Hukum Desa | Episode 11
Keadilan pahit, tapi harus ditegakkan. Reyhan belajar, membangun desa lebih sulit daripada membangun pagar.
Tiga hari sejak pertemuan di teras rumah. Tiga hari sejak Paman Kamaruddin berjanji berubah. Kayu itu sudah dikembalikan ke gudang. Paman Kamaruddin mulai bekerja di pagar—meski hanya tugas ringan karena badannya belum sehat. Semua tampak berjalan sesuai rencana.
Tapi Reyhan merasakan ada yang aneh.
Pagi itu, saat ia datang ke gudang untuk mengecek stok, beberapa warga yang biasa menyapanya kini hanya menunduk. Yang lain berpura-pura tidak melihat. Bahkan Jenggo, yang belakangan mulai ramah, hanya melengos pergi.
Reyhan mengerutkan kening. "Pak Darmo, ada apa? Kok mereka diam saja?"
Pak Darmo menghela napas. Ia menurunkan keranjang batu, lalu duduk di samping Reyhan. "Han, kau belum dengar?"
"Dengar apa?"
"Orang-orang bicara. Mereka bilang kau pilih kasih. Pamannu dapat hukuman ringan, disuruh kerja seminggu. Padahal Pak Karim juga dapat seminggu, tapi Pak Karim dimarahi habis-habisan di depan umum. Pamannu tidak."
Reyhan terperangah. "Tapi Pak Karim juga tidak dimarahi di depan umum. Hanya di rumah Pak Harto."
"Orang tetap lihat perbedaan, Han. Pamannu tidak dipermalukan. Kau urus sendiri, diam-diam. Orang bilang itu karena keluarga."
Reyhan merasakan dadanya sesak. Ia sudah berusaha adil. Hukuman sama, bahkan ia menawari bantuan perbaikan rumah. Tapi ternyata orang melihat yang lain—proses, bukan hasil.
"Tapi saya tidak bermaksud... Saya hanya..."
"Aku tahu, Han. Tapi ini desa. Orang lebih percaya apa yang mereka lihat daripada apa yang kau jelaskan."
***
Reyhan berusaha tidak ambil pusing. Ia fokus pada pekerjaannya. Pagi itu, ia harus menyelesaikan desain sistem pengawasan gudang. Atas instruksi Pak Harto, ia membuat aturan baru: piket bergilir.
"Setiap malam, dua orang jaga gudang. Tugasnya catat barang masuk keluar kalau ada keperluan darurat malam hari. Juga jaga dari pencurian."
Pak Harto mengamati papan catatan Reyhan. "Siapa yang jaga?"
"Giliran. Semua laki-laki dewasa dapat jadwal. Yang tidak bisa jaga karena sakit atau tugas lain, harus cari pengganti."
Pak Harto mengangguk. "Ini bagus. Buat pengumuman nanti sore."
Tapi saat pengumuman disampaikan, reaksinya tidak seperti diharapkan.
"Jaga gudang? Malam-malam? Nggak dapat upah?" protes seorang warga.
"Dapat jatah makan siang esok harinya," jelas Reyhan.
"Makan cuma sekali? Besoknya kita kerja lagi? Lelah dong!"
"Tapi ini untuk keamanan bersama," Reyhan berusaha menjelaskan. "Kalau gudang dicuri lagi, kita semua rugi."
"Yang mencuri kan keluargamu! Mungkin itu settingan biar pamannu dapat keringanan!"
Reyhan terpukul. Tuduhan itu keras. Ia menoleh ke arah sumber suara. Seorang laki-laki paruh baya bernama Pak Sarman, tetangga Paman Kamaruddin yang dikenal suka iri.
"Pak Sarman, itu tidak benar. Saya tidak mungkin mengatur pencurian."
"Ah, kau anak kecil, tapi licik. Bisa saja kau suruh pamannu curi biar kemudian kau pura-pura bantu. Lalu kau jadi pahlawan."
Beberapa warga mulai bergumam setuju. Reyhan melihat gelagat buruk. Pak Harto maju.
"Sarman, jaga bicaramu! Tidak ada bukti!"
"Bukti? Buktinya anak itu selalu dapat perlakuan istimewa! Dia yang ngatur kerja, dia yang catat stok, dia yang tentukan hukuman. Ini desa atau kerajaan bocah?"
Suasana memanas. Reyhan merasa dunia berputar. Ia hanya ingin membantu, tapi kini dituduh macam-macam.
***
Malam harinya, Paman Kamaruddin datang ke rumah Reyhan. Wajahnya merah, bukan karena malu tapi karena marah.
"Han, aku dengar apa kata orang. Mereka bilang aku pura-pura curi biar kau dapat pujian."
