Desain Pertama | Episode 8
Paku demi paku ditancapkan. Setiap benturan palu adalah jawaban desa atas ketakutan malam.
Lima hari sudah berlalu sejak rapat darurat. Lima hari sejak Reyhan menunjukkan gambar di lantai rumah Pak Harto. Dan sekarang, di batas utara desa, pagar baru mulai menjulang—tidak tinggi, tapi kokoh. Berbeda dari apa pun yang pernah dibangun warga sebelumnya.
"Reyhan! Ke sini sebentar!"
Suara Pak Darmo memanggil dari ujung baris pagar. Reyhan berlari kecil mendekat, kertas gambarnya tergulung di ketiak. Bocah itu kini selalu membawa gulungan kertas—bekas bungkus semen dari toko Pak Harto—berisi sketsa-sketsa yang terus ia perbaiki setiap malam.
"Ini kok longgar?" tanya Pak Darmo sambil memegang sambungan antara tiang utama dan palang horizontal.
Reyhan mengamati. Jari mungilnya meraba sambungan yang diikat tali ijuk. "Bukan longgar, Pak. Memang sengaja tidak terlalu kencang."
Pak Darmo mengernyit. "Sengaja? Biar mudah rubuh?"
Reyhan menggeleng. Ia mengambil sebatang ranting, lalu mulai menjelaskan di tanah seperti yang biasa ia lakukan. "Ini prinsip pegas, Pak. Kalau sambungan terlalu kencang dan kaku, ketika ada benturan keras, kayunya bisa patah. Tapi kalau sedikit longgar, ikatan ijuknya akan menyerap benturan, lalu kembali ke bentuk semula."
Pak Darmo memicing. "Pegas? Maksudmu seperti busur panah?"
"Kurang lebih begitu, Pak. Coba lihat ini."
Reyhan menarik salah satu palang horizontal, memberinya tekanan. Ijuknya mengencang, lalu ketika dilepas, kembali ke posisi semula. "Kalau serigala tabrak, pagar akan 'makan' benturannya, lalu memantul balik. Hewan itu yang akan terpental, bukan pagarnya yang rubuh."
Beberapa warga yang bekerja di dekatnya berhenti, mendengarkan penjelasan Reyhan. Mereka sudah tidak lagi heran. Lima hari ini mereka belajar bahwa bocah ini selalu punya alasan logis untuk setiap detail kecil.
"Bagian atas kenapa dibuat runcing miring ke luar?" tyang warga lain.
Reyhan menunjuk ke atas pagar. Di sana, kayu-kayu vertikal dipotong runcing dengan kemiringan keluar desa. "Itu untuk mencegah mereka memanjat. Kalau lurus ke atas, mereka bisa loncat sambil cengkeram. Tapi kalau runcing dan miring, susah dapat pegangan. Dan kalau mereka tetap paksa, perutnya yang kena ujung runcing."
"Lalu lubang-lubang kecil ini?" Pak Darmo menunjuk deretan lubang seukuran kepalan tangan di beberapa titik pagar.
"Itu untuk observasi, Pak. Kalau malam, kita bisa intip ke luar tanpa perlu buka pintu. Kalau lihat bahaya, kita siap-siap. Juga bisa buat menusuk tombak kalau serigala sudah di depan pagar."
Pak Harto yang sejak tadi diam di belakang, akhirnya angkat bicara. "Kau pikirkan semua ini dari mana, Han?"
Reyhan menoleh. "Saya lihat gambar benteng di buku bekas, Pak. Dulu Mbak Rina pernah pinjamkan buku cerita bergambar. Ada benteng kuno dengan pagar runcing. Saya coba ingat-ingat dan sesuaikan dengan kayu yang kita punya."
Mbak Rina, guru SD satu-satunya di desa, memang sering meminjamkan buku-buku bekas pada anak-anak. Tapi tidak ada anak lain yang melihat buku lalu bisa merancang pagar pertahanan dari ingatan samar-samar.
Pak Harto menggeleng takjub. "Lanjutkan. Aku mau pagar ini selesai sebelum minggu depan."
***
Hari keenam. Pagar utara sudah mencapai 70 persen. Sekarang giliran pagar timur yang mulai dikerjakan. Tapi yang membuat semua orang tercengang adalah sistem kerja yang Reyhan usulkan—dan ternyata berhasil.
