Tangan Merah Mengetuk | EPS 19

Malam itu tak ada yang tidur. Setelah api membakar lumbung Desa Sukawana, Dusun Karang bersiap untuk yang terburuk. Senjata-senjata yang sudah Aryan perkuat dibagikan ke tangan-tangan yang gemetar. Para wanita mengumpulkan anak-anak di balai pertemuan, tempat yang dianggap paling aman. Para pria berjaga di sepanjang pagar, mata merah karena kurang tidur, tapi juga karena tekad.

Aryan duduk di samping Baran di dekat gerbang. Tombak kecilnya ia pegang erat, meski tangannya gemetar. Baran diam, kapak perang di pangkuan, matanya tak lepas dari horison timur tempat api semalam berkobar.

Fajar datang lambat. Sangat lambat. Dan saat sinar pertama matahari menyentuh puncak-puncak pohon, mereka datang.

Bukan dari timur, seperti dugaan mereka. Tapi dari selatan—dari jalur utama. Dari balik bukit tempat para pengamat itu berdiri beberapa hari lalu. Derap kuda terdengar pertama kali sebagai getaran halus di tanah, lalu membesar, membesar, hingga menjadi gemuruh yang menggetarkan tulang.

Tiga puluh penunggang kuda. Mungkin lebih. Mereka muncul di puncak bukit seperti pasukan hantu, membentuk barisan panjang. Matahari pagi menyinari mereka dari belakang, membuat siluet mereka tampak hitam, besar, menakutkan. Di tangan mereka, tombak-tombak dengan mata besi. Di pinggang mereka, pedang. Dan di wajah mereka—senyum. Senyum yang bisa dilihat bahkan dari kejauhan.

“Mereka datang,” bisik seseorang, suaranya pecah.

Baran berdiri. Di belakangnya, para pria lain ikut berdiri. Ada dua puluh tiga pria dewasa di Dusun Karang. Beberapa sudah tua, beberapa masih sangat muda. Melawan tiga puluh bandit terlatih bersenjata besi. Perbandingan yang tak adil. Tapi tak ada yang lari.

***

Pasukan itu turun perlahan, tidak terburu-buru. Mereka seperti tahu bahwa desa tak akan kemana-mana. Di depan barisan, satu sosok menonjol. Seorang pria besar, lebih besar dari yang lain, dengan jubah merah tua yang berkibar tertiup angin. Tangannya—kedua tangannya—diwarnai merah. Bukan cat. Bukan tato biasa. Tapi merah menyala, seperti darah yang mengering dan dioleskan berulang-ulang.

Tangan Merah. Pimpinannya sendiri.

Mereka berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang. Cukup dekat untuk dilihat jelas, cukup jauh untuk aman dari panah. Pria berjubah merah itu memacu kudanya maju beberapa langkah, lalu berhenti. Suaranya keluar, keras, bergema di pagi yang sunyi.

“Warga Dusun Karang!” teriaknya. “Aku Tangan Merah. Kalian mungkin sudah dengar namaku. Kalian mungkin sudah lihat apa yang terjadi pada desa-desa yang melawanku.”

Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap. Beberapa wanita di balai pertemuan mulai menangis. Anak-anak memeluk ibu mereka erat-erat.

“Aku tak ingin membantai kalian semua!” lanjutnya. “Aku tak ingin membakar desa kalian! Aku hanya ingin makanan, persediaan, dan beberapa wanita muda untuk kubawa. Kalian berikan itu, dan kami pergi. Kalian selamat. Kalian bisa hidup damai lagi.”

Keheningan. Semua mata tertuju pada Teguh. Kepala desa itu berdiri di atas batu dekat gerbang, tubuhnya yang tua tampak kecil di hadapan pasukan berkuda. Tapi matanya—matanya masih menyala.

“Kami tak akan menyerah!” teriaknya balik, suaranya bergetar tapi lantang. “Kami bangun desa ini dengan keringat dan darah! Kami tak akan berikan pada perampok pengecut seperti kalian!”

Tangan Merah tertawa. Tawa yang panjang, keras, mengejek. “Pengecut? Kau bilang aku pengecut?” Ia mengangkat tangannya—tangan merah itu—dan melambai. Sebuah perintah.

Dari barisan bandit, sepuluh penunggang kuda memacu maju. Mereka tidak menuju gerbang, tapi menyebar ke kiri dan kanan, mengelilingi pagar. Di tangan mereka, busur. Bukan busur bambu biasa—busur perang dengan tali kuat dan anak panah bermata besi.

