Sejengkal Tanah Abu | EPS 1
Sejengkal Tanah Abu
Matahari pagi merangkak naik di ufuk timur, menyinari Dusun Karang dengan cahaya jingga yang tak lagi hangat. Tiga puluh rumah panggung reyot berjejer tak beraturan, beberapa miring, beberapa hanya bertahan karena diikat dengan rotan. Atap-atap ilalang kering menganga di sana-sini, memperlihatkan langit kelabu yang enggan menurunkan hujan.
Dusun ini dulu subur, kata orang-orang tua. Tapi itu sebelum Aryan lahir. Sekarang, yang tersisa hanya tanah kering berdebu, sungai yang menyusut menjadi kali keruh, dan pohon beringin besar di tengah lapangan yang mati lima tahun lalu—batangnya tetap berdiri, seperti monumen keputusasaan.
Di salah satu rumah panggung paling pinggir, seorang anak laki-laki berusia lima tahun terbangun bukan oleh ayam—karena ayam sudah lama habis dimakan—tapi oleh suara perutnya sendiri yang keroncongan keras. Aryan membuka mata, menguceknya dengan tangan kotor, lalu menatap langit-langit anyaman bambu. Untuk sesaat, ia masih berada di dalam mimpi. Mimpi tentang meja panjang penuh makanan: nasi putih mengepul, daging panggang berlemak, ubi jalar yang merekah. Ia baru saja hendak meraih paha ayam goreng saat suara perutnya membangunkan.
Aryan duduk, merasakan kepalanya sedikit pusing. Ia sudah terbiasa. Di sampingnya, tikar anyaman masih kosong—ayahnya, Baran, belum pulang dari hutan. Atau sudah pulang dan pergi lagi? Ia tak tahu. Di dapur kecil yang hanya berupa tungku tanah liat dan periuk retak, Laras, ibunya, sedang menyalakan api dengan sisa-sisa kayu bakar.
“Aryan,” panggil Laras tanpa menoleh, suaranya lembut meski serak. “Kau bangun? Kemari, Mama mau bicara.”
Aryan merangkak turun dari tikar, berjalan mendekati ibunya. Laras berjongkok di depan tungku, wajahnya pucat, matanya sayu. Usianya baru dua puluh enam, tapi kerutan di keningnya membuatnya tampak lebih tua. Ia menatap anaknya dengan senyum tipis—senyum yang biasa ia pakai untuk menyembunyikan segalanya.
“Dengar, Nak. Hari ini Mama minta tolong. Ladang belakang, dekat sungai kecil, masih ada sisa-sisa umbi liar mungkin. Tapi kau harus hati-hati, jangan terlalu dalam masuk hutan. Hanya di tepi saja. Paham?”
Aryan mengangguk. “Paham, Ma.”
Laras mengelus rambut anaknya yang kusut. “Mama akan masak air dulu. Nanti kalau kau dapat umbi, kita rebus untuk makan siang.”
Ia tak bilang bahwa itu mungkin satu-satunya makanan hari ini. Ia tak bilang bahwa persediaan di rumah hanya cukup untuk dua hari lagi. Ia tak bilang bahwa ia sendiri sudah dua hari hanya makan satu kali sehari, porsi setengah dari biasanya. Aryan terlalu kecil untuk memikul beban itu. Atau setidaknya, itu yang Laras yakini.
***
Ladang di belakang desa adalah hamparan tanah kering yang dulu ditanami ubi dan singkong. Sekarang, yang tersisa hanya batang-batang mati dan rumput liar yang juga mulai mengering. Aryan berjalan menyusuri tepi ladang, matanya awas memindai tanah. Ia sudah sering melakukan ini—sejak umur empat tahun, ibunya mengajarinya mencari umbi liar, akar-akaran, apa pun yang bisa dimakan.
“Lihat daunnya,” pernah Laras mengajarinya sambil menunjuk tanaman liar. “Kalau daunnya lebar dan menjalar ke tanah, di bawahnya mungkin ada umbi. Tapi jangan harap besar, biasanya kecil saja.”
Aryan berjongkok di dekat semak-semak kering. Daun-daun lebar menjalar, tapi layu. Ia meraba tanah di bawahnya—keras, tapi sedikit gembur di permukaan. Dengan hati-hati, ia menggali dengan tangannya. Kotoran masuk ke sela-sela kuku, tapi ia tak peduli. Tanah digali sedikit demi sedikit, hingga jarinya menyentuh sesuatu yang keras.
Umbi. Kecil, seukuran dua ruas jarinya, kotor oleh tanah. Tapi umbi.
Aryan tersenyum. Ia memasukkan umbi itu ke dalam kantong anyaman yang ia bawa, lalu melanjutkan pencarian. Satu jam kemudian, ia menemukan dua lagi—satu sebesar kepalan bayi, satu lagi lebih kecil dari jempol. Tiga umbi liar. Bukan banyak, tapi cukup untuk membuat ibunya tersenyum.
