Enam Tahun yang Berbeda | Episode 5
Di usia di mana anak lain bermain layangan, Reyhan sibuk menghitung beban tarik tali sumur. Matanya yang tajam mengamati bagaimana serat ijuk mulai kendur setelah menahan ember penuh air untuk keempat kalinya. Jari-jari mungilnya menyentuh permukaan tali, merasakan tekstur yang mulai mengembang karena air meresap ke celah serat.
“Kalau terus begini, tali ini putus minggu depan,” gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar ayahnya yang sedang menimba di sampingnya.
Pria itu, Joko, menghentikan gerakannya. Menatap anaknya dengan tatapan aneh, campuran antara heran dan bangga yang tidak biasa ia tunjukkan. “Kamu dari mana tahu soal begituan, Han?”
Reyhan hanya mengangkat bahu. “Setiap hari lihat. Setiap hari ditarik. Seratnya mulai renggang, retaknya kecil-kecil, tapi kalau kena beban berat, putusnya tiba-tiba.”
Joko menggeleng, melanjutkan menimba. “Mending kamu main sama teman-teman. Ini urusan orang tua.”
Tapi Reyhan tidak pergi. Ia duduk di batu dekat sumur, mengamati setiap gerakan ayahnya. Bagaimana cara ayahnya memegang cangkul, bagaimana langkah kakinya saat mencangkul di ladang kecil belakang rumah. Ia memperhatikan detail-detail kecil yang tidak dilihat anak seusianya.
“Pa, cangkulnya sudah tumpul dan goyang,” ucapnya sore itu ketika ayahnya baru pulang dari ladang.
Joko menghela napas. Meletakkan cangkul di dinding rumah panggung sederhana mereka. “Iya, besok mau pinjam punya Pak Kades dulu.”
“Kenapa tidak diperbaiki?” tanya Reyhan serius.
“Perbaiki pakai apa? Tukang besi di pasar minta bayar. Uang kita cuma cukup buat makan.”
Reyhan mendekati cangkul itu. Memegang gagang kayu yang sudah licin karena keringat dan pemakaian bertahun-tahun. Ia menggoyang-goyangkannya, merasakan ada celah antara gagang dan mata cangkul. Lalu melihat ke arah tumpukan kayu bekas di samping rumah.
“Coba saya lihat sebentar, Pa.”
Joko hampir tertawa. Anaknya baru enam tahun, ingin memperbaiki cangkul? Tapi ada sesuatu di mata Reyhan yang membuatnya diam. Sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti saat ia melihat Reyhan menghitung tali sumur tiga hari lalu.
“Terserah kamu, yang penting jangan sampai tanganmu terluka.”
Reyhan mengangguk serius. Ia membawa cangkul itu ke teras, lalu mulai membongkar sisa-sisa kayu yang menancap di lubang mata cangkul. Gerakannya hati-hati, terukur, tidak seperti anak-anak yang biasanya terburu-buru atau mudah menyerah.
***
Dua jam kemudian, matahari mulai condong ke barat. Reyhan masih duduk di teras dengan keringat membasahi keningnya. Di depannya, mata cangkul sudah terpisah dari gagang lama. Ia sedang memegang sepotong kayu baru—bekas tiang pagar yang sudah lapuk, tapi bagian tengahnya masih keras.
Ibunya, Wati, keluar membawakan segelas air. “Sudahlah, Nak. Ayo makan.”
“Sebentar, Bu. Ini mau saya pasang dulu.”
Wati menggeleng, tapi tersenyum. Ia melihat bagaimana Reyhan mengambil pisau kecil—bukan pisau dapur tajam, tapi pisau tumpul yang biasa dipakai untuk mengupas singkong. Dengan sabar, anak itu mulai membentuk ujung kayu agar pas dengan lubang mata cangkul.
