Bab 16: Bayang-Bayang di Ujung Lorong
Suara gesekan sol sepatu di atas lantai logam itu terdengar semakin jelas. Iramanya lambat, berat, tapi konstan—seperti seseorang yang sama sekali tidak terburu-buru, atau justru seseorang yang tahu persis bahwa kami tidak punya tempat untuk lari.
Rey langsung menggeser posisi berdirinya, berdiri setengah langkah di depan konsol tempat Zee masih terpaku menatap layar berkedip. Pedang latihan di punggungnya berderit pelan saat ia menegakkan bahu, sementara tangannya secara insting meraba gagang senjatanya. Di sampingku, Tuan Gani hanya menarik napas panjang, matanya menerawang menatap ke arah mulut lorong gelap yang menjadi sumber suara.
Naya bergerak mendekat tanpa suara. Tangannya menyentuh lengan jaketku—sebuah gestur kecil yang hampir tidak kasat mata, tapi cukup untuk membuat ketegangan di dadaku sedikit mengendur. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara kami, namun kehadiran itu terasa seperti sauh yang menahan perahuku agar tidak oleng diterpa badai panik.
"Jangan tembak dulu," bisik Tuan Gani serak, matanya menyipit ke dalam kegelapan lorong. "Kalau dia musuh, kita sudah mati sejak tadi dari jarak jauh."
Benar juga. Di fasilitas secanggih ini, penyusup bodoh pasti sudah disergap sistem pertahanan otomatis sebelum sempat mengetuk pintu. Tapi sosok yang kini mulai menampakkan wujudnya di bawah keremangan lampu darurat sama sekali tidak terlihat seperti mesin pembunuh.
Bayangan itu lepas dari dinding koridor. Seorang wanita paruh baya, mengenakan mantel lab usang yang warnanya sudah menguning dimakan usia. Rambutnya dibiarkan tergerai acak-acakan, beruban di beberapa bagian, dan tatapan matanya—meski sayu—menyimpan ketajaman yang membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama. Di tangannya, ia menenteng sebuah lampu minyak tua yang apinya berpendar tenang, kontras dengan teknologi futuristik di sekeliling kami.
Aku tertegun. Suara di arsip audio tadi... wanita yang memanggil nama fasilitas ini dengan nada penuh penyesalan... mungkinkah dia?
"Kalian kepagian," suara wanita itu memecah sunyi. Serak, berat, namun terdengar begitu akrab di telinga, seolah ia baru saja berbicara dengan kami kemarin lusa. "Atau mungkin... dunia di luar sana sudah terlalu sunyi, makanya kalian nekat turun sampai ke sarang hantu ini?"
Zee menelan ludah, jarinya yang tadinya aktif menari di atas konsol kini terangkat ragu. "Anda... Anda Helena?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Wanita itu berhenti beberapa meter dari konsol. Ia mengangkat lampu minyaknya sedikit lebih tinggi, menyinari wajah kami satu per satu. Saat matanya berhenti pada diriku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan—bukan senyuman ramah, tapi senyuman seseorang yang sudah melihat akhir dari segalanya dan menganggap itu lucu.
"Helena sudah lama pergi, anak muda," jawabnya tenang, lalu melangkah lebih dekat melewati ambang pintu ruang kendali. "Tapi warisannya... nah, itu yang sekarang sedang kalian pegang."
Post a Comment for "Bab 16: Bayang-Bayang di Ujung Lorong"