Darah dari Darah | EPS 14
Pagi itu, Dusun Karang bangun dengan suasana yang berbeda. Bukan kecemasan seperti saat serigala, bukan kegembiraan seperti saat pagar selesai. Tapi keheningan yang aneh—hening yang penuh bisik-bisik, penuh tatapan curiga, penuh pertanyaan yang tak terucap.
Di rumah panggung kecil di pinggir dusun, Aryan masih terbaring lemah. Dua hari sejak pingsan di ladang, ia belum bangkit dari tikar. Tubuhnya kurus, lebih kurus dari sebelumnya, pipinya cekung, matanya sayu meskipun terbuka. Laras duduk di sampingnya, membasuh keningnya dengan kain basah, menyuapi bubur sedikit demi sedikit.
“Mama, aku ingin ke luar,” bisik Aryan, suaranya serak, lemah.
Laras menggeleng, tersenyum tipis meski hatinya hancur. “Belum, Nak. Kau harus istirahat. Tubuhmu butuh waktu.”
“Tapi mereka menungguku. Rumah Paman Jaka belum selesai. Pisau untuk keluarga Rasiman—”
“Mereka bisa menunggu,” potong Laras, lembut tapi tegas. “Kau tidak bisa memaksakan diri. Ayahmu sudah bilang.”
Aryan ingin membantah, tapi batuk menghentikannya. Batuk kering, dalam, menggetarkan dadanya yang kurus. Laras segera membantunya duduk, menepuk-nepuk punggungnya hingga batuk reda. Ia melihat sesuatu di kain yang ia gunakan untuk menyeka mulut Aryan. Bercak merah. Samar, tapi nyata.
Laras menelan ludah, berusaha tidak panik. Ia membersihkan bercak itu diam-diam, berharap Aryan tak melihat.
***
Di luar, di lapangan dekat pohon beringin mati, para pria mulai berkumpul. Bukan rapat resmi yang dipanggil Kepala Desa, tapi kumpul-kumpul biasa yang terjadi setiap pagi—para pria duduk-duduk, minum air, membicarakan pekerjaan hari itu. Tapi pagi ini, pembicaraan mengarah ke satu topik: Aryan.
“Anak Baran itu kok lama sekali sakitnya,” kata seorang pria paruh baya bernama Darman. Ia petani dengan ladang paling luas setelah keluarga Jaka. “Padahal kemarin masih kuat bantu-bantu. Tiba-tiba pingsan, lalu sejak itu tak pernah keluar.”
“Mungkin benar-benar sakit,” sahut yang lain.
“Sakit? Atau..." Darman menjeda, matanya menyipit curiga. "Atau mereka sengaja menyembunyikan sesuatu?”
Beberapa pria menoleh. “Maksudmu?”
“Coba pikir.” Darman menurunkan suaranya, tapi cukup keras untuk didengar lingkaran kecilnya. “Anak itu sejak dulu biasa saja. Lalu tiba-tiba bisa 'menemukan' benda-benda bagus di hutan? Cangkul super tajam, pisau super kuat, dan katanya—katanya—ia juga ikut bantu bikin pagar? Padahal umurnya baru berapa? Sembilan tahun?”
Keheningan mengikuti. Beberapa pria mulai berpikir, raut wajah mereka berubah.
“Aku dengar dari Jaka,” lanjut Darman, “Rojak bilang Aryan punya cangkul aneh, jauh lebih ringan dari biasa. Katanya buatan sendiri. Buatan sendiri? Anak sekecil itu? Lalu sekarang dia sakit pas banget setelah semua orang minta bantuan? Aku curiga, keluarga Baran itu menyembunyikan sesuatu. Mungkin mereka tahu tempat keramat di hutan. Mungkin mereka dapati pusaka leluhur. Dan mereka sembunyikan untuk diri sendiri.”
“Itu tuduhan berat, Darman,” sela seorang pria lebih tua. “Baran bukan orang seperti itu. Ia selalu berbagi hasil buruan.”
“Kita lihat saja,” Darman menyeringai sinis. “Lihat berapa lama 'sakit' itu berlangsung.”
***
Baran tahu pembicaraan itu sampai padanya sebelum matahari naik setinggi tombak. Seorang tetangga baik—istri Jaka—datang diam-diam, berpura-pura pinjam garam, lalu berbisik apa yang didengar suaminya di lapangan.
