Bab 10: Jejak di Balik Ambang Pintu

Debu tebal berhamburan saat daun pintu baja itu akhirnya berhenti bergeser ke dinding batu. Suara dentum beratnya memantul di seluruh ruangan, lalu lenyap, menyisakan desis udara dingin yang berbau logam lembap dan lumut tua—aroma dari tempat yang seharusnya terkunci ratusan tahun.

Rey langsung menarik kedua belatinya dari sarung di pinggang. Matanya berkilat menatap kegelapan di balik celah pintu. "Keren... jadi kita beneran masuk ke dalam?"

"Tahan, Rey." Tangan Orza bergerak cepat, mencengkeram pundak adiknya sebelum pemuda itu sempat melangkah satu sentimeter pun ke depan. "Kita bahkan belum tahu apa yang ada di balik ambang pintu itu. Jangan asal nyelonong."

Rey mendengus pelan, tapi menurut dan mundur setengah langkah. Sementara itu, Zee masih berlutut di dekat konsol yang kini telah mati total, jemarinya sibuk memutar kenop pemindai portabel milik sang drone. Inti logam kecil itu mengambang rendah di bahunya, mengeluarkan dengung halus yang terdengar seperti tarikan napas gelisah.

"Sinyal peretasnya hilang begitu kabel dayanya kita putus," lapor Zee tanpa mengalihkan pandangan dari layar kecilnya. "Tapi... saluran frekuensi yang sempat masuk tadi jalurnya searah sama lorong ini. Mereka nggak mengakses dari luar, Kak. Seseorang ada di dalam sistem bawah tanah ini."

Kata-kata Zee membuat hawa dingin di tengkuk Orza semakin menusuk. Ia menghela napas panjang, mencoba menepis beban berat yang tiba-tiba menumpuk di dadanya. Sejak awal, tujuannya hanya memastikan adik-adiknya aman dan pulang membawa modul yang bisa dijual. Namun, setiap langkah di reruntuhan ini justru menarik mereka makin jauh dari rencana semula.

"Napas dulu, Orza. Bahumu kaku banget kayak kabel baja."

Suara Naya terdengar begitu dekat, pelan dan tenang. Gadis itu sedang menyeka noda pelumas di pipinya dengan punggung tangan, meninggalkan corengan hitam tipis yang entah kenapa membuat senyum tipisnya terlihat lebih hangat di bawah remang lampu darurat. Ia melangkah berdiri tepat di sisi Orza, tidak mendahului, tapi menyejajarkan diri.

Orza meliriknya, merasa sedikit tertangkap basah. "Kelihatan jelas banget, ya?"

"Jelas banget," kekeh Naya pelan, nadanya separuh menggoda tapi sarat pengertian. "Tapi kamu tadi hebat. Waktu kamu narik relai bareng aku... refleksmu cepat. Kalau kamu panik sedikit aja, drone Zee mungkin udah hangus kesedot dayanya."

Mendengar pengakuan tulus itu, ada sesuatu yang melonggar di dada Orza. Beban yang selama ini ia pikul sendiri—keharusan untuk selalu tampak sempurna dan tak tergoyahkan di depan adik-adiknya—tiba-tiba terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang yang menyadari usahanya.

"Itu berkat hitungan mundurmu," balas Orza jujur, menatap mata Naya sejenak. "Makasih, Naya. Aku... nggak tahu bakal seberantakan apa kalau kamu nggak ikut turun ke sini."

Naya terdiam sepersekian detik. Pandangannya sedikit melembut, sebelum ia buru-buru mengalihkan tatapan ke arah gerbang yang menganga, seolah berusaha menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di wajahnya. "Sama-sama. Kita tim sekarang, kan? Jadi berhenti pasang wajah pahlawan kesepian itu."

Orza tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak mereka melangkah ke dalam reruntuhan ini, detak jantungnya berangsur stabil—bukan karena ancaman telah berlalu, melainkan karena ia tahu ia tak lagi sendirian.

"Zee, arahkan lampu drone ke lorong," instruksi Orza, kembali fokus. "Kita cuma maju lima meter untuk cek struktur lorong. Kalau nggak aman, kita balik kanan."

Zee mengangguk cepat. Bola logam itu melesat pelan ke depan, menembus kabut debu dan memancarkan sorot lampu putih terang ke lantai lorong di balik pintu baja.

Namun, saat cahaya putih itu menyapu lantai batu yang tertutup lapisan debu tebal berabad-abad, langkah Orza seketika membeku. Napas Rey tertahan di sampingnya.

Di atas debu tebal itu, tercetak jelas rangkaian jejak sol sepatu bot bergerigi—masih sangat tajam, belum sempat tertutup debu baru. Dan hanya berjarak dua meter di depan mereka, tergeletak sebuah tabung suar kimia berkedip lemah warna hijau, masih menyisakan sedikit sisa panas di udara dingin.

Seseorang baru saja melewati pintu ini beberapa menit sebelum mereka mematikan sistemnya.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 10: Jejak di Balik Ambang Pintu"