Tiang-Tiang Baru | EPS 12
Tiga hari setelah malam di mana rahasia terungkap di antara keluarga kecil itu, Dusun Karang masih diliputi duka dan trauma. Dua warga luka parah masih terbaring di rumah masing-masing, dirawat oleh para wanita dengan ramuan seadanya. Lima luka ringan mulai pulih, termasuk Baran yang lukanya mengering dengan cepat—mungkin karena perhatian ekstra Laras, atau mungkin karena sesuatu yang lain. Dan satu keluarga masih berkabung: anak bungsu Guntur, yang diterkam serigala, tak akan pernah kembali.
Tapi di tengah duka itu, ada yang lebih kuat: ketakutan. Ketakutan bahwa serigala akan kembali. Ketakutan bahwa malam horor itu akan terulang. Ketakutan bahwa mereka semua akan mati satu per satu jika tidak segera bertindak.
***
Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak Malam Serigala, Kepala Desa Teguh mengumpulkan seluruh warga. Bukan di lapangan terbuka—karena trauma masih terlalu dekat—tapi di beranda rumahnya yang luas. Para pria duduk di tanah, para wanita di belakang mereka, anak-anak digendong atau duduk di pangkuan. Aryan duduk di samping Baran, merasakan beratnya suasana.
Teguh berdiri di tangga tertinggi, kaki palsunya berbunyi pelan tiap kali ia bergerak. Wajahnya lebih tua dari beberapa hari lalu—mungkin karena kurang tidur, mungkin karena beban yang terus bertumpuk. Tapi matanya masih menyimpan bara yang sama. Bara seorang pemimpin yang tak mau menyerah.
“Warga Dusun Karang,” suaranya berat, memotong hening yang mencekik. “Kita baru saja mengalami mimpi buruk. Dua saudara kita terluka. Satu anak—anak seusia kalian—” ia menatap anak-anak yang hadir, “—telah direnggut dari kita. Air mata sudah kita tumpahkan. Sekarang saatnya bertindak.”
Ia memberi isyarat ke arah timur, di mana pagar desa yang hancur masih berserakan. “Pagar kita sudah lapuk bertahun-tahun. Kita terlalu sibuk bertahan hidup, terlalu sibuk mengurus ladang dan perut, hingga lupa bahwa hutan juga punya penghuni yang kelaparan. Malam itu mereka datang karena lapar. Dan jika kita tidak melakukan sesuatu, mereka akan datang lagi.”
Seorang pria paruh baya—Jaka, ayah Rojak—mengangkat tangan. “Tapi kita tak punya cukup kayu, Kepala Desa. Kayu besar di sekitar dusun sudah habis ditebang untuk rumah dan kayu bakar. Untuk menebang pohon besar di hutan dalam, kita butuh waktu berminggu-minggu. Belum lagi mengangkutnya.”
Teguh mengangguk. “Aku tahu. Tapi kita tak punya waktu berminggu-minggu. Serigala bisa kembali kapan saja. Karena itu—” ia berhenti, menatap satu per satu warganya, “—kita akan lakukan ini bersama. Semua pria dan pemuda akan bekerja. Tak ada lagi kerja sendiri-sendiri. Tak ada lagi ‘ini ladangku, ini waktuku’. Mulai hari ini, kita gotong royong. Yang muda menebang, yang kuat mengangkut, yang tua mengasah ujung kayu. Para wanita menyiapkan makanan dan minuman—semua jatah akan dikumpulkan dan dibagi rata selama masa pembangunan. Kita akan selesaikan pagar baru dalam... tujuh hari.”
Protes langsung pecah. “Tujuh hari? Tidak mungkin!”
“Pohon saja butuh waktu sehari untuk ditebang satu batang!”
“Kita akan mati kelelahan sebelum serigala datang!”
Teguh membiarkan protes itu bergulir beberapa saat, lalu mengangkat tangan. Semua suara mereda. “Aku tidak bilang ini mudah. Tapi lihat sekeliling kalian. Lihat anak-anak kalian. Lihat istri kalian. Apakah kalian ingin mereka mengalami malam seperti itu lagi? Apakah kalian ingin kehilangan lebih banyak?” Suaranya bergetar di akhir, tapi tidak pecah. “Aku lebih baik mati kelelahan daripada mati diterkam serigala karena pagar kita rapuh.”
Keheningan menyelimuti. Lalu, satu per satu, para pria mengangguk. Jaka menghela napas, lalu berkata, “Di mana kita mulai?”
