Harga Sebuah Keajaiban | EPS 13
Empat hari sejak pagar desa selesai. Empat hari sejak sorak-sorai kemenangan memenuhi langit senja. Empat hari sejak Aryan diam-diam menyumbangkan separuh tenaganya untuk tiang-tiang kokoh yang kini melindungi Dusun Karang.
Tapi keajaiban tak pernah datang tanpa harga. Dan harga itu, kini, mulai ditagih.
***
Pagi itu, Aryan terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan sakit biasa—ini seperti ada palu kecil yang memukul-mukul di dalam tempurung kepalanya. Ia memejamkan mata beberapa saat, berharap rasa sakit itu hilang. Tapi denyutan itu tetap ada, setia menemani detak jantungnya.
“Aryan, bangun. Sarapan sudah siap.” Suara Laras dari dapur terdengar samar, seperti dari kejauhan.
Ia memaksakan diri bangkit. Tubuhnya terasa berat, seperti dipenuhi batu. Setiap gerakan membutuhkan tenaga ekstra. Tapi ia tak boleh memperlihatkan kelemahan ini. Tidak setelah ayah dan ibunya begitu percaya padanya. Tidak setelah mereka tahu rahasianya dan tetap menerimanya.
Di meja makan—tikar anyaman dengan daun pisang sebagai alas—Laras meletakkan bubur jagung hangat. Porsi Aryan sedikit lebih banyak dari biasanya. Sejak Baran tahu tentang kemampuan Aryan, Laras diam-diam selalu memberi porsi ekstra. Mungkin untuk mengganti tenaga yang terkuras. Mungkin karena takut. Aryan tak tahu pasti.
Baran sudah duduk, mengunyah buburnya perlahan. Matanya menatap Aryan—memeriksa, mencari tanda-tanda kelelahan. Aryan berusaha tersenyum, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Tapi senyumnya mungkin terlalu kaku, karena Baran menghela napas pelan.
“Jangan ke mana-mana hari ini,” kata Baran, suaranya datar tapi tegas. “Istirahat di rumah.”
Aryan membalas tatapan ayahnya. “Tapi warga mulai memperbaiki rumah mereka, Yah. Mungkin mereka butuh bantuan—”
“Mereka butuh bantuan, tapi bukan dari orang yang sekarat,” potong Baran. Laras diam, tangannya berhenti mengaduk bubur. “Aku lihat wajahmu, Nak. Kau pucat. Matamu cekung. Ayah tahu kau ingin membantu, tapi tubuhmu butuh istirahat.”
Aryan menunduk. Ia ingin membantah, ingin bilang bahwa ia kuat, bahwa ia bisa. Tapi denyutan di kepalanya berkata sebaliknya. Tubuhnya sendiri mengkhianati semangatnya.
“Tapi... tapi mereka mengandalkanku,” bisiknya. “Tanpa aku, perbaikan rumah bisa lama. Mereka mungkin tidak bisa selesai sebelum hujan datang. Dan jika aku tidak membuat alat—”
“Dengar, Nak.” Baran meletakkan mangkuknya, mencondongkan tubuh ke depan. “Ayah tahu kau merasa bertanggung jawab. Tapi kau bukan satu-satunya orang di desa ini. Sebelum kau punya kemampuan ini, mereka sudah bertahan bertahun-tahun. Mereka bisa menunggu beberapa hari. Kau harus—"
“Tapi mereka mulai bertanya, Yah.” Suara Aryan bergetar. “Mereka bertanya kenapa aku tidak menemukan benda-benda baru lagi. Mereka bilang, ‘Dulu Aryan sering dapat benda bagus dari hutan. Sekarang tidak pernah.’ Mereka—mereka mulai melihatku aneh.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Laras memandang suaminya dengan mata cemas. Baran diam, otot rahangnya mengeras. Ini yang ia takutkan. Tekanan sosial yang mulai membentuk lingkaran di sekitar anaknya.
