dalam tiga hari. “Kau anak yang pintar berbohong, tapi tidak cukup pintar menyembunyikan jejak.” Ia menghela napas. “Teguh memerintahkanmu mencari lebih banyak, dan kau terpaksa membuatnya diam-diam. Itu sebabnya kau mimisan dan lemas. Kau memaksakan diri.”

“Aku hanya ingin membantu,” bisik Aryan. “Desa susah. Ayah bekerja keras. Ibu selalu cemas. Aku punya kemampuan ini... rasanya salah kalau tidak dipakai.”

Baran mengelus rambut anaknya. “Keinginanmu mulia, Nak. Tapi kau masih kecil. Tubuhmu masih tumbuh. Kemampuan ini—” ia menunjuk tangan Aryan “—jika tidak dikelola dengan baik, bisa membunuhmu. Aku tak mau kehilangan anak semata wayangku.”

Aryan menatap ayahnya. “Jadi Ayah tidak marah? Tidak takut?”

Baran terdiam, jujur pada diri sendiri. “Aku takut, Nak. Masih. Tapi bukan takut padamu. Aku takut pada apa yang bisa terjadi jika orang lain tahu. Aku takut pada Teguh yang mungkin akan memaksamu terus-menerus. Aku takut pada warga yang mungkin akan melihatmu sebagai benda, bukan manusia. Itu ketakutanku.”

Ia menggenggam tangan Aryan erat. “Tapi satu hal yang aku janjikan padamu: aku akan merahasiakan ini. Hanya aku, kau, dan mungkin ibumu nanti. Kita akan kelola kemampuan ini bersama. Kau tak boleh melakukannya sendirian lagi. Setiap kali kau ingin membuat sesuatu, kau harus bilang padaku. Kita atur waktunya. Kita pastikan kau cukup makan dan istirahat. Kau mengerti?”

Aryan mengangguk, rasa lega yang begitu besar membanjiri dadanya. Ia tak sendiri lagi. Ada ayahnya di sisinya sekarang.

“Sekarang,” Baran berdiri, mengulurkan tangan pada anaknya, “ayo pulang. Ibu pasti sudah cemas setengah mati.”

Aryan meraih tangan ayahnya, bangkit. Mereka berjalan pulang melewati hutan yang mulai teduh oleh senja. Matahari condong ke barat, menerangi dedaunan dengan warna jingga keemasan. Dua insan itu berjalan bergandengan—bukan hanya sebagai ayah dan anak, tapi sebagai sekutu dalam rahasia terbesar di Dusun Karang.

***

Senja hampir habis saat mereka tiba di rumah panggung kecil itu. Lampu minyak sudah dinyalakan, cahaya oranye temaram menembus celah-celah dinding bambu. Laras duduk di beranda, tangannya sibuk meraut sesuatu, tapi matanya—matanya sudah sejak tadi menatap ke arah hutan, menunggu.

Saat melihat dua sosok muncul dari balik semak, ia bangkit. Napasnya yang sejak tadi tertahan, kini dilepaskan perlahan. Tapi saat mereka semakin dekat, ia melihat sesuatu. Mata Baran merah, basah. Aryan diam saja, wajahnya kosong, tapi ada ketenangan yang tak biasa di sana.

Mereka naik ke beranda. Laras berdiri di depan pintu, menghalangi masuk untuk sesaat. Matanya bergerak dari suami ke anak, lalu kembali ke suami.

“Kalian berdua...” suaranya pelan, tapi berat. “Kalian tahu sesuatu.”

Baran menatap istrinya. Wanita yang telah mendampinginya melewati masa-masa sulit, yang tak pernah mengeluh meski perutnya kosong, yang selalu tersenyum meski hatinya hancur. Ia pantas tahu. Ia harus tahu.

“Malam ini kita bicara,” kata Baran, suaranya lembut tapi pasti.

Laras menatapnya lama. Lalu matanya beralih ke Aryan. Ia melihat sesuatu di mata anaknya—sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Campuran antara lega, takut, dan cinta yang begitu dalam. Perlahan, ia mengangguk. Ia minggir dari pintu, memberi jalan bagi mereka berdua masuk.

Aryan melangkah masuk ke dalam rumah. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Langit senja di ufuk barat masih menyisakan warna jingga, tapi bintang-bintang sudah mulai bermunculan. Malam akan segera tiba. Malam di mana sebuah keluarga akan duduk bersama, berbagi rahasia yang paling dalam, dan memutuskan bagaimana melangkah ke depan.

Ia memegang tangannya sendiri—tangan yang bisa melakukan keajaiban, tangan yang juga bisa membuat ayahnya takut. Tapi kini, tangan itu terasa hangat. Hangat karena ia tak lagi sendirian.

Di dalam, Baran sudah duduk di tikar, menunggu. Laras mengambil tempat di sampingnya, matanya penuh tanya. Aryan melangkah masuk, mengambil tempat di hadapan mereka berdua—bukan sebagai anak yang takut dihakimi, tapi sebagai bagian dari keluarga yang siap berbagi rahasia.

Lampu minyak berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari di dinding bambu. Di luar, angin malam berdesir pelan, seolah alam sendiri ikut menanti apa yang akan terungkap di malam itu.

Baran menarik napas panjang. “Laras... ada yang harus kau tahu tentang anak kita.”

Aryan menunduk, tapi kali ini bukan karena takut. Ia menunduk karena tahu bahwa setelah malam ini, semuanya akan berbeda. Tapi entah mengapa, di tengah ketidakpastian itu, ada rasa damai yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rahasianya tak lagi miliknya sendiri. Dan beban itu—betapapun beratnya—kini dipikul bersama.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Rahasia di Antara Dua Insan | EPS 11"