Irama Tanah dan Taring | Episode 3

Tiga minggu setelah memutuskan pulang adalah dongeng, warga desa belajar dua kebenaran baru: cangkul tidak bisa menusuk monster, dan pedang tidak bisa menanam umbi—maka hidup mereka tersandera di antara ladang dan taring. Pagi-pagi, ketika kabut masih menggantung di pucuk-pucuk ilalang, para lelaki dan perempuan berjalan menuju lahan yang baru dibuka. Mereka membawa cangkul, parang, dan harapan yang mulai menipis karena tanah merah itu ternyata lebih keras daripada perut kosong. Namun ketika matahari tepat di atas kepala, mereka harus bergegas kembali ke perkemahan, karena sejak serangan dua minggu lalu, semua sepakat: tidak ada yang boleh berada di ladang sendirian setelah waktu tersebut.

Irama Tanah dan Taring

Serangan pertama terjadi saat mereka sedang asyik menanam bibit umbi. Seekor makhluk sebesar anak sapi, dengan kulit bersisik dan taring panjang yang mengilat, tiba-tiba muncul dari semak-semak. Seorang lelaki bernama Karim terluka parah di betisnya sebelum yang lain berhasil menghalau monster itu dengan tombak bambu. Sejak hari itu, ritme desa berubah. Siang adalah milik tanah, waktu untuk menanam dan berharap. Senja adalah batas, saat semua orang harus sudah berada di dalam pagar kayu darurat. Dan malam adalah milik taring, saat para penjaga bergantian duduk di pos-pos jaga, menggenggam senjata seadanya, menatap gelap yang penuh suara gemerisik dan auman samar.

Reyhan, yang kini genap berusia enam tahun, terlalu kecil untuk berjaga. Ia juga terlalu kecil untuk membanting tulang di ladang sepanjang hari. Namun ia tak bisa diam. Ibunya kini bekerja di ladang bersama perempuan-perempuan lain, meninggalkannya di perkemahan bersama anak-anak yang lebih kecil dan beberapa orang tua yang sudah renta. Tugasnya sederhana: menjaga adik-adik, mengambil air, membantu Mbak Yati menyiapkan makanan untuk para penjaga malam. Tapi mata Reyhan selalu tertambat pada sesuatu yang lain: pada benda-benda, pada alat-alat, pada bagaimana segala sesuatu bekerja—atau lebih sering, tidak bekerja.

Suatu sore, ketika para lelaki pulang lebih awal karena kabar buruk dari hutan, Reyhan duduk di dekat tungku bersama Pak Marto. Lelaki tua itu sedang mengasah ujung tombak bambu yang sudah tumpul. Gerakannya lambat, penuh kehati-hatian, namun hasilnya tetap saja tak memuaskan. "Bambu cepat tumpul, Rey," gumamnya, tanpa menoleh. "Kena satu kali, kena dua kali, habis. Ujungnya patah. Besok kami harus cari bambu lagi."

Reyhan mengamati tumpukan senjata di samping Pak Marto. Ada tombak bambu dengan ujung runcing, ada pentungan kayu, ada beberapa parang yang sudah mulai aus. Di pojok, teronggok sebuah benda yang menarik perhatiannya: sebilah besi tua, mungkin sisa cangkul yang patah, berkarat dan terabaikan. "Pak, itu besinya kenapa tidak dipakai?" tanyanya, menunjuk benda itu.

Pak Marto tertawa getir. "Untuk apa? Besi itu keras, tapi kalau tidak tajam, lebih baik bambu. Untuk menajamkannya perlu batu asah khusus, perlu api, perlu waktu. Kita tidak punya itu semua."

Malam itu, Reyhan sulit tidur. Di luar tenda, suara para penjaga berbisik-bisik, sesekali terdengar derap langkah cepat ketika mereka melihat sesuatu bergerak di kejauhan. Reyhan memikirkan besi tua itu, memikirkan bagaimana jika ujung tombak dari besi, pasti lebih kuat, lebih tahan lama. Tapi bagaimana cara membuatnya tajam? Bagaimana cara memasangkannya ke gagang? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya hingga akhirnya ia tertidur lelap, dengan tangan kanan menggenggam erat batu kecil yang ia temukan sore tadi, batu dengan permukaan yang agak kasar dan rata.

