Buruh dan Logistik | Episode 9

Tenaga orang dewasa terbatas. Reyhan melihat ke sekelilingnya, pada teman-teman sebayanya. Sumber daya yang terabaikan.

Dua hari sejak serangan malam itu. Dua hari sejak jejak kaki raksasa ditemukan di pagar timur. Warga desa bekerja lebih keras dari sebelumnya, tapi bayangan ancaman yang lebih besar membuat semua orang sadar: mereka tidak punya cukup waktu. Dan tidak punya cukup tenaga.

Reyhan duduk di atas tumpukan kayu, mengamati para lelaki dewasa yang bekerja di pagar timur. Mereka bergerak cepat, tapi jumlahnya hanya lima belas orang. Lima belas orang untuk menyelesaikan pagar sepanjang seratus meter, ditambah jebakan, ditambah pos jaga. Sementara di pagar utara yang sudah selesai, setidaknya butuh lima orang setiap malam untuk berjaga.

Matanya beralih ke sekeliling desa. Di halaman rumah, di pinggir sungai, di bawah pohon rindang, anak-anak seusianya bermain. Ada yang main kelereng, ada yang main kejar-kejaran, ada yang membantu ibu mereka seadanya. Sekitar dua belas anak berusia enam sampai sepuluh tahun.

Sumber daya yang terabaikan.

Reyhan turun dari tumpukan kayu. Ia berjalan ke arah Pak Harto yang sedang mengawasi pemasangan tiang.

"Pak, saya mau bicara."

Pak Harto menoleh. Lima hari terakhir, ia sudah belajar bahwa jika Reyhan ingin bicara, itu selalu penting. "Ada apa, Han?"

"Kita kekurangan tenaga."

Pak Harto menghela napas. "Aku tahu. Tapi hanya ini yang ada. Laki-laki dewasa di desa kita cuma dua puluh tiga orang. Yang lima sedang jaga malam, jadi yang kerja siang ya segini."

"Bagaimana dengan anak-anak?"

Pak Harto mengerutkan kening. "Anak-anak? Maksudmu..."

"Mereka bisa bantu. Tidak untuk kerja berat, tapi untuk tugas ringan. Mengumpulkan batu di sungai, membawakan air, menyiapkan tali ijuk, merapikan kayu bekas potongan. Itu semua butuh waktu orang dewasa kalau dikerjakan sendiri."

Pak Harto diam, mempertimbangkan. "Kau serius mau ajak anak-anak kerja?"

"Bukan kerja berat, Pak. Kerja ringan yang mereka bisa. Saya juga akan ikut. Saya sudah lakukan itu setiap hari."

Pak Harto menatap Reyhan lama. Bocah ini memang berbeda. Setiap pagi ia sudah di lokasi, setiap malam ia masih menggambar desain. "Kau sudah bicara dengan orang tua mereka?"

"Belum. Makanya saya minta izin Bapak dulu."

"Kalau mereka tidak setuju?"

"Makanya saya mau bicara baik-baik. Jelaskan kenapa ini penting."

Pak Harto tersenyum tipis. "Baik. Coba saja. Tapi ingat, kau mewakili desa. Jangan sampai jadi masalah."

***

Sore harinya, Reyhan mengumpulkan teman-temannya di halaman rumahnya. Ada sembilan anak yang datang—sisanya tidak diizinkan orang tua atau sedang membantu keluarga. Mereka duduk di atas tikar anyaman, memandang Reyhan dengan rasa ingin tahu.

"Ngapain kita kumpul?" tanya Roni, bocah delapan tahun bertubuh gempal.

Reyhan mengambil napas. "Kalian tahu serangan serigala beberapa malam lalu?"

Semua mengangguk. Semua mendengar lolongan itu.

"Kita sedang bangun pagar biar desa aman. Tapi orang dewasa tidak cukup. Saya mau ajak kalian bantu."

Seorang anak perempuan, Siti (7 tahun), bertanya, "Bantu apa? Saya nggak kuat angkat kayu besar."

"Bukan angkat kayu besar. Kita bisa kumpulkan batu di sungai. Batu itu buat pondasi pagar, biar tidak rubuh. Besarnya cuma sebesar kepalang, kalian pasti bisa."

Budi (9 tahun) mengernyit. "Terus kita dapat apa?"