"Paman, itu tidak benar dan Paman tahu itu."
"Aku tahu. Tapi mereka tidak tahu. Mereka sudah memfitnah. Dan aku tidak bisa terima itu."
Joko ikut bicara. "Dik, tenang. Ini pasti reda."
"Reda? Tidak akan reda, Kak. Selama aku di sini, mereka akan terus ingat. Aku akan pergi."
Reyhan terkejut. "Pergi ke mana?"
"Aku akan tinggal di kebun tua punya almarhum bapak. Di luar desa, dekat hutan. Tidak jauh, tapi di luar pagar. Aku lebih baik tinggal sendiri daripada jadi bahan fitnah."
"Tapi Paman, itu berbahaya! Serigala-serigala itu..."
"Aku lebih takut pada manusia, Han. Serigala tahu cara membunuh. Manusia tahu cara menyakiti hati."
Reyhan ingin membantah, tapi kata-kata itu menusuk. Ia tahu pamannya benar. Luka fisik bisa sembuh. Luka hati bisa bertahan seumur hidup.
Kamaruddin pergi malam itu. Membawa karung kecil berisi pakaian dan sebilah golok. Reyhan melihat dari jendela, sosok pamannya menghilang di kegelapan, menuju arah timur—ke luar pagar yang belum selesai.
Joko memeluknya dari belakang. "Biarkan, Han. Dia butuh waktu."
***
Kepergian Kamaruddin memicu efek berantai. Keesokan harinya, Pak Sarman dan tiga orang lainnya menyatakan keluar dari sistem kerja.
"Kami tidak mau diatur bocah. Ini desa punya orang dewasa. Kami akan kerja sendiri, perbaiki rumah kami masing-masing. Biar pagar itu urusan kalian."
Pak Harto berusaha meredam. "Sarman, ini keselamatan bersama! Kalau pagar tidak selesai, semua terancam!"
"Pagar? Masa iya cuma karena serigala kita jadi budak bocah? Aku lebih percaya senjata di rumahku daripada pagar buatan anak kecil."
Mereka pergi. Meninggalkan proyek pagar yang masih butuh banyak pekerjaan.
Reyhan menghitung ulang tenaga kerja. Awalnya dua puluh tiga laki-laki dewasa. Dua jaga malam, lima belas kerja siang. Sisanya cadangan atau sakit. Sekarang, empat keluar. Tinggal sebelas kerja siang. Sementara pagar timur baru 40 persen selesai.
"Kita bisa kehabisan waktu," gumamnya.
Pak Darmo menepuk pundaknya. "Masih ada kita, Han. Jangan menyerah."
Tapi Reyhan melihat wajah-wajah lain. Beberapa warga yang tadinya antusias, kini ragu. Mereka melihat perpecahan. Mereka mulai bertanya-tanya: apakah ini semua layak?
***
Malam harinya, rapat darurat digelar lagi. Hanya dihadiri belasan orang—mereka yang masih setia pada proyek pagar. Suasana berbeda dari rapat-rapat sebelumnya. Kali ini tidak ada semangat. Hanya kelelahan dan kekecewaan.
Pak Harto bicara pertama. "Kita kehilangan empat orang. Mungkin akan lebih banyak kalau tidak segera ambil sikap. Siapa yang punya usulan?"
Sunyi. Semua memandang Reyhan.
Reyhan berdiri. Tubuh kecilnya terlihat rapuh di antara orang-orang dewasa, tapi suaranya mencoba tegar.
"Saya tahu... ada yang tidak puas dengan cara saya. Mungkin saya terlalu cepat, terlalu memaksakan sistem. Tapi saya lakukan ini untuk desa. Untuk kita semua."
Jenggo, yang kini duduk di depan, berkata, "Han, kami percaya sama kamu. Tapi masalahnya, orang lain tidak. Mereka lihat kamu anak kecil, mereka lihat pamannu dapat perlakuan khusus. Walaupun kau jelaskan berkali-kali, mereka punya pikiran sendiri."
"Jadi bagaimana?"
Pak Darmo mengangkat tangan. "Aku punya ide. Kita buat aturan tertulis. Bukan cuma catatan stok, tapi aturan desa. Hukuman untuk pencurian ditulis jelas. Prosesnya juga ditulis. Semua orang tahu, tidak ada yang bisa protes."
Pak Harto mengangguk. "Itu bagus. Tapi siapa yang buat?"
Semua menatap Reyhan lagi.
Reyhan menghela napas. "Saya coba, Pak. Tapi saya butuh masukan dari semua."
***
Malam itu juga, Reyhan mulai menulis. Ini bukan catatan stok biasa. Ini aturan desa pertama yang pernah dibuat di kampung kecil itu. Ia tulis di atas kertas bekas, dengan arang yang ia runcingkan.
