Pelajaran Pertama | EPS 15

Tiga hari sejak batu dilempar ke atap rumah mereka. Tiga hari sejak Baran hampir keluar dengan kapak di tangan. Tiga hari sejak Dusun Karang mulai terbelah antara yang mendukung dan yang curiga. Tapi di dalam rumah panggung kecil itu, dunia berputar pada poros yang berbeda: kesembuhan Aryan.

Laras duduk di sudut ruangan, di tempat yang cukup terang oleh sinar pagi yang masuk lewat celah dinding bambu. Di pangkuannya, beberapa lembar kulit kayu yang sudah dikeringkan—bukan benda istimewa, biasa dipakai untuk membungkus makanan. Tapi di permukaannya, kini ada coretan-coretan hitam. Arang. Tulisan sederhana yang hanya ia sendiri yang bisa membaca.

Catatan.

Baran, yang baru bangun, melihat istrinya duduk dengan tekun. Ia mendekat, mengintip coretan itu. Matanya tak bisa membaca—tak ada yang bisa membaca di dusun ini—tapi ia tahu itu sesuatu yang penting.

“Apa itu?” tanyanya pelan, tidak ingin membangunkan Aryan yang masih tidur.

Laras menoleh, tersenyum tipis. “Catatan. Tentang Aryan. Tentang kapan ia kuat, kapan ia lemah.”

Baran mengernyit. “Kenapa kau catat?”

“Karena kita butuh tahu, Baran.” Laras menunjuk coretan-coretan itu. “Lihat, ini hari pertama ia pingsan. Ia habiskan banyak tenaga untuk tiang pagar. Keesokan harinya, ia mimisan. Ini hari kedua, ia cuma bantu angkat kayu sebentar, tidak pakai kemampuan—tidak mimisan. Ini hari ketiga, ia buat satu pisau, lalu sorenya pusing. Ini hari keempat—” ia berhenti, menunjuk coretan yang dibuat tebal, “—ia buat dua pisau sekaligus, lalu pingsan di ladang.”

Baran mengamati, meski tak sepenuhnya mengerti. “Jadi?”

“Jadi, ada pola.” Laras menatap suaminya. “Setiap kali ia memaksakan diri, tubuhnya bereaksi. Bukan langsung, tapi keesokan harinya. Aku sudah tiga hari mengamati. Setelah makan daging, ia lebih kuat. Setelah tidur siang, ia lebih cepat pulih. Dan ketika ia mulai pusing—itu tanda pertama. Kalau ia abaikan, besoknya mimisan.”

Baran terdiam. Ia memandangi istrinya dengan rasa kagum yang baru. Selama ini ia mengira Laras hanya ibu rumah tangga biasa—memasak, membersihkan, merawat anak. Tapi wanita ini, dengan kesabaran dan ketelitiannya, telah melakukan sesuatu yang tak terpikir oleh Baran: mengamati, mencatat, mencari pola. Seperti pemburu mempelajari jejak binatang.

“Kau... kau jenius,” gumamnya.

Laras tertawa kecil, getir. “Aku hanya ibu yang takut kehilangan anaknya.”

***

Aryan terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Ini pertama kalinya dalam berminggu-minggu ia tidur nyenyak—tanpa mimpi aneh tentang garis-garis cahaya, tanpa terbangun kedinginan, tanpa batuk di tengah malam. Ia meregangkan tubuh, merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak segar, tapi tidak sekarat.

“Nak, sudah bangun?” Laras mendekat dengan semangkuk bubur. Bubur jagung dengan potongan kecil daging rusa asap—makanan mewah di masa sulit ini. “Makan, biar kuat.”

Aryan mengambil mangkuk itu, makan perlahan. Di sela-sela suapan, ia melihat ibunya duduk di hadapannya dengan beberapa lembar kulit kayu.

“Bu, itu apa?”

Laras meletakkan kulit kayu itu di antara mereka. “Ini, Nak, catatan tentang dirimu. Tentang kemampuanmu.”

Aryan mengernyit, mendekatkan wajah. Coretan arang itu sederhana—lingkaran-lingkaran, garis-garis, dan gambar kecil yang ia pahami sebagai dirinya. “Aku tidak mengerti.”

“Mama sudah mengamati kamu tiga hari.” Laras menunjuk coretan pertama. “Ini hari kamu pingsan. Ini hari sebelumnya, kamu habiskan banyak tenaga untuk tiang pagar. Keesokan harinya, kamu mimisan.” Jarinya bergerak ke coretan lain. “Ini hari kamu bantu rumah Paman Jaka—kamu tidak pakai kemampuan, cuma angkat-angkat biasa. Keesokan harinya, tidak mimisan, cuma sedikit pusing.”

Aryan mengikuti penjelasan ibunya, perlahan-lahan mulai mengerti. “Jadi... tubuhku bereaksi setiap kali aku pakai kemampuan?”