Keesokan harinya, Reyhan mengambil besi tua itu tanpa izin. Ia membawanya ke pinggir kali, tempat yang sepi karena semua orang di ladang. Ia duduk di atas batu besar, meletakkan besi di pangkuannya, lalu mulai menggosok-gosoknya dengan batu asah yang ia temukan. Gerakannya canggung, tidak beraturan. Berjam-jam ia lakukan, sampai tangannya lecet dan jari-jarinya memerah. Hasilnya hampir tidak terlihat: besi itu sedikit lebih mengilap di bagian ujung, tapi masih jauh dari tajam. Ia menghela napas panjang, hampir menyerah. Tapi kemudian ia ingat bagaimana Pak Marto mengasah bambu dengan gerakan memutar, bukan maju mundur. Mungkin besi juga begitu? Atau mungkin perlu teknik lain?

Mbak Yati menemukannya di kali menjelang sore. "Reyhan! Ibumu mencari! Ayo cepat, sebentar lagi gelap!" Reyhan mengangguk, menyembunyikan besi dan batunya di balik semak-semak, lalu berlari mengikuti Mbak Yati pulang. Malam itu, ibunya memarahinya karena pergi tanpa pamit. Tapi di sela-sela air mata dan rasa takut, Reyhan hanya diam, memikirkan besi itu, memikirkan bagaimana besok ia harus mencoba lagi.

Beberapa hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Pagi membantu Mbak Yati, siang menyelinap ke kali untuk menggosok besi, sore kembali sebelum ada yang curiga. Tangannya semakin kapalan, namun ia mulai menemukan irama yang tepat: bukan sekadar menggosok keras, tapi tekanan yang konsisten dan gerakan memanjang yang teratur. Besi itu mulai menunjukkan perubahan. Ujungnya tidak hanya mengilap, tapi mulai membentuk sisi tipis yang jika disentuh perlahan bisa membuat kulitnya tergores kecil.

Suatu siang, saat asyik bekerja, ia tidak sadar bahwa seseorang mengawasinya dari balik pohon. Karim, lelaki yang terluka beberapa minggu lalu, sedang memeriksa perangkap ikan di kali ketika ia melihat Reyhan duduk dengan konsentrasi penuh. Awalnya ia ingin menegur anak itu karena bermain-main di jam bahaya. Tapi ketika ia mendekat dan melihat apa yang dilakukan Reyhan, mulutnya ternganga. Di tangan bocah itu, sepotong besi karatan berubah menjadi sesuatu yang mulai menyerupai mata tombak.

"Reyhan," panggilnya pelan, takut mengejutkan. Reyhan tersentak, hampir menjatuhkan besi itu. "Ta-tadi saya hanya..." Karim mengangkat tangan, tersenyum. "Aku tidak marah. Tunjukkan padaku."

Reyhan menyerahkan besi itu dengan ragu. Karim mengamatinya, meraba ujung yang mulai tajam, lalu menatap Reyhan dengan mata berbinar. "Kau belajar dari mana?" Reyhan menggeleng. "Tidak belajar. Hanya mencoba." Karim tertawa kecil, lalu meletakkan tangannya di pundak Reyhan. "Besok kau ikut aku. Aku akan tunjukkan cara memanaskan besi, agar lebih kuat. Tapi kau harus janji: tidak boleh ke sini sendirian lagi."

Berita tentang Reyhan dan besi tempaannya menyebar cepat. Malam harinya, Karim membawa Reyhan ke pos jaga utama, tempat para lelaki berkumpul sambil berjaga. Di sana, ada tungku kecil yang biasanya digunakan untuk memasak, tapi malam ini apinya dibuat lebih besar. Karim mengambil besi tua lain, lalu mengajarkan Reyhan cara memanaskannya hingga merah membara, lalu memukul-mukulnya dengan batu besar untuk membentuknya. Prosesnya lama, melelahkan, dan berbahaya. Tapi Reyhan tidak gentar. Matanya fokus, tangannya gemetar tapi tetap bekerja. Satu jam kemudian, mereka berhasil membuat sebuah ujung tombak sederhana, masih kasar, namun jauh lebih baik daripada bambu mana pun.