Bukan hanya membentuk asal masuk. Reyhan sesekali berhenti, memasukkan ujung kayu ke lubang, memeriksa apakah ada celah. Jika masih longgar di satu sisi, ia mengambil serutan kayu lagi. Proses trial and error yang dilakukan dengan kesabaran orang dewasa.
“Kok bisa tahu cara begini?” tanya Joko yang sudah duduk di dekatnya, benar-benar penasaran sekarang.
Reyhan menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kayu di tangannya. “Waktu lihat Pak Joyo bikin gagang sabit minggu lalu. Dia ukir pelan-pelan sampai pas. Tapi gagangnya lurus, Pa. Cangkul punya bentuk lengkung di ujung. Saya buat yang mirip sama punya Pak Joyo, tapi untuk cangkul.”
Joko tertegun. Pak Joyo adalah tetangga mereka yang bekerja sebagai tukang kayu sederhana. Reyhan pasti melihat dari kejauhan saat bermain, lalu mengingat setiap detail gerakannya. Bukan sekadar mengingat, tapi juga memahami prinsipnya dan menerapkannya di situasi berbeda.
“Sudah cukup rapat,” gumam Reyhan setelah mencoba memasukkan gagang ke lubang untuk keenam kalinya. “Tapi kalau hanya dijejalkan, nanti longgar lagi kena air dan kering. Butuh penguat.”
Ia berdiri, mengambil beberapa serat ijuk dari tali sumur bekas yang sudah diganti minggu lalu. Dengan hati-hati, ia melilitkan ijuk itu di ujung gagang sebelum memalunya masuk ke lubang mata cangkul. Setiap pukulan batu kecil yang ia gunakan sebagai palu, dilakukan dengan ritme konsisten. puk... puk... puk...
“Pa, tolong ambilkan air sedikit.”
Joko, tanpa banyak tanya, mengambil gayung dan menuangkan air ke sambungan gagang dan mata cangkul seperti yang diminta Reyhan. Ia melihat bagaimana anaknya lalu memukul lagi beberapa kali, membuat ijuk mengembang dan mengunci lebih kuat di dalam lubang.
“Selesai,” ucap Reyhan menghela napas panjang. “Tapi jangan dipakai dulu sampai besok pagi. Biar kering dulu, ijuknya mengembang sempurna.”
Joko mengambil cangkul itu. Menggenggam gagang barunya—masih kasar, tapi terasa kokoh. Ia mengangkatnya, merasakan berat yang berbeda. Mata cangkul tidak lagi goyang. Lalu ia memperhatikan gagangnya: ternyata Reyhan tidak sekadar membuat kayu masuk ke lubang, tapi juga membentuk bagian pegangan sedikit lebih ramping di tengah, dan sedikit membesar di ujung.
“Ini bentuknya... kenapa dibuat seperti ini?”
Reyhan menunjuk ke tangan ayahnya. “Pegangan yang sekarang, pas Pa pegang, bagian tengah lebih kecil biar gampang digenggam. Ujungnya agak besar biar tidak gampang lepas kalau tangan basah keringat. Saya lihat tangan Pa sering licin kalau pegang gagang yang licin.”
Wati yang mendengar dari dalam rumah keluar. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena cangkul itu, tapi karena cara Reyhan bicara. Seperti orang dewasa yang memperhatikan detail kecil untuk meringankan beban orang tuanya.
Joko tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk, lalu masuk ke rumah. Bukan karena tidak menghargai, tapi karena takut anaknya melihat matanya yang basah.
***
Keesokan pagi, Joko bangun lebih awal. Langsung menuju teras mengambil cangkul hasil karya Reyhan. Ia mencoba menggoyang-goyangkannya lagi. Masih kokoh. Lalu ia pergi ke ladang.
Satu jam kemudian, ia kembali dengan napas sedikit tersengal tapi wajah cerah. Wati sedang menyiapkan sarapan. Reyhan baru bangun, mengucek matanya.
