Catatan Pertama | Episode 10

Angka dan goresan di papan. Bagi Reyhan, itu adalah peta menuju kekuatan. Bagi yang lain, itu hanya coretan anak-anak.

Tiga hari sejak Reyhan menerima tugas baru. Tiga hari ia bergelut dengan angka, stok, dan catatan yang tak pernah berhenti bertambah. Rumahnya kini berubah menjadi posko logistik. Di teras, tiga papan kayu bekas berjejer, dipenuhi coretan arang yang hanya Reyhan yang bisa membaca.

"Batu masuk: 47 kg. Batu keluar: 32 kg. Sisa: 15 kg."

"Kayu masuk: 8 batang. Kayu keluar: 5 batang. Sisa: 3 batang."

"Tali ijuk: 4 ikat. Tersisa 1 ikat. Butuh tambahan."

Reyhan mengamati papan itu dengan mata lelah. Semalam ia tidur hanya tiga jam. Bangun pukul empat pagi untuk menghitung ulang stok sebelum warga mulai bekerja. Tapi ada yang aneh.

Kayu. Catatannya kemarin sisa tiga batang. Tapi pagi ini, saat ia periksa di gudang, batang kayu itu tinggal dua.

Satu batang hilang.

Reyhan mengerutkan kening. Ia menghitung ulang. Menelusuri catatan tiga hari terakhir. Tidak ada kesalahan. Lima batang keluar kemarin untuk pagar timur. Tiga batang sisa. Seharusnya tiga.

Tapi di gudang hanya ada dua.

Joko keluar rumah, melihat anaknya termenung di depan tumpukan kayu. "Han, sarapan dulu."

"Sebentar, Pa. Kayu kita kurang satu."

Joko mendekat. "Kurang? Mungkin salah catat."

Reyhan menggeleng tegas. "Saya tidak salah catat, Pa. Setiap malam saya periksa ulang. Harusnya sisa tiga. Ini dua."

Joko diam. Ia tahu anaknya tidak mungkin salah dalam hal ini. "Mungkin dipakai sama warga, lupa lapor."

"Lapor ke saya, Pa. Aturan Pak Harto, setiap ambil bahan harus lapor dulu."

Joko menghela napas. "Sudah, nanti cek dulu. Ayo sarapan."

***

Sarapan pagi itu di rumah Reyhan ramai. Sembilan anak pekerja batu datang dengan lahap. Wati menyiapkan nasi dan sambal goreng kentang—masakan sederhana tapi mengenyangkan. Anak-anak berebut lauk, tertawa, bercanda.

Tapi Reyhan tidak ikut tertawa. Pikirannya masih pada kayu yang hilang.

"Han, makannya," tegur Wati.

Reyhan mengunyah tanpa selera. Matanya terus melirik ke arah gudang—gudang desa yang ia tata ulang minggu lalu.

Gudang itu dulu ruangan kosong tak terpakau milik Pak Harto. Sekarang, di dalamnya ada rak-rak sederhana buatan Reyhan dan beberapa warga. Rak kayu untuk menyimpan kayu cadangan. Rak batu untuk batu sungai. Rak tali untuk ijuk. Semua tertata rapi, diberi label arang.

Itu ide Reyhan. Dulu, bahan berserakan di mana-mana. Kayu di rumah Jenggo, batu di pinggir sungai, tali di rumah Pak Darmo. Tidak ada yang tahu stok pasti. Sekarang, semua terpusat. Semua tercatat.

Atau seharusnya tercatat.

Satu batang kayu hilang.

***

Usai sarapan, anak-anak berangkat ke sungai. Reyhan seharusnya ikut mengawasi, tapi ia memutuskan ke gudang lagi. Memeriksa ulang. Menghitung sekali, dua kali, tiga kali.

Tetap dua.

"Reyhan!"

Suara Pak Darmo dari luar. Reyhan keluar. Pak Darmo datang dengan gerobak kecil berisi batu dari anak-anak.

