Kekuatan Logika | Episode 6

Besi dan kayu biasa, tapi hasilnya tidak biasa. Para tetangga mulai berbisik, bukan karena iri, tapi karena tidak percaya.

Matahari baru naik setinggi tombak ketika Reyhan sudah berada di ladang. Ia memegang cangkul hasil buatannya sendiri, merasakan tekstur gagang yang mulai hangat oleh genggaman. Ayahnya, Joko, berdiri di sampingnya dengan cangkul lain—cangkul lama yang sudah diperbaiki juga, tapi dengan model standar.

“Kamu yakin mau bantu?” tanya Joko ragu. “Ini kerja berat, Han.”

Reyhan mengangguk mantap. “Saya coba di lahan kecil dulu, Pa. Biar bisa bandingin.”

Joko menghela napas, tapi tidak melarang. Ia sudah belajar bahwa anaknya ini tidak seperti anak kebanyakan. Jika Reyhan bilang ingin mencoba, pasti ada alasan logis di baliknya.

Mereka mulai bekerja. Joko di lahan utama seluas sekitar dua puluh tumbak. Reyhan di lahan kecil di sampingnya yang biasa ditanami sayur, sekitar sepuluh tumbak. Tanah di sini sama—kering, sedikit liat, butuh tenaga ekstra untuk membaliknya.

Crak! Crak! Crak!

Suara cangkul membelah tanah mulai terdengar ritmis. Joko bekerja dengan gerakan biasa, seperti yang ia lakukan bertahun-tahun. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Reyhan.

Yang ia lihat membuatnya tertegun.

Reyhan tidak bekerja seperti anak kecil yang main-main. Gerakannya efisien. Cangkul diayunkan, mata besinya menusuk tanah dengan sudut yang tepat. Lalu, alih-alih mengangkat tanah terlalu tinggi seperti yang biasa dilakukan petani, Reyhan hanya memutar pergelangan tangannya, membalik tanah di tempat.

Hemat tenaga. Hemat waktu. Hasil sama.

Joko menggeleng tak percaya. Ia sudah puluhan tahun mencangkul, tapi tidak pernah berpikir soal sudut ayunan atau efisiensi gerakan. Yang ia tahu: cangkul diangkat tinggi, dihunjamkan keras, tanah diangkat lalu dibalik. Tapi anaknya... anaknya melakukan sesuatu yang berbeda.

Setengah jam berlalu. Reyhan berhenti sebentar, minum dari botol bambu yang dibawakan ibunya. Keringat membasahi keningnya, tapi matanya tetap fokus mengamati lahan yang sudah ia kerjakan.

“Han, istirahat dulu,” panggil Joko.

“Sebentar, Pa, mau selesaikan sampai batas pohon singkong itu.”

Joko melihat ke arah yang ditunjuk Reyhan. Batas pohon singkong itu sekitar... lima meter lagi. Ia beralih ke lahan Reyhan yang sudah dibajak. Matanya membelalak.

Lahan sepuluh tumbak itu sudah hampir setengahnya selesai. Dalam waktu setengah jam.

Sementara Joko sendiri, dengan lahan dua puluh tumbak, baru menyelesaikan sekitar seperdelapannya. Ia menghitung cepat. Jika Reyhan mempertahankan kecepatan ini, anaknya akan menyelesaikan sepuluh tumbak dalam waktu sekitar satu jam. Sedangkan ia butuh setidaknya tiga jam untuk dua puluh tumbak.

Efisiensi Reyhan hampir dua kali lipat.

“Pa, lihat ini,” Reyhan tiba-tiba sudah di sampingnya, menunjuk ke tanah yang baru ia cangkul. “Di sini banyak cacing. Tanahnya masih gembur meski kering. Kalau mau tanam kacang panjang atau terong, cocok.”

Joko hanya bisa mengangguk. Anaknya memperhatikan detail yang ia lewatkan. Bukan hanya cara mencangkul, tapi juga kualitas tanah. Ia merasa seperti petani amatir di depan anaknya sendiri.