“Hati-hati, Baran,” bisiknya. “Darman itu punya banyak kawan. Mulutnya bisa jadi api.”
Baran mengangguk, mengucap terima kasih, lalu masuk ke rumah. Ia duduk di samping Aryan, menatap wajah pucat anaknya, dan merasakan kemarahan yang membara di dadanya. Bukan pada Darman—pada situasi. Pada dunia yang tak bisa membiarkan anak kecil beristirahat.
“Ayah akan ke luar sebentar,” katanya pada Laras. “Jaga Aryan.”
Laras menatapnya, membaca sesuatu di mata suaminya. “Baran... jangan lakukan sesuatu yang bodoh.”
“Aku hanya akan bicara.”
***
Di lapangan, para pria belum bubar. Baran berjalan mendekat, langkahnya mantap, wajahnya datar. Semua mata tertuju padanya. Beberapa menyapa ramah, yang lain diam, menunggu.
Darman masih duduk di tempatnya, tersenyum tipis saat melihat Baran datang.
“Baran,” sapanya, sok ramah. “Bagaimana kabar anakmu? Sudah sembuh?”
Baran berhenti tepat di hadapannya. Tingginya sama, posturnya sama kekarnya. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang dingin, tenang, dan berbahaya.
“Anakku sakit,” kata Baran, suaranya datar. “Ia butuh istirahat. Aku dengar kau bertanya-tanya soal itu.”
Darman tertawa kecil, tidak nyaman. “Ah, hanya obrolan biasa. Wajar kita bertanya, kan? Anakmu itu akhir-akhir ini sering membantu banyak orang. Tiba-tiba sakit, orang pasti khawatir.”
“Khawatir, atau curiga?”
Udara di sekitar mereka tiba-tiba dingin. Pria-pria lain diam, beberapa mundur selangkah. Darman berhenti tersenyum.
“Maksudmu?”
“Aku dengar kau bilang kami menyembunyikan sesuatu. Pusaka leluhur. Tempat keramat.” Baran menatapnya tajam. “Aku dengar kau tuduh kami serakah.”
Darman berdiri, tidak mau kalah. “Aku cuma bilang apa yang dilihat orang! Anakmu tiba-tiba bisa bawa benda-benda ajaib, lalu sakit pas semua orang minta bantuan. Kau sendiri yang bilang dia sakit. Tapi kau tak pernah tunjukkan dia ke dukun. Kau hanya urung diri di rumah. Apa yang sebenarnya terjadi, Baran? Apa yang kau sembunyikan?”
“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu.” Suara Baran mulai naik. “Anakku sakit. Itu saja. Kau tidak berhak mempertanyakan lebih dari itu.”
“Atau mungkin,” Darman melangkah maju, wajahnya hanya beberapa inci dari Baran, “kau takut kami tahu rahasiamu? Mungkin benda-benda itu bukan ditemukan. Mungkin kau yang mengambil dari orang lain. Mungkin kau—"
Belum sempat Darman menyelesaikan kalimatnya, tangan Baran sudah mencekik lehernya. Bukan main-main—cekikan sungguhan, kuat, membuat Darman tersedak dan matanya membelalak. Pria-pria di sekitar berteriak kaget, beberapa melompat maju mencoba memisahkan.
“Baran! Lepaskan!”
“Dia akan mati!”
Tapi Baran tak bergerak. Matanya menatap Darman yang mulai kehabisan napas, wajahnya merah keunguan. “Kau bicara soal anakku sekali lagi,” desisnya, suara rendah seperti geraman, “dan aku akan pastikan mulut itu tak bisa bicara selamanya.”
“BARAN!”
Teriakan itu menghentikan semua orang. Kepala Desa Teguh berdiri di pinggir lapangan, kaki palsunya masih basah oleh embun pagi—ia baru saja tiba, mungkin dipanggil seseorang. Dengan langkah cepat—secepat yang bisa dilakukan dengan satu kaki kayu—ia berjalan mendekat.
“Lepaskan dia sekarang!” perintah Teguh, suaranya keras, berwibawa.
Baran menatap Teguh, lalu kembali ke Darman yang hampir pingsan. Dengan enggan, ia melepaskan cekikannya. Darman jatuh berlutut, terbatuk-batuk, memegangi lehernya.