"Pokoknya gini," ucap Reyhan saat pagi hari, memegang daftar di kertasnya. "Kita bagi tiga kelompok. Kelompok A tugasnya gali lubang dan tanam tiang. Kelompok B potong dan serut kayu. Kelompok C urus ikatan dan sambungan."
Seorang warga bertanya, "Kenapa ribet? Kerja biasa aja, gotong royong kayak dulu."
"Karena kalau semua orang kerja semua bagian, kita malah lambat," jelas Reyhan sabar. "Yang jago gali, gali terus. Yang jago potong, potong terus. Yang jago ikat, ikat terus. Masing-masing jadi ahli di tugasnya, hasilnya lebih cepat."
Pak Darmo mengangkat tangan. "Aku di kelompok potong. Aku suka bagian itu."
Jenggo, yang sejak rapat dulu masih cemberutan, tiba-tiba berkata, "Kalau aku di kelompok ikat. Tanganku kuat."
Reyhan menatap Jenggo sedikit heran. Ini pertama kalinya Jenggo menawarkan diri tanpa menyindir. "Baik, Pak Jenggo di kelompok C. Nanti saya ajarkan cara ikat silang yang kuat."
Jenggo hanya mengangguk, wajahnya masih cemberut, tapi matanya menunjukkan ketertarikan.
Pembagian tugas itu berjalan. Hari pertama memang kacau—orang-orang masih bingung dengan peran masing-masing. Tapi hari kedua, ritme mulai terbentuk. Hari ketiga, kelompok A sudah hafal kedalaman lubang tanpa perlu diukur ulang. Kelompok B bisa menyerut kayu dengan ukuran standar tanpa perlu contoh. Kelompok C, di bawah arahan langsung Reyhan, mulai menguasai teknik ikatan silang yang kuat tapi fleksibel.
Malam harinya, Pak Harto menghitung progres. Matanya membelalak.
"Dengan cara biasa, kita butuh dua minggu buat pagar sepanjang ini," gumamnya pada Joko. "Tapi dengan sistem anakmu... enam hari sudah 70 persen."
Joko tersenyum tipis, tak tahu harus bangga atau khawatir.
***
Malam ketujuh. Bulan sabit menggantung rendah. Pagar utara hampir rampung—hanya menyisakan bagian pintu gerbang yang masih dalam pengerjaan. Reyhan duduk di teras rumah, menggambar desain pintu yang bisa dibuka tutup tapi tetap kuat.
Di kejauhan, hutan hitam pekat. Tak ada suara. Terlalu sunyi.
Reyhan menghentikan tangannya. Ia menoleh ke utara. Bulu kuduknya meremang.
"Pa," panggilnya pelan.
Joko yang sedang menganyam bambu di sampingnya, menoleh. "Ada apa?"
"Hari ini terlalu sunyi. Biasanya malam-malam begini ada jangkrik, ada kodok. Sekarang tidak ada."
Joko ikut merasakan. Suasana memang berbeda. Udara terasa berat, seperti sebelum hujan turun, tapi langit cerah.
"Mungkin karena pagar baru, hewan-hewan jadi takut?" Joko mencoba menenangkan, juga dirinya sendiri.
Reyhan tidak menjawab. Ia hanya terus menatap ke utara, ke batas desa di mana pagar baru berdiri.
***
Tengah malam. Suara keras mengagetkan seluruh desa.
BRAKK!
Reyhan melompat dari balai-balai. Joko sudah meraih golok. Wati menggendong adik Reyhan yang menangis ketakutan.
"Diam di sini!" perintah Joko sebelum berlari keluar.
Tapi Reyhan tidak bisa diam. Ia mengintip dari jendela—jendela yang sama di mana ia melihat makhluk itu pertama kali. Dari arah utara, obor-obor mulai menyala. Teriakan-teriakan terdengar, kali ini bukan panik, tapi... keheranan?
"Kena! Kena jebakannya!"
"Serigalanya kena!"
Reyhan tak bisa menahan diri. Ia keluar rumah, berlari sekencang kaki kecilnya bisa melangkah. Ia harus melihat.