“Bukan cuma pakai, Nak. Tapi seberapa banyak kau pakai.” Laras menunjukkan coretan yang paling tebal. “Ini hari kau buat dua pisau sekaligus. Kau pingsan keesokan harinya. Ini hari kau perkuat tiang pagar—kau pakai kemampuan lima malam berturut-turut. Setelah itu kau mimisan, pusing, batuk darah.”

Aryan memandangi catatan itu, matanya berkaca-kaca. Bukan sedih, tapi lega. Selama ini ia merasa kemampuannya seperti monster tak terkendali—datang saat ia butuh, menghilang saat ia ingin, dan selalu meninggalkan kelelahan tanpa peringatan. Tapi sekarang, ibunya menunjukkan bahwa ada pola. Ada aturan. Ada cara untuk memahami.

“Bu, aku... aku bisa belajar mengendalikannya?”

Laras tersenyum. “Itu yang akan kita cari tahu bersama.”

***

Hari itu, Laras memulai pelajaran pertama. Bukan pelajaran tentang bagaimana mengeluarkan cahaya, bukan tentang cara memperkuat benda. Tapi pelajaran yang lebih dasar: mengenali sinyal tubuh.

“Duduk sini.” Laras menunjuk tempat di dekat jendela, di mana cahaya masuk cukup terang. “Pegang tanganku. Sekarang, coba rasakan tubuhmu. Apa yang kau rasakan?”

Aryan memejamkan mata, mencoba merasakan. “Aku... aku merasa hangat. Tapi tidak sakit.”

“Itu normal. Sekarang, ingat saat kau mau pingsan di ladang. Apa yang kau rasakan sebelum jatuh?”

Aryan mengingat. “Pusing. Dunia berputar. Pandangan kabur. Badan terasa ringan—tapi bukan ringan enak, ringan seperti mau terbang tapi jatuh.”

Laras mengangguk, mencatat di kulit kayu dengan arang. “Pusing. Kabur. Ringan. Itu tanda bahaya pertama. Kalau kau rasakan itu, apa yang harus kau lakukan?”

“Berhenti?”

“Tepat. Berhenti apa pun yang kau lakukan. Duduk atau berbaring. Minta tolong. Jangan paksakan diri.” Laras menatap anaknya serius. “Janji?”

Aryan mengangguk. “Janji, Bu.”

“Sekarang, ingat saat kau mimisan. Sebelum mimisan, apa yang kau rasakan?”

Aryan berpikir keras. “Hidung terasa hangat. Seperti ada yang mengalir di dalam. Dan kepala... kepala seperti dipukul-pukul pelan dari dalam.”

“Hidung hangat, kepala berdenyut.” Laras mencatat lagi. “Itu tanda bahaya kedua. Lebih serius dari pusing. Kalau kau rasakan itu, artinya kau sudah kelewatan. Kau harus istirahat total, tidak boleh melakukan apa pun setidaknya sehari penuh. Mengerti?”

“Mengerti, Bu.”

***

Sore harinya, setelah makan siang dengan porsi lebih banyak—lagi-lagi Laras memastikan ada daging di bubur Aryan—mereka memulai eksperimen kecil.

“Ambil pisau ini.” Laras memberikan sebilah pisau dapur biasa, yang sudah tumpul karena dipakai terus. “Sekarang, coba lakukan seperti biasa. Tapi kali ini, jangan keluarkan semua tenagamu. Coba rasakan, berapa sedikit yang bisa kau keluarkan untuk membuat pisau ini lebih keras, tapi tidak perlu sempurna.”

Aryan memegang pisau itu. Tangannya gemetar—bukan takut, tapi antisipasi. Ini pertama kalinya ia mencoba menggunakan kemampuannya secara sadar, dengan kontrol, setelah sekian lama hanya mengandalkan insting dan kepanikan.

Ia memejamkan mata. Mencari perasaan itu—getaran di dalam benda. Pisau ini dingin, diam, menunggu. Ia membayangkan aliran cahaya, tapi tidak seperti sungai deras yang biasa ia rasakan. Kali ini, ia membayangkan tetesan air. Perlahan. Sedikit demi sedikit.

Cahaya muncul. Samar. Hanya secercah kecil di ujung jarinya. Ia membiarkannya mengalir ke pisau, pelan-pelan, seperti menuang air ke gelas hampir penuh. Ia bisa merasakan kapan harus berhenti—kayanya? entah bagaimana, ia tahu.

Cahaya itu padam. Aryan membuka mata. Pisau di tangannya... berbeda? Tidak banyak. Warnanya sedikit lebih gelap, ujungnya sedikit lebih mengilap. Tapi tidak sedrastis pisau-pisau sebelumnya.