"Ini batu hari pertama. Roni dapat lima belas kilo, Siti tiga belas, yang lain..."

"Pak Darmo, kayu kita hilang satu."

Pak Darmo berhenti bicara. "Hilang? Maksudnya?"

"Catatan saya sisa tiga. Tadi pagi tinggal dua. Tidak ada yang ambil resmi."

Pak Darmo menggaruk kepala. "Apa mungkin dipakai tanpa lapor? Siapa ya?"

"Makanya saya mau cari tahu."

***

Reyhan memutuskan berkeliling desa. Bukan untuk menuduh, tapi untuk melihat. Matanya yang tajam mengamati setiap rumah, setiap tumpukan kayu, setiap kemungkinan.

Di rumah Pak Karim, ia melihat tumpukan kayu baru di samping dapur. Kayu itu... warnanya sama dengan kayu stok desa. Kayu mahoni yang baru ditebang minggu lalu.

Reyhan mendekat. Jari-jarinya menyentuh permukaan kayu. Masih segar. Masih ada getah di beberapa bagian. Ini kayu baru.

"Reyhan? Ngapain di sini?"

Reyhan menoleh. Pak Karim berdiri di pintu, wajahnya tidak ramah.

"Saya lihat-lihat, Pak. Kayu ini... dari mana?"

Pak Karim menyipit. "Kamu curiga saya?"

"Bukan curiga, Pak. Hanya tanya. Ini kayu mahoni, sama seperti stok desa. Saya hanya ingin pastikan tidak ada yang tertukar."

Pak Karim mendengus. "Ini kayu punyaku sendiri. Aku tebang dari kebun belakang. Ada masalah?"

Reyhan diam. Ia tahu Pak Karim tidak punya kebun belakang. Rumahnya di tengah desa, semua lahan sudah dipakai untuk rumah dan kandang. Tapi ia tidak bisa menuduh tanpa bukti.

"Tidak ada masalah, Pak. Maaf mengganggu."

Reyhan pergi. Tapi ia yakin. Kayu itu dari gudang.

***

Sore harinya, kabar sudah menyebar. Reyhan mengecek kayu Pak Karim. Orang-orang mulai berbisik. Pak Karim marah dan mengadu ke Pak Harto.

Di rumah Pak Harto, Reyhan dipanggil. Pak Karim sudah duduk dengan wajah merah.

"Pak Harto, bocah ini menuduh saya mencuri! Saya tidak terima! Ini pencemaran nama baik!"

Reyhan masuk dengan tenang. "Saya tidak menuduh, Pak. Saya hanya tanya."

"Nanya? Masa iya tanya sambil pegang-pegang kayu di rumah orang? Itu curiga namanya!"

Pak Harto mengangkat tangan. "Tenang, Karim. Reyhan, cerita dari awal."

Reyhan menjelaskan. Stok kayu kurang satu. Ia cek ke gudang, tidak ada yang ambil resmi. Lalu ia lihat kayu baru di rumah Pak Karim. Kayu mahoni, sama dengan stok desa.

"Itu kayu punyaku! Aku dapat dari tukang kayu di pasar!" bela Pak Karim.

"Bisa tunjukkan bukti belinya?" tanya Reyhan tenang.

Pak Karim terdiam. "Aku... aku bayar tunai, tidak ada kertas."

"Tukang kayu di pasar siapa namanya?"

"Namanya... lupa. Aku sering beli."

Reyhan menatap Pak Harto. "Pak, di desa kita hanya Pak Jenggo yang biasa beli kayu dari pasar. Itu pun sebulan sekali. Pak Karim, setahu saya, tidak pernah ke pasar untuk beli kayu. Beliau lebih sering minta kayu bekas dari tetangga."

Pak Karim merah padam. "Kurang ajar kamu! Anak kecil berani-berani nya mengatur-ngatur orang tua!"