Pak Marto, yang ikut menyaksikan, mengambil tombak itu dan memasangkannya ke gagang kayu yang sudah ia siapkan. Lalu, dengan hati-hati, ia menusukkannya ke batang pohon di dekat pos jaga. Ujung besi itu menancap dalam, tidak patah, tidak bengkok. Para lelaki yang melihat bersorak pelan, takut menarik perhatian monster. Tapi di mata mereka, sorak itu adalah harapan. Seseorang berteriak, "Besok kita cari lebih banyak besi tua!" Yang lain menimpali, "Kita buat sepuluh tombak, dua puluh!"

Reyhan hanya diam, duduk di samping Karim, tangannya terasa panas dan perih karena percikan api. Tapi ia tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa berguna. Bukan hanya sebagai anak yang disuruh-suruh, tapi sebagai seseorang yang bisa membuat perubahan. Di luar pos jaga, malam semakin pekat. Suara auman terdengar lebih dekat dari biasanya, dan para penjaga segera mengambil posisi. Tapi malam ini, senjata mereka berbeda. Malam ini, mereka tidak hanya menggenggam bambu runcing, tapi sepotong besi yang ditempa oleh tangan seorang bocah.

Keesokan harinya, rutinitas desa sedikit bergeser. Pagi tetap untuk ladang, siang untuk istirahat, tapi sore hari, sebelum matahari terbenam, para lelaki berkumpul di dekat pos jaga untuk belajar membuat tombak besi. Reyhan menjadi guru tak resmi, didampingi Karim dan Pak Marto. Mereka mengumpulkan besi-besi tua dari segala penjuru: patahan cangkul, rangka gerobak rusak, bahkan paku-paku besar yang ditemukan di bekas pondasi bangunan tua. Api di tungku tidak pernah padam sepanjang sore, dan suara pukulan batu ke besi menjadi irama baru yang mengiringi senja.

Para perempuan yang pulang dari ladang membawa hasil bumi sedikit, tapi mereka membawa cerita. "Ladang kita mulai hijau," kata Mbak Yati suatu sore. "Umbi-umbian mulai tumbuh. Mungkin dua bulan lagi panen." Berita itu disambut dengan sukacita, meskipun masih dibayangi rasa cemas. Karena semakin hijau ladang, semakin banyak monster yang tertarik mendekat. Mereka sudah bisa mencium bau tanaman dari kejauhan. Perang sesungguhnya belum dimulai, tapi semua orang tahu itu hanya soal waktu.

Reyhan terus bekerja. Kapalan di tangannya semakin tebal, tapi ia tak peduli. Setiap tombak yang berhasil ia buat, ia bayangkan bagaimana senjata itu akan melindungi Karim, melindungi Pak Marto, melindungi ibunya yang setiap hari membanting tulang di ladang. Ia belum pernah membunuh monster, belum pernah merasakan dinginnya taring di leher. Tapi ia merasakan beban yang sama: beban untuk bertahan hidup, beban untuk melindungi apa yang mulai mereka bangun.

Malam itu, setelah berhasil menyelesaikan lima mata tombak, Reyhan berjalan tertatih menuju tendanya. Ibunya sudah menunggu dengan semangkuk hangat ubi rebus. Tanpa berkata apa-apa, ibunya meraih tangan Reyhan, memandangi kapalan di telapaknya, lalu mengecupnya pelan. "Kau hebat, Nak," bisiknya. Reyhan tersenyum, lalu makan dengan lahap. Di luar, suara para penjaga mulai terdengar, berbisik-bisik tentang pergerakan di semak-semak. Tapi Reyhan tidak takut. Ia tahu, malam ini, para penjaga memegang tombak yang lebih kuat. Tombak yang ia buat.

Malam itu Reyhan tidur dengan kapalan di telapak tangan—bukan karena memegang cangkul atau tombak, tapi karena menghabiskan malam mengasah ujung besi agar besok para pemburu bisa pulang lebih cepat, dan para petani bisa tidur lebih nyenyak.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
  • Buy Me Coffee
  • Post a Comment for "Irama Tanah dan Taring | Episode 3"