Bab 7: Detak di Balik Besi Tua

Dengungan itu bukan cuma suara mekanik. Rasanya lebih mirip degup jantung raksasa yang tertidur di balik dinding beton tebal selama berpuluh-puluh tahun.

Orza melangkah turun paling terakhir, memastikan sepatu bot Rey tidak menginjak kabel-kabel berserakan yang masih berpendar lemah. Di sampingnya, Naya bergerak lincah menyapu senter genggam ke sekeliling ruangan bawah tanah itu. Cahaya putihnya memantul pada dinding batu yang dipenuhi lumut berpendar—pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga ada di bawah hutan kota yang tampak mati.

"Wah, gila. Ini bukan sekadar pos pantau tua, Za," bisik Rey, matanya berbinar menatap jejak-jejak konsol logam berkarat yang berjajar rapi seperti bangkai kapal karam. "Kalau kita bongkar chip dari panel-panel itu, nilainya bisa buat beli ransum sebulan."

"Jangan asal sentuh apa pun, Rey," balas Zee tanpa mengalihkan pandangan dari layar kecil di tangannya. Gadis itu berjalan mendekati sebuah pilar pusat, tempat kabel-kabel fiber optik purba merambat naik ke langit-langit. "Pola enkripsi yang kuterima tadi... sumbernya dari sini. Sistemnya masih hidup, tapi dalam mode siaga."

Orza mengangguk setuju pada adiknya, lalu mengarahkan tatapannya ke ujung ruangan. Di sana, sebuah konsol utama berukuran besar tampak utuh, dikelilingi oleh tumpukan debu tebal yang belum pernah tersentuh tangan manusia sejak sebelum keruntuhan. Naya sudah lebih dulu berada di sana, jemarinya yang terbalut sarung tangan tipis meraba permukaannya dengan hati-hati.

"Bukan perangkat militer," ucap Naya pelan, setengah berbicara pada dirinya sendiri. Ia menoleh saat Orza mendekat. "Ini stasiun relai komunikasi sipil. Zaman dulu, tempat ini mungkin jadi pusat jaringan sebelum semuanya gelap."

Orza berdiri di sebelah Naya, memperhatikan bagaimana gadis itu membaca alur sirkuit yang terbuka di panel samping. Ada ketenangan yang konsisten dari cara Naya bekerja—berbeda jauh dari gaya Rey yang selalu ingin buru-buru bertindak, atau kecemasan Zee yang seringoverthinking. Tanpa sadar, Orza merasa bahunya yang tegang sejak tadi mulai sedikit rileks.

"Zee, coba hubungkan dekoder kamu ke port di bawah layar ini," panggil Orza, menunjuk sebuah slot kecil yang terlindung plat penutup.

Sebelum Zee sempat melangkah mendekat, Naya mencoba menggeser tuas pengaman yang macet oleh karat. "Biar aku," kata Naya, namun gerakannya terlalu kuat hingga membuat baut penahan di dalam konsol bergeser tiba-tiba. Plat besi itu hampir ambruk menimpa tangannya.

Dengan refleks cepat, Orza merangsek maju dan menahan ujung plat besi itu dengan telapak tangannya. Dentingan logam beradu terdengar nyaring di ruangan yang senyap. Dalam sepersekian detik, saat mereka sama-sama membeku dalam posisi itu, punggung tangan Orza bersentuhan langsung dengan jemari Naya yang dingin.

Naya tertegun sejenak. Ia mendongak, menatap mata Orza dari jarak yang sangat dekat dalam temaram cahaya biru konsol. Tidak ada yang bersuara; bahkan Rey dan Zee seolah mendadak kehilangan kata-kata di sudut ruangan.

Bukan cuma sekadar kerja sama tim lagi. Ada sesuatu yang bergeser pelan di antara mereka berdua di bawah tanah yang sunyi ini—sesuatu yang membuat napas Orza terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

"Terima kasih," bisik Naya akhirnya, menarik tangannya perlahan sambil mengalihkan pandangan ke layar konsol yang mendadak menyala lebih terang, menampilkan deretan data yang mulai bergerak turun.

Dan tepat saat baris data pertama terbuka sempurna, suara alarm bernada rendah bergema dari dinding-dinding gua, disusul suara pintu brankas raksasa di ujung ruangan yang perlahan mulai bergeser terbuka.

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Post a Comment for "Bab 7: Detak di Balik Besi Tua"