Pak Harto memukul meja. "DIAM!"

Sunyi.

Pak Harto menatap Pak Karim tajam. "Karim, aku kenal kamu puluhan tahun. Kamu memang tidak pernah beli kayu di pasar. Rumahmu saja pakai kayu bekas dari rumah orang tua dulu. Jadi, dari mana kayu itu?"

Pak Karim membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

"Kau ambil dari gudang desa, Karim?"

Pak Karim menunduk. "Aku... aku cuma pinjam, Pak. Mau bikin kandang ayam. Nanti kalau ada rezeki, aku kembalikan."

"Pinjam tanpa izin namanya curi, Karim."

Pak Karim tidak menjawab.

Pak Harto menghela napas panjang. "Besok kau kembalikan kayu itu. Dan kau kerja tambahan di pagar tanpa upah seminggu. Setuju?"

Pak Karim mengangguk lesu.

Tapi Reyhan tidak lega. Matanya masih tertuju pada Pak Karim. Ada yang aneh. Kayu itu untuk kandang ayam? Pak Karim tidak punya ayam. Istrinya sudah meninggal, anaknya merantau. Ia tinggal sendiri. Kenapa perlu kandang ayam?

Reyhan menyimpan pertanyaan itu.

***

Malam harinya, Reyhan di teras dengan catatannya. Insiden Pak Karim membuatnya berpikir. Sistem gudang butuh pengamanan. Butuh orang yang jaga. Tapi semua orang sibuk.

Ia menulis di kertas: "Usulan: petugas gudang. Tugas jaga dan catat keluar masuk. Dapat upah makanan."

Belum selesai menulis, ia mendengar langkah kaki. Joko keluar, duduk di sampingnya.

"Han, Pa mau bicara."

Reyhan menoleh. Wajah ayahnya tegang, tidak biasa.

"Ada apa, Pa?"

Joko diam lama. "Kayu yang hilang... bukan Pak Karim."

Reyhan mengerutkan kening. "Maksud Pa?"

"Pak Karim memang ambil kayu. Tapi bukan yang pertama. Sebelum dia, sudah ada yang ambil. Satu batang kayu yang benar-benar hilang."

Reyhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Pa tahu siapa?"

Joko menatap anaknya. Matanya sendu. "Pamanmu. Adik Pa. Kamaruddin."

Reyhan terpaku. Paman Kamaruddin. Adik ayahnya yang tinggal di ujung desa. Laki-laki paruh baya yang jarang bicara, bekerja serabutan, dan dikenal suka minum.

"Pa... yakin?"

Joko mengangguk berat. "Pa lihat sendiri tadi sore. Dia bawa kayu ke rumahnya. Warna sama, ukuran sama. Pa tanya, dia bilang dapat dari tebangan sendiri. Tapi Pa tahu, dia tidak punya pohon mahoni."

Reyhan diam. Kepalanya berputar. Ini bukan warga biasa. Ini keluarga. Pamannya sendiri.

"Han... Pa bingung harus bagaimana."

Reyhan mengerti kebingungan ayahnya. Lapor ke Pak Harto berarti mempermalukan keluarga sendiri. Tidak lapor berarti membiarkan pencurian.

"Sistemnya sudah berjalan, Pa. Kalau kita tutup-tutupi, nanti yang lain jadi tidak percaya sama catatan saya. Mereka pikir saya pilih kasih."

Joko menghela napas. "Pa tahu. Tapi dia adik Pa. Satu-satunya saudara Pa yang masih hidup."

Reyhan memejamkan mata. Logikanya bertabrakan dengan emosi. Selama ini ia selalu berpikir jernih, selalu menemukan solusi. Tapi kali ini... ini tentang keluarga.

"Pa mau saya bagaimana?"

Joko menatap anaknya lama. "Menurutmu, sebagai pencatat stok, apa yang harus dilakukan?"