Di batas utara, puluhan warga sudah berkumpul dengan obor dan senjata seadanya. Mereka berdiri di belakang pagar baru, menunjuk ke luar. Reyhan menyelip di antara mereka, mencapai pagar, dan mengintip lewat lubang observasi.
Jantungnya berhenti sejenak.
Di luar pagar, sekitar sepuluh meter dari jebakan pertama, seekor serigala raksasa tergeletak menggeliat. Ukurannya seperti yang ia lihat malam itu—sebesar anak sapi, bulu abu-abu gelap dengan garis hitam di punggung. Kini tubuhnya tertusuk tiga batang bambu runcing yang muncul dari dasar lubang jebak.
Darah hitam menggenang di sekitar lubang. Hewan itu merintih, suaranya dalam dan berat, berbeda dari serigala biasa. Matanya yang merah menyala menatap ke arah pagar—menatap ke arah manusia yang telah melukainya.
"TUSUK! TUSUK SEKARANG!" teriak seseorang.
Beberapa warga bersiap membuka pintu pagar.
"JANGAN!" teriak Reyhan sekeras-kerasnya.
Semua menoleh.
"Jangan buka pagar!" ulang Reyhan, napasnya tersengal. "Itu masih bisa menyerang! Kalau kita keluar, dia akan... dia akan..."
Belum sempat Reyhan menyelesaikan kalimat, serigala itu melolong.
Auuuummmmm....
Lolongan itu berbeda. Bukan lolongan kesakitan biasa. Ini panjang, dalam, bergema ke seluruh penjuru hutan. Getarannya terasa hingga ke tulang. Reyhan merasakan dadanya bergetar.
Lolongan itu berhenti. Serigala itu terkulai lemas—mati atau pingsan, tak ada yang tahu. Tapi yang jelas, lolongan itu sudah terkirim.
Dari dalam hutan, dari kejauhan yang tak terlihat, terdengar balasan.
Auuuummmm....
Bukan satu. Banyak.
Reyhan menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga, empat... setidaknya lima suara berbeda dari berbagai arah.
Pak Harto memucat. "Dia... dia panggil kawanannya."
Para warga mulai panik. Beberapa mundur dari pagar. Yang lain menggenggam senjata erat-erat.
"Tahan! Jangan panik!" teriak Pak Harto. "Mereka belum datang! Kita punya pagar! Kita punya jebakan!"
Tapi suaranya nyaris tenggelam oleh lolongan yang semakin lama semakin dekat.
Reyhan memaksakan diri berpikir di tengah ketakutan. Logikanya bekerja: serigala ini terluka parah. Kawanannya akan datang. Mereka mungkin akan menyerang bersama-sama. Pagar baru harus diuji malam ini juga.
"Pak Harto!" panggilnya. "Api! Kita perlu lebih banyak api di sepanjang pagar! Mereka takut api!"
"Benar! Cari kayu bakar! Nyalakan obor!" perintah Pak Harto.
Warga bergerak cepat. Reyhan berlari ke posko darurat di dekat pagar—sebuah gubuk kecil tempat menyimpan peralatan. Di sana ada minyak tanah, kain bekas, korek api. Ia mulai merakit obor cadangan secepat mungkin.
Tapi di tengah kesibukan, ia mendengar sesuatu.
Suara napas berat. Bukan dari dalam desa. Dari luar pagar.
Reyhan menoleh ke arah pagar. Di balik kayu-kayu runcing, di batas cahaya obor, ia melihat bayangan-bayangan bergerak. Mata-mata merah berkilauan dalam gelap. Banyak. Setidaknya delapan pasang.
Kawanan itu sudah tiba.
"MEREKA DATANG!" teriak pos jaga.
Reyhan merasakan jantungnya berdebar kencang. Tangan kecilnya menggenggam obor yang baru ia buat. Ini pertama kalinya ia menghadapi ancaman nyata—bukan gambar, bukan rencana, tapi makhluk buas yang siap menyerang.
***
Serangan pertama datang tak lama setelah itu.
Seekor serigala—sedikit lebih kecil dari yang pertama, tapi tetap mengerikan—melompat ke arah pagar. Tubuhnya membentur kayu dengan keras. Pagar bergoyang, ikatan ijuk mengencang, lalu—seperti yang dijelaskan Reyhan—memantul balik. Serigala itu terpental, jatuh ke tanah.
Tapi segera bangkit dan menyerang lagi.