Pertanyaan itu membuat Reyhan terdiam. Ia belum memikirkan imbalan. Selama ini ia bekerja karena memang ingin desa aman. Tapi orang lain mungkin tidak punya motivasi yang sama.

"Kita dapat... desa yang aman?" jawabnya ragu.

Roni tertawa. "Ah, desa aman buat semua. Buat kita juga. Itu bukan upah."

Otak Reyhan bekerja cepat. Logika sederhana: orang butuh alasan untuk bekerja. Untuk dirinya sendiri, alasan itu adalah keselamatan desa. Tapi anak-anak lain mungkin butuh alasan lebih dekat.

"Kalian suka makan?" tanyanya tiba-tiba.

Semua mengangguk.

"Besok, sebelum kerja, kita sarapan bareng di sini. Nasi dan lauk. Ibu saya masak. Terus nanti siang, sebelum pulang, kita makan lagi. Kalian kerja dapat makan. Setuju?"

Mata anak-anak itu berbinar. Bagi mereka, makan ekstra di luar jatah keluarga adalah kemewahan.

"Tapi kita kerja beneran, ya," tambah Reyhan. "Bukan main-main. Batu yang dikumpulkan harus cukup banyak. Kalau tidak, nggak dapat makan."

Roni mengangguk semangat. "Aku mau! Aku bisa kumpulkan banyak!"

Yang lain ikut mengangguk. Siti masih ragu. "Ibuku izinin nggak ya?"

"Nanti aku temenin kalian bilang ke orang tua," janji Reyhan. "Aku jelaskan sendiri."

***

Malam harinya, Reyhan berkeliling menemui orang tua teman-temannya. Joko menemani, diam-diam bangga melihat anaknya bicara dengan orang dewasa seperti rekan setara.

Di rumah Roni, ibanya bertanya tajam, "Anak saya kerja? Bayarannya cuma makan?"

"Bu, desa kita dalam bahaya," jelas Reyhan sabar. "Kalau pagar tidak cepat selesai, serigala bisa masuk dan serang anak-anak. Roni kerja kumpulkan batu, itu ringan, tidak berbahaya. Saya juga ikut. Sambil kerja, kami bisa belajar banyak hal. Saya yakin Roni juga jadi lebih pintar."

Ibu Roni terdiam. Melihat Reyhan bicara serius seperti itu, ia sulit berkata tidak. "Joko, anakmu ini... dari mana belajar bicara begitu?"

Joko tersenyum kaku. "Saya juga tidak tahu, Bu."

***

Tidak semua setuju. Di rumah Siti, ibunya—Bu Aminah—langsung menolak keras.

"Kerja? Siti baru tujuh tahun! Dia masih kecil! Kalian ini tega banget mau pekerjakan anak-anak?"

Reyhan mencoba menjelaskan. "Kami tidak menyuruh kerja berat, Bu. Hanya kumpulkan batu di sungai, sama seperti bermain di air, tapi hasilnya buat desa."

"Bermain? Jangan bohong! Kalian mau anak-anak jadi buruh murahan! Makan saja sudah upah?"

Suara Bu Aminah meninggi. Beberapa tetangga mulai keluar melihat keributan.

"Memperkerjakan anak itu dosa! Kalian tahu tidak? Saya bisa lapor ke Pak RT! Ini desa edan, masa anak-anak disuruh kerja!"

Reyhan mundur selangkah. Ia tidak menyangka reaksi sekeras ini. Di belakangnya, Siti menangis, bingung harus memihak siapa.

Pak Darmo yang kebetulan lewat, ikut bicara. "Bu, ini bukan kerja paksa. Anak-anak diajak gotong royong, sama seperti kita dulu kecil juga bantu orang tua di sawah."

"Bantu orang tua beda dengan disuruh orang lain! Lagian ide ini pasti dari bocah sombong itu!" Bu Aminah menunjuk Reyhan. "Kamu pikir kamu pintar? Kamu cuma anak kecil! Jangan sok mau ngatur!"

Joko maju, melindungi anaknya. "Bu, tenang. Tidak ada maksud buruk."

"Tidak ada maksud buruk? Suruh anak-anak kerja, bayar cuma makan? Itu namanya eksploitasi!"

Kerumunan semakin besar. Reyhan merasa dunianya berputar. Ia hanya ingin membantu. Ia tidak pernah berpikir idenya akan dianggap jahat.

