Garis Keturunan Abu | EPS 20
Fajar datang seperti vonis mati yang diumumkan dengan sinar keemasan.
Dari balik bukit selatan, mereka datang. Bukan lagi tiga puluh penunggang kuda yang mengelilingi dari jauh. Kali ini, barisan panjang pejalan kaki di belakang para penunggang—membawa tangga bambu sederhana, balok-balok kayu untuk merobohkan pagar, dan obor yang siap membakar. Tangan Merah tidak main-main. Mereka datang untuk menghabisi.
Di dalam pagar, warga Dusun Karang bersiap dengan apa yang mereka punya. Dua puluh tiga pria, beberapa remaja, bahkan wanita-wanita yang memegang pisau dapur. Senjata-senjata yang Aryan perkuat kini berada di tangan-tangan yang gemetar, tapi juga di tangan-tangan yang bertekad. Tak ada lagi perdebatan. Tak ada lagi yang bicara mengungsi. Ini soal bertahan hidup. Atau mati.
Aryan berdiri di samping Baran, dekat gerbang. Wajahnya pucat, matanya sembab—semalaman ia tak tidur. Tapi di dalam dadanya, sesuatu telah berubah sejak malam itu. Bukan keberanian. Bukan tekad yang membara. Tapi penerimaan. Penerimaan bahwa mungkin hari ini adalah hari terakhirnya, dan ia harus melakukan apa pun yang ia bisa.
“Ingat pesan Ayah,” bisik Baran, tanpa menoleh. “Kalau keadaan terdesak, kau lari ke hutan. Jangan menoleh.”
Aryan tak menjawab. Ia hanya memegang tombak kecilnya erat-erat.
***
Mereka tiba dalam formasi setengah lingkaran. Tangan Merah—pemimpin itu—berada di tengah, di atas kuda hitam besar. Jubah merahnya berkibar, tangannya yang merah terangkat memberi isyarat. Para bandit berhenti sekitar tiga puluh meter dari gerbang. Cukup dekat untuk melihat wajah mereka. Cukup dekat untuk melihat senyum sadis di wajah-wajah itu.
“Pagi, warga Dusun Karang!” teriak Tangan Merah, suaranya bergema di udara pagi. “Aku sudah beri kalian waktu semalam untuk berpikir. Apa jawaban kalian?”
Teguh, meski tubuhnya lelah, berdiri di atas batu dekat gerbang. Suaranya lantang, meski serak. “Kami tak akan tunduk pada perampok!”
Tangan Merah tertawa. “Sudah kuduga. Baiklah. Kalian pilih mati.” Ia mengangkat tangannya, lalu menjatuhkannya. “BUMUH!”
***
Yang pertama datang adalah hujan panah. Tapi kali ini, para bandit tidak hanya menembak ke atas. Mereka menembak ke pagar, ke celah-celah, ke mana pun mereka bisa. Beberapa panah menancap di tiang, beberapa melesat masuk ke desa. Seorang wanita menjerit—panah menancap di kakinya. Seorang anak menangis—panah nyaris mengenai kepalanya.
“BALAS!” teriak Baran.
Para pria di pagar melemparkan tombak, memanah dengan busur seadanya. Beberapa bandit jatuh dari kuda, beberapa kuda terluka dan mengamuk. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Setiap satu yang jatuh, dua maju menggantikan.
Dan kemudian, mereka mencapai pagar.
Tangga-tangga bambu disandarkan. Bandit mulai memanjat. Yang lain membawa balok kayu, menghantam pagar di titik-titik yang mereka incar. *BUK! BUK! BUK!* Suara itu seperti palu godam di dada setiap warga.
Baran berlari ke titik yang terancam, mengayunkan kapak perangnya. Seorang bandit yang hampir mencapai puncak pagar, jatuh dengan jeritan. Yang lain mundur, tapi segera digantikan. Di sisi timur, pagar mulai goyah. Tiang-tiang biasa—yang tak diperkuat Aryan—mulai retak.