“Biarkan mereka bertanya,” kata Baran akhirnya, suaranya rendah. “Biarkan mereka berpikir apa pun. Yang penting kau sehat. Kau mengerti?”
Aryan mengangguk, meski di dalam hatinya, perasaan bersalah terus menggerogoti.
***
Tapi istirahat yang diinginkan Baran tak pernah benar-benar terjadi. Siang itu, saat Aryan berbaring di beranda mencoba tidur, Rojak datang berlari.
“Aryan! Cepat lihat!” Rojak terengah-engah, wajahnya bersemangat. “Ayahku lagi pasang tiang baru di rumah. Tapi tiangnya kurang kuat. Kata ayah, kalau ada kayu sekeras punyamu dulu—yang buat cangkul itu—pasti bagus. Kau masih punya?”
Aryan bangkit, kepalanya berdenyut lebih keras. Ia ingin bilang tidak, ingin bilang ia capek. Tapi Rojak menatapnya dengan mata penuh harap. Teman masa kecilnya. Anak yang selalu bermain dengannya, yang tak pernah memperlakukan dia berbeda.
“Aku... aku lihat dulu,” kata Aryan akhirnya, bangkit dengan susah payah.
***
Sore harinya, Aryan sudah mengerjakan tiga tiang rumah keluarga Jaka. Bukan dengan sihir—ia tak berani di depan Rojak—tapi dengan membantu mengikat, mengangkat, dan memastikan tiang-tiang itu kokoh. Tapi kelelahan tetap menggerogotinya. Setiap kali Jaka memujinya karena ide bagus tentang cara mengikat, Aryan hanya tersenyum tipis. Andai mereka tahu, andai mereka tahu bahwa tiang ini bisa sepuluh kali lebih kuat jika ia menyentuhnya.
Malam harinya, saat semua orang pulang, Baran menarik Aryan ke samping. Wajahnya marah—bukan marah biasa, tapi marah karena takut.
“Apa yang aku bilang pagi tadi?”
Aryan menunduk. “Istirahat.”
“Lalu kau lakukan apa? Kau pergi ke rumah Jaka dan bekerja seharian!” Baran menahan suaranya, tidak ingin didengar tetangga. “Kau pikir aku tidak lihat? Kau pucat, Aryan. Matamu sayu. Dan kau masih memaksakan diri!”
“Tapi aku tidak pakai kemampuan—"
“Bukan soal kemampuan! Tubuhmu lelah, Nak. Lelah karena semalam suntuk kau menguras tenaga untuk tiang pagar. Lelah karena berminggu-minggu kau memproduksi alat untuk desa. Lelah karena kau lupa bahwa kau masih anak-anak!”
Aryan diam. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tahan. “Aku hanya... aku hanya ingin membantu, Yah. Mereka baik padaku. Mereka tersenyum padaku. Aku tak ingin kehilangan itu.”
Baran tertegun. Ia melihat ke dalam mata anaknya, dan di sana ia melihat sesuatu yang menyayat hati: ketakutan. Bukan ketakutan akan serigala atau bahaya fisik. Tapi ketakutan akan ditolak. Ketakutan bahwa jika ia berhenti memberi, semua perhatian dan senyuman itu akan lenyap. Dan ia akan kembali menjadi anak tak berguna yang hanya bisa berdiri di pinggir.
“Nak...” Baran berjongkok, meraih kedua bahu Aryan. “Kau tak perlu membeli kasih sayang mereka. Kau cukup jadi dirimu sendiri. Kau cukup jadi Aryan, anakku.”
Aryan menangis. Diam-diam, pelan, tapi air mata itu jatuh membasahi pipinya. “Tapi aku ingin berguna, Yah. Aku ingin mereka melihatku. Selama ini aku cuma bocah yang tak berarti. Sekarang mereka tahu aku bisa membantu. Aku tak mau kembali menjadi tak terlihat.”
Baran memeluknya erat. Di balik punggungnya, Laras berdiri di ambang pintu, tangannya menutup mulut, menahan tangisnya sendiri. Ia mendengar semuanya. Dan hatinya hancur berkeping-keping.