"Ada apa ini?" Suara berat Pak Harto memecah kerumunan.

Bu Aminah langsung menghadap Pak RT. "Pak Harto, ini bocah—" ia menunjuk Reyhan, "—mau ajak anak-anak jadi buruh! Cuma dibayar makan! Ini tidak benar!"

Pak Harto menatap Reyhan. Lalu Joko. Lalu kembali ke Bu Aminah. "Bu, saya tahu soal ini. Saya yang izinkan Reyhan bicara dengan orang tua."

Bu Aminah terbelalak. "Bapak izinkan? Bapak setuju anak-anak desa jadi buruh?"

"Bukan buruh, Bu. Ini gotong royong. Anak-anak diajak bantu dengan cara yang sesuai usia mereka. Kumpulkan batu, bawa air. Itu bukan kerja berat. Dan mereka dapat makan sebagai ucapan terima kasih. Saya juga yang akan sediakan berasnya."

Bu Aminah terdiam. Tapi raut mukanya masih tidak terima.

Pak Harto melanjutkan, "Bu, desa kita dalam bahaya. Serigala itu sudah masuk sekali. Jejak monster lebih besar ditemukan kemarin. Kita butuh pagar cepat selesai. Kalau tidak, rumah Bu juga yang terancam. Siti juga terancam."

Malam itu, Bu Aminah akhirnya mengizinkan Siti ikut, meski dengan syarat ia boleh memantau setiap saat.

***

Keesokan paginya, sembilan anak berkumpul di halaman rumah Reyhan. Wati sudah menyiapkan nasi goreng dengan telur—kemewahan yang jarang mereka nikmati. Anak-anak makan dengan lahap, tertawa, bercanda. Reyhan makan lebih cepat, pikirannya sudah pada pekerjaan.

"Setelah makan, kita ke sungai," jelas Reyhan. "Kita kumpulkan batu sebesar kepalan, masukkan ke keranjang bambu. Setiap keranjang penuh, kita bawa ke pos dekat pagar timur. Nanti ditimbang sama Pak Darmo."

"Ditimbang?" tanya Roni.

"Iya. Biar tahu siapa yang kerja paling banyak. Nanti yang paling banyak dapat tambahan lauk siang nanti."

Semangat anak-anak naik. Kompetisi sehat.

***

Sungai desa pagi itu cerah. Airnya jernih, batu-batu berserak di dasar dan tepi. Anak-anak langsung turun dengan ceria, sebagian masih bermain, tapi Reyhan segera mengarahkan.

Roni paling cepat. Tangannya yang besar dengan mudah mengumpulkan batu. Siti lebih teliti, memilih batu yang benar-benar seukuran kepalan, tidak terlalu kecil. Budi dan beberapa anak lain membawa keranjang bolak-balik ke pos.

Di pos, Pak Darmo menimbang batu dengan timbangan sederhana dari kayu dan batu pemberat. Ia mencatat di papan tipis dengan arang.

"Roni: lima belas kilogram. Siti: dua belas. Budi: sembilan (karena sering angkut, bukan cari)."

Sistem sederhana bekerja. Anak-anak mengerti: semakin banyak batu, semakin dihargai.

Di pagar timur, para lelaki dewasa bekerja dengan material yang lebih lancar. Batu dari anak-anak langsung digunakan untuk pondasi. Tidak perlu lagi orang dewasa meninggalkan tugas potong kayu untuk ambil batu di sungai.

Jenggo, yang kini sudah akrab dengan tugasnya di kelompok ikat, berkata pada Pak Harto, "Pak, ini ide bagus. Kita bisa fokus potong dan pasang, nggak perlu bolak-balik cari batu."

Pak Harto mengangguk. "Anak itu... pikirannya memang beda."

***

Tiga hari berlalu. Sistem kerja anak-anak berjalan lancar. Setiap pagi mereka sarapan di rumah Reyhan, lalu ke sungai. Setiap siang mereka makan lagi, dengan lauk yang bervariasi. Sore harinya, mereka bisa bermain seperti biasa.

Orang tua yang tadinya ragu, mulai melihat manfaatnya. Anak-anak mereka belajar disiplin, belajar kerja sama, dan yang paling penting—mereka senang. Siti yang pendiam, kini lebih percaya diri karena catatan batu miliknya selalu tinggi.