Aryan melihat dari balik gerbang. Ia melihat ayahnya bertarung. Melihat darah. Melihat kematian begitu dekat. Tapi kali ini, ia tak membeku. Ia ingat aturan ibunya: pusing = stop, mimisan = sudah kelewatan. Tapi hari ini, aturan itu mungkin harus dilanggar.
***
Satu jam berlalu. Mungkin dua. Waktu terasa kabur.
Tiga warga sudah tewas. Dua pria, satu wanita tua yang tak sempat lari. Yang terluka belasan. Pagar di sisi timur akhirnya jebol—tiga tiang roboh, menciptakan lubang besar. Bandit mulai merangsek masuk.
Baran berlari ke timur, memimpin beberapa pria untuk menahan laju mereka. Pertempuran jarak dekat pecah. Kapak perang Baran berayun, memotong, membunuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Ia kewalahan. Luka di lengannya bertambah. Darah mengalir di wajahnya.
Dan di tengah kekacauan itu, Tangan Merah masuk.
Pemimpin bandit itu tidak ikut bertarung di garis depan. Ia berkuda perlahan melewati lubang di pagar timur, dikawal enam anak buahnya. Matanya menyapu desa, mencari—mencari pemimpin, mencari perlawanan, mencari mangsa. Dan matanya berhenti pada Baran.
“Kau yang mempertahankan desa ini?” teriaknya, menunjuk dengan pedang besinya. “Kau pemburu? Kau lihat kapakmu? Bagus. Tapi tak cukup bagus.”
Ia turun dari kuda, berjalan mendekati Baran. Anak buahnya membentuk lingkaran, mencegah siapa pun mendekat. Baran, dengan napas tersengal, mengangkat kapaknya. Ia tahu ini mungkin pertarungan terakhirnya.
Mereka bertarung. Tangan Merah ahli—terlalu ahli. Pedangnya bergerak cepat, tepat, mematikan. Baran bertahan dengan kapak, tapi lengannya yang terluka memperlambat gerakannya. Dalam beberapa menit, ia sudah terdesak. Satu tebasan pedang mengenai kapaknya, membuatnya hampir terlepas. Satu tendangan membuatnya jatuh berlutut.
Tangan Merah berdiri di hadapannya, pedang terangkat. “Selamat tinggal, pahlawan kampung.”
***
Aryan melihat semuanya.
Dari balik gerbang, dari samping Laras yang berteriak histeris, ia melihat ayahnya jatuh. Melihat pedang terangkat. Melihat kematian yang hanya tinggal detik.
Dan di detik itu, dunia berhenti.
Aryan tidak berpikir. Ia tidak merencanakan. Tubuhnya bergerak sendiri, dikuasai oleh sesuatu yang lebih dalam dari kesadaran. Ia berlari ke arah tumpukan batang pohon cadangan—tiga batang besar yang disiapkan untuk memperbaiki pagar. Masing-masing sepanjang empat meter, sebesar paha orang dewasa. Beratnya mungkin lebih dari tubuhnya sendiri.
Ia meletakkan kedua tangannya di atas tumpukan itu. Dan ia mengeluarkan semuanya.
Cahaya yang keluar dari tangannya bukan lagi redup. Ini putih menyilaukan, seperti petir di siang bolong. Seluruh desa melihatnya. Para bandit melihatnya. Tangan Merah, yang sedang mengangkat pedang, menoleh dengan mata membelalak.
Tiga batang pohon itu bergetar. Lalu, dengan suara *KRAAAAK!* yang memekakkan telinga, mereka menyatu. Bukan hanya menempel—menyatu, serat kayu menyatu, menjadi satu batang raksasa sepanjang empat meter, sebesar dua paha orang dewasa. Ujungnya runcing—bukan karena diasah, tapi karena Aryan membentuknya dengan pikirannya, dengan seluruh sisa mana yang ia miliki.
Tombak raksasa. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia buat.