“KALIAN YANG PENGECUT!” teriak Tangan Merah. “Bersembunyi di balik pagar kayu! Mari kita lihat seberapa kuat pagar kalian!”

Hujan panah melesat. Bukan ke arah gerbang, tapi ke atas—melewati pagar, jatuh di dalam desa. Beberapa mengenai atap rumah. Beberapa menancap di tanah. Dan satu—satu panah—mengenai bahu seorang pria yang sedang berlari mencari perlindungan.

Paman Rojak. Ayah Rojak. Jaka.

Jeritannya memecah udara. Panah itu menancap dalam, darah muncrat ke mana-mana. Ia jatuh berlutut, memegangi bahunya, berteriak kesakitan. Beberapa pria segera menariknya ke balik rumah, menjauh dari jangkauan panah.

Aryan melihat semuanya.

Dari balik pagar, dari samping Baran, ia melihat panah itu melesat. Melihat darah muncrat. Melihat tubuh Jaka jatuh. Melihat Rojak—temannya, teman bermainnya—berlari ke arah ayahnya, berteriak histeris.

Dunia Aryan berhenti.

Selama ini, kematian adalah konsep abstrak. Serigala menerkam anak Guntur—ia mendengar, tapi tak melihat. Darah dan luka—ia melihat di tangannya sendiri, tapi itu lukanya. Tapi ini... ini berbeda. Ini nyata. Ini dekat. Ini manusia yang ia kenal, tertusuk panah, berdarah, menjerit kesakitan.

Aryan membeku. Tombak di tangannya jatuh. Matanya kosong, menatap ke arah Jaka yang digotong, tanpa benar-benar melihat. Pikirannya kosong, seperti lumpur yang diaduk, tak berbentuk, tak berarti.

“Aryan!” Baran menariknya, membawanya berlindung di balik gerbang. “Aryan! Dengar! Kau harus bertahan! Kau harus—”

Tapi Aryan tak mendengar. Matanya masih kosong. Tubuhnya gemetar hebat. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah perang yang sesungguhnya. Dan itu menghancurkannya.

***

Pertempuran kecil berlangsung sepanjang pagi. Bandit tidak mencoba menerobos pagar secara langsung—mereka terlalu pintar untuk itu. Mereka terus mengelilingi, melepaskan panah dari jarak aman, mencari titik lemah. Sesekali, sekelompok kecil mencoba mendekati pagar, menguji apakah ada yang berani keluar.

Baran memimpin pertahanan. Dengan kapak perangnya, ia berlari dari satu titik ke titik lain, memastikan semua orang tetap di posisi. Dua kali ia memanjat pagar, melemparkan tombak ke arah bandit yang terlalu dekat—satu mengenai kuda, satu mengenai lengan. Tapi ini bukan kemenangan. Ini hanya menunda.

Tiga warga terluka parah. Jaka, kena panah. Seorang pemuda, terkena tebasan pedang saat mencoba melompat keluar. Seorang pria tua, jatuh dari pagar dan patah kaki. Yang luka ringan lebih banyak—goresan, memar, kelelahan.

Saat matahari mulai condong ke barat, Tangan Merah mengangkat tangannya lagi. Para bandit berhenti, menarik kuda mereka, berkumpul kembali di depan gerbang. Pria berjubah merah itu tersenyum—senyum puas, senyum predator.

“Kalian bertahan cukup baik untuk desa kecil!” teriaknya. “Aku terkesan! Tapi lihat sekeliling kalian! Berapa banyak yang sudah terluka? Berapa banyak yang akan mati malam ini karena luka mereka?”

Ia memacu kudanya maju beberapa langkah. “Aku akan kembali besok pagi. Dan kalau kalian masih keras kepala, aku tak akan lagi mengirim panah. Aku akan mengirim pedang. Kami akan membantai kalian semua—pria, wanita, anak-anak. Tak ada yang tersisa.”

Ia memutar kudanya. “Besok, aku ingin jawaban. Tunduk, atau mati.”

Pasukan itu pergi, meninggalkan debu dan ketakutan. Tiga puluh kuda berlari meninggalkan desa, kembali ke arah selatan, menghilang di balik bukit. Tapi janji mereka menggantung di udara, lebih nyata dari panah mana pun.