***
Dua hari berikutnya berjalan dalam kabut kelelahan. Aryan terus membantu—kadang di rumah ini, kadang di rumah itu. Ia membuat dua pisau untuk keluarga yang kehilangan alat saat serigala. Ia membantu memperbaiki dinding bambu yang roboh. Ia bahkan diam-diam memperkuat beberapa tiang rumah saat tidak ada yang melihat, meski setiap kali melakukannya, kepalanya semakin pusing dan pandangannya semakin kabur.
Baran melarangnya, tapi Aryan selalu punya alasan. “Hari ini cuma sebentar.” “Mereka sudah minta tolong.” “Aku baik-baik saja.” Tapi ia tak baik-baik saja. Wajahnya kian pucat, lingkaran hitam di bawah matanya kian dalam, dan napasnya sering tersengal meski hanya duduk.
Pada hari keempat sejak pagar selesai, Aryan hanya mampu membuat satu pisau. Itupun hasilnya buruk—tidak setajam biasanya, permukaannya kasar. Ia meletakkan pisau itu di kolong rumah, malu untuk memberikannya pada siapa pun. Tangannya gemetar hebat saat ia berbaring di tikar, mencoba memulihkan tenaga yang terus terkuras.
***
Hari kelima. Matahari bersinar terang, terlalu terang untuk mata Aryan yang sensitif. Tapi ia tetap bangkit, tetap pergi. Ada ladang yang perlu dibantu, kata warga kemarin. Ada pagar rumah yang perlu diperkuat. Ada banyak hal yang hanya ia bisa lakukan—atau setidaknya, hanya ia yang bisa melakukannya dengan baik.
Di tengah ladang, di bawah terik matahari, Aryan berhenti. Dunia tiba-tiba berputar lebih cepat. Tanah di bawah kakinya terasa bergelombang, seperti ombak. Ia memegangi kepala, mencoba menstabilkan diri, tapi semuanya terasa kabur.
“Aryan? Aryan, kau tidak apa-apa?” Suara seseorang terdengar dari kejauhan.
Ia ingin menjawab, ingin bilang bahwa ia baik-baik saja, bahwa ini hanya pusing biasa. Tapi kata-kata tak bisa keluar. Lututnya lemas. Tubuhnya jatuh ke tanah, membentur rumput kering dengan suara lemah.
***
Saat Aryan sadar, ia sudah berada di rumahnya. Beranda. Tikar anyaman. Wajah-wajah asing menatapnya dengan cemas. Beberapa warga—para wanita yang membawanya pulang—berbisik-bisik di luar. Suara mereka samar, tapi cukup jelas untuk didengar.
“Kasihan sekali, kerja terus sampai jatuh.”
“Iya, anak itu sejak dulu rajin. Tapi sekarang kok jadi sering sakit?”
“Mungkin karena terlalu banyak membantu. Tapi kalau dia berhenti, kita bagaimana? Siapa yang akan cari benda-benda bagus di hutan?”
“Jangan bilang begitu, kasihan anaknya.”
“Aku cuma jujur. Rumahku masih butuh tiang kuat. Kalau dia berhenti, aku harus cari kayu sendiri berbulan-bulan.”
Aryan memejamkan mata, berpura-pura masih pingsan. Tapi kata-kata itu terukir dalam hatinya. Mereka butuh dia. Mereka mengandalkan dia. Tapi mereka juga melihatnya sebagai sumber, bukan sebagai anak kecil yang kelelahan.
Laras keluar dari rumah, wajahnya tegang. Dengan sopan tapi tegas, ia meminta para wanita itu pulang. “Aryan perlu istirahat. Terima kasih sudah mengantarnya.”
Mereka pergi, bergumam setuju, tapi mata mereka masih penuh tanya. *Kapan Aryan bisa membantu lagi? Kapan benda-benda baru akan muncul?*
Laras masuk ke dalam, duduk di samping Aryan. Ia tahu anaknya sadar—ia bisa melihat dari napas yang berubah, dari bulu mata yang sedikit bergetar. Tapi ia tak membuka rahasia itu. Ia hanya memegang tangan Aryan, merasakan dinginnya, merasakan betapa lemahnya tubuh kecil itu.