***

Satu jam kemudian, Reyhan benar-benar menyelesaikan lahan sepuluh tumbaknya. Ia duduk di bawah pohon, minum, sambil mengamati ayahnya yang masih bekerja. Matanya memperhatikan setiap gerakan, mencari celah untuk efisiensi lebih lanjut.

Tapi fokusnya terganggu oleh suara bisik-bisik dari belakang.

Beberapa tetangga sudah berkumpul di batas ladang. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah Reyhan, lalu ke lahan yang sudah selesai. Wajah mereka campuran antara heran, tidak percaya, dan... sesuatu yang lain.

“Itu beneran anaknya Joko?”

“Masa kecil-kecil bisa cangkul seluas itu?”

“Coba lihat cangkulnya... kayaknya beda.”

Reyhan tidak ambil pusing. Ia berdiri dan berjalan ke arah ayahnya. “Pa, mau bantu?”

Joko menoleh, keringat membasahi seluruh wajahnya. “Kamu sudah istirahat? Jangan paksa diri.”

“Saya coba di lahan Pa sebentar. Biar lihat perbedaannya.”

Tanpa menunggu jawaban, Reyhan mengambil cangkul ayahnya—yang model standar—dan mulai mencangkul di lahan yang belum tersentuh. Beberapa ayunan, lalu ia berhenti. Mengamati. Lalu mencoba lagi dengan cangkulnya sendiri di dekat situ.

Joko mengamati dengan heran. Reyhan seperti sedang melakukan eksperimen. Membandingkan satu cangkul dengan cangkul lain. Membandingkan satu teknik dengan teknik lain.

“Pa, coba lihat ini,” Reyhan memanggil. “Cangkul Pa lebih berat. Mata cangkulnya lebih tebal, jadi lebih gampang masuk tanah liat. Tapi karena gagangnya lurus dan licin, tangan Pa cepat lelah. Gagang cangkul saya yang agak ramping di tengah itu biar otot tangan tidak tegang terus.”

Joko mendekat, benar-benar memperhatikan sekarang. “Jadi kalau gagangnya dibentuk kayak punyamu, bisa lebih cepat?”

“Bisa, Pa. Tapi bukan cuma gagang. Sudut ayunan juga. Kalau ayunannya terlalu tinggi, tenaga habis buat angkat cangkul, bukan buat belah tanah.”

Seseorang berdeham di belakang mereka.

Mereka menoleh. Pak Harto, Ketua RT, berdiri dengan tangan bersedekap. Di belakangnya, beberapa warga lain ikut mengintip.

“Joko, anakmu ini ngomong soal cangkul kayak dosen pertanian,” ucap Pak Harto setengah bercanda, tapi matanya serius menatap Reyhan. “Boleh saya lihat cangkulnya?”

Reyhan menyerahkan cangkulnya tanpa ragu. Pak Harto memegangnya, merasakan bobot, bentuk gagang, lalu mengayunkannya beberapa kali di tanah kosong.

“Ringan. Tapi kokoh. Siapa yang bikin gagangnya?”

“Saya, Pak,” jawab Reyhan lugas.

Sunyi. Para warga yang tadinya berbisik, kini diam seribu bahasa. Bocah six tahun membuat cangkul yang lebih baik dari cangkul buatan tukang kayu dewasa? Ini di luar nalar.

“Bisa buatin untuk saya?” tanya Pak Harto.

Reyhan menatap ayahnya sekilas. Joko mengangguk pelan, meski wajahnya tegang.

“Bisa, Pak. Tapi butuh waktu. Saya harus cari kayu yang pas, bukan asal kayu. Kalau kayu terlalu lunak, nanti cepat rapuh kena tanah dan air. Kalau terlalu keras, berat dan susah dibentuk.”

Pak Harto tertawa lebar. “Anak ini... Joko, anakmu ini lain. Awas kalau sampai tidak kamu sekolahkan tinggi.”

Joko hanya tersenyum kaku. Di dalam hatinya, rasa bangga bercampur dengan kekhawatiran yang semakin menjadi.

***

Sore harinya, Reyhan duduk di teras rumah, mengamati kayu-kayu bekas yang ia kumpulkan. Ia sedang memikirkan cangkul untuk Pak Harto. Tapi pikirannya terganggu oleh kehadiran seseorang di balik semak-semak dekat pagar.