Teguh berdiri di antara mereka berdua. Kakinya yang palsu mengeluarkan bunyi *thud* tiap kali ia bergerak, seperti pukulan genderang peringatan.
“Ada apa ini?” tanya Teguh, matanya memindai satu per satu.
Darman, masih terbatuk, menunjuk Baran. “Dia—dia mau bunuh aku—hanya karena aku bertanya soal anaknya—”
“Kau menghina keluargaku,” potong Baran dingin. “Kau tuduh kami serakah. Kau sebarkan fitnah.”
Teguh menghela napas panjang. Ia sudah cukup lama jadi kepala desa untuk tahu pola ini: saat kelangkaan dan ketakutan, orang butuh kambing hitam. Dan keluarga Baran, dengan 'keberuntungan' mereka akhir-akhir ini, jadi target mudah.
“Dengar, semua.” Suara Teguh meninggi, memastikan semua orang di lapangan mendengar. “Aku tahu situasi sulit. Aku tahu kita semua khawatir. Tapi lupa kalian sudah? Dua minggu lalu kita hampir hancur. Serigala memangsa anak kita. Dan keluarga Baran—Baran sendiri—berdarah-darah melindungi kita.”
Ia menunjuk ke arah rumah Baran. “Anaknya, Aryan, jatuh sakit karena bekerja terlalu keras membantu. Bukan cuma keluarganya sendiri, tapi semua orang. Aku dengar dari Jaka, Aryan bantu perbaiki rumahnya. Aku dengar dari Rasiman, Aryan kasih pisau buat mereka. Bocah itu, umur sembilan tahun, kerja seperti orang dewasa.”
Matanya menatap Darman tajam. “Dan kau, Darman, kau duduk di sini minum air, tidak pernah bantu siapa pun, dan berani menuduh mereka serakah?”
Darman membuka mulut, ingin membela diri, tapi Teguh belum selesai.
“Dia anak-anak!” teriaknya, suara pecah oleh emosi. “Kalian sudah lupa? Dia masih anak-anak! Bukan mesin. Bukan sumur yang bisa kau timba terus tanpa habis. Dia manusia, dengan tubuh kecil dan tenaga terbatas. Dia jatuh sakit karena memenuhi permintaan kalian!”
Keheningan mencekik lapangan. Beberapa pria menunduk, malu. Darman diam, tak bisa berkata-kata.
“Mulai hari ini,” Teguh melanjutkan, suaranya lebih rendah tapi tetap tegas, “Aryan istirahat sampai benar-benar sembuh. Tak ada yang boleh memintanya bekerja. Tak ada yang boleh menekan keluarganya. Dan jika aku dengar lagi ada fitnah, ada tuduhan, ada bisik-bisik di belakang—” ia berhenti, menatap satu per satu, “—aku sendiri yang akan mengusir mereka dari dusun ini. Paham?”
Satu per satu, para pria mengangguk. Darman, masih memegangi lehernya, hanya bisa diam.
Baran menatap Teguh. Ada rasa terima kasih di matanya, tapi juga kelelahan yang begitu dalam. Ia berbalik, meninggalkan lapangan, berjalan pulang ke rumahnya. Di belakangnya, Teguh masih berdiri di tempat, mengawasi hingga Baran hilang dari pandangan.
***
Aryan mendengar semuanya.
Dari dalam rumah, dari balik dinding bambu yang tipis, suara-suara itu masuk jelas. Ia mendengar ayahnya berteriak, mendengar keributan, mendengar nama disebut-sebut. Ia ingin keluar, ingin lari ke lapangan, ingin bilang pada semua orang bahwa ia akan segera sembuh, bahwa ia akan kembali membantu. Tapi tubuhnya tak bisa. Ia hanya bisa berbaring, menangis diam-diam, air mata mengalir membasahi tikar.
Laras memeluknya dari samping, ikut menangis. “Sudah, Nak. Sudah. Ayahmu akan urus semuanya.”
Tapi Aryan tak bisa berhenti menangis. Ia menangis karena sakit. Ia menangis karena lelah. Ia menangis karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa keinginannya membantu telah membawa masalah bagi keluarganya. Ayahnya hampir berkelahi. Ibunya selalu cemas. Dan semua karena ia—karena kemampuannya, karena keinginannya untuk dilihat, karena ketakutannya kembali tak terlihat.