***
Pekerjaan dimulai hari itu juga. Semua pria dan pemuda—total dua puluh tiga orang—berangkat ke hutan dengan kapak, golok, dan parang. Para wanita mulai mengumpulkan perbekalan, memasak bubur dalam kuali besar, menyiapkan air minum. Anak-anak seusia Aryan membantu membawa bekal, membersihkan area, atau menjaga adik-adik mereka.
Aryan ikut serta. Bukan sebagai pekerja utama—ia terlalu kecil untuk menebang pohon—tapi sebagai penghubung antara para pekerja dan para wanita. Ia berlari bolak-balik, membawa air, menyampaikan pesan, melakukan apa pun yang diminta. Tapi di balik semua itu, ia punya misi rahasia. Misi yang hanya ia dan Baran tahu.
Sore harinya, saat para pria pulang dengan lima batang pohon besar yang sudah dipotong-potong, Baran mendekati Aryan. Mereka duduk di pojok, berpura-pura istirahat, tapi sebenarnya merencanakan sesuatu.
“Malam ini,” bisik Baran, matanya waspada ke sekeliling. “Saat semua orang tidur, kita ke tiang utama. Kau perkuat yang paling penting dulu. Jangan semua, nanti ketahuan. Pilih sepuluh tiang—yang di gerbang dan di sudut-sudut strategis.”
Aryan mengangguk, jantungnya berdebar. Ini pertama kalinya ia menggunakan kemampuannya secara sengaja, dengan arahan, untuk tujuan bersama. Tapi ia juga ingat mimisan itu, ingat lemas yang menghantuinya.
“Ayah akan jaga,” tambah Baran, seolah membaca pikirannya. “Kalau kau mulai lemas, berhenti. Kita lanjutkan besok malam lagi. Tak perlu terburu-buru.”
***
Malam pertama. Bulan bersinar terang, cukup untuk melihat tanpa lampu. Baran dan Aryan merangkak keluar dari rumah setelah memastikan Laras tidur pulas. Mereka berjalan menyusuri tepi desa, menuju area gerbang utama—tempat yang paling hancur saat serangan.
Di sana, tiang-tiang baru sudah dipasang sementara, belum diperkuat. Kayunya masih segar, berbau getah, tapi cukup besar dan kokoh. Baran memeriksa sekeliling—tak ada siapa pun. Semua orang kelelahan dan terlelap.
“Sekarang,” bisiknya.
Aryan meletakkan kedua tangannya di tiang pertama. Kayu besar, sebesar paha orang dewasa, masih kasar dan basah. Ia memejamkan mata, mencari perasaan itu—getaran di dalam benda. Dan ia menemukannya. Kayu ini hidup, berbeda dengan batu yang diam. Getarannya lebih cepat, lebih hangat.
Cahaya muncul dari tangannya. Samar, redup, hampir tak terlihat di bawah sinar bulan. Tapi cukup untuk membuat Baran menahan napas. Cahaya itu merambat ke kayu, meresap, menyebar. Kayu itu berubah. Warnanya menggelap, seratnya merapat, getahnya mengering. Dalam beberapa detik, tiang yang tadinya masih segar itu mengeras—menjadi sekeras batu, setua pohon yang sudah tumbuh seratus tahun.
Aryan membuka mata. Napasnya sedikit tersengal, tapi tidak terlalu lelah. “Satu,” bisiknya.
Mereka pindah ke tiang kedua. Ketiga. Keempat. Setiap tiang membutuhkan waktu dan tenaga yang berbeda—kayu yang lebih besar lebih banyak menguras. Saat mencapai tiang kelima, Aryan mulai pusing. Ia menggeleng, memegangi kepala.
“Cukup,” Baran menariknya. “Lanjutkan besok.”
Mereka kembali ke rumah, menyelinap seperti hantu. Laras tidak terbangun. Tapi di balik tidurnya yang pura-pura—atau mungkin tidur sungguhan—ada kehangatan yang ia rasakan. Keluarganya bekerja bersama, melindungi satu sama lain. Itu sudah cukup.
***
Lima malam berikutnya berulang dengan pola yang sama. Siang hari, Aryan membantu seperti anak-anak lain—kelelahan yang nyata, bukan pura-pura. Malam hari, ia dan Baran menyelesaikan misi rahasia mereka. Tiang demi tiang diperkuat. Sepuluh tiang utama. Dua tiang gerbang. Empat tiang sudut. Empat tiang di sisi yang paling rawan.
Pada malam keenam, Aryan hampir pingsan. Mereka sedang mengerjakan tiang terakhir—tiang gerbang bagian dalam, yang paling besar, yang akan menjadi penahan utama. Aryan sudah kelelahan setelah enam malam berturut-turut mengerahkan kemampuannya. Tapi ia memaksa. Tinggal satu. Satu lagi.