Ia sedang membersihkan tanah dari umbi ketiga saat suara gemerisik dari semak membuatnya menoleh. Seekor tikus besar—sebesar lengan bayi—melompat keluar dan berlari ke arah hutan. Aryan terkejut, hampir jatuh. Tikus itu, mungkin juga kelaparan, mencari makanan di ladang yang sama tandusnya.
“Dasar tikus,” gumam Aryan, lalu kembali ke umbinya.
***
Baran pulang menjelang sore. Langkahnya berat, bahunya turun, dan dari kejauhan Aryan sudah bisa melihat ada yang tidak beres. Lengan ayahnya—lengan kiri—berlumuran darah kering. Cakaran panjang, seperti kena binatang buas. Tapi tak ada rusa. Tak ada babi hutan. Tak ada apa pun.
“Baran!” Laras berlari menyambut, wajahnya panik. “Kau kenapa? Luka itu—"
“Cakaran macan tutul,” Baran memotong, suaranya serak. “Aku lihat jejaknya, ikuti sampai ke sarang. Tapi saat aku mendekat, ia kabur. Terlalu cepat. Luka ini kena ranting waktu aku kejar.”
Laras menarik suaminya masuk ke rumah, segera mengambil kain dan air bersih. Aryan hanya bisa memandang dari ambang pintu, melihat ayahnya yang perkasa kini tampak rentan. Darah itu—darah ayahnya—membuat perutnya mual. Tapi ia juga lega. Ayahnya masih hidup. Luka, tapi hidup.
Baran menoleh, melihat anaknya. Matanya melembut. “Aryan, kemari.”
Aryan mendekat. Baran mengelus rambutnya dengan tangan kanan—yang tak terluka. “Kau dapat umbi? Ibu bilang kau ke ladang.”
Aryan mengangguk, mengeluarkan tiga umbi kecil dari kantongnya. “Tiga, Yah. Kecil-kecil.”
Baran tersenyum—tapi senyum itu menyimpan kesedihan yang tak terucap. “Kau anak hebat.” Ia menarik napas panjang. “Ayah tak dapat apa-apa. Hutan makin sunyi. Hewan-hewan pergi lebih dalam, atau mati.”
Laras diam, terus membersihkan luka suaminya. Tak ada yang perlu dikatakan. Semua sudah tahu. Musim kemarau berkepanjangan, hutan meranggas, hewan-hewan bermigrasi atau mati kelaparan. Di dusun, persediaan makanan menipis dengan cepat.
***
Malam itu, api unggun kecil dinyalakan di tengah lapangan dekat pohon beringin mati. Kepala Desa Teguh, pria tua dengan kaki palsu dari kayu, memanggil semua warga. Tiga puluh kepala keluarga berkumpul, duduk di tanah kering, wajah-wajah kurus dengan mata cekung.
Teguh berdiri dengan tongkat di tangan, tubuhnya yang renta tampak lebih kecil dari biasanya. “Warga Dusun Karang,” suaranya berat. “Kita harus bicara soal persediaan makanan.”
Keheningan mencekik. Beberapa anak merengek kelaparan, segera dibungkam oleh ibu mereka.
“Aku sudah hitung,” lanjut Teguh. “Rata-rata keluarga di dusun ini hanya punya persediaan untuk tiga hari ke depan. Tiga hari. Setelah itu, kita tak tahu harus makan apa.”
Seorang wanita tua menangis tersedu. Yang lain mulai berbisik-bisik, curiga pada tetangganya sendiri. “Mungkin ada yang sembunyikan makanan,” bisik seseorang, cukup keras untuk didengar. “Mungkin keluarga kaya itu punya lebih.”
“Diam!” bentak Teguh. “Tak ada yang kaya di sini! Kita semua sama-sama susah. Kalau mulai saling curiga, kita akan hancur sebelum lapar membunuh kita.”
Tapi peringatan itu mungkin sudah terlambat. Mata-mata mulai saling menghindar. Beberapa keluarga pulang lebih awal, mengunci pintu rapat-rapat. Suasana dusun, yang tadinya hangat meski miskin, mulai membeku oleh kecurigaan.
***
Di rumah mereka, Laras memasak tiga umbi kecil itu. Ia merebusnya hingga empuk, lalu membaginya—satu untuk Baran, satu untuk Aryan, satu untuk dirinya sendiri. Tapi porsinya tak sebanding dengan perut kosong seharian. Aryan menghabiskan umbinya dalam tiga gigitan, masih lapar, tapi ia tak berani minta lagi.
Baran makan pelan, mengunyah lama-lama. Lukanya sudah dibalut, tapi rasa sakit mungkin masih ada. Atau mungkin yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa ia tak bisa memberi makan keluarganya.
“Besok aku akan coba lagi,” katanya akhirnya. “Lebih dalam ke hutan. Mungkin ada rusa yang tersesat.”