Aryan tak punya tenaga untuk melempar. Tapi ia tak perlu. Dengan sentuhan terakhir, ia memberi perintah terakhir pada kayu itu: *Hancurkan.*
Tombak itu melesat.
Bukan dilempar—melayang, terdorong oleh kekuatan yang tak terlihat. Ia melesat lurus, melewati Baran yang masih berlutut, melewati anak buah Tangan Merah yang tak sempat bergerak, dan menembus dada pemimpin bandit itu.
*BUMP!*
Tangan Merah terpental ke belakang, tertancap di tombak raksasa itu, menembus dadanya dari depan ke belakang. Matanya membelalak, mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Ia jatuh, tertanam di tanah, tombak itu masih menancap tegak di tubuhnya.
Untuk beberapa detik, semua orang diam. Bandit, warga, Baran—semua membeku, memandangi pemimpin mereka yang mati dengan cara paling mengerikan yang pernah mereka lihat.
Lalu, seseorang berteriak. Mungkin dari pihak bandit. “LARI! PENYIHIR!”
Kekacauan pecah. Bandit yang tadinya yakin menang, kini berbalik dan lari tunggang langgang. Mereka memanjat kuda, berlari keluar melalui lubang pagar, meninggalkan senjata, meninggalkan yang terluka, meninggalkan pemimpin mereka yang mati dengan tombak di dada.
Di dalam desa, warga hanya bisa terdiam, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Perlahan, satu per satu, mereka menoleh ke arah asal tombak itu. Ke arah Aryan.
Tapi Aryan sudah tidak berdiri.
Ia jatuh. Tubuhnya lemas, tidak bergerak. Dari hidungnya, darah mengalir deras—bukan hanya setetes, tapi seperti sungai kecil. Matanya terpejam. Dadanya naik turun, tapi lemah, sangat lemah.
Laras berlari, menjerit, meraih anaknya. “ARYAN! ARYAN, JANGAN TUTUP MATA! NAK!”
Baran, meski terluka, bangkit dan berlari. Ia melihat anaknya dalam pelukan Laras—pucat, tak bergerak, berlumuran darah dari hidung. Tangannya gemetar saat meraih tubuh kecil itu.
“Aryan... Nak...” bisiknya, suara pecah.
Tapi Aryan tak menjawab. Ia sudah jauh, tenggelam dalam lautan gelap di mana tak ada suara, tak ada rasa sakit, tak ada apa pun.
***
Tiga hari.
Tiga hari Aryan terbaring tak sadarkan diri. Laras tak pernah meninggalkannya. Ia membasuh tubuh anaknya, mengganti balutan di hidung yang terus mengeluarkan darah, memberinya air setetes demi setetes meskipun tak sadar. Baran, meski lukanya masih perih, bergantian menjaganya. Warga datang silih berganti, membawa makanan, menawarkan bantuan, menangis dan berdoa untuk kesembuhan bocah kecil itu.
Kabar tentang apa yang terjadi menyebar. Tombak raksasa. Cahaya putih. Bandit lari ketakutan. Warga yang melihat langsung hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya. Yang tak melihat, bertanya-tanya. Tapi semua sepakat satu hal: Aryan, anak Baran, entah bagaimana, telah menyelamatkan mereka semua.
Di hari ketiga, mata Aryan terbuka.
Pertama-tama, ia melihat langit-langit bambu. Samar, kabur. Lalu, ia merasakan hangatnya tangan di pipinya. Ia menoleh—pelan, sangat pelan—dan melihat Laras. Ibunya duduk di sampingnya, dengan mata sembab, dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, dengan air mata yang terus mengalir.
“Nak...” bisik Laras, suara pecah. “Nak, kau sadar... kau sadar... Syukurlah... syukurlah...”
Ia memeluk Aryan, menangis keras. Tangis lega. Tangis bahagia. Tangis yang sudah ditahan tiga hari penuh.
