Bab 14: Sinyal yang Menjawab

Cahaya amber dari meja konsol tua itu berkedip-kedip, membiaskan bayangan panjang di dinding beton yang berlumut kering. Titik-titik cahaya kecil di layar membentuk denah tiga dimensi Sektor Nol—dan tepat di tingkat terbawah fasilitas itu, sebuah denyut nadi digital berwarna biru redup terus berkedip teratur. Seseorang sedang menyalakan daya di sana. Seseorang masih tinggal di bawah sana.

"Mustahil," gumam Rey dari dekat pintu. Tangannya bertumpu pada gagang belati di pinggang, tapi kali ini ia tidak melompat gegabah. Matanya menatap lekat ke arah lorong luar sebelum kembali melirik peta. "Tempat ini kan sudah ditutup resmi sejak dua dekade lalu, waktu proyek pemurnian inti gagal total. Siapa yang tahan hidup di bawah tumpukan reruntuhan beracun begini?"

Tuan Gani terkekeh pelan seraya menurunkan tudung kumalnya. Keriput di sekitar matanya tampak lebih dalam di bawah pendar monitor. "Bagi sebagian orang, anak muda, reruntuhan beracun jauh lebih ramah daripada orang-orang di kota atas. Tempat ini hanya mati bagi mereka yang tidak punya alasan untuk bertahan."

Orza mengusap tengkuknya yang kaku. Rasa lelah mulai merayap di otot-otot bahunya setelah berjam-jam berjalan dalam ketegangan. Sebagai kakak tertua, insting pertamanya selalu sama: mencari jalan keluar tercepat, membawa adik-adiknya pulang dengan selamat. Namun, potongan teka-teki tentang ayah mereka—dan alasan mengapa cetak biru lama keluarga Noorfa tersimpan di fasilitas ini—terlalu dekat untuk ditinggalkan begitu saja.

"Orza."

Suara itu lembut, nyaris tenggelam di antara dengung kipas pendingin konsol. Naya melangkah mendekat, berdiri tepat di sisi kanannya. Jarak di antara mereka begitu tipis hingga Orza bisa mencium aroma samar minyak pelumas dan angin malam yang tertinggal di jaket kulit perempuan itu. Jemari Naya bergerak pelan, menyentuh pergelangan tangan Orza yang terkepal di atas meja.

Sentuhan itu singkat, tanpa kata, tapi cukup untuk membuat kepalan tangan Orza perlahan mengendur.

"Napas dulu," bisik Naya dengan senyum tipis yang hanya tampak oleh Orza. "Isi kepalamu terdengar sampai ke sini. Jangan dipikul semuanya sekaligus."

Orza menatap mata abu-abu Naya yang tenang. Di tempat asing dan seram seperti ini, ketenangan Naya bekerja seperti jangkar. Selama bertahun-tahun, Orza terbiasa menjadi dinding pelindung bagi Rey dan Zee, berdiri paling depan tanpa pernah punya tempat untuk bersandar. Namun malam ini, melihat Naya berdiri di sampingnya—tidak di belakangnya, tapi sejajar—ada rasa lega ganjil yang menyusup ke dadanya. Ia tidak sendirian lagi.

"Makasih, Nay," sahut Orza pelan, membiarkan sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Kak Orza, lihat ini!" seru Zee tiba-tiba, memecah momen hening di antara mereka.

Gadis kecil itu melompat dari bangku putar tua, menyodorkan kabel antarmuka mini dari komputernya ke port konsol meja. Inti drone bulat yang ia pegang menyala lebih terang dari biasanya, memancarkan dengungan berfrekuensi tinggi yang membuat lampu-lampu gantung di langit-langit berayun pelan.

"Enkripsi yang tadi aku temukan... itu bukan kode pelacak musuh," kata Zee cepat, matanya berbinar penuh antusiasme khas seorang analis muda. "Ini semacam kunci jabat tangan sistem. Inti drone ini berasal dari konsol ini, Kak! Begitu aku masukkan kodenya ke sub-jalur tingkat empat—"

"Zee, tunggu dulu—" Orza mencoba menahan, tapi terlambat.

Layar konsol mendadak berkedip hebat. Warna amber yang hangat berganti menjadi hijau pekat. Peta tiga dimensi berputar cepat, memperbesar sebuah ruangan bundar di kedalaman terbawah Sektor Nol. Di sana, di balik serangkaian pintu baja kedap udara, sebuah pesan teks usang muncul baris demi baris:

Koneksi diterima: Unit Pengawas 07 terverifikasi. Otorisasi manual terdeteksi dari Terminal Kedalaman. Pintu Penahan Bawah dibuka.

Sebuah bunyi debaman berat bergema dari bawah lantai mereka, begitu dalam hingga getarannya terasa sampai ke telapak kaki. Sesuatu yang sangat besar baru saja bergeser di bawah sana.

Bukan sistem otomatis yang membukanya. Ada orang di ujung terminal yang baru saja membalas sinyal Zee—dan sekarang, mereka sedang menunggu kedatangan kelompok itu.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 14: Sinyal yang Menjawab"