Bab 18: Gema yang Tertahan
Hening langsung merayap begitu pertanyaan itu meluncur dari bibir Helena. Kata-kata wanita itu terasa menggantung di udara ruang kendali yang dingin, seolah menolak untuk segera jatuh ke lantai. Orza merasa tenggorokannya mendadak kering. Nama yang disebut Helena adalah pecahan memori yang sengaja ia kubur dalam-dalam, sebuah bagian dari masa lalu yang ia kira sudah terkunci rapat bersama debu dan karat Sektor Nol.
"Aku... tidak tahu di mana dia sekarang," jawab Orza akhirnya, suaranya sedikit lebih parau dari yang ia inginkan. Ada beban tak kasat mata yang tiba-tiba menekan dadanya, mengingatkannya pada alasan mengapa ia harus memikul segalanya sendirian sejak bertahun-tahun lalu.
Rey dan Zee bertukar pandang, bingung. Mereka tidak pernah mendengar kakak sulung mereka membahas nama itu sebelumnya. Di sudut ruangan, Tuan Gani hanya menghela napas pelan, menyandarkan tubuh tuanya ke dinding konsol sambil memalingkan pandangan, seolah menghormati privasi yang baru saja diterobos paksa oleh keadaan.
Helena mengamati ekspresi Orza lekat-lekat. Tidak ada seringai kemenangan atau tatapan iba di matanya—hanya ada kelelahan yang teramat sangat dari seseorang yang telah terlalu lama hidup dalam kesendirian. "Maaf," ucap Helena singkat, suaranya melembut. "Kurasa beberapa rahasia memang menolak untuk mati begitu saja, sama seperti tempat ini."
Sebelum Orza sempat merespons, sebuah sentuhan hangat tiba-tiba terasa di punggung tangannya. Naya tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu hanya menggeser posisinya sedikit lebih dekat, memberikan tekanan lembut yang menyalurkan ketenangan di tengah badai pikiran yang mendadak berkecamuk di kepala Orza. Gestur kecil itu bekerja seperti jangkar, menarik Orza kembali ke masa kini—kembali ke ruangan ini, bersama orang-orang yang kini berdiri di sisinya.
Orza menarik napas dalam-dalam, lalu balas meremas jemari Naya sekilas sebelum kembali menatap Helena. "Tempat ini... apa sebenarnya yang kalian coba sembunyikan di sini bertahun-tahun lalu?" tanya Orza, sengaja mengalihkan alur percakapan kembali ke misi mereka.
Helena tersenyum tipis, sebuah senyum penuh arti yang tidak sepenuhnya menjawab. Ia melangkah mendekati konsol utama yang mati suri, lalu menyentuhkan telapak tangannya pada panel kaca retak. "Bukan disembunyikan, Orza. Tapi dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Dan sekarang, sistem ini merespons kalian karena batas waktunya sudah habis."
Tiba-tiba, suara dengungan bernada rendah bergetar dari lantai bawah. Layar-layar monitor besar yang tadinya gelap gulita di sekeliling ruangan mendadak menyala serentak, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah tegang mereka satu per satu. Di tengah layar utama, sederet baris kode asing muncul dengan cepat, diikuti oleh angka-angka koordinat yang mulai bergerak turun dalam hitungan mundur.
Naya mengerutkan kening, matanya memindai cepat deretan data tersebut. "Itu bukan koordinat peta kota," bisiknya cemas. "Itu hitungan mundur untuk sesuatu yang lain... dan waktunya tinggal beberapa menit lagi."
Post a Comment for "Bab 18: Gema yang Tertahan"