Malam Penuh Raung | Episode 12

Malam itu bukan malam serigala. Malam itu adalah malam monster. Dan desa Reyhan adalah target utamanya.

Raungan pertama terdengar saat matahari tenggelam. Bukan lolongan biasa yang sudah mereka kenal. Ini suara yang lebih dalam, lebih berat, seperti perpaduan antara auman harimau dan desisan ular raksasa. Getarannya merambat melalui tanah, terasa hingga ke telapak kaki.

Reyhan sedang di gudang, memeriksa stok terakhir sebelum malam. Ia langsung berlari keluar. Pak Harto sudah ada di sana, wajahnya tegang.

"Kau dengar itu, Han?"

Reyhan mengangguk. "Bukan serigala."

"Bukan."

Dari arah timur, dari luar pagar yang belum selesai, suara itu datang lagi. Kali ini diikuti oleh lolongan serigala—banyak, puluhan, membentuk paduan suara mengerikan.

"Mereka datang," bisik Reyhan.

Pak Harto berteriak, "POS JAGA! BUNYIKAN KENTONGAN! SEMUA SIAP!"

Kentongan mulai berbunyi keras. Rumah-rumah terbuka satu per satu. Laki-laki dewasa keluar dengan golok, tombak bambu, dan obor. Perempuan dan anak-anak dikumpulkan di rumah Pak Harto yang paling besar dan kokoh.

Reyhan berlari ke pagar timur—titik terlemah. Di belakangnya, Joko mengikuti dengan golok terhunus.

"Han, jangan terlalu dekat!"

Tapi Reyhan tidak bisa diam. Ia harus melihat. Ia harus tahu apa yang mereka hadapi.

Di batas pagar, obor-obor menyala terang. Warga berjajar di sepanjang pagar, siap dengan senjata. Di luar, dalam kegelapan, mata-mata merah berkilauan. Puluhan. Mungkin ratusan.

Tapi di antara mata-mata merah itu, ada yang berbeda. Mata yang lebih besar, lebih tinggi, bersinar kuning pucat. Dua pasang. Lalu tiga. Lalu empat.

Raungan keras memecah malam. Dan dari balik bayangan, makhluk itu muncul.

***

Reptil.

Itu kata pertama yang terlintas di benak Reyhan. Makhluk itu berjalan dengan dua kaki, tubuhnya sebesar orang dewasa, ditutupi sisik hijau keabu-abuan. Kepalanya mirip kadal, dengan moncong panjang penuh gigi runcing. Lengan depannya pendek tapi berotot, dengan cakar panjang melengkung.

Di belakangnya, tiga makhluk serupa muncul. Ukuran sedikit lebih kecil, tapi sama mengerikannya.

"ASTAGFIRULLAH!" teriak seseorang.

"SETAN! SETAN DARI HUTAN!"

Kepanikan mulai menyebar. Beberapa warga mundur dari pagar. Yang lain menggenggam senjata erat-erat, tapi tangan mereka gemetar.

Pak Harto berteriak, "TENANG! JANGAN PANIK! PAGAR KITA KUAT!"

Makhluk reptil terbesar itu menatap ke arah pagar. Matanya yang kuning menyapu barisan manusia. Lalu, dengan gerakan cepat, ia berlari—bukan merangkak, tapi berlari dengan dua kaki.

BRAKK!

Tubuhnya membentur pagar. Kayu-kayu bergetar, ikatan ijuk mengencang, lalu memantul. Makhluk itu terpental, jatuh ke tanah. Tapi segera bangkit. Kali ini tidak menabrak, tapi memanjat.

"DIA MANJAT! MANJAT!"

Reyhan melihat dengan ngeri. Cakar-cakar makhluk itu mencengkeram kayu, menaiki pagar dengan kecepatan luar biasa. Tapi di bagian atas, ujung runcing yang miring keluar mulai bekerja. Makhluk itu mencoba meraih puncak, tapi cakarnya tidak bisa mencengkeram dengan baik. Sisik perutnya bergesekan dengan ujung runcing, membuatnya menjerit kesakitan.

Jeritan itu tinggi, melengking, membuat gendang telinga terasa perih.

"TUSUK! TUSUK DARI BAWAH!" teriak Pak Darmo.

Beberapa warga menusukkan tombak bambu melalui celah-celah pagar. Sebuah tombak mengenai kaki makhluk itu. Makhluk itu menjerit lagi, lalu jatuh ke luar pagar.

