Batu Pertama | EPS 2
Tiga hari sejak Laras pingsan karena kelaparan. Tiga hari sejak Aryan bertekad dalam hati bahwa ia tak akan membiarkan ibunya menderita lagi. Tiga hari yang panjang, sunyi, dan penuh kecemasan.
Laras selamat. Dukun desa—wanita tua bernama Nini—memberinya air rebusan akar-akaran dan menyuruhnya istirahat total. Tapi istirahat total di Dusun Karang adalah kemewahan yang tak ada. Laras sudah bangkit sejak kemarin, meski tubuhnya masih lemah, meski wajahnya masih pucat. Ia memaksa diri memasak, memaksa diri tersenyum pada Aryan, memaksa diri hidup.
Aryan melihat semua itu. Dan setiap kali melihat ibunya yang pucat, tekad di hatinya semakin mengeras. Tapi apa yang bisa dilakukan anak lima tahun? Ia terlalu kecil untuk berburu, terlalu lemah untuk membantu di ladang. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencari umbi-umbian, dan itu pun tak pernah cukup.
***
Pagi itu, Baran pamit lebih awal. “Ayah pergi ke utara, dekat mata air. Mungkin ada kelinci.” Ia tak bilang bahwa kelinci pun semakin sulit didapat. Ia tak bilang bahwa banyak pemburu pulang dengan tangan kosong. Ia hanya tersenyum tipis pada Aryan. “Jaga ibumu.”
Aryan mengangguk. Di genggamannya, sebatang kayu kecil ia putar-putar. Pikirannya melayang ke suatu tempat—keinginan untuk melakukan sesuatu, apa pun, yang bisa membuat ibunya tersenyum sungguhan.
***
Siang itu, saat Laras tertidur karena kelelahan, Aryan duduk di bawah rumah panggung. Tempat teduh, tersembunyi, jauh dari penglihatan siapa pun. Di depannya, tiga batu sungai berjejer. Satu pipih, dua bulat sebagai pemukul.
Sejak beberapa hari lalu, ia mengamati para lelaki desa saat mengasah pisau atau membuat mata tombak. Gerakannya pelan, sabar. Pukulan demi pukulan, serpihan demi serpihan. Dari batu kasar, lahir alat tajam.
“Aku juga harus bisa,” bisiknya.
Ia mengambil batu pipih, meletakkannya di tanah. Batu pemukul diangkat tinggi-tinggi, lalu dihunjamkan ke tepi batu pipih itu. *DUK!* Guncangan keras menjalari lengannya. Batu itu hanya meninggalkan bekas putih tipis.
Aryan menggigit bibir, mengatur ulang posisi, lalu memukul lagi. *DUK!* Kali ini serpihan kecil terlepas, seukuran kuku jarinya.
“Satu lagi,” gumamnya.
Pukulan ketiga. *DUK!* Batu itu pecah menjadi dua bagian tak beraturan.
Aryan menghela napas panjang. Frustrasi, tapi tak menyerah. Ia mengambil batu pipih kedua. Proses yang sama diulang. *DUK! DUK! CRACK!* Pecah lagi.
Batu ketiga. Kali ini ia mencoba lebih pelan, lebih hati-hati. Pukulan kecil, bertubi-tubi, di bagian tepi. Serpihan demi serpihan terlepas. Perlahan, bentuk mulai tampak—segitiga kasar, dengan satu sisi yang agak runcing.
Bukan tombak. Bahkan bukan pisau. Hanya batu runcing yang bentuknya tak karuan. Tapi ketika Aryan menggoreskannya ke batang kayu, ia meninggalkan bekas. Dalam. Nyata.
Aryan tersenyum. Senyum pertama dalam berhari-hari.
Ia melihat tangannya—lecet di sana-sini, satu jari mulai berdarah. Tapi rasa sakit itu tak berarti. Di genggamannya, batu pertama itu terasa hangat. Hangat oleh keringat, hangat oleh usaha, hangat oleh harapan.
Aryan menyembunyikan batu itu di balik tiang rumah, lalu merangkak keluar. Laras masih tidur. Rahasianya aman.
***
Sore itu, Baran pulang. Langkahnya berat, tapi di tangannya ada sesuatu—seekor kelinci kecil, kurus, tergantung lemas.
“Ayah dapat kelinci!” Aryan berlari menyambut, matanya berbinar.