“Maaf, Ma,” isaknya. “Maaf... aku sudah merepotkan...”
Laras memeluknya lebih erat, mengecup rambutnya. “Kau tidak merepotkan, Nak. Kau tidak pernah merepotkan. Mama hanya ingin kau sehat. Itu saja.”
Baran masuk, tubuhnya tegang, tapi begitu melihat Aryan menangis, ketegangan itu luntur. Ia duduk di sisi lain, mengelus punggung anaknya. Tiga insan itu berpelukan di ruangan kecil, menangis bersama, melepas beban yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.
***
Malam turun lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa cepat karena hari itu begitu panjang, begitu melelahkan. Lampu minyak di rumah Baran padam lebih awal—mereka bertiga butuh istirahat, butuh lupa sejenak pada dunia luar.
Aryan tidur di antara ayah dan ibunya, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tak memikirkan alat, tak memikirkan bantuan, tak memikirkan desa. Ia hanya ingin tidur, ingin damai, ingin lupa.
Tapi dunia tak memberi mereka damai.
*BRUK!*
Suara keras mengagetkan mereka semua. Batu—sebesar kepalan tangan—menghantam atap bambu, nyaris menembus masuk. Beberapa detik kemudian, *BRUK!* lagi. Batu kedua, lebih keras, mengenai dinding samping.
Aryan menjerit kecil. Laras langsung memeluknya, melindungi dengan tubuhnya. Baran melompat bangkit, matanya merah, tangannya meraih kapak di samping pintu.
“Baran, jangan!” Laras berbisik keras, masih memeluk Aryan.
Tapi Baran sudah di ambang pintu, kapak terangkat, siap melompat keluar dan menghadapi siapa pun yang berani mengganggu keluarganya. Dadanya naik turun cepat, amarah membara begitu kuat hingga ia hampir tak bisa berpikir jernih.
Lalu, dari belakang, dua lengan memeluknya. Laras. Ia memeluk suaminya dari belakang, erat, penuh cinta dan ketakutan.
“Jangan,” bisiknya, suara bergetar, basah oleh air mata. “Jangan, Baran. Itu yang mereka mau. Mereka mau kau keluar. Mereka mau kau marah. Mereka mau kau berkelahi. Jangan beri mereka itu.”
Baran terdiam. Kapak di tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang begitu besar. Ia ingin keluar. Ingin menghadapi mereka. Ingin membuat mereka tahu bahwa darah dari darahnya tak bisa diganggu begitu saja.
Tapi pelukan Laras menahannya. Lebih kuat dari rantai. Lebih kokoh dari pagar.
“Kita punya Aryan di dalam,” bisik Laras lagi. “Dia butuh ayahnya hidup, bukan ayahnya yang dipenjara karena membunuh. Dia butuh kita utuh.”
Baran memejamkan mata. Napasnya perlahan melambat. Kapak di tangannya turun, diletakkan di samping pintu. Ia berbalik, memeluk Laras balik, bersandar di bahunya—untuk pertama kalinya, sebagai suami yang lemah, sebagai ayah yang takut.
“Aku takut, Laras,” bisiknya, suara pecah. “Bukan pada mereka. Tapi pada apa yang mungkin terjadi pada anak kita. Pada kita.”
“Aku juga,” jawab Laras, sama pelannya. “Tapi kita bersama. Ingat itu. Kita bersama.”
Di dalam, Aryan masih terbaring, menggigil bukan karena dingin tapi karena ketakutan. Ia mendengar suara batu, mendengar ayahnya hampir keluar, mendengar bisikan ibu yang menahan. Dan di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk. Keputusan yang mungkin bodoh. Keputusan yang mungkin berbahaya. Tapi ia tak bisa terus begini—menjadi beban, menjadi sumber masalah.
Di luar, bulan purnama bersinar terang, menerangi Dusun Karang dengan cahaya putih pucat. Bayangan-bayangan bergerak di antara rumah-rumah—bukan serigala, tapi manusia. Manusia yang tak puas. Manusia yang curiga. Manusia yang mulai kehilangan akal karena takut.
Dan di tengah semua itu, sebuah keluarga kecil berpelukan, berusaha bertahan dari badai yang tak kalah mengerikan dari serigala. Badai yang lahir dari sesama mereka sendiri.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Darah dari Darah | EPS 14"