Yang lain menyerang dari sisi berbeda. Mereka tidak bodoh. Mereka mencari titik lemah.
"JEBUR!" Suara keras dari luar. Seekor serigala jatuh ke jebakan kedua. Bambu runcing menembus tubuhnya. Ia melolong kesakitan.
Dua lainnya mencoba menggali di bawah pagar. Tapi pondasi batu sedalam setengah meter menghentikan mereka.
"API! LEMPAR API!" teriak Pak Harto.
Obor-obor dilempar ke luar pagar. Beberapa mengenai sasaran, membakar bulu serigala-serigala itu. Mereka memekik, mundur, tapi tidak pergi. Mereka terus mengamati, mencari celah.
Reyhan berlari sepanjang pagar, memastikan setiap titik terjaga. Di satu titik, ia melihat tiga ekor serigala berkumpul, seperti sedang merencanakan sesuatu. Mereka lebih cerdas dari hewan biasa. Mereka bekerja sama.
"Di sana! Mereka mau serang bersama!" teriak Reyhan.
Warga berkumpul di titik itu. Beberapa membawa tombak bambu. Mereka menusuk melalui celah-celah pagar, memaksa serigala mundur.
Pertempuran berlangsung mungkin setengah jam—meski terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, setelah dua ekor serigala terluka parah di jebakan dan beberapa lainnya terbakar, mereka mundur. Satu per satu, bayangan merah itu kembali ke hutan.
Tapi lolongan mereka masih terdengar. Kali ini bukan panggilan perang, tapi... sesuatu yang lain. Seperti komunikasi. Seperti laporan.
"Jaga pos! Jangan tidur!" perintah Pak Harto. "Mereka mungkin kembali!"
Warga tetap berjaga hingga subuh. Tak ada yang berani meninggalkan pagar.
***
Pagi datang dengan lambat. Kabut tipis menyelimuti desa. Reyhan duduk di dekat pagar, tubuhnya lelah, tapi matanya masih terbuka. Ia mengamati jejak-jejak di luar—darah hitam, bulu-bulu terbakar, tanah tercakar.
Pak Harto mendekat, meletakkan tangan di pundak kecilnya. "Kau selamatkan desa, Han. Pagarmu... berhasil."
Reyhan menggeleng pelan. "Belum selesai, Pak. Mereka akan kembali. Lolongan tadi malam... itu bukan cuma teriakan kalah. Mereka... mereka melaporkan sesuatu."
"Melapor pada siapa?"
Reyhan tidak tahu. Tapi ia punya firasat buruk.
Pak Darmo tiba-tiba berlari dari arah timur. Wajahnya pucat pasi. Ia menggenggam sebatang ranting—bukan, itu bukan ranting. Itu... tulang? Tidak. Itu cakar.
"Pak RT... lihat ini."
Ia menunjuk ke tanah di dekat pagar timur, yang belum selesai. Di tanah becek bekas embun, tercetak jejak kaki.
Besar. Sangat besar.
Lima kali lipat ukuran jejak serigala semalam.
Pak Harto membeku. "Itu... itu bukan serigala."
Reyhan mendekati jejak itu. Jari-jarinya yang kecil mengikuti kontur cetakan di tanah. Empat jari dengan cakar panjang. Bentuknya mirip serigala, tapi ukurannya... tidak masuk akal.
Dan di samping jejak itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat darah Reyhan terasa dingin.
Bekas tangan. Bukan tangan hewan. Tangan manusia? Tapi terlalu besar, dengan jari-jari panjang dan cakar di ujungnya.
Makhluk itu berjalan dengan dua kaki. Berhenti di sini. Dan menurut arah jejaknya, ia mengamati pagar.
Mengamati desa.
Mengamati mereka.
Pak Harto berbisik, suaranya serak. "Monster yang lebih besar... datang menyelidiki."
Reyhan menatap ke arah hutan. Di balik pepohonan yang mulai terang oleh matahari, ia merasa ada sesuatu yang membalas tatapannya. Sesuatu yang cerdas. Sesuatu yang sedang belajar.
Pertahanan mereka baru saja diuji. Dan mereka menang.
Tapi musuh yang sesungguhnya baru saja tiba.
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? 😊 It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️
Post a Comment for "Desain Pertama | Episode 8"