Tangannya gemetar saat menyentuh kayu. Cahaya keluar, tapi redup, tak bertenaga. Ia memejamkan mata, mencoba menarik lebih banyak—dari mana pun asalnya. Kayu itu mulai berubah, tapi lambat. Sangat lambat. Dan di tengah proses itu, dunia Aryan mulai berputar.
“Aryan!” Baran meraihnya tepat sebelum ia jatuh.
Kayu itu hanya berubah setengah. Sebagian mengeras seperti batu, sebagian masih kayu biasa. Tapi cukup. Cukup kuat. Baran menggendong Aryan, membawanya menjauh dari gerbang, ke tempat gelap di balik semak. Di sana, Aryan terengah-engah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
“Ayah... tiangnya...” bisiknya, masih peduli pada tugas.
“Sudah cukup, Nak. Sudah cukup.” Baran memeluknya, merasakan tubuh kecil itu begitu lemah. “Istirahat. Jangan paksa lagi.”
***
Pagi harinya, saat pembangunan pagar memasuki hari ketujuh, suasana berbeda. Semangat gotong royong yang luar biasa telah menyelesaikan pekerjaan yang biasanya butuh dua puluh hari. Pagar kayu runcing ganda setinggi tiga meter kini berdiri kokoh mengelilingi seluruh dusun. Ujung-ujungnya runcing, mengancam siapa pun yang mencoba memanjat. Di depannya, parit kecil digali—tidak dalam, tapi cukup untuk membuat serigala kehilangan pijakan.
Semua orang berkumpul di depan gerbang. Gerbang itu sendiri—karya terbesar—terbuat dari kayu-kayu tebal yang disatukan, berat, kokoh, dengan palang besar yang bisa digeser dari dalam. Saat Teguh memerintahkan gerbang itu ditutup untuk pertama kalinya, enam pria harus mendorong bersama-sama. *Kreeeek... BAM!* Gerbang itu tertutup rapat, mengunci dusun dari dunia luar.
Untuk beberapa detik, semua orang diam. Lalu, tepuk tangan pecah. Sorak-sorai menggema. Anak-anak berlarian, tertawa. Para wanita menangis haru. Para pria berpelukan, menepuk-nepuk punggung satu sama lain. Mereka telah melakukannya. Bersama-sama. Pagar ini bukan hanya kayu dan batu—ini adalah bukti bahwa mereka bisa bertahan, bisa bangkit, bisa melindungi diri sendiri.
Di tengah kerumunan, Aryan duduk di beranda rumahnya, terlalu lelah untuk ikut merayakan. Baran duduk di sampingnya, tangannya di pundak anak itu. Mereka berdua tahu—hanya mereka berdua—bahwa pagar ini bukan hanya hasil kerja keras siang hari. Tapi juga hasil keringat malam, hasil cahaya di tangan seorang anak, hasil pengorbanan yang tak terlihat.
Laras keluar dari rumah, membawa dua cangkir air. Ia memberikan satu pada Baran, satu pada Aryan. Lalu ia duduk di sisi lain Aryan, ikut memandangi kerumunan yang bergembira.
“Kau tahu,” bisiknya pelan, hanya untuk mereka bertiga, “kadang keajaiban datang dari tempat yang tak terduga. Dari tangan kecil yang tak terlihat.”
Aryan menatap ibunya. Laras tersenyum—bukan senyum biasa, tapi senyum yang berkata, *Aku tahu. Aku sudah tahu sejak lama.*
Ternyata, Laras memang tahu. Ia tahu sejak malam pertama Baran dan Aryan pergi diam-diam. Ia tahu dari tatapan mereka, dari kelelahan Aryan di pagi hari, dari bisikan-bisikan malam. Tapi ia memilih diam, memilih percaya pada suami dan anaknya. Dan kini, ia memilih untuk ikut menjaga rahasia itu.
Aryan menunduk, matanya basah. Tapi bukan sedih. Ini hangat. Hangat karena rahasianya tak lagi miliknya sendiri—tapi milik keluarganya. Tiga insan yang saling melindungi.
Teguh naik ke atas batu di dekat gerbang, mengangkat tangan meminta perhatian. Sorak-sorai mereda.
“Warga Dusun Karang!” teriaknya, suaranya melengking oleh emosi. “Kita telah membuktikan sesuatu hari ini. Bahwa kita bisa bersatu. Bahwa ketakutan tidak mengalahkan kita. Pagar ini bukan hanya pelindung—ini adalah awal dari masa depan baru!”
Tepuk tangan lagi.