Bu Aminah, yang awalnya protes, diam-diam bangga melihat Siti pulang dengan cerita tentang keranjang dan timbangan.

Tapi sistem ini membawa masalah baru: catatan.

Pak Darmo kewalahan. Ia harus mencatat batu dari anak-anak, mencatat stok kayu dari penebangan, mencatat tali ijuk yang tersisa, mencatat siapa yang jaga malam, siapa yang kerja siang. Papan tulisnya penuh coretan tak karuan.

"Pak Harto, saya mumet," keluh Pak Darmo. "Ini catatan campur aduk. Batu, kayu, tali, orang... saya bingung."

Pak Harto memanggil Reyhan.

"Han, aku lihat sistem ini mulai besar. Kita butuh catatan yang rapi. Kau bisa bantu?"

Reyhan mengangguk. "Bisa, Pak. Saya akan buat catatan harian."

"Bukan sekadar catatan harian. Kita harus tahu stok. Berapa batu yang kita punya? Berapa kayu yang sudah dipotong? Berapa tali yang tersisa? Kalau tidak, kita bisa kehabisan di tengah jalan."

Reyhan berpikir. Ini tantangan baru. Selama ini ia hanya berpikir teknis: bagaimana membuat pagar kuat. Sekarang ia harus berpikir logistik: bagaimana memastikan bahan baku selalu tersedia.

"Saya akan buat sistem, Pak. Catatan per jenis bahan. Setiap masuk dan keluar dicatat."

Pak Harto mengangguk puas. "Bagus. Tapi ingat, Han. Ini tanggung jawab besar. Kalau catatanmu kacau, pembangunan bisa terhambat. Kau siap?"

Reyhan menatap Pak Harto. Beban baru di pundaknya. Tapi ini juga berarti kepercayaan.

"Saya siap, Pak."

***

Malam itu, Reyhan duduk di teras dengan lampu teplok. Di hadapannya, tiga lembar kertas bekas—sisa-sisa dari bungkus gula dan semen. Ia mulai membuat tabel.

Kolom 1: Batu. Masuk (dari anak-anak). Keluar (untuk pondasi). Sisa.

Kolom 2: Kayu. Masuk (dari penebangan). Keluar (untuk pagar). Sisa.

Kolom 3: Tali Ijuk. Masuk (dari hasil petik). Keluar (untuk ikatan). Sisa.

Kolom 4: Tenaga Kerja. Nama orang. Tugas. Shift.

Reyhan menggaruk kepala. Ini rumit. Tapi ia tahu harus dilakukan. Tanpa catatan, mereka akan bekerja buta. Dengan catatan, mereka bisa merencanakan.

Ia mulai mengisi angka-angka dari ingatan dan catatan Pak Darmo yang berantakan. Satu per satu, data mulai terorganisir.

Batu: masuk 230 kg, keluar 150 kg, sisa 80 kg.

Kayu: masuk 45 batang, keluar 30 batang, sisa 15 batang.

Tali: ...

Di tengah kesibukan menulis, ia mendengar suara dari kejauhan.

Auuuummmm....

Reyhan mengangkat kepala. Lolongan serigala, tapi berbeda. Lebih dekat. Lebih... terorganisir. Seperti aba-aba.

Ia menoleh ke arah pagar timur—yang belum selesai. Di balik kegelapan, ia tahu, ada mata-mata yang mengamati. Monster berkaki dua dengan jejak raksasa itu pasti masih di luar sana.

Belajar.

Mengamati.

Menunggu.

Reyhan kembali ke catatannya. Angka-angka menari di depan mata. Batu, kayu, tali. Sumber daya yang harus dikelola. Waktu yang terus berjalan.

Di kertas itu, ia menambahkan satu kolom baru: "Estimasi Kebutuhan Material untuk Pagar Timur".

Ini bukan lagi sekadar gotong royong desa. Ini manajemen proyek skala kecil. Dan manajernya adalah bocah enam tahun.

Di luar, lolongan terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.

Mereka datang.

Tapi malam ini, Reyhan tidak lari. Ia menulis. Karena ia tahu, melawan monster butuh lebih dari sekadar pagar kokoh. Butuh perencanaan. Butuh catatan. Butuh logistik.

Dan semua itu dimulai dari selembar kertas, arang, dan bocah yang tidak pernah berhenti berpikir.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Buruh dan Logistik | Episode 9 "