Tapi sementara semua fokus pada satu makhluk, yang lain menyerang di titik berbeda.

"DI SINI! ADA YANG MANJAT DI SINI!"

Reyhan berlari ke arah suara. Di bagian pagar yang kayunya sedikit lebih renggang, seekor reptil kecil—seukuran anak-anak—telah berhasil memasukkan lengannya. Cakarnya meraih ke dalam, mencoba mencakar siapa pun di dekatnya.

Seorang warga, Pak Dulah, terlalu lambat menghindar. Cakar itu merobek lengannya. Darah muncrat. Pak Dulah menjerit jatuh.

"TUSUK MATANYA!" teriak Reyhan.

Jenggo maju dengan tombak, menusuk tepat ke mata makhluk itu. Jeritan melengking terdengar. Makhluk itu menarik lengannya, jatuh ke luar.

Tapi Pak Dulah sudah tergeletak, lengannya berlumuran darah. Bukan hanya luka cakar—ada yang aneh dengan lukanya. Kulit di sekitar luka mulai menghitam.

***

Serangan berlangsung selama dua jam. Dua jam penuh teror, jeritan, dan bau darah. Dua jam di mana pagar diuji berkali-kali.

Hasilnya: pagar bertahan.

Tidak ada satu pun makhluk yang berhasil masuk ke dalam desa. Tiga reptil terluka parah di jebakan bambu. Lima serigala mati tertusuk. Sisanya akhirnya mundur saat fajar mendekat.

Tapi kemenangan itu terasa hampa.

Pak Dulah terbaring di rumahnya, demam tinggi. Luka di lengannya membengkak hitam. Warga berkumpul di luar, berbisik-bisik.

"Racun," kata dukun desa, Mbah Joyo, setelah memeriksa luka itu. "Cakarnya beracun. Aku tidak punya obatnya."

Wajah-wajah tegang. Racun. Musuh baru dengan senjata baru.

Pak Sarman tiba-tiba berteriak di tengah kerumunan. "INI SALAH ANAK ITU!"

Semua menoleh ke arah Reyhan yang berdiri di pinggir, diam mematung.

"Dia yang provokasi monster! Sebelum dia bikin pagar, kita aman-aman saja! Serigala jarang datang! Sekarang setelah dia usik mereka, mereka datang dengan teman-teman baru!"

"IYA! BENAR!" teriak yang lain ikut-ikutan.

"Anak sialan! Bawa bencana!"

Reyhan mundur selangkah. Tuduhan itu menusuk lebih dalam dari cakar monster. Ia hanya ingin membantu. Ia hanya ingin desa aman.

Pak Harto maju. "DIAM KALIAN! Tanpa pagarnya, malam ini kita semua sudah mati! Kau lihat sendiri mereka bertahan!"

"Tapi Pak Dulah kena racun! Mungkin besok mati! Itu karena pagarnya tidak cukup!"

Pertengkaran pecah. Dua kubu saling berteriak. Yang satu membela Reyhan, yang satu menyalahkannya. Reyhan hanya diam, matanya pada Pak Dulah yang merintih kesakitan.

Racun.

Logikanya bekerja meski hatinya hancur. Cakar beracun berarti reptil itu predator puncak. Tapi kenapa baru sekarang muncul? Apa yang memicu mereka keluar dari hutan?

Pikirannya melayang ke Paman Kamaruddin yang tinggal di luar pagar, dekat hutan. Apakah pamannya selamat? Apakah dia melihat makhluk-makhluk ini?

"DIAM!" bentak Mbah Joyo tiba-tiba. Suara tua itu menghentikan keributan.

Dukun desa itu menatap Reyhan. "Nak, kau punya pikiran. Apa menurutmu racun ini bisa disembuhkan dengan tanaman sekitar?"

Reyhan terkejut ditanya. Ia bukan tabib. Tapi ia ingat sesuatu. Buku bekas Mbak Rina tentang tanaman obat. Ada gambar daun yang digunakan untuk luka beracun di hutan.

"Saya... saya pernah lihat gambar, Mbah. Daun sirsak? Atau... brotowali? Tapi saya tidak yakin."

Mbah Joyo mengangguk. "Brotowali... mungkin. Tapi kita tidak punya stok. Harus cari di hutan."

"Hutan? Sekarang? Dengan monster di luar?" Pak Sarman tertawa getir. "Kalian gila."