Reyhan membuka mata. Suaranya lirih tapi tegas. "Harus dicatat. Harus dilaporkan. Dan Paman harus kembalikan kayunya, atau kerja tambahan seperti Pak Karim."

Joko mengangguk pelan. "Pa tahu. Pa hanya... takut dia marah. Takut hubungan keluarga rusak."

***

Keesokan paginya, Reyhan bangun dengan perasaan berat. Ia sarapan tanpa selera. Anak-anak pekerja batu datang seperti biasa, tapi ia hanya melamun.

"Han, kenapa?" tanya Roni. "Lo sakit?"

Reyhan menggeleng. "Nggak. Cuma... banyak pikiran."

Roni tertawa. "Lo umur enam tahun, pikiran kayu orang tua aja."

Reyhan tersenyum pahit. Kalau saja Roni tahu.

Usai sarapan, ia memutuskan pergi ke rumah Paman Kamaruddin. Sendiri. Tanpa ayahnya. Ia harus melihat langsung.

Rumah Paman Kamaruddin di ujung desa, dekat batas timur—tepat di area yang paling rawan serangan. Rumah panggung reyot dengan dinding bambu berlubang. Di halaman, tumpukan kayu mahoni tergeletak. Satu batang. Yang hilang.

Reyhan mendekat. Dari dalam rumah, terdengar suara batuk-batuk. Lalu pintu terbuka. Paman Kamaruddin keluar, matanya sembab, rambut acak-acakan.

"Reyhan? Ngapain kau ke sini?"

Reyhan menunjuk kayu itu. "Itu kayu dari gudang desa, Paman."

Kamaruddin diam. Lalu mendengus. "Bisa apa kau? Mau lapor Pak RT?"

"Saya hanya mau tahu kenapa Paman ambil."

"Buat apa kau tahu urusan orang dewasa?"

"Karena saya pencatat stok. Setiap kayu keluar masuk harus tercatat. Kalau tidak, sistem kacau. Dan desa bisa kekurangan bahan."

Kamaruddin tertawa getir. "Sistem katamu. Catatan katamu. Kau pikir semua orang peduli dengan sistemmu? Ini desa, Nak. Orang-orang hidup susah. Mereka ambil apa yang mereka butuh."

"Tapi ini milik bersama. Untuk pagar, untuk keselamatan semua."

"Pagar? Keselamatan?" Kamaruddin menunjuk rumahnya yang reyot. "Lihat rumahku. Bocor di mana-mana. Dindingku bolong. Kalau serigala datang, aku mati di sini sebelum pagar selesai. Aku butuh kayu ini buat menambal dinding, bukan buat pagar desa yang belum tentu selesai tepat waktu."

Reyhan terdiam. Ia tidak memikirkan itu. Selama ini ia fokus pada pagar desa, pada pertahanan kolektif. Tapi ada warga yang kondisinya genting secara individu.

"Kenapa Paman tidak minta saja? Kalau bilang ke Pak Harto, pasti dibantu."

Kamaruddin tertawa pahit. "Minta? Malu. Aku ini laki-laki dewasa, harusnya bisa cari sendiri. Tapi aku sakit, tak bisa kerja berat. Minum aja kadang susah. Masa harus minta-minta?"

Reyhan merasakan dadanya sesak. Ini bukan sekadar pencurian. Ini tentang orang yang putus asa.

"Tapi Paman... mencuri tetap salah."

Kamaruddin menatap Reyhan. Matanya berkaca-kaca. "Kau benar. Salah. Tapi kau tahu, Nak? Kadang orang salah karena tidak punya pilihan."

***

Reyhan pulang dengan seribu pertanyaan. Logikanya berkata: aturan harus ditegakkan, kalau tidak sistem hancur. Tapi hatinya berkata: Paman Kamaruddin butuh bantuan, bukan hukuman.

Sore itu, ia menemui Pak Harto. Menceritakan semuanya. Termasuk alasan Paman Kamaruddin.

