Bab 9: Bayang-Bayang Sektor Nol
Kilatan merah itu memantul di bola mata Naya, disusul dengung berfrekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga. Di layar kaca retak itu, deretan karakter asing bergulir dengan kecepatan tak wajar, menelan peta topografi yang baru saja dibaca Zee.
"Orza, sinyalnya bukan dari permukaan," suara Zee bergetar, jemari mungilnya menari panik di atas papan ketik kecil di pergelangan tangannya. "Ada transmisi eksternal yang nembus enkripsi lokal... datangnya dari Sektor 0-C. Di bawah kita."
Rey langsung menarik belati dari pinggangnya, bilah peraknya berkilat di bawah kerlip merah darurat. "Bagus kalau ada yang datang. Biar aku—"
"Rey, tahan," potong Orza cepat. Telapak tangannya mendarat di pundak Rey, meremasnya cukup kuat untuk menyadarkan adiknya itu dari dorongan gegabah. "Jangan main hunus senjata kalau belum tahu apa yang dihadapi. Berjaga di pintu tangga, perhatikan punggung kita."
Rey sempat cemberut, tapi sorot mata Orza yang dingin dan tak terbantahkan membuatnya mengangguk pelan, melangkah mundur ke ambang lorong dengan belati tetap terhunus.
"Terminalnya berusaha ngunci diri," sela Naya. Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada situasi yang sedang berlangsung, meski urat-urat kecil di lehernya tampak menegang. "Siapa pun di ujung sana, mereka bukan cuma mengintip. Mereka berusaha narik paksa data inti drone Zee dan menyegel ruang kendali ini dari jauh."
Orza melangkah mendekat, bahunya nyaris menempel dengan bahu Naya di depan panel kendali yang bergetar hebat. Di tengah kepanikan ruang sempit ini, aroma samar oli mesin dan debu kering dari mantel Naya kembali tercium—sebuah kontras ganjil yang anehnya justru menahan pikiran Orza agar tidak kalut.
"Bisa kita putus?" tanya Orza to the point.
"Secara perangkat lunak? Nggak sempat. Zee cuma punya waktu belasan detik sebelum firewal-nya runtuh," jawab Naya cepat, lalu menunjuk ke panel bawah yang tertutup lempengan baja berkarat. "Harus lewat jalur fisik. Kita cabut relai daya utama di balik sana. Masalahnya, sistem pengamannya pakai sekrup magnetik ganda."
Naya menoleh ke arah Orza, tatapan matanya tajam dan fokus. Tidak ada keraguan, hanya permohonan bisu untuk bergerak serempak. Selama ini, Orza terbiasa berdiri sendiri di baris terdepan, memikul segala konsekuensi agar kedua adiknya aman. Mengandalkan orang asing bukanlah kebiasaannya. Tapi saat melihat kilatan keyakinan di mata Naya, insting Orza memilih percaya.
"Biar aku yang tahan penutupnya dengan struktur penopang dasar, kamu cabut intinya," kata Orza, mengaktifkan kemampuan arsitekturnya untuk membaca titik tumpu engsel panel.
"Hitungan ketiga," sahut Naya.
Orza menyelipkan kedua tangannya ke celah sempit pelat baja yang mulai memanas akibat kelebihan beban arus. Otot lengannya menegang saat ia menahan lempengan logam itu agar tidak menjepit Naya. Jari-jari Naya bergerak gesit menembus celah kabel yang berpijar kebiruan, meraih tabung kaca silinder yang menjadi pusat aliran listrik.
"Tiga!"
Dengan tarikan bertenaga, Naya mencabut relai tersebut. Letupan bunga api kecil memercik ke udara, menyambar tipis ujung lengan baju Orza sebelum akhirnya seluruh ruangan terjun ke dalam kegelapan pekat.
Hening seketika menelan mereka. Hanya ada hembusan napas yang memburu dan detak jantung yang berdegup kencang di rongga dada masing-masing. Di kegelapan itu, tangan Naya yang memegang silinder panas tak sengaja bertumpu di lengan Orza untuk menjaga keseimbangan. Keduanya membeku selama satu tarikan napas panjang—merasakan hangatnya kulit dan denyut nadi yang saling bertaut di balik sisa ketegangan.
"...Kerja bagus," bisik Orza pelan, suaranya sedikit parau di keheningan.
Naya perlahan menarik tangannya, meski Orza masih bisa merasakan bekas hangatnya di lengannya. "Zee? Gimana datanya?" tanya Naya, suaranya kembali datar berusaha menutupi jeda canggung tadi.
"Aman," sahut Zee dari sudut ruangan, diiringi cahaya redup dari layar portabelnya yang kembali normal. "Koneksi terputus. Data drone nggak sempat terunggah."
Rey menghela napas lega dari arah pintu tangga. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.
Di ujung lorong yang paling gelap, tepat di belakang dinding ruang kendali yang mengarah ke Sektor 0-C, terdengar suara gerendel hidrolik bergeser berat. Pintu baja raksasa yang tampak mati selama puluhan tahun itu mendadak mendesis, sebelum perlahan-lahan merekah terbuka ke dalam lorong yang lebih pekat.
Post a Comment for "Bab 9: Bayang-Bayang Sektor Nol"