Rapat Darurat | Episode 7
Seharusnya dia tidur, bukan duduk di antara para lelaki dewasa yang memegang golok.
Lampu teplok berpendar di ruang tengah rumah Pak Harto, menerangi wajah-wajah tegang para warga yang berkumpul. Asap tembakau mengepul dari beberapa pipa, bercampur dengan bau keringat dan kekhawatiran. Malam itu, semua lelaki desa dipanggil. Tak terkecuali Joko. Dan Joko, entah mengapa, membawa Reyhan.
"Dia masih kecil, Joko," tegur Pak Karim, salah satu warga tertua. "Ini urusan orang dewasa."
Joko menatap Pak Karim dengan pandangan tak biasa—lebih berani dari biasanya. "Dia yang lihat pagar desa lebih teliti dari saya, Pak. Dia yang bikin cangkul sampai Pak RT minta dibuatkan. Saya pikir dia pantas dengar."
Pak Harto, yang duduk di kursi paling depan, mengangguk pelan. "Biarkan dia diam di pojok. Tidak ada salahnya."
Reyhan duduk di sudut ruangan, bersandar pada dinding anyaman bambu. Matanya bergerak pelan, mengamati setiap wajah, setiap ekspresi. Ia sedang mempelajari—bukan hanya masalah pagar, tapi juga dinamika orang-orang dewasa ini. Siapa yang disegani, siapa yang hanya ikut-ikutan, siapa yang menyimpan ketidakpuasan.
Pak Harto mengangkat tangan, meminta semua diam. "Kita semua tahu kenapa berkumpul malam ini. Serigala itu sudah masuk desa. Satu kambing mati. Dua lainnya luka parah. Malam ini kita bicarakan bagaimana cara mengamankan desa."
"Perkuat pagar!" teriak seseorang dari belakang.
"Perkuat pakai apa? Kayu kita habis buat bangun rumah Pak Lurah kemarin," sahut yang lain.
"Kita bisa ambil dari hutan."
"Berani masuk hutan malam-malam? Mau dimakan serigala?"
Suasana mulai gaduh. Setiap orang punya pendapat, tapi tak ada yang mengarah pada solusi nyata.
Pak Harto memukul meja. "DIAM!"
Semua hening.
"Kita butuh rencana, bukan teriak-teriak. Siapa yang punya usulan konkret?"
Sunyi. Para lelaki dewasa itu saling pandang, tapi tak ada yang bicara. Yang bisa mereka pikirkan hanya memperkuat pagar, tapi bagaimana caranya dengan sumber daya terbatas, tak ada yang tahu.
Reyhan merasa dadanya berdebar. Ia tahu sesuatu. Ia sudah mengamati pagar seharian. Tapi akankah mereka mendengar anak kecil?
Joko menoleh ke arahnya. Memberi kode dengan mata. "Kalau kamu punya pikiran, sampaikan," bisiknya nyaris tanpa suara.
Reyhan menarik napas dalam. Lalu, dengan suara pelan tapi jelas, ia berkata, "Pagar kita rapuh bukan karena kayunya jelek."
Semua kepala menoleh ke pojok ruangan. Ke bocah six tahun yang tiba-tiba bicara.
Pak Karim menyipitkan mata. "Apa katanya?"
Reyhan berdiri. Tubuh kecilnya nyaris tak terlihat di antara para lelaki dewasa yang duduk, tapi matanya... matanya membuat beberapa orang bergidik. Terlalu tajam untuk anak seusianya.
"Pagar kita, bagian bawahnya hanya ditancap ke tanah. Kalau didorong kuat, pasti rubuh. Serigala itu besar, pasti bisa dorong. Terus, celah antar kayu terlalu lebar. Hewan sebesar itu mungkin tidak bisa lewat, tapi moncongnya bisa masuk. Cukup untuk gigit leher kambing di balik pagar."
Diam. Beberapa warga membuka mulut, tapi tak ada suara keluar.
Pak Karim mendengus. "Omong kosong. Anak kecil tahu apa soal serigala?"
"Saya lihat langsung, Pak," balas Reyhan tenang. "Dua malam lalu, dari jendela kamar. Matanya merah, ukurannya hampir setinggi bahu orang dewasa. Bulunya abu-abu gelap, dengan garis hitam di punggung."