“Pa tadi coba cangkulnya,” ucap Joko sambil meletakkan cangkul di tempatnya. “Enak, Han. Enak sekali. Ringan, nggak licin, goyangannya ilang. Bahkan tanah liat yang keras, lebih gampang dicangkul.”
Reyhan tersenyum kecil, senang tapi tidak berlebihan. “Gagangnya masih kasar, Pa. Nanti kalau sudah dipakai lama, akan makin halus dengan sendirinya. Tapi jangan diamplas, nanti jadi licin lagi.”
“Dari mana kamu tahu semua ini?” desak Joko, duduk di depan anaknya.
Reyhan diam sejenak. “Saya suka lihat, Pa. Lihat dan mikir. Kenapa sesuatu dibuat begini, kenapa tidak begitu. Kalau ada yang tidak nyaman, pasti bisa diperbaiki.”
Sebelum Joko sempat merespons, suara berat terdengar dari luar.
“Joko! Joko di rumah?”
Joko segera bangkit. Itu suara Pak Harto, Ketua RT mereka. Tokoh yang disegani karena rumahnya paling besar di desa, punya ternak, dan selalu didengar pendapatnya dalam setiap musyawarah.
“Pak RT, silakan masuk,” sambut Joko gugup.
Pak Harto melangkah masuk, tubuhnya besar dengan kumis tebal. Matanya langsung tertambat pada cangkul yang baru diletakkan Joko. Ia mendekat, mengambilnya tanpa izin, lalu mengamati dengan saksama.
“Cangkul baru?”
“Bukan, Pak. Itu cangkul lama yang rusak, kemarin diperbaiki.”
“Diperbaiki?” Pak Harto mengangkat alis. “Siapa yang benerin? Tukang kayu dari pasar?”
Joko ragu menjawab. “E... anak saya, Pak. Reyhan.”
Sunyi sejenak. Pak Harto menatap Reyhan yang duduk di sudut ruang tamu sederhana mereka. Bocah itu tidak merunduk seperti anak lain yang ditegur orang dewasa. Ia balas menatap, sopan tapi tenang.
“Kamu, Nak? Umur berapa?”
“Enam tahun, Pak,” jawab Reyhan sopan.
Pak Harto tertawa pendek. “Joko, jangan bercanda.”
“Ini serius, Pak. Saya lihat sendiri semalam dia kerjakan dari sore sampai magrib.”
Pak Harto memutar cangkul di tangannya. Meraba bentuk gagang yang ergonomis. Memeriksa sambungan yang rapat tanpa celah. Lalu menatap Reyhan lagi, kali dengan tatapan berbeda—tajam, mengamati.
“Kamu diajarin siapa, Nak?”
“Tidak ada, Pak. Saya lihat-lihat saja.”
“Lihat siapa?”
“Pak Joyo bikin gagang sabit. Terus saya coba buat sendiri.”
Pak Harto mengangguk pelan. Meletakkan cangkul kembali, lalu berbalik ke Joko. “Joko, anakmu ini... lain.”
Joko hanya mengangguk tak tahu harus berkata apa.
“Besok kalau ada waktu, suruh dia main ke rumah. Cangkul punyaku juga agak longgar. Mungkin dia bisa lihat.”
Ucapan itu, meski terdengar ringan, punya bobot besar di desa kecil mereka. Undangan dari Pak RT adalah kehormatan. Tapi juga beban.
***
Sore harinya, kabar sudah menyebar. Ibu-ibu yang mencuci di sungai membicarakannya. Bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi ikut nimbrung. Bahkan anak-anak sebaya Reyhan mulai memandangnya aneh.
“Katanya kamu bisa benerin cangkul?”
“Kamu jadi tukang kayu cilik?”
“Masa kecil-kecil bisa begitu?”
Reyhan menjawat seperlunya, tidak pamer, tidak pula merendah berlebihan. Ia hanya bilang, “Saya coba-coba saja.”
