Bab 19: Detik-Detik Terakhir

Dua puluh delapan detik.

Angka merah menyala terang di tengah kegelapan ruang kendali, berkedip ritmis seiring suara dengung mesin tua yang mendadak melengking tinggi. Layar konsol utama penuh dengan baris kode asing yang merayap turun seperti tetesan air hujan digital. Helena tidak panik; wanita itu justru melangkah tenang mendekati konsol, jemarinya menari di atas tombol-tombol manual yang sudah berkarat, memastikan setiap sambungan kabel tidak mengalami korsleting fatal yang dapat memicu ledakan sekunder di dalam ruangan bawah tanah ini.

"Sistem pertahanan daruratnya aktif," suara Helena terdengar tegas di atas bisingnya alarm yang terus meraung-raung. "Kita nggak punya banyak waktu sebelum seluruh sektor ini di-purge secara otomatis."

Rey mencengkeram linggisnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih, sementara matanya liar memandangi dinding logam tebal yang mulai bergetar hebat akibat tekanan dari luar. "Purge? Maksudnya tempat ini bakal diratakan sama tanah? Atau dikunci rapat sampai kita jadi fosil di dalam sini tanpa ada yang tahu?"

"Kurang lebih yang kedua, dan itu sama-sama mematikan," jawab Tuan Gani pendek, tangannya sibuk memeriksa kabel penghubung utama di bawah meja kendali yang berkarat. Pria tua itu tidak menunjukkan kepanikan yang berlebihan, tetapi keringat dingin di pelipisnya mengkhianati ketenangan luar biasa yang ia pamerkan sejak tadi.

Orza menatap layar yang berkedip cepat, lalu menolak pandangannya ke arah Zee yang berdiri kaku di sampingnya dengan napas terengah-engah. Adiknya itu sedang berusaha keras menyinkronkan ulang sinyal drone dengan protokol baru yang dimunculkan oleh sistem keamanan Helena. "Zee, fokus. Kita cuma butuh satu jalur keluar yang bersih dan aman. Bisa?"

Zee menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemetar di tangannya, lalu mengangguk cepat penuh keyakinan. "Lagi coba bypass firewall-nya, Kak. Tapi enkripsinya berlapis banget, seperti dirancang untuk menghentikan kecerdasan buatan tingkat tinggi!"

Di tengah kekacauan dan kepulan asap tipis dari konsol yang mulai kepanasan, Naya tiba-tiba bergerak mendekati Orza. Tanpa banyak bicara, tangan wanita itu terulur menyentuh punggung tangan Orza yang sedang menahan kabel utama agar tidak lepas dari soketnya yang longgar. Sentuhan itu singkat, hangat, dan seolah menyalurkan ketenangan yang luar biasa di tengah deru ketegangan yang nyaris memekakkan telinga.

"Kamu nggak harus nanggung semuanya sendirian, Orza," bisik Naya pelan di antara suara alarm, matanya menatap lurus ke dalam mata Orza dengan penuh keyakinan. "Kita hadapin ini bareng-bareng, apa pun konsekuensinya di ujung sana."

Ada rasa sesak yang mendadak mencair di dada Orza. Di detik-detik paling kritis, saat dunia di sekitarnya seakan runtuh dan harapan menipis, kehadiran Naya menjadi jangkar emosional yang membuatnya tetap tegak berdiri. Orza balas menggenggam jemari Naya sejenak, mengalirkan kekuatan yang sama, lalu mengangguk mantap.

"Tiga belas detik!" teriak Rey memperingatkan dengan nada panik.

"Masukkan perintah kuncinya sekarang, Helena!" seru Orza dengan suara parau namun tegas.

Helena menekan tombol terakhir dengan mantap tanpa ragu. Layar konsol mendadak berubah dari merah terang menjadi biru pekat, dan hitungan mundur berhenti tepat di angka tiga. Namun, alih-alih mati dengan tenang, seluruh ruangan tiba-tiba bergetar hebat seakan diguncang gempa bumi. Cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak dari pusat konsol, menelan sosok mereka dalam sekejap sebelum kesadaran Orza benar-benar pudar.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 19: Detik-Detik Terakhir"