***

Malam tiba dengan cepat. Terlalu cepat. Desa sunyi, hanya suara tangis dan rintihan luka yang terdengar dari beberapa rumah. Di balai pertemuan, para wanita merawat yang terluka dengan ramuan seadanya. Jaka terbaring demam, panah sudah dicabut, tapi lukanya dalam. Rojak duduk di sampingnya, menangis diam-diam.

Teguh duduk di beranda rumahnya, sendiri. Wajahnya hancur. Pemimpin yang tegar itu kini tampak seperti orang tua renta yang kehilangan harapan. Dua kali ia mencoba berdiri, dua kali ia jatuh duduk kembali. Pikirannya kosong, tak tahu harus berbuat apa.

Baran berkeliling, memeriksa keadaan, memberi semangat pada yang masih tersisa. Tapi di dalam hatinya, ia tahu: besok, banyak dari mereka akan mati. Mungkin ia sendiri. Mungkin Laras. Mungkin Aryan.

***

Di rumah mereka, Aryan duduk di pojok ruangan. Sejak pagi, ia tak bicara sepatah kata pun. Matanya kosong, menatap dinding bambu tanpa melihat. Tombak kecilnya tergeletak di samping, tak tersentuh. Tubuhnya masih gemetar, sesekali, seperti demam.

Laras sudah mencoba membujuknya makan, bicara, apa pun. Tak ada respons. Aryan hanya diam, memeluk lututnya, tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia di mana panah tak melesat, darah tak muncrat, dan teman-temannya tak terluka.

Baran masuk, setelah berkeliling desa. Ia melihat anaknya di pojok, melihat Laras yang duduk di sampingnya dengan mata cemas. Tanpa bicara, ia mendekat, berlutut di depan Aryan.

Lama ia diam, hanya memandangi wajah pucat anaknya. Lalu, dengan suara serak, ia berkata, “Nak.”

Aryan tak bergerak. Matanya tetap kosong.

“Nak, lihat Ayah.” Baran meraih dagu Aryan dengan lembut, memalingkan wajahnya. Aryan menurut, tapi matanya—matanya tak fokus. Seperti melihat tapi tak melihat.

Baran menelan ludah. Kata-kata ini berat. Mungkin kata-kata terberat yang pernah ia ucapkan. Tapi ia harus mengatakannya. Sebelum besok tiba. Sebelum segalanya mungkin terlambat.

“Nak, besok mungkin kita tidak akan semua selamat.”

Aryan mendengar. Kata-kata itu masuk, meskipun ia tak merespons. *Tidak akan semua selamat.* Artinya, ada yang akan mati. Mungkin ayahnya. Mungkin ibunya. Mungkin ia sendiri.

“Tapi apa pun yang terjadi, kau harus hidup.” Suara Baran bergetar, tapi berusaha keras tetap tegar. “Kau dengar? Apa pun yang terjadi—entah kami mati, entah desa ini hancur—kau harus selamat. Kau lari ke hutan. Kau sembunyi. Kau jangan menoleh ke belakang. Kau hidup, Nak. Untuk kami.”

Aryan mengangkat wajahnya. Matanya—yang sejak tadi kosong—kini mulai terisi. Bukan dengan keberanian. Bukan dengan tekad. Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam: kengerian. Kengerian membayangkan dunia tanpa ayahnya, tanpa ibunya, tanpa siapa pun.

Matanya kosong. Kosong yang menakutkan. Kosong yang berkata: *Aku tak tahu harus bagaimana. Aku takut. Aku hanya anak kecil.*

Baran memeluknya. Laras bergabung. Tiga insan itu berpelukan di ruangan temaram, diterangi lampu minyak yang hampir padam. Di luar, suara tangis dan rintihan masih terdengar, pengingat bahwa perang bukan hanya tentang keberanian—tapi tentang harga yang harus dibayar.

Aryan tak bisa tidur malam itu. Ia hanya diam dalam pelukan orang tuanya, matanya terbuka lebar, memandangi gelap. Di dalam kepalanya, satu kalimat berulang terus: *Besok mungkin aku akan melihat ayahku mati. Besok mungkin aku akan melihat ibuku mati. Besok mungkin aku sendiri yang mati.*

Di luar, bulan bersinar pucat, menyinari desa yang terluka. Dan di selatan, di balik bukit, api unggun bandit mungkin berkobar, disertai tawa dan persiapan untuk pembantaian esok hari.

Tangan Merah sudah mengetuk. Besok, pintu akan terbuka—satu atau lain cara.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Tangan Merah Mengetuk | EPS 19"