Baran tersenyum lelah. “Kecil, tapi cukup untuk makan malam.” Ia duduk di beranda, mengeluarkan pisau batu tua yang hampir tumpul. Dengan susah payah, ia mulai menguliti kelinci itu. Pisau itu tak tajam, sering tergelincir.
Aryan memperhatikan. Matanya tertuju pada pisau itu—tumpul, usang, menyulitkan ayahnya. Lalu ia teringat batu di bawah rumah. Batu runcing buatannya. Mungkin... mungkin...
Tapi ia belum berani. Batu itu jelek. Tak pantas dipakai ayahnya.
Malam itu, sup kelinci dimasak. Kuahnya encer, dagingnya sedikit, tapi bagi Aryan ini adalah pesta. Ia melihat ibunya makan, melihat pipi pucat itu mulai merona. Lega rasanya.
Seusai makan, saat Laras membereskan periuk, Aryan mendekati ayahnya. “Yah...”
Baran menoleh. “Hm?”
Aryan ragu. Tangannya gemetar. Tapi ia memberanikan diri. Ia merangkak ke bawah rumah, mengambil batu runcing itu, lalu kembali dan menyodorkannya pada Baran.
“Ini... aku buat. Mungkin... mungkin bisa buat pisau Ayah.”
Baran mengambil batu itu. Matanya memeriksa—bentuknya kasar, asal-asalan, tapi ujungnya cukup tajam. Ia mengangkat wajah, menatap anaknya dengan tatapan aneh. Antara tak percaya, bangga, dan haru.
“Kau yang buat ini?”
Aryan mengangguk, takut-takut. “Jelek, Yah. Maaf.”
Baran tertawa—tawa kecil, tapi hangat. Ia menarik Aryan ke dalam pelukan. “Nak, ini tidak jelek. Ini... ini luar biasa.” Ia memegang batu itu erat. “Dengan ini, Ayah bisa berburu lebih baik. Kau tahu? Besok Ayah akan coba pakai ini.”
Aryan membeku. “Be-benar, Yah?”
“Benar.” Baran mengelus rambut anaknya. “Kau anak hebat, Aryan. Ayah bangga.”
Di dapur, Laras menyaksikan dari kejauhan. Matanya basah, tapi ia tersenyum. Keluarganya—mereka bertahan. Bukan hanya dengan kelinci atau sup encer. Tapi dengan cinta. Dengan usaha. Dengan batu kecil buatan tangan anaknya.
***
Malam itu, Aryan tidur dengan perasaan aneh. Bangga, tentu saja. Tapi juga ada yang lain—perasaan bahwa ini baru awal. Batu runcing itu jelek. Ia tahu. Tapi ayahnya tetap memakainya. Besok, ia harus buat yang lebih baik. Lebih tajam. Lebih berguna.
Ia memejamkan mata. Di luar, jangkrik bernyanyi. Di dadanya, tekad mengeras.
*Besok, aku coba lagi.*
Dan di balik tiang rumah, di bawah kolong yang gelap, batu-batu lain menunggu. Menunggu tangan-tangan kecil yang tak kenal menyerah.
***
Keesokan harinya, saat matahari baru naik, Baran pamit lagi. Di tangannya, tombak bambu dengan mata batu baru—buatan Aryan. Jelek, tapi tajam.
“Ayah pergi. Doakan dapat yang besar.”
Aryan mengangguk. Ia berdiri di beranda, memandangi ayahnya pergi hingga menghilang di balik semak. Lalu ia turun, merangkak ke bawah rumah. Masih ada batu-batu lain yang harus dipecah. Masih ada banyak kegagalan yang menunggu.
Tapi di dalam hatinya, ada keyakinan: suatu hari nanti, ia akan bisa membuat sesuatu yang benar-benar berarti. Bukan hanya untuk ayahnya. Tapi untuk ibunya. Untuk desanya. Untuk semua orang yang kelaparan.
Di bawah kolong rumah, suara pukulan batu mulai terdengar lagi. *Tak... tak... tak...* Ritme kecil, stabil, penuh harapan.
Dan di kejauhan, di dalam hutan, Baran berjalan dengan langkah lebih ringan. Di tangannya, tombak dengan mata batu buatan anaknya. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan mereka.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Batu Pertama | EPS 2"