Reyhan menatap Pak Dulah yang merintih. Lalu menatap ke luar, ke arah timur di mana fajar mulai merekah. Monster-monster itu sudah pergi—untuk sementara.

Ada waktu. Mungkin sebentar.

"Saya akan cari," ucapnya tiba-tiba.

Semua terpaku.

Joko meraih lengannya. "Han, jangan gila!"

"Pak Dulah bisa mati, Pa. Saya tahu tanaman itu. Saya pernah lihat gambarnya. Saya bisa cari."

"Kamu anak kecil! Tidak bisa!"

"Saya bisa lari cepat. Saya kecil, susah dilihat monster. Saya bisa."

Pak Harto menggeleng. "Terlalu berisiko, Han."

Tapi Mbah Joyo berkata, "Dia satu-satunya yang tahu tanaman itu. Kalau tidak, Pak Dulah mati."

Sunyi. Semua menatap Reyhan.

Di matanya, bukan ketakutan yang terlihat. Bukan juga keberanian buta. Itu adalah... perhitungan. Logika yang mengatakan: risiko vs manfaat. Manfaat: menyelamatkan nyawa. Risiko: mungkin mati.

Tapi jika tidak dicoba, Pak Dulah pasti mati.

"Saya pergi sekarang. Pagi hari, monster biasanya tidur. Saya cepat."

Joko ingin mencegah, tapi Reyhan sudah berlari ke rumah, mengambil parang kecil dan karung. Dalam hitungan menit, ia sudah di batas desa.

"Han!" teriak Joko.

Reyhan berbalik. "Pa, doakan saya."

Lalu ia melompati pagar—bukan melalui pintu, tapi memanjat cepat seperti kucing—dan menghilang di balik semak-semak.

Joko jatuh berlutut. Warga terdiam. Pak Sarman membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Di dalam rumah, Pak Dulah merintih. Di luar, jejak monster masih basah di tanah.

Dan seorang bocah enam tahun berjalan sendirian ke hutan, mencari tanaman yang bisa menyelamatkan nyawa.

***

Reyhan berlari pelan di antara pepohonan. Ia tahu hutan ini—batas desa yang biasa ia maini dulu. Tapi sekarang semuanya terlihat berbeda. Lebih gelap. Lebih menakutkan. Setiap bayangan bisa jadi monster.

Ia mencari tanaman dengan daun menjari, batang hijau kecoklatan, seperti gambar di buku. Brotowali. Tumbuh di tempat lembab dekat sumber air.

Di kejauhan, ia mendengar suara gemericik air. Sungai kecil. Reyhan mendekat perlahan, matanya awas ke sekeliling.

Di tepi sungai, ia melihatnya. Tanaman dengan daun menjari, melilit di batang pohon mati. Brotowali.

Tapi di samping tanaman itu, ada jejak kaki besar. Jejak reptil. Masih basah. Baru lewat.

Reyhan membeku. Jantungnya berdebar kencang. Matanya mengikuti jejak itu—menuju ke arah semak-semak tidak jauh dari sana.

Dari semak-semak, terdengar suara napas berat. Suara mendesis pelan.

Reyhan tidak berani bergerak. Ia hanya berdiri, menahan napas, berharap tidak terlihat.

Dua mata kuning muncul dari balik semak.

Reptil itu menatapnya. Ukuran sedang, tidak sebesar pemimpinnya, tapi cukup besar untuk membunuh anak kecil dengan sekali cakar.

Reyhan menatap balik. Di tangannya, parang kecil tergenggam. Di kepalanya, seribu perhitungan berlari.

Lari? Tapi ia tidak bisa lari lebih cepat dari reptil. Melawan? Tidak mungkin. Diam? Mungkin monster itu tidak tertarik.

Reptil itu mendesis, memperlihatkan deretan gigi tajam. Lalu, perlahan, ia mulai bergerak maju.

Reyhan mundur selangkah. Kakinya menyentuh batang kayu, hampir jatuh.

Ini akhirnya, pikirnya.

Tapi tiba-tiba, dari balik pohon, sebuah batu besar melayang dan menghantam kepala reptil itu.

BRAK!

Reptil itu terhuyung, lalu jatuh. Reyhan menoleh ke arah asal batu.

Di balik pohon, seorang pria berdiri dengan golok terhunus. Pakaian lusuh, wajah kurus, mata merah.