Beberapa warga terkesiap. Deskripsi itu persis seperti yang dikatakan saksi mata semalam.
Pak Harto menatap Reyhan dengan pandangan baru. "Kamu lihat dari jendela? Kenapa tidak lapor?"
"Saya pikir mungkin hanya bayangan. Tapi setelah semalam, saya tahu itu bukan bayangan."
Seorang warga bertubuh besar berdiri. "Sudahlah, kita tak perlu dengar cerita anak kecil. Yang penting kita perkuat pagar dengan kayu dobel. Selesai masalah."
"Kayu dobel tapi cara tanamnya sama, tetap roboh kalau didorong," balas Reyhan cepat. "Dan kita tak punya cukup kayu buat dobel semua sisi desa."
Warga itu melongo. Tersudut oleh bocah enam tahun.
Pak Darmo, yang sedari tadi diam di pojok, tiba-tiba tertawa kecil. "Nah, kena kau, Jenggo. Dikoreksi bocah."
Jenggo merah padam mukanya. "Kurang ajar! Kau diam, Darmo! Dan kau, bocah, jangan sok tahu urusan orang dewasa!"
"Sudah!" bentak Pak Harto. Ia menatap Reyhan. "Kau bilang pagar kita rapuh karena cara tanamnya. Lalu menurutmu, bagaimana cara yang benar?"
Reyhan tidak langsung jawab. Ia meminta izin mendekat, lalu mengambil arang dari dekat tungku. Di lantai papan rumah Pak Harto, ia mulai menggambar.
"Ini pagar kita sekarang," ujarnya sambil menggambar garis-garis. "Kayu ditancap vertikal, jarak antar kayu selebar kepala orang dewasa. Bagian bawah hanya masuk tanah sedalam satu jengkal. Kalau didorong di sini..." ia menunjuk titik tengah, "...maka bagian bawah akan terangkat karena jadi titik tumpu."
Para warga mendekat, tak percaya bocah ini menggambar dan menjelaskan seperti insinyur.
Reyhan lanjut menggambar. "Ini usulan saya. Kita buat pagar dengan kayu vertikal seperti biasa, tapi kita tambahkan kayu horizontal di bagian bawah dan tengah. Kayu horizontal ini kita ikat kuat ke kayu vertikal dengan tali ijuk yang dililit silang."
"Lalu?" desak Pak Harto.
"Lalu, kayu vertikalnya jangan cuma ditancap. Kita gali lubang sedalam setengah meter, masukkan kayu, lalu timbun dengan batu dan tanah yang dipadatkan. Batu bisa ambil dari sungai. Gratis. Dengan cara ini, pagar tidak bisa didorong rubuh karena bagian bawahnya terkunci di tanah."
Jenggo menyela, "Omong gampang. Gali lubang setengah meter? Satu lubang butuh waktu satu jam. Pagar desa butuh ratusan lubang. Mau sampai kapan?"
Reyhan sudah siap dengan jawaban. "Kita tidak perlu gali semua sekaligus. Prioritas dulu sisi desa yang paling dekat dengan hutan, yaitu arah utara dan timur. Itu sekitar seperempat dari total pagar. Kita kerjakan gotong royong, besok mulai pagi, target selesai tiga hari. Sambil nanti dilanjutkan sisi lainnya."
Pak Karim menggeleng. "Terlalu rumit. Mending kita pasang perangkap jebak di luar pagar."
Reyhan menatap Pak Karim. "Iya, Pak. Kita juga perlu jebakan. Tapi jebakan yang efektif, bukan lubang jebak biasa."
Ia menggambar lagi. Kali ini bentuk yang lebih rumit.
"Ini jebakan. Kita gali lubang di luar pagar, dalamnya dua meter. Di dasar lubang, kita tanam bambu yang diruncingkan, pangkalnya di bawah, ujungnya mengarah ke atas. Lalu lubang kita tutup dengan ranting dan daun kering. Kalau serigala itu lari ke arah pagar dan tidak lihat lubang, ia akan jatuh dan tertusuk bambu."
Diam. Kali ini diam yang berbeda. Bukan karena meremehkan, tapi karena mencerna.