Tapi di dalam hati kecilnya, ada yang berputar cepat. Logikanya bekerja. Jika ia bisa membantu memperbaiki satu cangkul, mungkin ia bisa memperbaiki yang lain. Jika Pak RT tertarik, mungkin orang lain juga akan tertarik. Dan jika orang lain tertarik...
“Han, makan malam,” panggil ibunya dari dalam.
Ia bergegas masuk. Malam itu, di meja makan sederhana dengan lauk seadanya, suasana terasa berbeda. Joko lebih banyak diam, tapi sesekali menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan sekadar bangga, tapi juga... khawatir.
“Han,” ucap Joko akhirnya, “kamu tahu, kadang orang di desa ini... kalau lihat sesuatu yang aneh, bisa macam-macam reaksinya.”
Reyhan mengangguk. “Saya tahu, Pa. Tapi saya hanya pakai apa yang saya lihat.”
Joko ingin menambahkan sesuatu, tapi tidak jadi. Malam semakin larut. Lampu minyak dipadamkan satu per satu. Desa kecil itu tertidur dalam sunyi.
***
Reyhan terbangun di tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena suara. Samar, seperti deru napas berat dari kejauhan. Ia duduk di balai-balai bambu tempatnya tidur. Jendela kamarnya menghadap ke utara—ke arah batas desa, di mana hutan mulai merambat mendekati ladang warga.
Bulan purnama malam itu cukup terang. Reyhan bisa melihat bayang-bayang pohon, semak-semak, dan... sesuatu yang lain.
Ia mengucek mata, mengira hanya kantuk yang membuatnya berhalusinasi. Tapi bayangan itu tidak hilang. Malah bergerak.
Di batas pagar desa—tumpukan batu dan kayu yang sengaja dipasang warga untuk menandai batas aman—sesosok bayangan besar berdiri. Ukurannya jauh melebihi anjing atau kambing. Empat kaki. Ekor panjang. Dan di atas pundaknya, dua titik merah samar memantulkan cahaya bulan.
Serigala.
Tapi bukan serigala biasa yang kadang terlihat di pinggir hutan. Yang ini... terlalu besar. Bahkan dari kejauhan, Reyhan bisa melihat ukurannya yang hampir setinggi bahu orang dewasa. Lehernya tebal. Gerakannya lambat, seperti sedang mengamati, mencari.
Reyhan menahan napas. Ia tidak berteriak. Tidak memanggil ayahnya. Matanya terpaku pada makhluk itu, sementara otaknya—yang selalu bekerja logis—mencoba mencari penjelasan. Mungkin ilusi cahaya. Mungkin sisa kabut. Mungkin...
Makhluk itu menoleh. Langsung ke arah jendela Reyhan.
Titik merah itu sekarang tidak lagi samar. Menyala jelas. Menatapnya.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti jam, Reyhan dan makhluk itu saling bertatapan. Lalu, dengan gerakan tenang tapi mengancam, serigala raksasa itu mundur selangkah demi selangkah, kembali ke dalam bayang-bayang hutan, sampai lenyap seolah tidak pernah ada.
Reyhan masih duduk di tempatnya. Napasnya baru keluar setelah sekian lama ia tahan. Jantungnya berdebar kencang. Ia menutup jendela perlahan, sangat pelan, takut suara sekecil apa pun akan memanggil kembali makhluk itu.
Di balik jendela yang tertutup, di tengah ruang gelap kamarnya, Reyhan baru menyadari satu hal.
Desa mereka tidak hanya lemah secara peralatan atau ekonomi.
Ada ancaman lain di luar sana. Ancaman yang selama ini hanya dianggap dongeng pengantar tidur.
Tapi malam ini, ia melihatnya dengan matanya sendiri.
Dan makhluk itu juga melihatnya.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
Post a Comment for "Enam Tahun yang Berbeda | Episode 5"