Ia mengangkat pisau itu, ragu. Di dekatnya ada sepotong kayu kecil. Ia menggoreskannya—*sreet*—goresan dalam, bersih, lebih dalam dari yang seharusnya untuk pisau biasa. Tapi tidak sempurna seperti pisau pertamanya dulu.

Aryan menatap ibunya. Matanya berbinar—bukan karena hasilnya sempurna, tapi karena sesuatu yang lebih penting: “Bu, aku bisa mengontrolnya!”

Laras tersenyum, matanya basah. “Kau lihat? Kau hanya pakai sedikit. Tubuhmu masih kuat. Tidak pusing, tidak mimisan.” Ia memeluk Aryan erat. “Nak, kau hebat. Kau benar-benar hebat.”

Aryan memeluk ibunya balik, menangis haru. Untuk pertama kalinya, ia merasa kemampuannya bukan kutukan. Bukan beban. Bukan monster tak terkendali. Tapi sesuatu yang bisa ia pelajari, ia pahami, ia kendalikan.

***

Malam harinya, Laras menunjukkan catatannya pada Baran. Kali ini lebih lengkap—ada pola makan, pola tidur, pola penggunaan kemampuan. Ada lingkaran-lingkaran yang menandai hari-hari di mana Aryan kuat, dan hari-hari di mana ia harus istirahat.

“Lihat,” kata Laras, menunjuk coretan terbaru. “Hari ini ia pakai kemampuan, tapi sangat sedikit. Ia masih kuat, tidak mimisan, tidak pusing. Ini artinya, ia bisa belajar mengukur. Tidak perlu selalu mengeluarkan semua.”

Baran mengamati, meski tak sepenuhnya paham. Tapi ia lihat satu hal: istrinya bersinar. Ada kebanggaan di matanya, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan.

“Kau hebat, Laras,” katanya tulus.

Laras tersipu. “Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan.”

“Tidak. Kau melakukan lebih dari itu.” Baran meraih tangan istrinya. “Kau menyelamatkan anak kita. Bukan dengan obat, bukan dengan ramuan. Tapi dengan... dengan kecerdasanmu. Dengan perhatianmu. Aku bangga padamu.”

Di tikar dekat jendela, Aryan sudah tertidur. Kali ini tidurnya tenang—tidak gelisah, tidak menggigil, tidak mengigau. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidur seperti anak-anak seharusnya: damai.

Di luar, berita mulai menyebar di kalangan para ibu. Bukan tentang kemampuan Aryan—itu masih rahasia—tapi tentang Laras. “Ia tahu cara merawat anaknya,” bisik mereka. “Anaknya yang sakit-sakitan, kini mulai pulih. Mungkin Laras punya ramuan rahasia. Mungkin ia belajar dari leluhurnya.”

Beberapa ibu mulai datang, berpura-pura pinjam garam atau minta nasihat. Laras menerima mereka dengan ramah, berbagi tips sederhana—bukan tentang sihir, tapi tentang hal-hal biasa: pentingnya istirahat, makanan bergizi, mengenali sinyal tubuh. Hal-hal yang selama ini dianggap sepele, tapi ternyata tak semua orang tahu.

Dan diam-diam, status Laras naik. Bukan secara resmi, bukan dengan pengumuman. Tapi dalam percakapan-percakapan kecil di sumur, di ladang, di dapur—namanya disebut dengan hormat. “Laras, istri Baran, dia orang bijak.”

***

Tiga hari kemudian, Aryan sudah cukup kuat untuk duduk di beranda. Ia memandangi desa yang mulai sibuk dengan aktivitas biasa—warga pergi ke ladang, anak-anak bermain, para wanita mencuci di sungai. Dunia berjalan, tanpa menunggunya. Dan itu baik. Ia tak lagi merasa harus selalu terlihat.

Di tangannya, sebilah pisau baru. Bukan istimewa, hanya sedikit lebih baik dari biasa. Tapi pisau ini berbeda—ia dibuat dengan kontrol, bukan paksaan. Dengan pengukuran, bukan kepanikan. Dengan pemahaman, bukan ketakutan.

“Besok, kau boleh coba lagi,” kata Laras di sampingnya. “Tapi ingat aturannya. Pusing = stop. Mimisan = sudah kelewatan.”

Aryan tersenyum. “Aku ingat, Bu. Dan aku janji akan patuh.”

Laras mengelus rambutnya. “Mama tahu kau akan patuh. Karena kau anak pintar.”

Mereka duduk bersama, menikmati senja yang mulai turun. Di kejauhan, gerbang desa terlihat kokoh, tiang-tiangnya diam-diam menyimpan rahasia. Dan di dalam rumah kecil itu, seorang anak belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah seberapa banyak ia bisa memberi, tapi seberapa bijak ia bisa menjaga dirinya sendiri.

Pelajaran pertama telah usai. Dan dunia—dengan segala bahaya dan keajaibannya—siap untuk langkah selanjutnya.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Pelajaran Pertama | EPS 15"