Pak Darmo bersiul pelan. "Anak ini... pikirannya seperti panglima perang."
Jenggo masih belum puas. "Itu cuma gambar di lantai. Belum tentu bisa di lapangan."
Reyhan mengangguk. "Memang, Pak. Itu sebabnya saya minta dicoba dulu. Buat satu bagian pagar sepanjang sepuluh meter dengan cara ini. Uji coba. Kalau berhasil, baru lanjut. Kalau gagal, kita cari cara lain."
Pak Harto mengangkat tangan. "Cukup. Saya dengar semua usulan."
Ia bangkit dari kursinya. Berjalan pelan ke arah Reyhan, menatap gambar-gambar di lantai dengan saksama. Lalu, ia menatap warga satu per satu.
"Kita sudah rapat satu jam. Satu jam hanya berdebat tanpa arah. Lalu bocah enam tahun ini datang, memberi kita gambar dan langkah konkret dalam lima menit." Ia menghela napas. "Saya malu. Kalian harus malu. Saya malu."
Sunyi. Tak ada yang berani bersuara.
"Pak Harto," suara Pak Karim lirih, "masa kita mau nurut anak kecil?"
Pak Harto menatap tajam. "Kita bukan nurut anak kecil. Kita nurut akal sehat. Dan malam ini, hanya anak kecil ini yang punya akal sehat. Yang lain cuma bisa ribut."
Ia berbalik ke Reyhan. "Nak, kau yakin ini bisa?"
Reyhan berpikir sejenak. Bukan untuk meyakinkan orang lain, tapi untuk meyakinkan dirinya sendiri. Logikanya bekerja: pagar dengan pondasi lebih kokoh pasti lebih kuat dari pagar tanpa pondasi. Jebakan dengan bambu runcing pasti bisa melukai hewan yang jatuh. Itu fisika sederhana.
"Yakin, Pak. Tapi saya butuh bantuan. Saya tidak bisa gali lubang sendiri. Saya hanya bisa gambar dan arahkan."
Pak Harto tertawa kecil. "Kau gambar, kita yang gali. Kesepakatan?"
Reyhan mengangguk.
"Tapi ingat," lanjut Pak Harto, "kalau ini gagal, kau yang akan disalahkan. Bukan saya, bukan bapakmu. Kau sendiri. Berani?"
Joko bangkit, hendak membela anaknya. Tapi Reyhan lebih dulu bicara.
"Saya berani, Pak. Karena kalau gagal, desa ini yang rugi. Saya juga rugi. Rumah saya juga di sini."
Jawaban itu membuat beberapa warga terperangah. Bocah ini bicara seperti orang yang sudah puluhan tahun hidup di desa, memahami arti kebersamaan dan tanggung jawab.
Pak Harto mengangguk puas. "Baik. Besok pagi, kita kumpul di batas utara. Bawa cangkul, bawa golok, bawa tali. Dan kau, Nak..." ia menunjuk Reyhan, "bawa gambar yang lebih jelas. Gambar di tanah nanti hilang diinjak."
Reyhan tersenyum tipis. "Siap, Pak."
***
Rapat bubar pukul sepuluh malam. Warga keluar satu per satu dengan perasaan campur aduk. Ada yang kagum, ada yang skeptis, ada yang iri. Jenggo keluar dengan muka cemberut, melewati Reyhan tanpa menatap.
Di perjalanan pulang, Joko menggandeng tangan Reyhan. Langkahnya lambat, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Han, Pa bangga sama kamu," ucapnya pelan. "Tapi Pa juga takut."
"Takut kenapa, Pa?"
"Kamu dengar tadi kata Pak Harto. Kalau gagal, kamu yang disalahkan. Bukan main-main kalau warga desa sudah punya target siapa yang harus disalahkan. Bisa runyam."
Reyhan diam sejenak. "Tapi kalau berhasil, Pa, desa jadi aman. Semua selamat."
Joko menghela napas. "Iya. Tapi orang lebih mudah ingat kegagalan daripada keberhasilan. Ingat itu."
Mereka tiba di rumah. Wati sudah menunggu dengan wajah cemas. Begitu melihat mereka, ia langsung bertanya, "Bagaimana? Kok lama?"