“Nak,” bisiknya, “Mama tahu kau dengar semuanya. Tapi kau jangan dengarkan mereka. Yang penting kau—"
Aryan membuka matanya. Matanya kosong, lelah, seperti tidak ada cahaya di sana. “Ma, mereka butuh aku. Kalau aku berhenti, mereka... mereka akan kecewa. Mereka akan kembali tidak melihatku.”
Laras menahan tangis. “Nak, dengar. Kau tidak harus—"
“Aku ingin membantu, Ma. Aku benar-benar ingin membantu. Tapi tubuhku...” suaranya pecah. “Kenapa tubuhku lemah sekali?”
Ia menangis. Laras memeluknya, menangis bersamanya. Dua insan di dalam rumah itu menangis dalam pelukan, meratapi harga mahal dari sebuah keajaiban.
***
Malam harinya, setelah Aryan tertidur—lelah setelah menangis, setelah pingsan, setelah semuanya—Laras duduk di ruang depan bersama Baran. Lampu minyak menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding bambu.
Baran baru pulang dari rapat regu jaga malam. Ia melihat wajah istrinya yang tegang, dan ia langsung tahu ada yang tidak beres.
“Aryan pingsan hari ini,” kata Laras tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi di balik datar itu ada sesuatu yang mengerikan: ketakutan yang begitu dalam. “Di ladang. Para wanita mengantarnya pulang. Ia sadar, tapi ia menangis. Ia menangis, Baran. Anak kita menangis karena tubuhnya tak kuat melakukan apa yang ia inginkan.”
Baran diam. Tangannya mengepal di atas paha.
Laras melanjutkan, suaranya mulai bergetar. “Ia bilang ia tak mau berhenti membantu karena takut orang tak lagi melihatnya. Ia bilang ia ingin berguna. Ia bilang—” Air mata Laras jatuh. “Ia bilang kenapa tubuhnya lemah.”
Keheningan yang panjang. Angin malam berdesir di luar, membawa suara jangkrik yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa seperti nyanyian kematian.
Laras menatap suaminya. Matanya merah, tapi tatapannya tajam. Tajam dan putus asa.
“Baran,” katanya, suara hampir berbisik tapi penuh tekanan, “ini tidak bisa terus begini. Dia akan mati.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat, nyata, mengerikan. Baran memejamkan mata, merasakan dadanya sesak oleh beban yang tak terlihat. Ia adalah ayah. Ia pelindung keluarga. Tapi bagaimana ia melindungi anaknya dari keinginan anaknya sendiri? Dari tekanan warga yang tak terlihat tapi begitu nyata?
“Aku tahu,” bisiknya, suara serak. “Aku tahu, Laras. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tak bisa bilang pada mereka tentang kemampuannya. Kita tak bisa memaksa mereka berhenti meminta bantuan tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan Aryan... dia terlalu baik untuk menolak.”
Laras menggenggam tangan suaminya. “Kita harus lakukan sesuatu. Bukan besok, bukan lusa. Tapi sekarang. Malam ini. Kita harus putuskan bagaimana melindungi anak kita.”
Mereka berdua duduk diam, berpikir, mencari jalan keluar dari labirin yang tak berujung. Di kamar belakang, Aryan terbaring lemah, tidurnya gelisah, sesekali mengigau—menyebut nama teman-temannya, menyebut alat-alat yang harus ia buat, menyebut ketakutannya akan kembali tak terlihat.
Di luar, bulan bersinar pucat, menerangi Dusun Karang yang baru saja bangkit dari trauma. Tapi di dalam rumah kecil itu, trauma baru mulai tumbuh—trauma yang lebih halus, lebih pelan, tapi tak kalah mematikan.
Harga sebuah keajaiban. Dan mereka baru mulai membayarnya.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Harga Sebuah Keajaiban | EPS 13"