Bukan warga biasa yang lewat. Orang itu bersembunyi. Mengamati.

Reyhan tidak panik. Ia pura-pura tidak melihat, tapi matanya mengamati dari sudut. Siapa itu? Dan mengapa bersembunyi?

Beberapa saat kemudian, orang itu pergi. Tapi Reyhan cukup melihat ciri-cirinya: tubuh kurus, baju lusuh, topi lusuh. Ia mengenali orang itu. Pak Darmo. Tetangga yang tinggal di ujung desa, dekat batas hutan. Orangnya pendiam, jarang bergaul, dan punya ladang yang selalu gagal panen.

Malam harinya, saat makan malam, Reyhan cerita pada ayahnya.

“Pak Darmo?” Joko mengerutkan kening. “Ngapain dia mengintip?”

“Entah, Pa. Tapi saya lihat dia perhatikan cara saya pegang cangkul. Mungkin dia mau lihat cara bikin gagangnya.”

Wati yang mendengar, ikut angkat bicara. “Pak Darmo itu... istrinya sering pinjam beras ke saya. Ladangnya selalu kering, tidak pernah panen baik. Mungkin dia putus asa.”

Joko diam lama. Lalu menatap Reyhan dengan tatapan yang lebih serius dari biasanya.

“Han, Pa harus bilang sesuatu.”

Reyhan memandang ayahnya, siap mendengar.

“Kamu ini... pintar. Lebih pintar dari anak seusiamu. Mungkin lebih pintar dari orang dewasa di desa ini. Itu bagus, Nak. Tapi... kadang di desa, kalau ada yang terlalu menonjol, bisa timbul masalah.”

“Masalah apa, Pa?”

Joko menghela napas berat. “Iri hati. Fitnah. Orang bisa berpikir kamu punya ilmu hitam, punya pesugihan, apa saja. Mereka tidak paham cara kerjamu, jadi mereka cari penjelasan yang gampang—penjelasan mistis.”

Reyhan diam meresapi. Logikanya mencerna informasi ini. Di dunia yang ia pahami, setiap akibat punya sebab. Tapi ia juga sadar, tidak semua orang berpikir seperti itu. Ketakutan dan ketidaktahuan bisa membuat orang percaya hal-hal irasional.

“Saya hati-hati, Pa.”

Joko mengangguk, meski raut wajahnya tidak sepenuhnya tenang. “Pak Harto melindungi kita untuk sekarang. Tapi Pak Harto juga punya kepentingan sendiri. Ingat itu, Han.”

Malam semakin larut. Lampu minyak padam. Desa tertidur.

***

Tengah malam. Reyhan terbangun oleh suara ramai dari arah timur desa. Bukan suara pesta atau keramaian biasa. Ini suara teriak, panik, dan ringkik hewan ketakutan.

Joko sudah bangun lebih dulu. Ia meraih golok di dinding. “Han, di sini sama ibumu. Jangan keluar.”

Tapi Reyhan tidak bisa diam. Ia mengintip dari jendela—jendela yang sama di mana ia melihat makhluk itu dua malam lalu.

Dari kejauhan, di ujung desa dekat kandang milik Pak Lurah, obor menyala di mana-mana. Orang-orang berlarian. Suara tangis terdengar samar.

Lalu, teriakan yang membuat bulu kuduk merinding.

“SERIGALA! SERIGALA MASUK KANDANG!”

Joko yang baru saja hendak keluar, berhenti di pintu. Wajahnya pucat. “Serigala? Di dalam desa?”

Reyhan tidak bisa diam. “Pa, saya ikut.”

“Jangan!”

“Tapi Pa—”

“JANGAN!” bentak Joko keras. Lalu nada suaranya melembut. “Ayah pergi dulu. Kamu jaga ibu.”

Reyhan menurut, meski hatinya tidak rela. Ia kembali ke jendela, mengintip ke arah keramaian. Obor-obor bergerak tak menentu. Teriakan semakin keras. Dan di sela-sela itu, samar-samar, ia mendengar suara geraman yang dalam—mirip dengan yang ia dengar dua malam lalu.