Pak Harto diam lama. "Kau tahu, Han, ini masalah pelik. Hukum desa bilang dia bersalah. Tapi kita juga manusia."

"Saya bingung, Pak."

Pak Harto menatap Reyhan. "Memimpin itu bukan cuma bikin aturan, Han. Tapi juga mengerti orang-orang di balik aturan itu. Kadang kita harus tegas, kadang kita harus beri maaf. Tugasmu sekarang bukan cuma catat stok, tapi juga nilai mana yang lebih penting."

Reyhan menghela napas. "Paman saya bilang, dia ambil kayu karena takut rumahnya tidak aman. Mungkin kita bisa bantu perbaiki rumahnya. Sekalian jadi contoh: kalau ada yang butuh, minta, jangan curi."

Pak Harto tersenyum. "Itu ide bagus. Tapi bagaimana dengan hukumannya? Dia tetap curi."

"Dia kembalikan kayunya. Lalu bantu kerja di pagar kalau sudah sembuh. Saya akan catat sebagai hutang tenaga."

Pak Harto mengangguk. "Kau pikirkan matang-matang. Tapi ingat, Han, ini keputusan besar. Bisa saja warga lain protes, bilang kau pilih kasih karena keluarga."

Reyhan tahu itu risikonya.

***

Malam harinya, Reyhan mengumpulkan keluarganya. Joko, Wati, dan Paman Kamaruddin yang ia undang. Di teras rumah, dengan lampu teplok, mereka duduk melingkar.

Reyhan bicara pertama. "Paman, saya sudah bicara dengan Pak Harto."

Kamaruddin menunduk. "Kau laporkan saya?"

"Saya ceritakan semuanya. Termasuk alasan Paman."

Kamaruddin diam.

"Pak Harto setuju Paman kembalikan kayu itu. Lalu nanti, kalau Paman sudah sehat, Paman bantu kerja di pagar selama seminggu. Itu hukumannya."

Kamaruddin mengangkat kepala. "Seminggu? Tapi... Pak Karim dapat seminggu juga. Berarti saya dapat sama?"

"Sama. Tidak ada bedanya meskipun Paman keluarga saya. Aturan tetap aturan."

Kamaruddin menatap Reyhan lama. "Kau ini... benar-benar aneh, Han."

Reyhan tersenyum tipis. "Saya juga punya usul lain, Paman. Rumah Paman butuh diperbaiki. Saya bisa bantu desain, cari bahan bekas. Nanti kita gotong royong perbaiki. Tapi syaratnya, Paman tidak boleh minum-minum lagi. Setuju?"

Joko dan Wati terperangah. Mereka tidak tahu Reyhan punya rencana itu.

Kamaruddin terdiam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, Reyhan melihat pamannya menangis.

"Kau... kau mau bantu rumahku? Setelah aku curi?"

"Karena Paman keluarga. Dan karena Paman butuh bantuan. Tapi ingat, ini bukan gratis. Paman harus berubah."

Kamaruddin mengangguk, masih dengan air mata. "Aku janji, Han. Demi kamu, aku janji."

Malam itu, di teras rumah sederhana, seorang bocah enam tahun berhasil melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan orang dewasa: menyatukan aturan dan belas kasih, tanpa mengorbankan salah satunya.

Tapi di balik kegelapan, di luar pagar yang belum selesai, sepasang mata terus mengamati. Makhluk berkaki dua dengan jejak raksasa itu masih ada. Masih menunggu. Dan kali ini, ia tidak sendiri.

Di sampingnya, tiga bayangan lain berdiri. Ukuran sama besar. Mata sama merah.

Mereka telah melihat bagaimana manusia membangun. Bagaimana manusia bekerja sama. Bagaimana manusia menghukum dan memaafkan.

Mereka belajar.

Dan ketika mereka siap, mereka akan menyerang dengan cara yang tidak pernah diduga manusia.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Catatan Pertama | Episode 10"