"Aturan Desa tentang Barang Milik Bersama"
Pasal 1: Semua bahan bangunan untuk pagar dan pertahanan desa adalah milik bersama, disimpan di gudang desa.
Pasal 2: Pengambilan bahan harus melalui pencatat stok dan disetujui ketua RT.
Pasal 3: Barang yang diambil untuk kepentingan pribadi harus diganti atau dicatat sebagai hutang.
Pasal 4: Pencurian akan dikenai hukuman: kerja bakti dua kali lipat nilai barang yang diambil.
Pasal 5: Proses hukum dilakukan terbuka di hadapan warga, agar tidak ada fitnah.
Reyhan berhenti. Pasal 5 ini berat. Berarti lain kali, jika ada pencuri, ia harus mengadilinya di depan umum. Termasuk jika itu keluarganya sendiri.
Ia menatap ke luar jendela. Di kejauhan, ia bisa melihat samar-samar lampu di kebun tua—tempat Paman Kamaruddin tinggal sekarang. Jauh di luar pagar. Di luar sistem. Di luar perlindungan.
"Paman... maafkan saya."
***
Keesokan paginya, aturan itu diumumkan. Pak Harto membacakannya di depan warga yang berkumpul. Pak Sarman dan kelompoknya ikut hadir, mendengarkan dengan wajah sinis.
"Aturan ini berlaku untuk semua. Termasuk keluarga pencatat stok. Tidak ada pengecualian," tegas Pak Harto.
Pak Sarman mendengus. "Kata siapa? Bocah itu masih pegang catatan. Dia bisa curang."
"Catatan akan diperiksa setiap minggu oleh tiga orang: saya, Pak Darmo, dan Jenggo. Kalau ada yang aneh, kita bicarakan terbuka."
Pak Sarman diam. Tidak ada alasan untuk protes lagi.
"Lalu, kalian yang keluar, mau kembali?" tanya Pak Harto.
Pak Sarman dan tiga lainnya saling pandang. Akhirnya, satu per satu mengangguk.
"Asal jangan diatur-atur mulu sama bocah," gerutu Pak Sarman.
"Kau tidak diatur bocah. Kau kerja sesuai sistem yang kita buat bersama," jawab Pak Harto tegas. "Kalau ada masalah, bicara di rapat. Jangan diam-diam pergi."
Hari itu, tenaga kerja kembali penuh. Pagar timur dilanjutkan dengan semangat baru—meski ada ganjalan di hati masing-masing.
Reyhan mengamati dari kejauhan. Ia senang mereka kembali, tapi ada yang hilang. Kepercayaan. Dulu mereka bekerja karena percaya padanya. Sekarang mereka bekerja karena terpaksa aturan.
"Tidak apa-apa," gumamnya. "Yang penting pagar selesai."
Tapi dalam hati, ia tahu: membangun kepercayaan lebih sulit daripada membangun pagar.
***
Malam itu, Reyhan tidak bisa tidur. Ia duduk di teras, memandangi catatan aturan yang ia buat. Kertas itu kini ditempel di dinding gudang, ditandatangani Pak Harto dan saksi-saksi. Aturan resmi pertama di desa.
Di tangannya, selembar kertas lain. Surat untuk Paman Kamaruddin. Ia ingin pamannya kembali, tapi tahu itu mustahil sekarang. Luka masih terlalu dalam.
Dari kejauhan, suara lolongan terdengar. Reyhan sudah terbiasa. Tapi malam ini, ada yang berbeda.
Lolongan itu tidak sendiri. Ada suara lain. Seperti raungan, seperti auman, tapi lebih dalam. Lebih besar. Getarannya sampai ke tulang.
Auuuuummmm... GRAAAAUUU...
Reyhan berdiri. Bulu kuduknya meremang. Itu bukan serigala. Itu sesuatu yang lain.
Dari arah timur—dari dekat kebun tua tempat Paman Kamaruddin tinggal—suara itu terdengar paling keras.
"Paman..."
Joko keluar rumah. "Han, masuk!"
Tapi Reyhan tidak bergerak. Ia memicingkan mata ke arah timur. Di batas pagar yang belum selesai, di bawah cahaya bulan samar, ia melihat bayangan-bayangan bergerak. Banyak. Lebih banyak dari sebelumnya.
Dan di tengah-tengah mereka, satu bayangan jauh lebih besar. Berdiri dengan dua kaki.
Raungan itu terdengar lagi. Kuat. Panjang. Seperti perintah.
Reyhan merasakan jantungnya berhenti sejenak.
Mereka tidak hanya datang menyerang.
Mereka datang dengan pemimpin baru.
Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Hukum Desa | Episode 11"