Laras memegang tangannya. “Hati-hati, Baran. Jangan terlalu dalam. Banyak binatang buas.”
“Binatang buas lebih baik daripada pulang dengan tangan kosong,” jawab Baran getir.
***
Malam itu Aryan tak bisa tidur. Perutnya keroncongan terus, keras, seperti ada sesuatu yang meronta di dalam. Ia berbaring di samping ibunya, menatap gelap, membayangkan meja makan dalam mimpinya tadi pagi. Nasi putih, daging panggang, ubi jalar merekah. Ia bisa membayangkan rasanya, hangatnya, bagaimana makanan itu mengisi perut hingga kenyang.
Ia hampir tertidur saat mendengar suara ibunya bangkit. Aryan memicingkan mata, melihat bayangan Laras bergerak ke dapur. Beberapa saat kemudian, ibunya kembali, duduk di sampingnya. Lalu, tangan lembut itu menggesek-gesek rambutnya.
Aryan pura-pura tidur. Ia ingin tahu apa yang ibunya lakukan.
Laras duduk lama, sangat lama. Lalu, ia berbaring. Aryan menunggu hingga napas ibunya teratur, lalu perlahan membuka mata. Di bawah sinar bulan yang masuk lewat celah dinding bambu, ia melihat piring kecil di samping ibunya. Kosong.
Tapi di mulut ibunya, ada sisa-sisa umbi. Sedikit, hampir tak terlihat. Aryan mengerutkan dahi. Lalu ia ingat—ibunya belum makan umbinya tadi malam. Ia menyimpannya. Dan sekarang, di kegelapan malam, ibunya makan sendiri? Itu tidak masuk akal. Laras selalu berbagi. Laras selalu memastikan Aryan dan Baran makan dulu.
Aryan baru sadar saat fajar tiba.
***
Pagi itu, Laras tak bangun.
Aryan menemukannya masih berbaring di tikar, matanya terpejam, napasnya lemah. Ia coba membangunkannya, tapi Laras hanya mengerang pelan. Baran, yang baru bangun, langsung panik. Ia meraba dahi istrinya—dingin, berkeringat dingin.
“Laras! Laras, bangun!” Ia menepuk-nepuk pipi istrinya, tapi tak ada respons berarti.
Aryan berdiri di samping, gemetar. “Yah, kenapa Ibu? Kenapa Ibu tak bangun?”
Baran tak menjawab. Ia melihat piring kosong di samping Laras. Lalu ia ingat—tadi malam, Laras tak makan. Ia memberikan porsinya pada Baran, bilang sudah kenyang. Tapi Baran tak tahu. Tak tahu bahwa istrinya berbohong.
“Dia... dia kasih makanannya untuk kita,” bisik Baran, suara pecah. “Dia tak makan semalam.”
Aryan membeku. Kata-kata itu masuk, perlahan, seperti air meresap ke tanah kering. Ibunya tak makan. Ibunya memberikan porsi untuknya. Dan sekarang ibunya pingsan.
“IBU!” Aryan menjerit, melompat ke samping Laras, memeluk tubuh ibunya yang dingin. Air mata meledak, tak terbendung. Ia menangis, menangis, menangis, sambil memeluk ibunya yang tak sadarkan diri. “Ibu kenapa? Ibu jangan mati! Ibu jangan tinggal Aryan!”
Baran segera menggendong Laras, membawanya keluar. “Aryan, tinggal di sini! Ayah bawa Ibu ke dukun!”
Tapi Aryan tak bisa tinggal. Ia berlari mengikuti, menangis terus, tubuh kecilnya gemetar oleh ketakutan. Di luar, matahari pagi bersinar terang, tapi dunia Aryan terasa gelap. Gelap oleh ketakutan kehilangan satu-satunya orang yang selalu memberinya kehangatan, meskipun perutnya kosong.
Baran berlari ke rumah dukun desa, diikuti Aryan yang terus menangis. Beberapa warga keluar, melihat, ikut cemas. Di antara mereka, ada yang berbisik, “Kasihan... itu keluarga Baran? Istrinya pingsan karena lapar.”
Aryan mendengar itu. *Karena lapar. Ibunya lapar karena memberi makan dia.*
Ia berhenti menangis. Bukan karena tak sedih, tapi karena sesuatu yang lain—rasa bersalah yang begitu berat, begitu dalam, begitu menghancurkan, hingga air mata tak lagi bisa keluar. Ia hanya bisa berdiri di depan rumah dukun, memandangi pintu tertutup, berharap ibunya selamat.
Di dalam hatinya, sebuah tekad kecil mulai tumbuh. Tekad yang tak akan ia ucapkan pada siapa pun, tapi akan ia buktikan pada dirinya sendiri: *Aku tak akan biarkan ibu lapar lagi. Apa pun yang terjadi.*
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Sejengkal Tanah Abu | EPS 1"