Bab 15: Detak di Balik Layar

Layar konsol utama berkedip tiga kali, memantulkan cahaya hijau pucat ke wajah Zee yang tertegun di depannya. Tidak ada ledakan, tidak ada alarm darurat yang memekakkan telinga. Yang ada hanyalah derit pelan dari rel mekanis di balik dinding, disusul oleh suara desisan udara tua yang dipompa keluar dari pipa-pipa berkarat.

"Itu... bukan jebakan," gumam Zee pelan, jemarinya yang kecil masih melayang di atas tuts transparan konsol. "Sistemnya mengenali pola energi drone kita. Otomatisasi fasilitas ini masih aktif."

Di sudut ruangan, Tuan Gani menurunkan ranselnya perlahan. Pria tua itu menghela napas panjang, sorot matanya menerawang menatap barisan lampu indikator yang satu persatu menyala di panel utama. "Sudah sepuluh tahun lebih lampu-lampu itu padam," ucapnya serak, suaranya terdengar begitu rapuh di tengah keheningan bunker bawah tanah ini.

Orza melangkah maju, berdiri tepat di samping Zee untuk memastikan adiknya tidak melakukan kesalahan fatal. Pundaknya yang tadinya tegang berangsur-angsur turun. Untuk ukuran tempat yang dijuluki Sektor Nol—kuburan besi tempat orang-orang membuang rongsokan peradaban—ruangan ini terasa terlalu hidup.

Tiba-tiba, sebuah berkas digital berukuran besar mendadak muncul di layar utama. Bukan peta, melainkan sebuah rekaman audio bertanggal jauh sebelum kota di atas mereka runtuh. Tanpa berpikir panjang, Zee mengetuk ikon putar.

Suara statis berderak sejenak sebelum suara seorang wanita terdengar menggema di ruangan sempit itu. Jernih, tenang, namun menyisakan beban kepedihan yang pekat.

"Jika rekaman ini berputar, berarti protokol darurat telah diambil. Fasilitas ini bukan lagi tempat penelitian, melainkan tempat penyimpanan terakhir. Kepada siapa pun yang menemukan tempat ini di masa depan, ketahuilah bahwa kami tidak gagal... kami hanya kehabisan waktu."

Suara itu terhenti. Hening seketika merayap di ruang kendali, membuat setiap helaan napas terdengar jelas. Rey, yang sedari tadi bersandar di dekat pintu dengan senjata siap di tangan, menurunkan senapannya perlahan. Ada beban tak kasat mata yang mendadak menindih udara di antara mereka.

Orza mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Kalimat "kehabisan waktu" itu terlalu dekat dengan realitas hidupnya selama ini—berkejaran dengan hari esok, bertahan demi adik-adiknya, merasa bahwa apa pun yang ia lakukan selalu terlambat.

Sebuah sentuhan ringan di punggung tangannya membuyarkan lamunan Orza. Naya berdiri di sisinya, tidak mengatakan apa-apa, namun ibu jarinya mengusap pelan buku-buku jari Orza dengan gerakan yang begitu natural. Tidak ada kata-kata penenang yang klise, hanya kehadiran yang hangat, meyakinkan bahwa ia tidak sendirian menanggung beban masa lalu yang baru saja terdengar.

Orza menoleh, mendapati mata Naya memantulkan cahaya hijau dari layar konsol. Ada ketenangan yang mengalir lewat tatapan itu, mencairkan dinginnya udara bunker.

Sebelum sempat ada di antara mereka yang memecah keheningan, sebuah suara dentuman berat mendadak berderap dari lorong di bawah lantai. Bukan dari pintu tempat mereka masuk tadi, melainkan dari tangga darurat yang mengarah lebih dalam ke perut bumi.

Bum... bum... bum...

Langkah kaki itu berat, teratur, dan semakin mendekat.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 15: Detak di Balik Layar"