Setengah jam kemudian, keramaian mulai mereda. Obor-obor mulai kembali ke rumah masing-masing, tapi tidak dengan suasana. Suasana mencekam menyelimuti desa.

Joko pulang dengan wajah tegang. Di tangannya, golok masih digenggam erat. Ada percikan darah di ujungnya—darah hitam, bukan darah manusia.

“Kambing Pak Lurah mati,” lapornya singkat. “Lehernya putus. Yang lain luka-luka. Warga berhasil mengusir serigala itu, tapi...”

“Tapi?” desak Wati.

Joko duduk lemas. “Bukan serigala biasa, Bu. Warga yang melihat bilang... ukurannya sebesar anak sapi. Matanya merah menyala. Larinya cepat sekali, tidak seperti hewan biasa.”

Reyhan mendengar dengan jantung berdebar. Ia tidak bilang pada ayahnya bahwa ia sudah melihat makhluk itu dua malam lalu, tepat di batas desa.

“Besok, Pak RT kumpulkan warga,” lanjut Joko. “Kita harus perkuat pagar desa. Kalau makhluk itu masuk lagi dan menyerang anak-anak...”

Tidak perlu melanjutkan. Semua mengerti bahayanya.

Malam itu, Reyhan tidak bisa tidur. Ia berbaring di balai-balai, memikirkan apa yang ia lihat. Makhluk itu nyata. Bukan halusinasi, bukan ilusi. Nyata. Dan ia sudah menatap mata makhluk itu.

Tapi pikirannya juga bekerja ke arah lain. Pagar desa. Pertahanan. Bagaimana cara memperkuat pagar dengan sumber daya yang ada? Kayu bekas, bambu, tali ijuk, tenaga warga yang terbatas.

Di tengah mencekamnya ancaman, logikanya tetap menyala.

Jika desa ingin bertahan, butuh lebih dari sekadar pagar kayu biasa.

Dan mungkin... mungkin ia bisa membantu.

***

Keesokan paginya, saat warga masih sibuk membicarakan serangan semalam, Reyhan sudah berada di ladang. Bukan untuk mencangkul, tapi untuk mengamati. Ia berjalan di sepanjang batas desa, memperhatikan struktur pagar yang ada.

Pagar desa bukan pagar dalam arti sebenarnya. Hanya tumpukan kayu dan bambu setinggi dada orang dewasa, ditanam rapuh di tanah. Beberapa bagian sudah lapuk. Banyak celah. Dan tidak ada sistem peringatan dini.

Reyhan menggeleng pelan. Pagar ini tidak akan mampu menahan serigala raksasa itu. Apalagi jika makhluk itu datang bersama yang lain.

“Ngapain kamu di sini?”

Reyhan menoleh. Pak Darmo berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya cemberut, tapi matanya penasaran—terutama melihat ke arah cangkul yang Reyhan bawa.

“Lihat-lihat, Pak. Pagarnya rusak di banyak tempat.”

Pak Darmo mendengus. “Emang kamu bisa benerin pagar juga? Kayak benerin cangkul?”

Sindiran. Tapi Reyhan tidak tersinggung. Ia justru melihat celah.

“Mungkin. Tapi butuh banyak orang. Saya cuma anak kecil.”

Pak Darmo tertawa getir. “Anak kecil yang bikin cangkul lebih bagus dari tukang kayu. Anak kecil yang bisa cangkul dua kali lebih cepat dari bapaknya. Jangan rendah diri, Nak. Kamu punya sesuatu yang kita semua tidak punya.”

Reyhan menatap Pak Darmo. “Apa itu, Pak?”

“Kamu mikir sebelum kerja. Kita cuma kerja tanpa mikir. Itu bedanya.”

Pak Darmo berbalik pergi, meninggalkan Reyhan dengan pemikiran baru.

Di batas desa yang rapuh itu, dengan bayangan hutan di kejauhan, Reyhan menyadari sesuatu.

Ancaman sudah di depan mata. Waktu mereka tidak banyak.

Dan mungkin... hanya logikanya yang bisa menyelamatkan desa ini.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
  • Buy Me Coffee
  • Post a Comment for "Kekuatan Logika | Episode 6"