Paman Kamaruddin.

"CEPAT, HAN! AMBIL TANAMAN ITU! AKU HADANG MAKHLUK INI!"

Reyhan tidak perlu diberi tahu dua kali. Ia berlari ke tanaman brotowali, memotong batangnya secepat mungkin, lalu berlari kembali ke arah pamannya.

Reptil itu sudah bangkit, menggelengkan kepala. Kamaruddin maju dengan golok, siap bertarung.

"PAMAN, IKUT SAYA! LARI!"

Tapi Kamaruddin menggeleng. "Aku lambat, Han. Kau lari duluan. Selamatkan Pak Dulah."

"TAPI PAMAN..."

"AKU BILANG LARI!"

Reyhan menatap pamannya sekali lagi. Lalu, dengan berat hati, ia berlari. Berlari secepat mungkin meninggalkan sungai, meninggalkan pamannya yang berhadapan dengan monster.

Di belakangnya, suara benturan dan jeritan terdengar. Tapi Reyhan tidak berani menoleh. Air mata mengalir di pipinya, tapi kakinya terus berlari.

Ia harus selamatkan Pak Dulah.

Ia harus.

***

Reyhan tiba di desa setengah jam kemudian. Napasnya tersengal, bajunya robek terkena duri, tapi karung berisi brotowali masih digenggam erat.

"REYHAN!" teriak Joko.

Warga berkumpul. Mbah Joyo mengambil karung itu, memeriksa tanaman di dalamnya. "Ini dia! Brotowali! Cepat tumbuk!"

Sementara Mbah Joyo meracik obat, Reyhan jatuh duduk. Tubuhnya lemas. Tapi pikirannya masih pada pamannya.

"Paman... Paman Kamaruddin di hutan. Dia... dia hadang reptil buat saya."

Joko memucat. "Apa?"

Reyhan menceritakan semuanya. Warga terdiam. Bahkan Pak Sarman tidak bisa berkata-kata.

Seorang pria yang mereka fitnah, yang mereka usir, rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bocah yang dianggap biang masalah.

Pak Harto segera mengatur tim penyelamat. Lima orang bersenjata siap berangkat.

Tapi saat mereka sampai di pintu pagar, suara langkah terdengar dari luar.

Kamaruddin muncul dari balik semak. Tubuhnya penuh luka. Goloknya patah. Tapi ia masih hidup. Berjalan tertatih, bersandar pada pohon.

"PAMAN!" Reyhan berlari membuka pintu.

Kamaruddin tersenyum lemah. "Makhluk itu... lari. Aku... aku pukul kepalanya sampai... sampai dia kabur."

Ia jatuh. Reyhan menangkapnya, meski tubuh kecilnya hampir tidak kuat menahan beban.

Warga segera membantu membawa Kamaruddin ke dalam desa. Untuk pertama kalinya, tidak ada yang protes. Tidak ada yang berbisik.

Mbah Joyo memeriksa luka-lukanya. Banyak goresan, tapi tidak ada yang kena racun. Kamaruddin selamat.

Pak Harto menatap Reyhan. "Kau selamatkan Pak Dulah. Pamannu selamatkan kau. Malam ini kita belajar sesuatu, Han."

"Apa, Pak?"

"Kadang yang kita anggap musuh, sebenarnya saudara. Dan yang kita anggap saudara, bisa jadi pengkhianat. Tapi malam ini, kita lihat siapa sebenarnya pahlawan."

Mata Pak Harto menatap Pak Sarman dan kelompoknya. Mereka menunduk malu.

Reyhan tidak peduli pada itu. Ia hanya menatap pamannya yang terbaring lemah, tapi masih tersenyum padanya.

Terima kasih, Paman.

Tapi di luar, di balik pagar yang mulai rapuh oleh serangan, raungan terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Lebih keras.

Mereka akan kembali.

Dan kali ini, mereka tahu titik lemah manusia.

Terima kasih sudah mampir! Jika kamu menikmati konten ini dan ingin menunjukkan dukunganmu, bagaimana kalau mentraktirku secangkir kopi? 😊 Ini adalah gestur kecil yang sangat membantu untuk menjaga semangatku agar terus membuat konten-konten keren. Tidak ada paksaan, tapi secangkir kopi darimu pasti akan membuat hariku jadi sedikit lebih cerah. ☕️

Post a Comment for "Malam Penuh Raung | Episode 12"