Aryan ingin bicara, ingin bertanya apa yang terjadi, tapi mulutnya terlalu kering. Ia hanya bisa membalas pelukan ibunya dengan lemah. Di luar, suara ramai terdengar. Bukan perang—ini berbeda. Ini suara orang banyak, suara riang, suara perayaan.
“Mereka... merayakan...” isak Laras, melepaskan pelukannya, menyeka air mata. “Mereka merayakan karena kita selamat. Karena kau... kau menyelamatkan kita semua.”
Aryan mengingat. Perlahan, potongan-potongan ingatan kembali. Tangan Merah. Ayah yang hampir mati. Tombak raksasa. Cahaya putih. Lalu... gelap.
Ia menunduk, melihat tangannya. Tangannya biasa saja. Tapi di dalamnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Kosong. Seperti sumur yang tak berair. Seperti ladang yang gersang. Mananya—semua yang ia punya—habis terkuras.
Tapi ia hidup. Itu yang penting.
Lalu, dari sudut ruangan, sebuah suara asing terdengar. Suara pria, tenang, sedikit serak, dengan nada yang tak bisa ia tebak.
“Jadi kau yang punya mana sebesar itu?”
Aryan menoleh. Di sudut ruangan, duduk bersila di atas tikar, ada seorang pria yang tak ia kenal. Jubah lusuh, rambut acak-acakan, wajah dihitami debu perjalanan. Tapi matanya—matanya tajam, penuh rasa ingin tahu, seperti melihat sesuatu yang langka dan berharga.
Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum ancaman. Bukan senyum ramah. Tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan apa yang ia cari.
Aryan menatapnya dengan curiga. Tangannya yang lemah meraih pinggang, mencari tombak kecilnya—tapi tombak itu tak ada. Baran mungkin menyimpannya. Ia hanya bisa memandangi orang asing itu, bertanya-tanya siapa dia, dari mana dia datang, dan apa yang ia inginkan.
Pria itu tersenyum lagi, sedikit lebih lebar. “Tenang, Nak. Aku bukan musuh. Aku hanya... pengelana. Tapi mungkin—hanya mungkin—aku bisa membantumu memahami apa yang ada di dalam dirimu.”
Ia mengangkat tangannya, dan di ujung jarinya, secercah cahaya muncul. Cahaya yang sama seperti milik Aryan. Tapi lebih terkendali. Lebih tenang. Lebih... dewasa.
Aryan terpaku. Matanya membelalak. Cahaya itu... orang ini... bisa melakukan hal yang sama?
Pria itu memadamkan cahayanya, lalu bersandar di dinding bambu. “Kita punya banyak hal untuk dibicarakan, Anak dari Dusun Karang. Tapi tidak sekarang. Kau perlu pulih dulu.” Ia menutup mata, seperti akan tidur. “Istirahatlah. Aku masih di sini saat kau bangun nanti.”
Aryan menatap Laras, mencari jawaban. Ibunya menggeleng lemah—ia juga tak tahu siapa orang ini, dari mana datangnya. Tapi Baran yang mengizinkannya masuk. Baran yang memintanya menunggu sampai Aryan sadar.
Di luar, suara perayaan terus bergemuruh. Tapi di dalam ruangan kecil itu, suasana berubah. Rahasia Aryan, yang selama ini hanya diketahui keluarganya, kini telah dilihat oleh seluruh desa. Dan kini, seorang asing dengan kemampuan yang sama muncul, membawa pertanyaan yang mungkin tak siap dijawab oleh bocah sembilan tahun itu.
Aryan memejamkan mata. Kelelahan masih menguasai tubuhnya. Tapi di dalam kepalanya, seribu pertanyaan berputar. Siapa orang ini? Apa yang ia inginkan? Dan yang paling penting: apa artinya semua ini bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masa depannya?
Tak ada jawaban. Hanya suara napasnya sendiri, suara ibunya yang masih terisak pelan, dan suara perayaan di luar yang entah mengapa terasa begitu jauh, seperti berasal dari dunia yang berbeda.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Garis Keturunan Abu | EPS 20"