“Mulai malam ini, kita akan punya regu jaga malam. Setiap malam, empat pria akan berkeliling, memastikan api tetap menyala, memastikan tidak ada yang mendekat. Ini bukan hanya untuk berjaga—ini untuk memastikan kita tidak akan pernah lagi lengah!”
Para pria mengangguk, beberapa menunjuk diri sendiri, menawarkan jadi yang pertama.
Teguh melanjutkan, “Dan mulai besok, kita akan bicara tentang masa depan. Bukan hanya bertahan hidup. Tapi hidup. Ladang kita, ternak kita, anak-anak kita. Kita akan bangkit. Lebih kuat dari sebelumnya!”
Sorak-sorai memenuhi langit senja. Untuk pertama kalinya sejak lama, Dusun Karang benar-benar bersorak. Bukan karena pesta, bukan karena daging rusa. Tapi karena harapan. Harapan yang nyata, yang bisa mereka lihat, pegang, dan rasakan dalam bentuk pagar kokoh di depan mata.
Aryan tersenyum. Lelah, tapi tulus. Tangannya—yang masih sedikit gemetar—ia sembunyikan di balik paha. Tapi matanya, matanya memandang pagar itu dengan bangga. Sepuluh tiang utama. Dua tiang gerbang. Empat tiang sudut. Semuanya diperkuat olehnya. Rahasia yang hanya tiga orang tahu.
***
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Warga mulai kembali ke rumah masing-masing, membawa kelelahan yang manis, kepuasan yang tak ternilai. Gerbang desa masih terbuka—akan ditutup saat malam tiba.
Aryan masih duduk di beranda, menikmati senja. Laras masuk ke dalam untuk menyiapkan makan malam. Baran berbincang dengan beberapa pria di dekat gerbang, membahas regu jaga malam.
Momen damai. Momen yang terasa begitu langka belakangan ini.
Tapi di kejauhan, di atas bukit kecil yang menghadap ke Dusun Karang, dua sosok hitam berdiri. Mereka tidak bergerak, hanya mengamati. Dua ekor kuda di belakang mereka sesekali mengibaskan ekor, tak sabar melanjutkan perjalanan. Matahari senja menyinari siluet mereka—sosok tinggi dengan jubah panjang, sosok lain lebih pendek tapi tegap.
Mata mereka tertuju pada desa. Pada pagar baru yang kokoh. Pada gerbang yang baru selesai. Pada kerumunan warga yang bergembira.
“Menarik,” gumam sosok yang lebih tinggi, suaranya dalam, terbawa angin. “Desa sekecil ini, dengan pagar sebesar itu. Dalam waktu seminggu. Padahal laporan kita bilang mereka hampir musnah diserang serigala.”
Sosok di sampingnya tidak menjawab, hanya mengamati.
“Aku ingin tahu,” lanjut sosok tinggi itu, “apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dan siapa yang membuat semua ini mungkin.”
Ia menarik tali kekang, memutar kudanya. “Kita akan cari tahu. Tapi tidak sekarang. Biarkan mereka menikmati kemenangan kecil mereka dulu.”
Dua sosok itu berbalik, meninggalkan bukit kecil, menghilang di balik pepohonan saat senja mulai berubah menjadi malam. Tak ada yang melihat mereka. Tak ada yang tahu bahwa mata-mata telah mengamati desa kecil itu. Dan tak ada yang bisa menduga apa yang akan dibawa oleh kedatangan mereka nanti.
Di Dusun Karang, lampu-lampu mulai dinyalakan satu per satu. Aroma masakan mulai tercium. Anak-anak dipanggil pulang. Malam turun dengan damai, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Tapi di balik kedamaian itu, ada bayangan yang mulai merayap mendekat—bayangan yang tak terlihat, tak terdengar, tapi perlahan-lahan mengintai dari kejauhan.
Aryan, yang masih duduk di beranda, tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Ia menoleh ke arah bukit di kejauhan. Gelap. Tak ada apa-apa. Tapi untuk sesaat, ia merasa ada yang memperhatikannya.
“Aryan, makan!” panggil Laras dari dalam.
Ia menggelengkan kepala, membuang perasaan aneh itu. Mungkin hanya kelelahan. Mungkin hanya imajinasi. Ia bangkit, masuk ke dalam rumah, bergabung dengan ayah dan ibunya untuk makan malam pertama di balik pagar baru yang kokoh.
Di luar, angin malam berdesir. Membawa bisikan dari masa depan yang tak diketahui. Membawa pertanda bahwa kedamaian ini—betapapun indahnya—mungkin hanya sementara.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Tiang-Tiang Baru | EPS 12"