Joko menceritakan semuanya. Wati mendengar dengan saksama, lalu menatap Reyhan dengan tatapan yang sama—bangga bercampur khawatir.
"Kamu ini... mau jadi apa ya, Nak?" bisiknya sambil mengusap kepala Reyhan.
Reyhan hanya tersenyum. Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ada masalah di depan mata yang harus diselesaikan. Dan ia punya cara untuk menyelesaikannya.
***
Malam semakin larut. Reyhan duduk di teras, ditemani lampu teplok. Di pangkuannya, selembar kertas bekas bungkus gula—satu-satunya kertas yang ada di rumah. Dengan arang yang ia runcingkan, ia mulai menggambar.
Bukan sekadar gambar. Ini desain. Desain pagar dengan ukuran proporsional. Desain lubang pondasi. Desain jebakan dengan perhitungan kedalaman dan sudut bambu.
Ia bekerja seperti arsitek sungguhan. Tangannya kecil, tapi coretannya presisi. Otaknya menghitung: tinggi pagar ideal, jarak antar tiang, ketebalan kayu yang dibutuhkan.
Di tengah kesibukannya, ia mendengar suara samar dari kejauhan.
Auuummmm....
Reyhan menghentikan gerakan tangannya. Mendengarkan. Suara itu datang dari arah hutan. Dalam. Berat. Bukan lolongan serigala biasa. Ini seperti... panggilan.
Ia menoleh ke arah utara. Di batas desa, di mana besok mereka akan mulai bekerja, kegelapan pekat menyelimuti. Tapi di dalam kegelapan itu, ia tahu, ada mata-mata merah yang mengamati.
Makhluk itu tahu mereka akan membangun pagar.
Pertanyaannya, apakah makhluk itu akan diam saja?
Reyhan kembali ke gambarnya, kali ini dengan tempo lebih cepat. Waktu tidak banyak. Ancaman semakin dekat. Dan besok, untuk pertama kalinya, ia akan memimpin—bukan sebagai anak kecil, tapi sebagai perancang pertahanan desa.
Di kertas itu, ia menambahkan satu catatan kecil di sudut:
"Buat pos jaga di dekat pagar. Dua orang berjaga setiap malam, bawa kentongan dan api. Kalau serigala datang, bunyi kentongan dan obor dilempar."
Ia tahu ini belum cukup. Tapi ini awal. Dan awal harus dimulai dari suatu tempat.
Reyhan meregangkan tangannya yang kapalan. Besok, tangan ini akan memegang arang lagi, bukan untuk menggambar di kertas, tapi untuk menggambar di tanah—menandai di mana tiang harus ditanam, di mana lubang jebak harus digali.
Untuk pertama kalinya, desa ini punya rencana.
Dan rencana itu datang dari seorang bocah enam tahun.
***
Mentari pagi menyinari batas utara desa. Dua belas orang berkumpul dengan alat masing-masing. Pak Harto ada di depan. Joko di sampingnya. Dan di tengah-tengah mereka, Reyhan berdiri dengan selembar kertas di tangan.
"Baik," ucap Pak Harto lantang. "Kita mulai. Reyhan, tunjukkan di mana pertama kita gali."
Reyhan melangkah maju. Tubuh mungilnya berjalan tegap ke titik yang sudah ia tandai dalam gambar. Ia berhenti, lalu menunjuk ke tanah.
"Di sini, Pak. Gali lubang selebar dua cangkul, dalamnya sampai dada orang dewasa. Nanti saya ukur pakai tongkat."
Para warga saling pandang. Tapi Pak Harto mengangguk.
"Kau dengar? Mulai dari sini! Ayo kerja!"
Cangkul pertama menghunjam tanah. Dan untuk pertama kalinya, desa kecil itu bekerja berdasarkan arahan seorang anak.
Di batas hutan, di balik semak-semak, sepasang mata merah mengamati dari kejauhan. Makhluk itu menatap kerumunan manusia yang mulai menggali. Lalu, perlahan, ia mundur ke dalam hutan.
Bukan karena takut.
Tapi karena sedang mengamati.
Menyusun rencana.
Dan menunggu waktu yang tepat.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
Post a Comment for "Rapat Darurat | Episode 7"