Tombak yang Tidak Patah | Episode 4

Tombak itu tidak patah.

Itu yang pertama kali terlintas di kepala Karim ketika ujung besi itu menancap dalam ke bahu monster kambing raksasa di tepi hutan. Tidak patah. Tidak retak. Tidak terpental seperti bambu-bambu yang biasa mereka gunakan.

Monster itu mengaum keras, tubuhnya mengguncang semak-semak di sekitarnya. Tapi kali ini, para pemburu tidak mundur panik. Dua tombak besi lain menyusul, menembus kulit tebal yang biasanya hanya meninggalkan goresan dangkal. Dalam hitungan napas yang lebih pendek dari biasanya, makhluk itu roboh.

Sunyi sesaat menyelimuti hutan.

Karim menatap senjata di tangannya. Besi yang ditempa oleh bocah enam tahun itu masih utuh. Ujungnya bahkan belum tumpul.

“Ini bukan lagi kebetulan,” gumam Pak Marto pelan.

Mereka pulang lebih cepat hari itu.

Biasanya, perburuan berarti satu orang terluka, atau setidaknya kelelahan sampai lutut gemetar. Hari ini, mereka membawa daging utuh, kulit tebal, dan rasa aneh yang sulit dijelaskan. Rasa seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

Di gerbang pagar kayu darurat, anak-anak berlarian menyambut. Perempuan-perempuan yang sedang membersihkan umbi menoleh dengan kening berkerut, heran melihat para pemburu pulang sebelum matahari condong.

“Ada apa? Kalian lari?” tanya Mbak Yati.

Karim mengangkat tombaknya. “Tidak. Kami selesai.”

Reyhan berdiri tak jauh dari sana, memegang sepotong kayu yang sedang ia bentuk menjadi gagang baru. Ia tidak tersenyum lebar. Tidak melompat-lompat. Ia hanya memperhatikan bagaimana orang-orang memandangi tombak itu.

Malamnya, di pos jaga, mereka mencoba lagi.

Seekor monster kecil mendekat, mungkin tertarik bau darah dari bangkai yang belum selesai dibersihkan. Salah satu pemburu menusukkan tombak besi dari balik pagar. Ujungnya menembus tenggorokan makhluk itu tanpa perlu dorongan kedua.

Biasanya, mereka harus memukul berkali-kali. Biasanya, kayu akan retak sebelum kulit monster sobek.

“Ini terlalu mudah,” bisik seseorang.

Dan justru karena itu, rasa tenang tidak sepenuhnya datang.

Keesokan paginya, suasana desa berbeda. Bukan karena sorak-sorai. Bukan karena pesta. Tapi karena cara orang berjalan. Ada kepercayaan diri yang baru, kecil tapi terasa.

Reyhan duduk di dekat tungku bersama Karim. Kali ini bukan hanya dua atau tiga orang yang mengelilingi api. Hampir semua lelaki dewasa ada di sana.

“Kita butuh lebih banyak,” kata salah satu pemburu.

“Kita butuh sistem,” tambah Pak Marto, menatap Reyhan. “Bukan cuma senjata.”

Reyhan mengangguk pelan.

Ia mulai menggambar di tanah dengan ujung kayu. Bukan monster. Bukan pedang. Ia menggambar lingkaran kasar desa mereka, lalu garis-garis di sekelilingnya.

“Kalau kita hanya kuat saat berburu, kita tetap lemah saat malam,” katanya pelan. “Tapi kalau pagar lebih rapat… dan ada parit kecil… mereka tidak bisa langsung mendekat.”

Orang-orang saling pandang.

Parit berarti kerja tambahan. Menggali berarti tenaga. Tapi tombak besi sudah membuktikan sesuatu: bocah ini tidak sekadar mencoba-coba.

Dalam dua hari berikutnya, selain menempa mata tombak tambahan, Reyhan membantu merancang ulang pagar. Bukan sekadar kayu ditancap acak, tapi ditanam lebih dalam, disusun rapat, dan diikat dengan potongan besi kecil yang ia bentuk dari sisa-sisa logam.

Ia bekerja lebih lama dari orang dewasa.

Saat yang lain berhenti untuk mengusap keringat, Reyhan masih berdiri, memeriksa sambungan kayu, memastikan sudutnya tidak longgar.

Ibunya memperhatikan itu dengan diam.

“Rey… istirahatlah,” katanya suatu sore.

“Aku tidak capek,” jawab Reyhan jujur.

Dan memang tidak terlihat lelah.

Pada hari kelima, parit pertama selesai digali di sisi utara desa—arah yang paling sering menjadi jalur monster masuk. Tidak dalam, tapi cukup untuk membuat makhluk besar kesulitan melompat langsung ke pagar.

Malam itu, mereka mengujinya tanpa sengaja.

Dua monster berukuran sedang muncul bersamaan. Yang pertama tersandung parit dan jatuh miring, memberi waktu bagi pemburu untuk menusuk. Yang kedua mencoba melompati, tapi pagar yang diperkuat besi tidak langsung roboh seperti biasanya.

Serangan itu selesai lebih cepat dari yang mereka duga.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Monster kedua tidak datang sendirian.

Di balik kegelapan, terdengar suara berat—lebih dalam, lebih lambat, seperti napas makhluk yang lebih besar sedang mengamati.

Para penjaga menegang.

Suara itu tidak mendekat. Tidak menyerang. Hanya… ada.

Pagi harinya, jejak kaki ditemukan di luar parit.

Lebarnya hampir dua kali telapak tangan Karim. Tanah di sekitarnya cekung dalam, seolah berat makhluk itu menekan bumi dengan malas tapi pasti.

“Ini bukan monster biasa,” bisik Pak Marto.

Reyhan berlutut, menyentuh bekas itu. Tanahnya masih lembap. Masih hangat oleh embun yang tergeser.

Ia tidak merasa takut.

Ia merasa tertantang.

“Kalau dia besar,” katanya pelan, “berarti parit harus lebih dalam.”

Orang-orang tertawa kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena kalimat itu terdengar sederhana untuk sesuatu yang jelas tidak sederhana.

Namun tidak ada yang membantah.

Hari itu, pekerjaan di ladang dipersingkat. Separuh desa menggali. Separuh lagi menempa. Api tungku tidak padam bahkan saat matahari tinggi. Besi-besi tua yang tadinya dianggap sampah kini menjadi bahan paling berharga.

Desa yang dulu hanya bertahan, kini mulai merancang.

Reyhan berdiri di tengah lingkaran tanah yang semakin jelas batasnya. Ia memandangi pagar yang diperkuat, parit yang mulai memanjang, dan tombak-tombak yang berjejer di pos jaga.

Untuk pertama kalinya, desa itu tidak terasa seperti pengungsian.

Tapi sesuatu yang sedang dibangun.

Menjelang senja, angin dari hutan bertiup lebih dingin dari biasanya.

Dari kejauhan, suara berat itu terdengar lagi.

Lebih dekat.

Reyhan mengangkat wajahnya ke arah gelap yang mulai menelan pepohonan.

Jika makhluk itu datang malam ini, maka tombak tidak boleh patah. Parit tidak boleh dangkal. Pagar tidak boleh goyah.

Dan jika itu belum cukup…

Ia sudah tahu apa yang harus dibangun berikutnya.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
  • Buy Me Coffee
  • Post a Comment for "Tombak yang Tidak Patah | Episode 4"